Kedua lelaki dengan wajah rupawan saling menatap. Senyum mereka merekah dengan berbinar bahagia. Telah lama kakak beradik itu tidak berjumpa karena keadaan yang selalu saja bertolak belakang.
Rasanya sudah lama sekali keduanya tak saling bertatap muka. Dua karakter berbeda meski keduanya satu ayah dan satu ibu. Joseph pecinta seni dan kebebasan, sedangkan Mikael disebut sebagai tuan perfectionis.
Keduanya bak langit dan bumi. Bagi orang-orang yang tak mengetahui hubungan keduanya, mungkin mereka akan berpikir hal aneh jika Joseph dan Mikael saudara kandung.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Mikael saat memeluk erat adiknya.
“Seperti kau lihat, aku baik-baik saja.”
Joseph memperlihatkan keadaan tubuhnya yang terlihat sehat meski sedikit kurus. Mikael hanya tersenyum geli melihat tingkat kepercayaan diri Joseph seperti biasanya.
Joseph menggandeng kakaknya itu masuk ke dalam café, Mikael merasa bangga melihat café adiknya yang sangat ramai pengunjung. Sambari berjalan, dia menepuk-nepuk punggung adiknya itu karena perasaan takjub yang hinggap di pundaknya.
Joseph mengajak Mikael untuk berkeliling café karena jarang sekali kakaknya itu datang berkunjung di tengah segala macam kepadatan jadwalnya.
"Tumben sekali mengingat adikmu, hah?" gerutu Joseph selayaknya seorang adik.
Meski mereka bersaudara kandung namun jarang sekali bertemu, Joseph terlihat sangat bahagia atas kedatangan kakaknya itu.
Joseph lebih memilih hidup mandiri dari pada harus bergantung kepada orang tuanya, dia anak lelaki yang keras kepala. Beberapa tahun lalu dia memutuskan untuk meninggalkan rumahnya dan membangun sebuah café untuk dirinya belajar usaha.
Awalnya café itu sangat sepi dan minim pengunjung, tak ada yang menarik sama seperti café pada umumnya.
Joseph mulai putus asa, di sisi lain dia tak ingin jika keluarganya tahu tentang masalah ini karena mereka akan mentertawakannya terutama ibunya itu. Sejak awal Joseph memutuskan untuk hidup mandiri orang tuanya itu sangat tidak setuju.
Dia sangat berbeda dengan Mikael, Joseph bukan termasuk anak penurut karena selalu bertentangan dengan keinginan orang tuanya. Kadang dia juga merasa seperti orang asing karena kasih sayang yang di berikan kepadanya sangat berbeda dengan yang diberikan kepada kakaknya.
"Cafemu berkembang begitu pesat, kalau begini tidak rugi kamu meninggalkan rumah," ucap Mikael menyindir.
"Tentu saja, nanti kalian bisa mengejekku kalau cafeku tidak laku," sahut Joseph.
Hingga akhirnya suatu hari Joseph memiliki konsep baru untuk cafenya itu, sebenernya dia hanya terinspirasi dari sebuah kalender lama yang di temukan di kamarnya. Dia pikir nuansa garden sangat cocok untuk café miliknya itu, terlebih di kota ini sudah jarang sekali tempat yang hijau dan sejuk.
Saat dia sudah merenovasi semua dan membuka lowongan pekerjaan untuk karyawan baru. Masih teringat jelas di benaknya, di penghujung musim semi kala itu Theresia datang untuk melamar pekerjaan. Gadis itu terlambat dari waktu yang sudah di tentukan.
Dia datang dengan tergesa-gesa dan napas yang terengah-engah, sebenarnya tes teah selesai namun, saat melihat wajah Theresia dari kejauhan Joseph langsung jatuh hati dan mengijinkan gadis itu untuk ikut tes.
Theresia yang saat itu mengenakan kemeja putih dan rok berwarna dusty setengah paha sangat terlihat cantik, rambutnya yang terurai menutupi wajahnya. Gadis itu membenarkan rambutnya dan menunjukkan wajah cantiknya.
Udara hangat saat itu seketika dapat menyejukkan hati Joseph, pria itu telah jatuh hati kepadanya saat pandangan pertama. Suaranya masih sering terngiang-ngiang di telinga Joseph. Sayang sekali pria itu tak memiliki keberanian untuk mengutarakan perasaannya kepada Theresia.
Joseph mengajak kakaknya untuk duduk di sebuah meja, sesekali pandangannya melirik ke arah pegawainya yang sedang bekerja.
Mikael menyalakan sebuah rokok kemudian menghisapnya dan menghembuskan asap ke langit-langit. Dia melirik kea rah adiknya itu.
“Apa kau tak berniat untuk pulang?” tanya Mikael perlahan.
Joseph menarik napas pendek. “Bagaimana keadaanmu?” Lelaki itu berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Sangat buruk, bahkan jauh lebih buruk dari yang kau tahu.” Mikael menundukkan pandangannya.
“Bagaimana kabar Papa dan Mama?” Joseph merasa iba melihat raut wajah Mikael yang tak bersemangat.
“Mereka baik-baik saja, Papa akan mendapatkan promosi jabatan ke tingkat yang ebih tinggi,” jawab Mikael dengan tidak begitu menyukainya.
Mikael menatap adiknya. “Kapan kau akan menemui mereka?” Mikael mengembalikan ke topik utama.
Joseph menghela napas. “Belum ada rencana untuk saat ini,” jawab Joseph menghela napas.
“Apa kau tak merindukan mereka?” tanya Mikael sambil memandang wajah adiknya itu.
“Tidak seperti itu, hanya saja-” Joseph sudah kehabisan kata untuk memberi alasan.
Sebenarnya dia masih kecewa dengan sikap orang tua yang selalu menuntut anaknya, untuk mengikuti semua keinginan mereka termasuk hal yang tak masuk akal. Sedangkan Joseph dia lebih suka dengan kebebasan.
“Hanya saja apa?” tanya Mikael sedikit kesal.
Joseph hanya terdiam mengalihkan pandangan dari kakaknya.
“Kau ingat kapan terakhir kau pulang?” Mikael terus menyudutkan Joseph.
“Iya, aku ingat dan kau tahu apa yang terjadi saat itu.”
Joseph mengingat kembali kejadian itu. Terakhir dia pulang terjadi keributan di rumahnya, orang tua mereka memaksa Joseph untuk segera bertunangan dengan gadis pilihan ayah dan ibunya. Sedangkan Joseph tidak ingin menjalin kasih dengan orang yang tidak dia cintai.
Orang tuanya memaksa dengan alasan demi masa depan ayahnya agar bisa menjadi anggota dewan, dengan begitu masa depan mereka pun akan bahagia. Joseph tidak terima dengan alasan kedua orang tuanya itu, mereka sama saja menjual kebebasan anaknya demi kebahagiaan mereka.
Joseph sangat marah kepada mereka dan tak pernah pulang ke rumahnya. Disisi lain dia sempat bercerita kepada Mikael bahwa dirinya telah jatuh cinta kepada seorang gadis saat itu. Namun, hingga saat ini Mikael tidak tahu wajah gadis yang di cintai adiknya itu.
Joseph memang sangat tertutup tentang pribadinya termasuk kepada keluarganya sendiri.
“Iya, aku ingat,” ucap Mikael menundukkan kepalanya. “Tetapi mau bagaimana pun mereka orang tua kita.”
“Aku tahu, tapi aku masih belum bisa menerimanya.” Wajah Joseph terlihat sangat kecewa.
Menjadi anak yang selalu disalahkan tentu saja bukanlah mimpi indah bagi Joseph. Lelaki itu sudah hidup bagaikan di dalam sangkar emas ketika tinggal bersama keluarga besarnya.
“Kau tak perlu sampai seperti itu, mereka ingin yang terbaik untuk kita.” Mikael berusaha memperbaiki semuanya.
“Bukan untuk kita tetapi untuk mereka, pernah kau berpikir bahwa mereka hanya memanfaatkan kita?” Joseph benar-benar terlihat kesal.
Mikael terdiam memikirkan kata-kata adiknya itu, dia tahu apa yang sebenarnya terjadi tetapi pria itu sangat menyayangi orang tuanya. Ingin dia menjadi seperti Joseph namun, itu tak bisa dia lakukan. Apa yang akan terjadi kepada orang tuanya jika dia benar-benar meninggalkan mereka? Pertanyaan itu selalu bersemayam di dalam dirinya.
“Tetap saja mereka orang tua yang melahirkan dan membesarkan kita,” ucap Mikael berharap adiknya itu akan berubah pikiran.
“Iya aku mengerti,” jawab Joseph samba memikirkan ucapan kakaknya.
“Atau kau hanya beralasan saja, karena aku tahu kau menyukai salah satu pekerjaanmu?” Mikael mencairkan suasana kembai agar tidak tegang.
Niat dia menemui adiknya itu untuk menghilangkan penat akibat permintaan Anne bukan untuk memperkeruh suasana hatinya.
“Hey, maksudmu apa?” jawab Joseph wajahnya seketika memerah.
Pandangannya beralih kepada Theresia yang sedang bekerja.
Terukir senyum kembali di wajah pria itu, dia tidak menyadari bahwa Mikael memperhatikan tingkahnya dari tadi. Dia benar-benar terlihat seperti pria yang sedang jatuh cinta.
“Apa dia sudah mengetahui isi hatimu?” tanya Mikael sambil menyenggol bahu adiknya.
“Aku belum ada nyali untuk memberitahunya.” Joseph menghela napas pendek seperti putus asa.
“Apa kau tidak takut gadismu itu akan direbut orang,” ledek Mikael sambil tertawa.
“Kau ini.” Joseph ikut tertawa tetapi hatinya berpikir keras tentang apa yang di katakan kakaknya itu. Ucapan kakaknya itu ada benarnya juga bagaimana jika Theresia telah memiliki kekasih dan dia akan menikah dengan orang lain.
Joseph menarik rambutnya mengingat ucapan itu. ”Akh! Ini mengesalkan sekali.”
“Kau ini kenapa, terganggu dengan ucapanku?” Mikael seperti tahu apa yang dipikirkan adiknya itu.
Mereka tertawa begitu bahagia.