Sayang!

1415 Kata

Wajah Ken Arashi ditikam kelam sepanjang perjalanan malam, seakan masih disapa beranda ketegangan yang pucat. Entah bagaimana ia bisa merasa tidak lega meskipun berusaha melupakan dan mengikhlaskan keadaan. Rasanya, ia masih tidak puas hati karena telah membiarkan para penjahat melancong begitu saja. Sunyi. Agaknya, kegalauan membungkam mulut cerdas milik Ken Arashi. Memang, ia hampir saja terperangkap dalam bayangan hitam dari hasil pemikirannya sendiri. Kali ini, ia benar-benar seperti berdiri diantara duri dan bubuk mesiu, begitulah kondisi hatinya yang tak bertepi. Wisnu yang sudah berteman lebih dari sepuluh tahun, begitu memahami sahabatnya itu. Ia mengerti akan setiap tindak tanduk dan krasak-krusuk yang ditimbulkan dari keinginan melindungi serta rasa sayang. Jalanan sunyi pu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN