Dari pori-pori jendela kamar yang terasa hangat dan mendebarkan sejak semalam, sinar matahari pagi nan lembut terasa membelai kulit wajah Kalila yang halus. Tak lama, sinarnya semakin kuat dan cahaya itu mulai menyilaukan. Suaminya yang masih erat memeluk dirinya, menghembus udara lembut di leher jenjang itu. Sosoknya seperti Dewa Penyelamat, sekaligus penggoda. Sebab sedikit saja Kalila bergerak, pria itu langsung menempelkan bibirnya di sisi mana saja yang mudah dijangkau dari tubuh Kalila. Kelelahan yang membahagiakan. Meskipun remuk dan sakit, tetapi bibir itu terus saja mengembang. Apalagi ketika melihat Ken Arashi yang masih saja tampan, meskipun tengah terlelap dan lupa waktu. Pukul 08.00 WIB, Ken Arashi masih belum bergeming sedikit pun. Tampaknya, ia benar-benar lelah dan hanya

