Pria tampan berahang tegas, hanyut terdiam, penuh dendam, tersudut tak terdengar. Dalam perih, ia tetap mengangkat wajah, walaupun tak bisa lagi tersenyum lega. Detik ini, buai angin malam mengingatkan Ken akan amarah membara pada sosok laki-laki iblis karena telah menyiksa dua wanita yang kini menjadi tanggung jawabnya. Rasanya, ia ingin sekali mematahkan leher Elo dengan kedua tangannya sendiri. Atau mungkin membuat lubang di kepala dan memasukkan sedotan panjang untuk menghisap otak pria licik tersebut. Jika tidak, menguras darah di sekujur tubuh musuhnya itu pun bisa menjadi alternatif yang pantas. Seumur hidup, baru dua kali Ken merasakan amarah yang meluap-luap seperti ini. Pertama, ketika abangnya meninggal dunia akibat kelalaian tim khusus tersebut hingga membuatnya tertembak dan

