Kalila dan tuan Husain mulai membelah jalanan, bersama sopir pribadi lelaki baya tersebut. Kali ini, wajah mereka cemerlang, tak seperti biasanya. Meskipun sempat sakit, tetapi wanita berlesung pipi dalam ini belajar untuk memaknai hidup yang ia jalani secara baik. Mulai dari kematian Devan dan seterusnya, serta kematian calon keponakan dan perceraian adiknya. Menurutnya, mungkin Ken benar untuk banyak hal. Keluarga Husain akan mendapatkan hadiah istimewa atas takdir buruk yang dialami selama tujuh tahun terakhir. Lalu kebahagiaan akan datang untuk menimbulkan senyuman manis semanis gulali bagi orang-orang pemilik hati hangat ini. "Pa!" Kalila memecah tatapan papanya yang menembus jalanan padat merayap. "Ya?" "Kalila ingin melihat beberapa hal sebelum Papa memperkenalkanku di hadapan p

