Ada yang melesat setiap kali pagi menghilang, bukan butir embun yang menggumpal di lengkung dedaunan yang telah kedinginan sejak malam. Melainkan wajahnya yang selalu hadir di dalam mimpi. Meskipun tak ingin berpisah dengan bayang-bayang kekasih, tetapi Kalila harus memulai langkah, mengatur kehidupan, demi melindungi orang-orang yang ia kasihi. Sambil berdiri di balkon kamarnya, wanita berlesung pipi dalam itu menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Ia membuang semua pikiran buruk, dan masalah yang menyesakkan dadaa, menimbun kecerdasan, dan membelenggu senyumnya. Mulai hari ini, dia akan menjadi ujung tombak senyum di wajah orang-orang yang berada di dalam keluarga Husain. Banyak nyawa bergantung kepadanya, dan ia tahu akan hal berat tersebut. 'Saat ini, aku tidak punya waktu untuk m

