Akhirnya Mikael terlelap dalam tidurnya dan kehilangan kesadaran karena terlalu lelah dan mabuk setelah menghabiskan enam botol wine. Shopia menidurkan pria itu dan menyelimutinya secara perlahan. Gadis kecil itu duduk di samping Mikael dan memandang wajahnya. Sesekali Shopia mengelus halus rambut pria itu. Melihat kesedihan yang ada di dalam diri Mikael.
Sophia seharusnya dapat mengerti, bahwasanya kehidupan para orang kaya juga tidak seenak yang dia pikirkan di dalam kepala cantiknya. Justru menurut Sophia, usai dirinya mendengarkan penuturan Mikael tentang kesulitan yang tengah lelaki hadapi, Sophia berpikir jika para orang-orang kaya seperti mereka memiliki beban pikiran jauh lebih banyak dari orang-orang kalangan menengah seperti Sophia dan kakaknya.
Dengkuran halus di bibir Mikael membuat gadis itu menatap lekat sosok lelaki tampan di depannya. Alisnya begitu tebal dengan rambut ikalnya begitu kontras dengan bibir ranumnya untuk ukuran para lelaki.
“Jika sedang tidur seperti ini, mengapa aku merasa sangat iba terhadap lelaki ini,” ujar Sophia sambil mengelus halus rambut Mikael.
Sophia berkhayal andai saja Mikael bersanding dengan kakaknya Theresia mungkin mereka akan menjadi pasangan yang serasi. Kakaknya adalah wanita pekerja keras dan tidak pernah mau diperintah oleh orang lain, pribadi bebas dominan pada diri kakaknya. Sangat berbanding terbalik dengan Mikael yang lebih tunduk pada perintah orang tuanya.
Bahkan ketika orang tua Shopia dan Theresia masih hidup, hanya kakaknya yang menjadi anak paling sukar diberi nasihat oleh orang tua mereka. Hanya saja, setelah kepergian kedua orang tua mereka, Theresia benar-benar berubah menjadi sosok kakak paling baik di dunia ini menurut Sophia. Theresia berpikir, jika dirinya tidak dapat diandalkan oleh adiknya sendiri, maka kepada siapa adiknya akan menggantungkan kehidupannya di dunia yang begitu kejam ini?
Kepergian orang tuanya membuat Theresia mengemban banyak tanggungjawab berat di pundaknya, siap atau tidak siap dirinya haruslah menjalankan semuanya dengan lapang da-da.
“Hey, Tuan, andai kamu mau aku ajak berekanalan dengan kakakku, mungkin kalian akan menjadi pasangan yang serasi.” Sophia berbicara sendiri seolah Mikael mendengarnya, “Kakakku itu sangat cantik dan baik pasti jika kalian bersanding mungkin kau bisa membahagiakannya dan menjaganya. Selama ini dia terlalu sibuk mengurusku sehingga lupa dengan dirinya sendiri. Tuan, aku berharap kau mau dengan kakakku meski dia tak sebanding denganmu.”
Sophia terus berbicara kepada Mikael yang tak sadarkan diri, dia sangat teringat dengan sosok kakaknya yang begitu baik terhadapnya. Gadis itu berharap bahwa suatu saat Theresia akan menemukan jodoh seperti Mikael yang kaya raya dan juga baik. Dengan begitu Sophia sedikit lega karena kakaknya itu akan ada yang menjaga dan menyayangi setulus hati.
Sophia tersenyum karena telah berpikir konyol, bagaimana bisa mereka saling berjodoh sedangkan hal yang mustahil untuk pria sekaya Mikael bisa berkenalan dengan kakaknya itu.
“Akh, aku sangat bodoh. Bagaimana bisa kalian saling berkenalan sedangkan kau pria yang sangat kaya, Tuan.” Sophia mengelengkan kepalanya.
Kakaknya dan Mikael mungkin akan menjadi pasangan bertolak belakang. Baik dari materi, ataupun dari sikap mereka berdua. Kakaknya hanya pungguk merindukan rembulan jika keduanya benar-benar dapat bertemu suatu hari nanti.
“Padahal kakakku adalah wanita baik-baik, tetapi apa kau akan menyukainya.” Lagi-lagi Sophia meneruskan pikirannya yang konyol.
Gadis itu merasa dirinya telah kehilangan akal karena tidak tidur semalam. Lalu Sophia berdiri menatap keluar apartemen melihat pemandangan indah dari atas sana. Waktu hampir menunjukan jam lima pagi. Angin bertiup semakin dingin, Sophia bersedekap menahan dinginnya udara yang menusuk tubuhnya.
Kini dia merasa lelah, ingin pulang tetapi Mikael masih tertidur. Gadis itu tak ingin mengganggu kliennya itu hanya untuk meminta bayaran. Bukankah lebih baik jika Sophia menikmati kemewahan apartemen paling megah di kotanya selama beberapa waktu sambari menunggu kliennya bangun dari tidurnya? Bodohnya, mengapa Sophia tidak meminta bosnya saja yang mengurus bayarannya pada malam ini. Sophia sudah terlanjur mengatakan kepada bosnya bahwa dia menginginkan bayaran tunai saja dari Mikael.
“Ya, kapan lagi aku bisa menikmati kemewahan gratis seperti ini kalau bukan sekarang?” gumam Sophia membuka pintu penghubung antara ruang tamu dengan kolam renang.
Manik mata Sophia memandang kolam renang itu dengan tatapan bergidik ngeri. Gadis itu tidak dapat menemukan alasan mengapa banyak sekali orang menyukai kolam renang, padahal dirinya sendiri sangat membenci kolam renang. Gadis itu tidak bisa berenang, bahkan sampai usianya kini memasuki usia mahasiswa sekalipun.
Merasa tubuhnya merinding ketika melihat pemandangan kolam renang di depannya, gadis itu lebih memilih menutup kembali pintu kaca pembatas di sana dan berbalik arah kembali menuju sofa tempat di mana Mikael terlelap usai bercerita panjang kali lebar tentang dirinya. Lebih baik Sophia mengistirahatkan tubuhnya sejenak di single sofa yang ada di seberang Mikael merebahkan dirinya.
Di tempat lain terlihat Anne yang begitu marah karena sejak tadi tak bisa menghubungi Mikael. Wanita itu terus mencoba namun, Mikael tak menerima panggilannya bahkan ponsel Mikael menjadi tidak aktif. Anne merasa bahwa Mikael benar-benar berubah akhir-akhir ini. Lelaki itu tampaknya sengaja menghindari panggilan telepon darinya maupun pertemuan dengan dirinya.
Berkali-kali upaya Anne menghubungi Mikael tetap saja nihil. Anne tidak tahu apa yang telah terjadi kepada Mikael sampai lelaki itu berubah drastis seperti sekarang ini. Meskipun selama menjalin hubungan dengan Anne, sikap Mikael memang terasa dingin dan acuh tidak peduli kepada wanita itu, tetap saja Mikael masih memberikan respon positif terhadap perasaan Anne.
“Mikael dimana kau, apa kamu sudah gila dengan mengabaikanku seperti ini,” ujar Anne yang terus mencoba menghubingi Mikael.
Anna merasa kesal, ditatapnya layar ponselnya dengan pandangan penuh kekecewaan mendalam darinya. Kekasih tampannya yang dia cintai sejak kemaren tidak memberikan dia kabar apapun. Sebelumnya Mikael akan memberikan kabar teruntuk Anne ke manapun Mikael berada. Mikael sama sekali tidak pernah melakukan hal di luar kebiasaan lelaki itu jika tidak ada masalah yang terjadi.
Mungkinkah Mikael tengah menghadapi kesulitan yang tak dia ceritakan kepada Anne?
“Arrrgghhh.” Anne terlihat sangat marah dan melemparkan seluruh bantal yang ada di kamarnya.
Ibu Anne mendengar keributan yang ada di kamar putrinya itu dan segera menghampirinya. Manik mata ibunda Anne terbelalak dengan pemandangan di depannya. Kamar mewah putrinya sudah tidak tampak lagi seperti kamar, mungkin lebih tepat jika kamar putrinya disebut sebagai kandang.
“Ada apa ini, Anne?” tanya ibunya saat melihat kamar putrinya itu berserakan.
Anne yang terlihat uring-uringan sangat membuat khawatir ibunya itu. Wanita paruh baya itu segera menghampiri anaknya dan memeluknya. Anne bersandar manja kepada ibunya dengan wajah yang masih terlihat kesal. Wanita itu jelas saja dilingkupi perasaan gelisah, dia sudah jatuh hati teramat dalam kepada lelakinya.
Dirinya tidak dapat membayangkan jika saja Mikael sedang bersama wanita selain dirinya.
“Mikael, Ma, dia tak mengangkat teleponku.” Anne mengutarakan kekesalannya itu pada ibunya.
“Mungkin dia sedang bekerja, Sayang,” jawab sang ibu mencoba menenangkan putrinya itu.
“Tapi tidak mungkin dia bekerja sepagi ini, sejak semalam dia menghiraukan teleponku.” Anne kembali kesal dan menekuk wajahnya.
“Apa kau sudah mencoba menghubungi keluarganya?” tanya sang ibu sambil mengelus halus rambut putri satu-satunya itu.
“Belum, Ma.” Wanita itu mengkerutkan bibirnya.
Sang ibu memberi saran agar Anne menghubungi Alexa untuk menanyai kabar Mikael. “Coba kau hubungi Aunty Alexa, mungkin dia tahu tentang keberadaan Mikael. Jangan bersedih lagi kau tampak tidak cantik dengan wajah seperti itu,” ucap ibunya yang terus berusaha menenangkan Anne.
“Terimakasih, Ma, aku akan segera menghubungi ibu Mikael.” Anne mencium pipi sang ibu.
Ibunya kembali tersenyum melihat anaknya yang jauh lebih baik, tetapi prasaan khawatir terus di rasakan sang ibu terhadap anaknya itu. Jika Mikael tak segera menikahi Anne mungkin akan membuat anaknya terus begini. Akhirnya sang ibu meninggalkan putrinya untuk menemui ayahnya agar segera berbicara kepada keluarga Mikael tentang hubungan antara putra putri mereka.
Anne segera mengambil ponselnya kembali dan mencoba menghubungi Alexa untuk memastikan bahwa Mikael ada bersama wanita itu. Setidaknya dari jawaban Alexa nanti dirinya dapat mengetahui ke mana dan di mana saat ini Mikael sedang berada. Sungguh, sehari saja tanpa kabar dari lelakinya sudah mengacaukan perasaan dan pikiran Anne sepanjang hari.
“Hallo, ibu,” ucap Anne saat Alexa menerima panggilannya.
Alexa yang baru saja selesai membersihkan diri dan sedang mengeringkan rambut di bantu para pelayannya seketika terkejut mengetahui Anne menghubunginya sepagi ini. Wanita itu meminta pelayannya untuk keluar meninggalkan dia seorang diri. Alexa mengatur ekspresi wajahnya dengan baik, dia berdeham sebelum menjawab sapaan dari kekasih anak sulungnya itu.
“Hallo, Sayang,” jawab Alexa terdengar ramah.
“Ibu! Apa Mikael ada di rumah?” tanya Anne sedikit kesal.
“Hmm … sebenarnya Mikael sejak semalam tidak kembali ke rumah.” Alexa terdengar gugup.
Anne yang kembali merajuk meninggikan nada bicaranya dan membuat Alexa merasa kesal. Namun, wanita itu berusaha tetap ramah terhadap Anne. Dia tidak ingin hanya karena hal seperti ini merusak semua rencananya. Wanita itu memamng sangat pandai berdalih dan bermuka dua, apapun akan dia lakukan demi harta.
Alexa sudah merancang rencananya sebaik mungkin agar putranya, Mikael, dapat menikah dengan Anne. Alexa membutuhkan pernikahan tersebut untuk memuluskan jalan suaminya menaiki tahta kepemerintahan sesuai yang mereka harapkan sebelumnya.
“Bagaimana bisa, Bu? Apa yang terjadi dengan Mikael sampai dia tidak kembali ke rumah?” Anne mengkerutkan dahinya, napasnya terdengar lebih cepat, “mengapa kau tak mengabariku?” lanjut Anne merasa bahwa Alexa tak bisa diandalkan.
“Aku hanya tak ingin mengganggu istirahatmu, Sayang.” Alexa berusaha mencari alasan menutupi pertengkarannya dengan Mikael semalam.
Dia tidak ingin Anne berpikir bahwa dirinya tidak bisa mengatur Mikael, Alexa pun tidak ingin Anne merasa kecewa dan tak pernah mempercayainya lagi. Wajah Alexa terlihat sangat gugup, wanita itu menggigit bibirnya kecil sambil memikirkan cara agar Mikael mau menikahi Anne.
Alexa sebenarnya sudah jengah dengan sikap Anne yang seolah tak menghargainya sama sekali, tetapi dia harus mempertahankan gadis itu, Alexa berpikir bahwa suatu saat jika Anne menjadi menantunya dia bisa berbalik memperlakukannya dengan buruk.
“Dimana Mikael saat ini?” Amarah Anne semakin meninggi, dia yakin pasti Mikael sengaja mengabaikannya.
“Aku tidak tahu, mungkin dia berada di apartemennya,” jawab Alexa menerka-nerka keberadaan Mikael.
“Mungkin? Ibu memang tak bisa diandalkan.” Anne menutup ponselnya.
Alexa mengepalkan tangan, dan mengkerutkan bibirnya. Dia melemparkan semua make up yang ada di hadapannya. Meja rias itu kini terlihat berantakan. Mengapa semua orang terasa menjadi penghalang antara dirinya dengan Mikael?
“Dasar gadis s****n, seenaknya kau memaki aku,” umpat Alexa sambil menggebrak meja, melampiaskan kekesalannya kepa Anne.
Mata wanita itu terlihat merah, dia memandang dirinya yang terlihat di cermin yang ada di hadapannya. Kekesalan yang mendalam terlihat di wajahnya. Andai saja keluarga Anne tak memiliki peran penting untuk suaminya, mungkin wanita itu tidak akan meladeninya.
Alexa berteriak mengeluarkan kekesalannya, dia melempar benda yang ada di hadapannya ke arah cermin dan membuatnya pecah. Teriakannya membuat pelayan yang ada di luar kamarnya menjadi khawatir mereka ingin masuk tetapi tak berani karena takut menjadi sasaran amarah majikannya itu. Para pelayan itu hanya menunduk ketakutan.