Siksaan

1374 Kata
"Sayang!" bisik laki-laki bertubuh kurus tinggi, ketika Kalila berbaring di dadanya yang hangat. "Eeemh, jangan dulu mengusirku! Di sini sangat nyaman," timpal wanita manja, sembari melekatkan pelukannya lebih erat lagi. Devan menatap penuh kasih sayang. "Ini sudah waktunya. Kita harus bersiap untuk janji dan sumpah sehidup semati. Kenakan gaunmu dan berdandanlah yang cantik!" pintanya seraya mencium punggung tangan wanitanya. Wanita itu memulai senyumnya. Ia tidak lagi sabar menunggu waktu kebebasan untuk bisa puas memeluk cinta terbaiknya tersebut. "I love you, Kalila!" ucap Devan bersama senyum. Wanita berparas dewi itu juga ikut tersenyum bahagia. Tetapi tiba-tiba memudar. Sebab, dari bibir kekasih yang sebentar lagi akan menjadi suaminya tersebut, keluar darah segar dan terus membanjiri jas putih bersih yang dikenakan. Kedua pasang mata Kalila menatap ke arah bawah. Rupanya, perut laki-laki tersebut tertembak dan terluka parah. Lalu ia mati di dalam pelukan calon istrinya. "Devaaan, tidaaak!" teriak Kalila hingga mengejutkan semua orang yang ada di ruang kerjanya. "Ka, Kalila!" Mira memeluk tubuh sahabatnya yang bergetar hebat di atas kursi kerja. "Dev-Devan ... ," ratapnya dalam tangis. Ternyata perempuan itu kembali bermimpi buruk. Semua ini seperti cambuk yang selalu menghantam jiwanya. Menguji kesadaran dan ketenangan hidupnya. "Kamu terlalu lelah, ini sudah cukup! Biar aku saja yang menyelesaikannya!" kata Mira sambil memegang kedua pipi Kalila. Bukan tanpa sebab, sejak semalam, divisi pemasaran ini, sudah bergadang untuk menyelesaikan laporan dadakan yang harus dikumpulkan sore ini juga. Bos yang seharusnya bertanggung jawab, malah melempar semua pekerjaan kepada Kalila dan teman-temannya. Sementara ia bersenang-senang di luar sana. "Mira benar, Ka." "Nggak! Aku nggak mungkin ninggalin kalian semuanya di sini dengan semua beban seberat ini. Walaupun aku tidak sehebat dulu, tapi otak ini masih berguna, kan?" "Bukan gitu, Ka! Kita perduli sama kamu, seperti kamu yang juga selalu perduli sama kita. Seharusnya, kamulah yang memimpin divisi ini. Bukan dia!" ujar Tito sambil mendekati meja kerja Kalila. "Iya," timpal yang lainnya. "Seperti dulu." "Kalian ... terima kasih untuk supportnya." Manik mata Kalila bergetar dan ia memang sangat lelah. "Ka, kamu bermimpi yang sama?" sambung Tasya. "Iya ... ." Kalila menunduk, lalu Mira menghapus peluh di dahi sahabatnya tersebut. "Apa nggak sebaiknya kamu ke psikiater saja?" "Aku nggak gila," sahut Kalila parau, lalu ia menghabiskan air mineral di atas meja kerjanya hingga tandas. "Kamu butuh sesuatu untuk melupakan segalanya! Ini sudah tiga tahun, Ka!" tutur Tasya tampak perduli. "Tasya benar, Ka," kata Mira dan Kalila mulai menangis hingga puas. Perempuan yang satu ini, masih tertampar waktu dan tertekan hati dalam rintih. Jejak rindu itu, seakan terus memukul mundur ruang dan waktu, sehingga ia tidak bisa tersenyum lega. Jangankan hidup dengan nyaman, tidur pun ia tidak bisa lelap. Tidak musti rembulan, matahari pun mampu menekan jiwa jelita ini hingga kandas di dasar lautan. Yang jelas, jika ia menutup kedua matanya untuk beristirahat, ia pasti memimpikan calon suami yang mati berlumuran darah di hadapannya. Namun, meski begitu. Kalila masih memilih menyandarkan diri pada belati mimpi. Dengan satu harapan, dapat menikmati wajah lama yang berhasil membuatnya jatuh cinta dan bahagia. Sekitar pukul 15.00 WIB, "Ka, kamu makan siang dulu sana! Biar aku yang mengurus dokumen ini," pinta Mira sambil memegang pundak sahabatnya yang kini sangat sulit untuk tersenyum. "Ya, baiklah." Kalila memutuskan untuk ke restoran tidak jauh dari kantor dengan berjalan kaki. Ketika ia menapaki jalanan, terik matahari langsung menyilaukan mata wanita cantik nan modis dengan pakaiannya yang super rapi tersebut. Setelan blazer rok span, dengan langkah khas bak peragawati tampak menghiasi jalanan kota. Langkah gemulai milik Kalila terlihat tegas bersama liukan pinggul bulat yang indah dan tampak menggiurkan. Ia tidak terbiasa menatap ke kiri dan kanan jalan karena bukan tipe perempuan yang suka melirik dan menikmati keindahan yang bukan miliknya. Selama ini, biasanya, Kalila menikmati makan siang di kantor. Tetapi hari ini, ia sengaja keluar dari ruangan tersebut demi menjauhi seseorang yang biasanya datang untuk menyapa dan memohon kesediaannya untuk menemani makan malam. Setibanya di sebuah restoran tidak jauh dari kantornya, Kalila duduk dengan gaya anggun sambil melipat kaki kanan dan menimpa kaki kirinya. Sebuah posisi yang apik untuk memperlihatkan kaki jenjang miliknya yang mulus dan ramping. Perempuan yang satu ini, memiliki paras cantik yang khas. Matanya besar dengan alis menukik sempurna, berkulit putih bersih tampak terawat, dengan tinggi 170 cm. Selain itu, aroma tubuhnya juga begitu semerbak. “Hi, waiter. Can I have a menu?” (Hai, pelayan. Bisakah saya meminta menu)?" ucapnya sambil menatap teduh. Gaya bicara Kalila tergolong lembut dan mendayu-dayu. Ketika ia mengangkat bibirnya, maka semua mata akan tertuju kepadanya. Apalagi jika ia tersenyum, lesung pipi dan bibir miliknya, kerap kali menjadi pusat perhatian. "Oh, yes. I am Nani. Indonesian?" "Yes." "Anda ingin memesan apa, Nona?" "Spaghetti black paper beef bersama leci spring!" "Oh, oke. Segera tiba untuk Anda Nona." "Thanks," tutupnya tanpa senyum dan langsung menatap fokus ke arah layar ponselnya. Setelah menu makanan yang ia pesan berjejer di depan mata, Kalila langsung menikmatinya dengan tenang. Tak lama, ia memutuskan untuk menyudahi makan siang tersebut, dan kembali ke kantornya. "My bill!" Kalila kembali mengangkat tangan kanannya. Pelayan mendekat. "Silakan, Nona." "Thanks," ucap Kalila tampak puas dengan pelayanannya sore ini, sembari membayar dan memberikan tips lebih. Pelayan menundukkan kepala, sebagai ucapan terima kasih. Lalu membantu menarik kursi Kalila, serta membukakan pintu keluar untuknya. Kalila tersenyum kali ini, dan ia terlihat lebih bersahabat. Kemudian, ia melanjutkan langkah menuju ke kantornya. Namun, baru saja tiba di sisi jalanan dan berniat untuk menyebrang, sebuah mobil melintas dan melindas lubang yang dipenuhi genangan air hujan tadi pagi. "Oooh ... ." Kalila terperangah dan terdiam kaku dengan kedua tangan yang terangkat. "Tuhan," sambungnya sambil menghela napas panjang. Laki-laki tampan, menurunkan kacamata hitam dengan model bulat yang tampak jelas disangga oleh hidung mancung nan berkelas. Ia terlihat sangat menyesal, dan berniat untuk memohon ampun. Laki-laki tersebut membuka pintu mobil, turun, dan mendekati Kalila. "Maaf-maaf! Maaf, banget! Aku buru-buru, soalnya saudaraku berada di meja operasi dan membutuhkan donor darah segera," jelasnya tampak panik. "Dia tertembak saat bertugas dan ... dan ... ." Mendengar kalimat tersebut dengan jelas, Kalila tersentuh dan ia teringat kembali pada Devan yang menghembuskan napas terakhir, akibat tertembak dan juga kehabisan darah. "Apa golongan darahnya?" "A," jawab laki-laki itu masih tampak panik. "Darahku A, bagaimana kalau ikut membantu?" "Apa? Anda tidak marah?" "Bagaimana mungkin? Mari!" "Baik." Kalila dan laki-laki asing sebaya dengannya, bergerak cepat membelah jalanan. Pria berwajah oriental itu pun terus fokus menatap jalan yang ramai dan padat. Sama seperti Kalila, bahkan ia lupa dengan meeting dan laporannya. Setibanya di rumah sakit, "Sebelah sini!" ucap laki-laki bertubuh tinggi kekar, dengan langkahnya yang panjang dan terburu-buru. "Ya," jawab Kalila cepat sambil mengatur napas yang mulai sesak dan mengimbangi gerakan laki-laki tersebut. Setibanya di depan ruang operasi, suara tangis dan sungai air mata menyambut kedatangan keduanya. Laki-laki ini terlambat dan ternyata ia gagal menyelamatkan saudara kandungnya. "Tidak!" Kakinya melemah dan semakin mundur. Saat ini, Kalila pun ikut tercengang. Tanpa sadar, ia menitikkan air mata yang berat dan besar. "No!" Kalila terduduk di kursi tunggu dan memori tentang Devan kembali menyelimuti dan menikam jantungnya. 'Ke-kenapa aku selalu terlambat? Apa aku tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan seseorang?' Kalila meratap dalam diam. "Bangun! Banguuun!" pekik laki-laki yang sejak awal bersama Kalila dan itu memecah lamunan perempuan berlesung pipi dalam tersebut. Laki-laki itu menghentikan laju tempat tidur yang membawa jasad saudaranya. Tubuh kokoh itu tampak bergetar hebat dan Kalila dapat merasakan apa yang ia rasa. Sakit, luka, dan kehancuran yang besar. Dia memang terlambat, namun sudah berusaha. Wajahnya terlihat kacau dan ia tampak luluh lantah. "Aku butuh kamu, Bang. Banguuun!" teriaknya memenuhi ruangan hingga membuat orang-orang di sekelilingnya semakin menangis. "Sudahlah, tenang! Bangun! Ia gugur dalam tugas." Seorang pria paruh baya berusaha untuk menenangkan laki-laki itu. "Tidak! Apa yang kalian lakukan? Hanya diam saja dan melihat abangku mati?" teriaknya dalam tanya, tanpa perduli dengan apa pun. "Bedebaaah!" "Ken, cukup! Jaga sikapmu!" titah yang lainnya, tetapi laki-laki itu masih tampak kalut dan hancur. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya, hingga Kalila datang dan mendekati, lalu memeluknya, serta ikut menangis. Entah bagaimana, laki-laki gagah dan terkenal hangat itu pun, langsung menerima pelukan Kalila yang tiba-tiba saja mendekapnya erat. Lalu mereka menangis bersama, hingga ujung kaki mayat tersebut, tidak lagi tampak. "Tenanglah!" pinta Kalila dan entah mengapa, laki-laki itu menurut. Kalila pun terlihat begitu erat memeluk pria asing yang sama sekali tidak ia kenali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN