21. Keributan Ayah Dan Anak

1650 Kata
Gurat kegelisahan terlihat di wajah anak bungsunya membuat sang ayah memandang Joseph Joseph terlihat sangat kacau sekali. Tidak pernah Joseph datang sendiri ke rumah tanpa undangan atau perintah dari keluarganya. Seluruh keluarganya sampai bingung bagaimana cara membujuk Joseph agar lelaki itu berkenan kembali pulang. Mereka tidak pernah mengakui kesalahan ketika berhadapan dengan anak-anak mereka. Di otak dan kepala Georgeus dan Alexa hanyalah tentang mengepakkan sayap kekuasaan keluarga mereka saja, tanpa memikirkan tentang perasaan putra-putranya. Tidak heran jika Joseph mengambil keputusan dengan meninggalkan rumah, serta hidup mandiri tanpa campur tangan keluarga besarnya. Georgeus sangat penasaran masalah apa yang sedang menimpa putranya itu sampai dia harus menemuinya. Sang ayah bertanya apa yang membuat Joseph menemuinya dan sang putra mengatakan bahwa dia sedang dalam masalah sehingga membutuhkan bantuan ayahnya. Biasanya, Joseph adalah anak keras kepala, dan segan mengakui kelemahan maupun kesusahannya. “Masalah apa yang menimpamu?” tanya Georgeus penasaran. “Bukan aku,” jawab Joseph memandang ayahnya. Georgeus semakin penasaran, tak pernah Joseph meminta bantuan kepadanya. Namun kali ini Joseph datang ke hadapannya untuk meminta pertolongan, sedangkan bukan putra bungsunya itu yang memiliki masalah. “Sebenarnya masalah itu menimpa pekerja di cafeku, tetapi aku tahu jika ke kuasaan Papa di kota ini bisa membantu karyawanku itu,” ujar Joseph penuh harapan. “Memang apa yang terjadi dengan pekerja café milikmu sampai anak keras kepala seperti dirimu menepikan ego untuk menginjakkan kaki di rumah kedua orang tuamu, Nak?” tanya Georgeus sambari menyindir putranya lewat kata-katanya. Joseph merasa segan, dia tahu kalau kedatangannya mungkin akan menjadi bahan olok-olokan keluarganya. Tapi bagaimana lagi, Joseph harus mencari pihak pemegang kekuasaan di kota ini, supaya Theresia mendapatkan keadilan atas kema-tian Sophia. Joseph sudah berjanji kepada Theresia, lelaki itu akan membantu wanita yang menjadi idaman hatinya sedari awal mula Theresia datang melamar pekerjaan di café milik Joseph. “Adik karyawan cafeku meninggal dunia secara misterius,” kata Joseph memulai pembicaraan. Kemudian lelaki itu menjelaskan semua yang menimpa Theresia. Dia menceritakan tentang temannya yang sudah kehilangan sang adik karena meninggal misterius di sebuah apartemen mewah kota Den Haag. Kematian adik temannya itu diketahui siang hari lalu, tetapi dari keterangan sang kakak bahwa adiknya tidak pernah menyewa apartemen tersebut. “Anehnya, ini adalah apartemen mewah, Pa. Apartemen yang dihuni oleh Kakak,” jelas Joseph menggebu. Joseph juga menjelaskan tentang pihak apartemen pun yang memberi penjelasan ambigu dan saat dimintai rekaman dari kamera keamanan di kamar tersebut pihak apartemen mengatakan bahwa seluruh kamera pengawas di seluruh apartemen tersebut rusak. Joseph pun menjelaskan kepada ayahnya bahwa itu semua adalah hal yang tak masuk akal dan banyak sekali kejanggalan dalam kematiannya. Dia meminta sang ayah untuk membantu mengungkap kebenaran atas kematian adik temannya itu. “Apa nama apartemennya, Joseph?” tanya Georgeus dengan nada berat. “Golden Apartemen and Hotel, bukankah itu apartemen nomor satu di kota ini?” pungkas Joseph kepada ayahnya. Georgeus sangat terkejut saat mendengar cerita dari Joseph, mengapa cerita tersebut mirip dengan apa yang menimpa Mikael. Dia berpikir apa kejadian itu masih bersangkutan dengan putra sulungnya. Kepala Georgeus semakin pening tak tertahankan begitu mendengar nama apartemen tersebut. “Siapa nama temanmu itu?” tanya Georgeus penasaran. “Theresia dan adiknya yang meninggal bernama Sophia,” ungkap Joseph. Seketika Georgeus seakan disambar oleh petir usai mendengar hal yang menimpa kedua putranya. Dia berusaha menutupi semua kebenaran. Salah satunya sedang meminta Georgeus menutup rapat kasus kematian, sedangkan satu putranya lagi meminta Georgeus mengusut tuntas kasus tersebut. Mengapa lagi dan lagi kedua putranya memiliki keinginan yang berbeda? “Kau tidak perlu mengurusi orang lain,” sarkas Geogeus tegas. Lelaki tampan nan muda yang berdiri di hadapan ayahnya langsung terkejut mendengar ucapan ayahnya saat ini. “Mengapa Papa? Bukankah itu sudah menjadi tugasmu?” Joseph mulai terlihat kesal. “Jaga ucapanmu. Aku harap kau bisa menjaga batasanmu. Lagi pula mereka bukan siapa-siapa bagi kita, bahkan mereka bukan orang yang wajib kau lindungi. Paham!” Georgeus mulai naik pitam. Tidak, ucapan ayahnya tentu saja salah. Theresia adalah orang pertama yang wajib dan layak untuk Joseph lindungi. Terlebih wanita cantik itu tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini. Joseph ingin membantu Theresia menemukan kebenaran dari  kematian adiknya. “Asal Papa tahu bahwa Theresia adalah wanita yang sangat berarti bagiku, dan kematian Sophia juga begitu penting!” Mata Joseph mulai memerah. Napas lelaki itu sangat cepat, keduanya saling menahan amarah. Ruangan terasa semakin panas. Saat keduanya bertemu, selalu saja berakhir dengan keributan. Pertengkaran hebat di antara keduanya membuat seisi rumah terdiam dan penasaran dengan apa yang terjadi antara ayah dan anak tersebut. Alexa yang mendengar keributan segera menghampiri mereka. Ayah dan anak bungsunya tengah saling menatap dengan pandangan menusuk satu sama lainnya. “Ada apa dengan kalian ini?” tanya Alexa khawatir. “Sekali lagi Papa harus tahu bahwa aku sangat mencintai Theresia, apapun akan aku lakukan untuk melindungi wanita itu,” ujar Joseph penuh emosi. “Cukup! Kau memang anak tidak tahu diuntung. Ingat mereka itu hanya gadis miskin yang tak pantas kau cintai. Masih banyak di luar sana gadis muda, kaya dan jauh lebih cantik,” bentak Alexa kesal. “Tidak ada yang bisa mengubah perasaanku terhadapnya. Aku sangat mencintainya. Jika kalian tidak mendukungku untuk mencintainya tidak apa, bukan suatu masalah untukku.” Joseph sangat kecewa dengan ke dua orang tuanya. “Kau memang keterlaluan.” Georgeus menggampar pipi Joseph. Alexa menangis histeris karena keributan itu. “Sudah!” teriak wanita itu. “Aku sadar, aku memang tidak berarti untuk keluarga ini. Jika kalian tidak menyukai Theresia dan tidak ingin membantu, aku akan mengungkap semua ini sendiri dan aku janji akan menemukan kebenarannya. Kau memang lelaki payah dan tak pantas untuk menjadi pemimpin negeri ini.” Joseph terdengar mengancam. Lelaki itu tidak terima dengan perlakuan ayahnya. Padahal dia hanya meminta bantuan untuk mengungkap kematian Shopia dan itu bukan hal sulit bagi sang ayah. Namun, menurut Joseph perlakuan Georgeus sudah keterlaluan dengan menentang dirinya untuk tidak mencintai Theresia. Bagi Joseph keluarganya tidak ada hak untuk ikut andil dalam perasaan yang dia miliki. Lelaki itu sudah besar dan tahu harus di bawa kemana perasaannya, padahal selama ini dia tidak pernah menyusahkan ke dua orang tuanya itu. “Kau keterlaluan Joseph, pergi kau dari sini jika perlu tidak usah kembali lagi! Aku tidak rugi jika kehilangan putra durhaka sepertimu. Kau memang anak tak tahu diuntung datang hanya memberi beban keributan!” Georgeus membentak Joseph. Baru kali ini ayahnya itu sangat terlihat kesal, mereka sering bertengkar tetapi Georgeus tidak pernah semarah ini. Joseph akhirnya tersadar, kedua orang tuanya hanya akan mendukung jika Joseph tengah memperjuangkan perasaannya kepada seorang gadis dari keluarga terpandang nan kaya raya. “Angkat kaki dari rumahku!” teriak sang ayah sambil memegang dadanya yang terasa sakit. Alexa segera merangkul Georgeus dan menangis. “Jaga kondisimu,” rintih wanita itu pada sang suami. Georgeus masih tidak bisa menahan amarahnya. “Carlos!” teriak lelaki itu, “Carlos!” Berulang kali dia memanggil Carlos hingga orang kepercayaannya itu datang. “Usir anak s****n itu!” Georgeus meminta Carlos untuk mengusir Joseph. Carlos memegang tangan Joseph dan lelaki itu menghempaskannya. “Kalian sungguh keterlaluan memperlakukanku seperti ini. Dengar apapun yang terjadi dengan keluarga ini aku tidak akan kembali lagi ke rumah penuh kutukan ini!” teriak Joseph menunjuk ke dua orang tuanya. “Baguslah, aku tidak rugi kehilangan anak tak bisa di atur sepertimu,” sentak Georgeus semakin kesal. “Cukup! Cukup!” seru Alexa tak kuasa melihat keributan itu. Joseph keluar ruangan dan membanting pintu. Dia sangat kecewa dengan perlakuan ayahnya itu, kini lelaki itu merasa sudah tidak dianggap lagi untuk keluarganya. Alexa membantu Georgeus untuk duduk di kursinya, lalu sang istri mengambilkan obat di laci meja suaminya itu. Dia juga memberikan obat tersebut untuk di minum Georgeus. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Alexa berpura-pura tidak tahu. “Semua anakmu tidak ada yang bisa di banggakan. Kau tahu Mikael telah membunuh seorang gadis dan adiknya ingin mengungkap pembunuh gadis itu. Apa itu tidak membunuhku secara perlahan? Mengapa mereka melakukan itu kepadaku? Mengapa mereka tak menancapkan saja belati di jantungku ini agar aku lebih cepat mati!” Georgeus masih sangat kesal. Dia mengepalkan ke dua tangannya. Lelaki itu sungguh merasa dilanda kenistaan atas perilaku kedua putranya. “Ya Tuhan!” Alexa merasa terkejut dia menutup wajah dengan kedua tangannya. Wanita itu menarik napas panjang, wajahnya menjadi pucat. Alexa berpikir tidak mungkin putranya itu melakukan hal sebodoh itu, terlebih dia tahu sifat Mikael yang sebenarnya. Bagi Alexa putra sulungnya itu termasuk anak yang baik, bahkan untuk membunuh seekor anjing pun dia tak mampu bagaimana bisa Mikael membunuh seorang gadis muda. “Apa kamu yakin bahwa putramu membunuh gadis itu?” tanya Alexa kepada sang suami. Akhirnya Georgeus menceritakan semuanya tentang kematian Sophia. Dia berkata kepada Alexa bahwa Sophia mati di apartemen milik Mikael. Awalnya putranya itu hanya mengundang gadis itu untuk menjadi teman minum. Dia juga berkata dari rekaman kamera keamanan Anne datang dan terjadi pertengkaran kemungfkinan wanita itu salah paham dengan kehadiran Sophia di apartemen Mikael. Terlihat di rekaman itu Anne memberikannya uang dan melempar ke dalam kolam renang. Setelah Anne pergi gadis itu berenang untuk menggapai uang tersebut, tetapi tidak tahu apa yang terjadi kemuadian gadis itu tenggelam. Setelah Georgeus menceritakan yang terjadi Alexa mengepalkan ke dua tangannya. “Artinya gadis itu mati karena kesalahannya sendiri bukan karena Mikael dan Anne. Salah siapa dia tertarik dengan uang itu?” ujar Alexa menanggapi. “Tentu saja ini salah mereka, andai saja Mikael tidak mengundangnya dan tidak membuat salah paham di antara Anne dan gadis itu, mungkin ini tidak akan terjadi,” geram Georgeus yang terlihat murka. Georgeus memilin keningnya yang terasa berdenyut hebat. “Sepertinya Joseph tidak mengetahui hal ini.” “Jangan sampai ada yang mengetahui tentang hal ini. Aku akan menemui Anne.” Alexa meminta Georgeus untuk menutup kasus Sophia. Wanita itu keluar dari ruang kerja sang suami, dia bergegas untuk menemui Anne dan menceritakan tentang kematian Sophia. Wanita itu juga berniat untuk menemui Theresia agar tidak mengungkit tentang kematian adiknya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN