10. Hiduplah Bahagia

1301 Kata
Waktu sudah menunjukan pukul tiga dini hari, tidak ada yang terjadi di antara mereka. Mikael hanya meminta gadis di usia awal kepala dua itu duduk dan menemaninya minum. Terlihat Mikael yang mulai sedikit ma-buk. Wajahnya yang tadi terlihat angkuh kini memancarkan kesedihan. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa yang mereka duduki. Mikael terlihat memijit keningnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Sophia tahu bahwa lelaki ini sedang memiliki masalah yang begitu besar. Mikael secara tiba-tiba menoleh ke arah Sophia. Lelaki itu tersenyum kecut, selain dirinya masih ada Sophia di sana. Jika para gadis seusia Sophia masih menggantungkan kehidupannya kepada orang tua, gadis itu tampaknya sangat mandiri dari sudut pandang Mikael. Buktinya, Sophia berani mengambil pekerjaan yang mampu mencoreng nama baiknya. Meski begitu Mikael tak pernah memiliki niat melakukan sesuatu di luar kemanusiaan terhadap Sophia. Dari keberanian Sophia, Mikael tak ingin menjadi lelaki berambisi menghancurkan hidup orang lain. “Sophia, apa kau sangat bahagia dengan kehidupanmu saat ini?” tanya Mikael dengan suara datar. Sophia yang mendengar pertanyaan Mikael merasa aneh, mengapa kliennya itu bertanya seperti itu? Gadis lugu itu menarik napas dalam. “Tentu saja, aku bahagia meski ... kami hidup tak berkecukupan,” ujarnya terdengar ragu. Ya, bisa dibilang hidup Sophia masih beruntung daripada orang lain. Walau dia tidak memiliki kedua orang tua lagi sama seperti anak-anak di luaran sana, buktinya Sophia masih memiliki kakak sebaik Theresia yang sudah menjadi ayah sekaligus ibu pengganti baginya. Tidak ada yang perlu disesalkan di dalam hidup ini. Sophia memiliki kakak seperti Theresia sudah merupakan keberuntungan luar biasa menurutnya. “Kau sangat beruntung, Sophia,” tutur Mikael. Mikael tersenyum dan melirik Sophia. Gadis muda itu tak mengerti mengapa Mikael mengatakan bahwa dirinya beruntung, bukankah kehidupan pria itu jauh lebih baik dari kehidupannya dan yang pasti dia jauh lebih beruntung. Terlebih dia melihat bahwa Mikael adalah orang yang kaya raya, apapun yang lelaki itu inginkan pasti dia mampu membelinya. Tidak seperti dirinya yang ingin sesuatu harus berpikir seribu kali untuk membelinya. “Sophia, apa kau masih memiliki orang tua?” Pertanyaan Mikael ini membuat Sophia sedikit bersedih. Dia teringat kejadian saat dirinya masih kecil dan kecelakaan membuatnya kehilangan ke dua orang tuanya untuk selamanya. Mikael melihat kesedihan di wajah Sophia, tanpa gadis itu menjawab Mikael tahu jawabannya. Dan dia meminta maaf atas pertanyaan yang menyinggung hatinya. “Maafkan aku, Shopia, jika pertanyaanku menyinggungmu. Kau tak perlu menjawabnya.” Mikael tersenyum ke arah gadis itu. “Tidak apa-apa, Mikael,” jawab Sophia menggelengkan kepala. "Memiliki orang tua tidak selalu beruntung. Terkadang orang tua ingin mengatur takdir anak-anaknya tanpa bertanya lebih dahulu apa kehendak anak mereka," ucap Mikael. "Tapi aku masih iri dengan mereka yang masih memiliki orang tua. Kedua orang tuaku telah tiada," kata Sophia. Sophia berkata kepada Mikael bahwa ke dua orang tuanya telah meninggal dalam kecelakaan saat dia masih kecil, dan kini dia hanya hidup berdua saja dengan kakak perempuannya. Dia juga mengatakan bahwa selama ini yang membiayainya sekolah bahkan yang memenuhi kebutuhannya adalah kakaknya. Maka, dari itu Sophia memilih untuk bekerja agar dapat meringankan beban kakaknya itu. Mikael sudah menghabiskan dua botol wine malam ini. Dia terlihat semakin mabuk. Semua kekesalan yang ada di hatinya terluapkan, tanpa dia sadari dirinya menceritakan kisah kehidupannya kepada Sophia. “Hidupmu sangat beruntung, tidak ada orang tua akan tetapi memiliki kakak yang sangat menyayangimu, tidak tahukah kamu hidupku saat ini sangat kacau.” Mikael menceritakan dirinya yang saat ini. Dia berkata kepada Sophia bahwa kehidupannya sangat menyedihkan. Selama ini dia hidup seperti pion catur yang dimainkan oleh orang tuanya. Semua yang dia lakukan tergantung apa kata orang tuanya. Mikael merasa bahwa dirinya saat ini bukanlah dia yang sebenarnya. Tak ada kebebasan yang dia miliki. Bahkan untuk masalah perasaannya saja orang tuanya lah yang mengatur. Dia ingin seperti kebanyakan orang di luar sana yang bebas memilih pasangan untuk mendampingi hidupnya di masa mendatang, tetapi dia tidak tahu apakah hal itu bisa dia lakukan atau tidak. Sophia yang mendengar cerita Mikael merasa iba, dia tak bisa berkata apa-apa hanya terus menjadi pendengar yang baik. Mikael juga bercerita bahwa dia memiliki seorang adik bernama Joseph. Sejak kecil kehidupan mereka berbeda. Sebelum akhir pekerjaan Sophia, rupanya mereka berdua menjadi teman bicara yang baik. Keduanya saling mengungkapkan kepedihan hidup mereka di tengah efek alko-hol yang mereka teguk. “Aku juga memiliki saudara sepertimu, aku memiliki adik laki-laki bernama Joseph. Namun, kehidupan kami berbeda saat ini. Mungkin karena sejak kecil aku terlihat lebih pintar dari pada dirinya sehingga orang tua kami memperlakukan kami secara berbeda.” Mikael tersenyum kecil. Sophia yakin senyumnya itu adalah kesedihan yang mendalam selama ini dia tutupi. Rupanya hidup bergelimpangan harta tidak selalu membuat seseorang lantas hidup berbahagia. “Kau tahu, Sophia saat remaja sepertimu aku sangat pintar tapi sayang aku tak bisa mengembangkan bakat yang aku miliki sesui harapanku. Apa kau tahu mengapa?” Sophia hanya menggelengkan kepalanya. Mikael tersenyum kembali dia tahu tentu saja gadis itu tak mengalami nasib yang mengerikan sepertinya. “Orang tuaku selalu mengatur semua yang aku kerjakan, itu bukan hal yang menyenangkan. Apa kau tahu rasanya hidup sebagai pion catur. Kamu pikir hidupku bahagia selama ini? Tidak, Sophia. Mereka yang melihatku saat ini tidak tahu dan tidak merasakan penderitaan yang selama ini aku alami.” Air mata pria itu seketika mengalir di pipinya. Emosi yang begitu besar terpancar di wajah pria itu, rasa iba semakin dalam saat Sophia mendengar semua ceritanya. Memang saat kecil Mikael sudah terlihat lebih pintar di bandingkan Joseph. Orang tua mereka berpikir bahwa Mikael memiliki potensi yang besar di masa mendatang. Sejak saat itu Mikael lah yang selalu di utamakan oleh ke dua orang tua mereka. Kasih sayang yang mereka berikan pun terlihat berbeda. Joseph yang merasa tidak dipedulikan dan di sayangi semakin brutal. Selalu ada saja prilakunya yang membuat orang tua mereka naik pitam. Padahal semua tingkahnya semata-mata hanya kerena ingin mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Namun, sayang tak ada yang mengerti dengan Joseph. Dia pun berpikir bahwa kakaknya sangat bahagia. Saat mereka dewasa dan Joseph pergi meninggalkan rumah dan ketika itu dia baru mengetahui betapa kakaknya hidup sangat menderita. Semua yang dialami Mikael tak sesuai yang Joseph lihat. Begitulah kehidupan Mikael saat ini hanya menjadi pion catur yang dimainkan ke dua orang tuanya agar kehidupan keluarga mereka cerah dan karier ayahnya akan jauh lebih baik lagi. Lelaki itu kini terlihat sangat menderita dalam keadaan mabuk. "Aku adalah anak sekaligus catur bagi mereka," ucap Mikael dengan tatapan nanar. Sophia yang mendengar merasakan semua kesedihannya. Gadis itu berpikir ternyata kehidupan orang kaya tak seindah yang dia lihat selama ini. Sophia selalu berpikir jika saja dia terlahir dari keluarga yang kaya raya mungkin kehidupannya jauh lebih baik, bisa bersekolah di tempat yang bagus, tinggal di rumah yang mewah, memiliki mobil dan segala yang dia inginkan. Bahkan dia berpikir bahwa kakaknya tidak harus bersusah payah untuk bekerja. "Hiduplah bebas seperti yang kau mau, kau berhak hidup bahagia karena hidupmu adalah milikmu sendiri," seloroh Sophia menuangkan satu gelas lagi untuk Mikael. Ternyata pada kenyataannya berbeda, kehidupan orang kaya begitu rumit tak selamanya bahwa memiliki harta berlipah itu akan bahagia. Mungkin bagi mereka yang melihat itu menyenangkan tetapi dia yang merasakan jauh berbeda dengan apa yang orang lain lihat. Kini pikiran itu sirna setelah mendengar Mikael bercerita ternyata kehidupannya saat ini jauh lebih baik di banding pria yang ada di hadapannya. Dia bersyukur masih memiliki kakak yang begitu menyayanginya, dan masih bisa merasakan kebebasan dalam memilih hidupnya. Gadis itu mulai memahami arti hidup yang sesungguhnya, dia tak ingin menyia-nyiakan apa yang tuhan berikan berikan kepadanya saat ini. Mikael semakin larut dalam mabuknya dia berteriak meluapkan semua emosinya dan kekecewaannya terhadap keluarganya dan dirinya sendiri. "Seandainya aku bisa ...." Sophia hanya diam dan tetap duduk menemani lelaki itu. Dia tahu Mikael sosok laki-laki baik jadi tak mungkin dia melakukan hal buruk terhadapanya. Gadis kecil itu tetap merasa aman dan tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai gadis teman minum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN