'Dia, bagaimana bisa semua yang ada padanya terasa nyaman?' Tanya Kalila di dalam hati. 'Mulai dari suara, tatapan, hingga sentuhan kecil yang begitu sempurna. Bahkan, ketika ia tengah menyeruput setetes kopi saja, aku sudah tersiksa. Seolah, ia tengah menyatukan bibirnya dengan kulit tubuhku.' Kalila menyandarkan tubuhnya, dan mencoba untuk rileks. Kemudian, ia berandai-andai tentang cahaya dan bunga. Rasanya, kehidupan yang ia jalani tidak sesuai dengan doa. Heran, tapi harus terus menjalaninya. 'Ken!' Tiba-tiba hati Kalila memanggil nama itu dengan lugas, seolah tidak bisa lepas. Rintih kepedihan, kesusahan, dan cinta akan sama rasanya, jika kita bersama orang yang benar-benar tulus menyayangi. Seberapa pun besarnya desakan kesulitan yang menerpa, namun akan tetap saja dapat diken

