Sejauh apapun Mikael dan Joseph berjalan berlawanan arah. Mikael tetap bisa memantau bagaimana kehidupan adiknya selama tinggal jauh dari keluarga mereka. Mikael mengendus kabar, bahwa Joseph tengah jatuh cinta dengan seorang gadis yang membuatnya betah hidup jauh dari keluarganya.
Gadis yang membuat Mikael juga penasaran bagaimana rupa, bagaimana sosoknya sampai mampu menahan Joseph berada di dekatnya selama ini?
Apakah dia sosok gadis yang begitu cantik hingga dunia Joseph tidak bisa jauh-jauh dari dirinya? Membayangkan Joseph tersipu malu setiap kali Mikael membahas tentang sosok wanita tersebut semakin membuat Mikael penasaran dengannya.
“Mana gadismu itu, tunjukan kepadaku,” pinta Mikael kepada Joseph.
Mikael sangat penasaran dengan wajah gadis yang membuat adiknya itu jatuh cinta. Joseph segera menutup mulut kakaknya itu. Matanya mendelik mendengar ucapan kakaknya yang sangat frontal.
“Ayolah, jaga ucapanmu aku tak mau ada yang tahu,” seru Joseph kesal.
Joseph memandang kakaknya kesal. "Seluruh isi cafe bisa mendengar suaramu, Mikael!" pungkasnya tidak terima.
“Kenapa, atau kau takut jika gadismu itu akan menyukai kakakmu ini?” Mikael meledek adiknya itu.
Pandangan wajah meledek ditampilkan oleh Mikail. Lelaki itu seolah sengaja membuat adiknya merasa gelisah atas ucapannya.
Joseph memutar bola matanya jengah. “Bukan seperti itu, aku tahu kau buka tipe pria yang dia sukai,” ledek Joseph balik, “lain waktu aku akan memberitahumu jika sudah waktunya,” lanjutnya.
Joseph masih ingin menyimpan rapat sosok gadis cantik yang merebut perhatiannya selama ini. Joseph yang menyukai Theresia dalam diam, tidak bisa sembarangan menungungkapkan ketertarikannya atau Theresia akan menjauhinya.
Karena ketakutan itulah, Joseph hanya mampu memberikan kode dari setiap perlakuannya terhadap Theresia.
"Kamu mulut ember, belum saatnya kamu mengetahui sosoknya," kata Joseph sok bermain rahasia dengan kakaknya.
Dari kejauhan Theresia melihat Mikael yang sedang berbincang terlihat keceriaan di wajah mereka. Gadis itu tidak tahu bahwa Mikael adalah kakak kandung Joseph dia pikir hanya seorang teman atau tamu biasa yang berkunjung.
Theresia berjalan dengan membawa sebuah baki dan buku menu ke arah Mikael.
“Selamat malam, selamat datang di café kami. Banyak menu yang bisa kau pilih disini. Kami akan memberikan pelayanan yang terbaik,” sapa Theresia.
Theresia menyambut Mikael dengan senyum hangat dan gaya seorang waitres pada umumnya menawarkan hidangan yang tersedia di café itu.
Mikael terpesona saat melihat gadis itu, dia tak mendengarkannya berbicara melainkan menatap kecantikan wajahnya, seketika lelaki itu seperti terhipnotis oleh kecantikan Theresia. Senyum gadis itu benar-benar bisa meluluhkan hatinya.
Mikael tertegun memandang gadis itu, manik matanya membuat jantungnya seketika berdetak kencang. Baru kali ini dia merasakan hal seperti itu, sempat dia berpikir apa dirinya terkena serangan jantung mendadak. Lelaki itu segera memegang dadanya dan menarik napas panjang.
Apakah ada bidadari cantik yang bekerja di tempat ini? Mengapa adiknya tak pernah memberitahunya? Pikir Mikael dalam batinnya.
Waktu seketika berhenti saat gadis itu datang dan menghampirinya, angin yang berhembus seakan membisikan kata-kata indah di telinganya. Pandangan itu telah menusuk jantungnya mengukirkan rasa yang tak pernah ada sebelumnya.
Kebahagiaan yang tak pernah ada sebelumnya kini datang kembali, apa yang sebenarnya terjadi dalam dirinya itu. Mikael sangat bingung yang dia tahu bahwa dirinya benar-benar menyukai gadis itu saat pandangan pertama.
“Hallo,” ucap Theresia melambaikan tangan menghancurkan semua lamunan Mikael.
“Eh? I-iya.” Mikael sangat terkejut wajahnya seketika menjadi merah bagai tomat. Lelaki itu menggaruk-garuk kepalanya meski tidak gatal.
“Saya pesan satu coffe late hangat,” ucap Miakael kepada gadis itu.
“Baiklah, tunggu sebentar pesanan akan segera datang,” jawab Theresia sambil tersenyum.
Joseph memandang senyum gadis itu, dia pun tersenyum kepadanya. Kakaknya tak tahu bahwa gadis itulah yang di cintainya selama ini.
Tak perlu menunggu lama Theresia datang kembali dengan membawa segelas coffe late pesanan Mikael.
“Ini Tuan silahkan diminum, semoga kau menikmatinya di malam ini.” Theresia sangat ramah kepada pengunjung di café.
Joseph semakin menyukainya karena dia begitu menarik, ada banyak hal yang membuat lelaki itu begitu mencintai Theresia.
Mikael tersenyum saat Theresia menaruh segelas coffe yang dia pesan, lelaki itu segera menyeruput sedikit minumannya.
“Terimakasih, minumannya enak sekali” ucapnya kepada Theresia.
“Benarkah? Apa kau menyukainya?” tanya Theresia ramah.
“Iya, coffe ini sangat enak,” jawab Mikael, sebenarnya bukan coffe ini yang manis tetapi senyum di bibir Theresia yang membuat coffe ini menjadi begitu manis.
Tatapan matanya selalu mangalihkan Mikael. Dia sangat menyukai manik mata yang bersinar itu, terpancar sesuatu yang berbeda dari diri gadis itu yang belum pernah ia temui sebelumnya. Theresia meninggalkan mereka berdua dan kembali ke tempatnya. Dia terlihat sangat bersemangat. Gadis itu benar-benar membuat setiap lelaki yang melihatnya seperti terhipnotis.
Pandangan Mikael masih saja melirik ke arah gadis itu hingga tubuhnya sudah tak terlihat lagi dari pandangannya. Dia tersenyum kepada dirinya sendiri karena tingkah konyolnya itu. Lelaki itu segera menyadari prilakunya dan mengalihkan pandangannya sebelum Joseph menyadarinya.
“Bagaimana kau bisa memberikan pelayanan yang terbaik?” ucap Mikael berusaha menutupi perasaannya.
“Dia memang karyawan terbaikku, kau tahu semua pelanggan menyukainya. Dia begitu ramah dan istimewa.”
Joseph terlalu berlebihan menilai Theresia. Untung saja Mikael tak menyadari perkataan adiknya itu.
“Oh ya, dia memang begitu menganggumkan,” ucap Mikael sambil teringat kembali tatapan Theresia.
“Eh.” Joseph sedikit bingung dengan ucapan kakaknya itu. Dia memandang Mikael aneh.
Karena takut Joseph mengetahui perasaannya dia mengalihkan pembicaraannya.
“Maksudku pelayanan yang dia berikan begitu mengaggumkan, begitu ramah dan bersahabat.”
“Ya, begitulah.” Joseph tersenyum atas pujian kakaknya itu.
“Bagaimana hubunganmu dengan Anne?” Joseph tiba-tiba menanyakan hubungan Mikael dengan Anne.
Adiknya itu tahu bahwa Mikael tak benar-benar mencintai Anne.
Mikael hanya menganggkat bahu dan menaikan alisnya seolah tak peduli. Joseph tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi hari ini pada hubungannya.
Dia merasa sudah begitu tak nyaman dengan hubungannya, ingin sekali Mikael mengakhiri semuanya tetapi pria itu bingung bagaimana ia menjelaskan kepada Anne dan keluarganya.
“Apa kau berniat akan segera menikahinya,” ledek Joseph dengan terkekeh.
“Kau ini.” Mikael memukul halus kepala adiknya itu.
“Dia gadis yang pintar dan juga sexy bukankah itu menarik.” Joseph benar-benar menggoda kakaknya.
Mikael tahu Anne adalah gadis yang menarik, tubuhnya begitu indah dan dia juga mengagumi tubuh gadis itu, terlebih setelah mereka sering berkencan. Tetapi tak ada yang lain yang Mikael sukai dari gadis itu selain permainannya di ranjang dan tubuh sexy yang memukau.
Namun, untuk di jadikan istri Anne bukannya gadis yang tetap dia lebih ingin gadis yang mandiri, berwawasan, ramah dan selalu perduli terhadapnya tidak seperti Anne yang begitu manja dan terlalu banyak permintaan.
“Iya, dia sexy tetapi tetap saja taka da yang menarik darinya untuk di jadikan istri.” Mikael meneguk minumnya.
“Jadi kau hanya ingin bermain dengannya sampai tua.” Joseph terkekeh geli.
“Tidak juga, aku akan menikah dengan gadis yang membuatku jatuh cinta.” Seketika pikirannya dihantui kembali oleh pandangan Theresia.
“Apa kau yakin bisa menolak Anne, akh gadis itu bagaimana rasanya tidur dengannya selama ini?” Joseph membayangkan apa yang di lakukan kakaknya itu bersama Anne.
“Apa kau ingin mencobanya?” tanya Mikael kepada Joseph.
“Tentu saja tidak, aku bukan adik yang akan merenggut kekasih kakaknya sendiri.” Joseph meranggkul kakaknya itu.
“Kau ini,” ucap Mikael menonjok halus perut Joseph.
Jika dalam keadaan seperti ini mereka benar-benar terlihat seperti seorang adik kakak yang akur. Sudah berepa lama mereka tak pernah berbincang seperti ini, rasanya sangat lama sekali.
Mereka juga lupa kapan mereka pergi bersama, karena itu sudah tak pernah terjadi. Semenjak ayahnya memilih untuk menjadi seorang politikus semuanya serasa berbeda. Tak pernah lagi mereka liburan bersama atau duduk bersantai di rumah sambil meminum the hangat bersama sambil bercanda gurau.