Perasaan gelisah tentu menyergap diri wanita cantik yang sangat jatuh hati dengan Mikael. Anak politikus kondang, Anne, segera berganti pakaian berniat mencari Mikael, lalu dia berjalan dengan cepat keluar kamarnya. Ibu dan ayahnya yang sedang duduk di ruang tamu melihat Anne yang bergegas dengan wajah yang sembab berusaha menghentikannya.
Menurut informasi dari Alexa ketika tadi Anne menghubungi wanita itu, kemungkinan besar Mikael berada di apartemen lelaki tampan itu. Tidak heran, apartemen Mikael merupakan tempat hunian nyaman yang jauh dari kebisingan luar karena design bangunannya sangat berkualitas. Keheningan tersebut sangat layak menjadi tempat menenangkan diri menepi dari segala seluk beluk kesibukan dunia luar.
Terlebih Mikael benar-benar malas, lelaki itu telah berada di titik paling jenuh di dalam dirinya karena segala macam tuntutan kedua orang tuanya kepada dirinya. Sepertinya apa yang Joseph lakukan adalah salah satu panutan bagi Mikael supaya lelaki itu berani membangkang kedua orang tuanya. Di dunia ini ada dua tipe orang tua, yakni orang tua yang menyerahkan semua keputusan kepada anak-anaknya. Namun ada juga orang tua yang menginginkan kuasa atas kehidupan anaknya.
Menjadikan anak sebagai alat pemulus jalan keinginan mereka? Tentu saja ada, buktinya kedua orang tua Mikael selalu menekan Mikael untuk tetap berada dalam kendali ayah dan ibunya.
“Mau kemana, Sayang?” tanya ibunya kepada Anne.
Seketika Anne menghentikan langkah kakinya. “Aku harus mencari Mikael,” ucap wanita cantik itu lalu melanjutkan langkah kakinya.
Ibu Anne merasa iba melihat tingkah anaknya itu, sedangkan ayahnya cuek saja dan terus membaca koran. Ibunya terlihat kesal karena suaminya terlihat otak peduli dengan keadaan anaknya itu. Padahal Anne adalah sematawayang mereka, tetapi mengapa suaminya tampak acuh atas apapun yang tengah melibatkan putri satu-satunya.
“Pa, bagaimana ini? Lalukan sesuatu untuk anak kita,” ucap ibu Anne sambil menarik-narik bahu suaminya.
“Biarkan saja, mereka sudah dewasa,” jawab suaminya yang terdengar sangat santai.
Ibu Anne terlihat semakin kesal dengan dengan tingkah suaminya itu. “Suamiku, apa kamu tega melihat putrimu seperti ini terus, kamu harus segera meminta Mikael untuk menikahi Anne.”
“Iya, nanti aku akan berbicara kepada keluarga Holen.” Suaminya membuka kacamata dan melipat koran yang sedang ia baca.
Ibu Anne yang masih terlihat kesal terus menggerutu dan membuat suaminya menggelengkan kepala. Lelaki itu menyeruput kopi yang ada di atas meja lalu berdiri dan meninggalkan istrinya yang sedang kesal. Bukan karena dirinya acuh atau tidak peduli dengan kehidupan cinta anaknya sendiri, melainkan karena firasat ketidaktulusan keluarga Holen ketika menawarkan uluran tangan mereka kepada keluarganya. Sepertinya ada udang di balik batu.
Anne terus berjalan tanpa memperdulikan kedua orang tuanya, ia segera mengendarai mobilnya. Lagipula ini bukan pertama kalinya sang ayah tidak merespon apapun yang terjadi kepada dirinya. Di perjalanan Anne mencoba menghubungi Mikael lagi namun, masih tidak ada jawaban dari tunangannya itu. Anne melajukan mobilnya lebih cepat lagi.
“Mikael, aku benar-benar tidak terima dengan perlakuanmu ini.” Anne terus menginjak gas mobil melebihi kecepatan agar segera sampai ke apartemen tunangannya itu.
Anne berpikir bahwa Mikael pasti ada di sana seperti yang Alexa katakan, karena tak mungkin tunangannya berada di tempat lain. Dia kenal betul bahwa selama ini Mikael tidak pernah memiliki teman dekat bahkan hubungannya dengan adiknya tidak terlampau dekat. Mikael juga bukan tipe seorang kakak yang akan merepotkan adiknya, mengingat bahwa Joseph sengaja menepi dari keluarganya sendiri karena jengah dengan sifat angkara murka kedua orang tuanya.
Sesampai di apartemen Anne segera memarkirkan mobilnya. Semua petugas di sana mengetahui siapa Anne, mereka sengaja berdiri dan bersikap siaga saat Anne memasuki loby apartemen.
“Selamat pagi, Miss,” sapa mereka tersenyum menyapa.
Bukan Anne namanya jika wanita itu tidak ketus dan tampak angkuh oleh sekitarnya. Anne memilih menganggukkan kepalanya singkat dan bergegas menuju kamar Mikael. Anne tidak membutuhkan bantuan petugas untuk sampai di lantai di mana Mikael berada, juga memiliki membercard yang dapat dia gunakan untuk memilih ke lantai berapapun dia ingin menginjakkan kaki di apartemen itu.
Tiba-tiba saja perasaan tidak enak mulai menyergap diri Anne. Wanita itu merasa bahwa Mikael mungkin tidak sendirian di dalam kamar apartemen mewahnya. Anne segera menekan tombol bel di samping pintu masuk. Menunggu beberapa saat tetapi tidak ada pergerakan apapun di dalam ruangan itu. Perasaan gelisah semakin memenuhi hati wanita cantik itu. Di depan pintu kamar Anne menggedor-gedor sambari menekan tombol bel, tetapi tak ada jawaban dari Mikael. Masa bodoh jika tetangga kamar apartemen Mikael terganggu karenanya.
Sophia yang sedang tidur di sofa sontak terkejut mendengar suara bel berdenting dan gedoran di luar. Sophia berjalan menuju sumber dan membuka pintu, terlihat seorang wanita cantik yang terlihat emosi berdiri di hadapannya. Gadis itu terdiam memandang Anne. Lebih tepatnya mengamati dengan lekat siapa gerangan wanita cantik di depannya yang kini terlihat begitu murka menatap dirinya. Apa kesalahan Sophia? Tunggu, jangan-jangan wanita cantik itu memiliki hubungan dengan lelaki yang menyewa jasanya malam ini?
Matilah Sophia, apa yang harus dia lakukan saat ini? Adik dari Theresia menelan salivanya dalam-dalam, bingung harus bereaksi seperti apa untuk menghadapi Anne. Dia seperti w*************a yang tengah disergap oleh pasangan asli. Meski begitu Sophia merasa tak bersalah, dia hanya menunaikan tugasnya karena itu adalah pekerjaannya, terlebih tak ada kejadian apapun antara dirinya dan Mikael selama semalaman penuh dia menemani Mikael minum.
Anne yang melihat ada gadis muda di apartemen tunangannya sangat terkejut, dia memandang Sophia dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan raut wajah yang menilai. Dia menerobos masuk kedalam dan menyenggol tubuh Sophia hingga gadis itu terhuyung ke samping.
“Mana tunanganku?” teriak Anne mencari Miakel.
Anne berjalan menuju ruang tamu dan terlihat Mikael yang terkapar tak sadarkan diri di sofa panjang, dia mencium aroma alko-hol begitu menyengat dari tubuh Mikael ketika Anne mendekatinya. Anne berpikir bahwa telah terjadi sesuatu antara gadis muda itu dan tunangannya. Anne mengepalkan tangan dan mengamati Sophia, dia benar-benar merasa Mikael telah mengkhianatinya bersama gadis muda itu.
Siapa gadis itu sampai berani menyentuh milik Anne? Bahkan seluruh orang di kota itu mengetahui hubungan antara Mikael dengan dirinya. Lantas apa kelebihan Sophia sampai gadis itu memiliki nyali mengusik apa yang menjadi milik Anne!
Sophia merasa suasana di dalam apartemen itu semakin mencekam, terlebih melihat tatapan Anne yang begitu tajam terhadapnya. Gadis muda itu tak tahu siapa wanita yang kini memandangnya, tetapi dia yakin bahwa wanita itu sangat tidak menyukainya.
Pandangan Anne kian menusuk manik mata Sophia. Kekesalan Anne memuncak dia menarik rambut Sophia dengan kasar. Wanita itu tak ingin Mikael mendengar keributan itu sehingga dia menarik Sophia ke tepi kolam renang untuk memberikan Sophia pelajaran yang setimpal karena telah menyentuh miliknya.
“Sini kamu wanita ja-lang,” ucap Anne yang terus menarik rambut Sophia.
Sophia yang merasa kesakitan berusaha melepaskan jambakan Anne. “Arh ….” Rintih Sophia yang kesakitan.
Plakkk, suara tampara keras terdengar di tepi kolam renang, Anne menapar keras pipi gadis muda itu hingga tersungkur beberapa langkah ke belakang hingga akhirnya terhuyung bersimpuh di depan Anne. Sophia yang kesakitan terus memegang pipinya di bawah kaki Anne. Gadis itu merasakan wajahnya panas seketika, tidak menyangka dirinya akan mendapatkan perlakuan seperti ini yang tak pernah dia bayangkan seumur hidupnya.
“Apa yang kau perbuat dengan tunganku wanita ja-lang.” Anne berlutut dan kembali menjambak rambut Sophia hingga kepala gadis itu tertarik ke belakang.
Air mata mengalir di pipinya, dia hanya diam dan tidak tahu harus berkata apa. Ini adalah resiko yang harus Sophia tanggung karena telah berani mengusik ketentraman hubungan Anne dan Mikael. Kecemburuan di dalam diri Anne tentu saja tidak dapat lagi terbendung.
“Jawab aku wanita s**l*n.” Wanita itu terus mendesak Sophia. Tangannya masih meraih kasar rambut panjang Sophia dengan penuh kemarahan.
Kilat api amarah tercetak jelas di manik mata Anne yang menggelora ketika memandang Sophia. Pikiran buruk tentang malam panas antara Mikael dan gadis muda di depannya semakin membakar emosinya sebagai wanita yang mencitai Mikael teramat sangat dalam.
“Kami tidak melakukan apapun, sungguh,” jawab Sophia terbata-bata menahan sakitnya.
Anne kembali menyiksa Sophia, dia memegang pipi gadis muda itu dengan keras. Kukunya yang tajam berwarna merah serasa menusuk di pipi Sophia. Gadis itu sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk membela dirinya.
“Tuan Mikael!” teriak Sophia memanggil nama Mikael untuk meminta bantuan.
Mungkin hanya Mikael yang dapat menyelamatkan dirinya dari kemarahan wanita di depannya. Jika tidak ada yang menolongnya saat ini, Sophia yakin benar bahwa amarah di dalam diri Anne dapat membunuh Sophia secara perlahan. Tatapan mata Anne benar-benar mirip seperti orang tengah kerasukan.
“Jangan berdalih kamu,” ucap Anne menatap Sophia tajam.
“Aku hanya bekerja di sini, kami tidak melakukan apapun, aku hanya menemaninya minum,” ucap Sophia menjelaskan semuanya kepada Anne, “aku hanya di perintahkan oleh David sahabat Tuan Mikael yang tak lain adalah bosku.”
Anne berdecih dan tak percaya dengan ucapan Sophia. Seorang wanita dari kalangan Sophia memang pandai berkilah untuk membela dirinya. Mana ada maling yang mengaku?!
“Aku tahu w***********g sepertimu hanya mengincar harta dari pria-pria kaya seperti Mikael, iya kan?” Anne menuduh Sophia bahwa gadis itu hanya akan memanfaatka tunangannya.
Dia mengira bahwa Sophia adalah gadis penghibur yang akan mendekati tunangannya dan mengincar hartanya. Anne yang mulai tak terkendali menggampar wajah Sophia lagi dan lagi. Di waktu yang bersamaan Sophia mendengar ponselnya bordering. Gadis cantik itu ingin mengambilnya karena dia tahu itu pasti kakaknya. Sophia harus meminta bantuan sebelum Anne menyiksanya lebih parah lagi.
Tidak ada yang bisa ia lakukan kini, gadis itu terus berada di genggaman Anne, wanita arogan itu tak membiarkan Sophia untuk pergi begitu saja. Air mata terus mengalir di pipi Sophia, dia tidak menyangka bahwa pekerjaannya akan berisko seperti ini. Apapun yang Sophia katakan selalu ditepis oleh Anne, wanita itu tak ingin mendengarkan penjelasan apapun darinya. Matilah kau Sophia!
Di pikiran Sophia hanya ada kakaknya saat ini, dia sangat merindukan Theresia dan ingin memeluknya. Sophia tahu dia tidak boleh menyerah begitu saja mungkin esok dia akan menemui hal yang sama dengan klien yang lainnya karena inilah resiko pekerjaannya.
Sophia berusaha menghapus air mata yang mengalir di pipinya, Anne tidak sedikit pun iba melihat gadis muda itu kesakitan. Wanita itu berdiri dan menginjak tangan Sophia dengan sepatu berhak tinggi yang kini tengah dia kenakan.
“Au ….” Lagi-lagi gadis itu merintih kesakitan.
Anne hanya tersenyum sinis dan berjalan membelakangi Sophia. Gadis muda itu mencoba berdiri perlahan dan menundukan kepalanya. Kesakitan Sophia terasa menyenangkan di mata Anne. Rasanya semua kesakitan Sophia tidak sebanding dengan kesakitan dan kekecewaan yang dia rasakan saat melihat seorang gadis muda berada di kamar apartemen lelakinya.
“Berapa uang yang kau butuhkan?” tanya Anne dengan nada lantang.
Sophia terdiam masih merasa takut, dia berdiri di belakang Anne dan menggenggam kedua tangannya. Kakinya terlihat bergetar, tubuhnya berusaha menahan rasa sakit yang dia rasakan. Pipi gadis muda itu pun terlihat merah akibat tamparan yang Anne daratkan di wajahnya. Anne seperti wanita bar-bar, tidak peduli resiko apa yang akan dia terima nantinya.
“Kau butuh ini kan?” Anne mengeluarkan setumpuk uang dari tasnya, “tidak mungkin kau masuk ke sini dengan cuma-cuma,” lanjut Anne menatap sinis Sophia.
Sophia terus menundukan wajahnya tak berani memandang wajah Anne yang sedang marah. Tubuh gadis muda itu semakin bergetar karena ketakutan.
“Apa kau bisu tak menjawab pertanyaanku, katakan berapa jasa yang harus aku bayar atas pekerjaan kotormu itu.” Anne kembali mendekatkan wajahnya kepada Sophia.
“Aku benar-benar minta maaf, aku hanya di minta David bosku untuk ke sini menaninya minum hanya itu saja. Kami benar-benar tak melakukan apapun.” Sophia kembali meminta maaf kerena telah membuat kesalah pahaman.
Isak tangis Sophia pecah seketika. “Sungguh aku tak melakukan pekerjaan kotor seperti apa yang kau katakan,” lanjut Sophia.
Anne tersenyum sinis mendorong bahu Sophia, wajahnya terlihat tak percaya dengan ucapan gadis muda itu.
“Ini uang untukmu, aku tidak ingin kau bertemu lagi dengan tunanganku. Paham!” Anne mengibaskan sejumlah uang ke wajah Sophia.
Gadis muda itu mengangguk mendengar ucapan Anne.
“Jika kau masih menemui tunanganku, kau tahu akibatnya apa?” Anne menyentuh pipi Sophia dengan kukunya yang terlihat tajam, “ajal akan segera menghampirimu, paham!”
Anne mengancam Sophia untuk tidak menemui Mikael lagi, jika dia masih berani menemui kekasihnya maka tidak segan-segan Anne akan membunuh gadis muda itu. Tidak ada yang boleh menyentuh milik Anne.