Satu minggu berlalu. Ken terlihat tampan dan gagah dengan seragamnya. Sambil menunggu Kalila yang tengah berdandan, ia mengambil foto sang istri secara diam-diam dari samping. Kekagumannya pun kian bertambah, sebab Kalila memang terlihat semakin cantik di setiap harinya. Senyum pria tinggi, tegap, itu mengembang bersama tangkapan layar tentang keindahan wanita berlesung pipi dalam yang berhasil ia abadikan. Manik matanya pun makin berbinar, bersama hati yang kian memuja. Sungguh, di dalam jiwa Ken Arashi berteriak. Ia tidak ingin kehilangan aurora di wajah Kalila karena selalu mampu membuatnya kembali kepada senyuman. Wanita itu, seperti cahaya cinta yang utuh dan sempurna. Kalila menatap dari cermin riasnya. "Sayang!" Ken menurunkan ponselnya dengan gerakan buru-buru. "Ya?" "Apa yang

