Manik mata hitamnya yang mengejutkan, mengintip dari helaian rambut panjang dengan sorot tajam, penuh rasa sakit. Tidak ada satu pun yang berani mendekati Rania, apalagi mengajaknya berbicara. Kedukaan terasa mencekam saat ia membuka mata untuk melihat dunia. Foto-foto pernikahan dan kenangan lama yang berjajar dalam ukuran besar di tembok rumah, serta kamarnya, seakan mengejek dengan tawa yang terbahak-bahak. Wanita lumpuh itu kini kian tak berdaya, bahkan merasa malu untuk mengangkat wajahnya. Sebab, kisah cinta yang selama ini selalu ia banggakan dan anggap sempurna, rupanya tak pernah ada harganya. Ia hanya berada di dalam otak licik dari suaminya, sehingga tak mampu mendeteksi datangnya tipu daya. Kini, dirinya dirundung duka dan dikuasai oleh nasib buruk yang terus melanda. Bahkan

