Datang ke rumah orang tuanya merupakan menyambangi tempat keramat bagi Joseph. Lelaki itu seperti mengumpulkan banyak keberanian di dalam dirinya agar Joseph tidak merasa segan datang ke kediaman kedua orang tuanya sendiri. Menjadi anak yang tumbuh dan hidup secara mandiri tanpa campur tangan kedua orang tua membuat Joseph menjadi sosok pribadi idealis.
Ketidaksukaannya kepada ayah dan ibunya seperti mendapatkan pembenaran mengingat karakter Georgeus dan Alexa sama-sama toxic menurut Joseph. Merasa dia harus hidup bebas seperti yang dia idamkan, maka Joseph memilih untuk menjauh dari kehidupan penuh materi bergelimpangan harta dari kedua orang tuanya. Joseph tak peduli kalau dirinya hidup dengan mengandalkan pemasukan dari café pribadinya dan juga hasil kegiatan fotografernya, lelaki itu justru sangat bangga dan bahagia sebab ia tak perlu ambil pusing seluruh perintah serta aturan yang dibuat oleh ayah dan ibunya.
Cukup Mikael boneka ayah dan ibunya, Joseph tak punya keinginan hidup di dalam bayang-bayang mereka.
“Cukup! Sudah cukup kalian berdua!” teriak Alexa terakhir kali melerai pertengkaran di antara anak dan ayah, Joseph dan ayahnya, Georgeus.
Joseph meninggalkan kediaman keluarganya dengan penuh amarah. Dia tidak mengerti mengapa ayahnya sangat kejam terhadap dirinya. Padahal ia hanya ingin meminta bantuan sang ayah untuk mengungkap kasus kematian Sophia, tetapi beliau malah bersikap kasar dan menentang perasaannya terhadap Theresia.
“Mengapa aku memiliki ayah yang begitu kejam? Mengapa aku harus terlahir di dalam keluarga yang tidak memiliki perasaan seperti ini? Andai saja aku bisa memilih lebih baik aku terlahir di keluarga sederhana tetapi punya hati,” sungut Joseph sambil berjalan cepat penuh kemarahan.
Semua pelayan berbisik satu sama lain saat melihat Joseph keluar dari ruangan sang ayah dengan wajah memerah terpancar kemarahan di raut lelaki itu. Bahkan dia tidak segan untuk menghentakan kaki dan membanting pintu.
Para pelayan tahu Joseph memang kerap tidak akur dengan keluarganya, sudah lama juga lelaki itu tak pulang dan kini dia kembali, tetapi bukan untuk berdamai melainkan keluarga Georgeus semakin hancur. Mereka yakin keluarga itu tidak akan pernah harmonis selama ego masing-masing masih tinggi dan selalu ingin menang. Sampai sekarang tidak ada salah satu di antara mereka yang berkeinginan meredam ego tinggi mereka agar keluarga itu bisa hidup utuh saling berdampingan satu sama lain seperti keluarga pada umumnya.
“Apakah kalian tidak punya pekerjaan lain, selain menguping pembicaraan pemilik rumah yang memperkerjakan kalian, hah?!” kesal Joseph murka.
Joseph menatap tajam ke arah para pelayan yang sedang mencibirnya meski dengan berbisik. Kemudian mereka pun menundukan kepala dan pergi meninggalkan Joseph. Sebagai anak bungsu di keluarga itu, jujur saja Joseph tak punya keinginan membuat citra keluarganya sampai rusak di depan pelayan. Alasan tersebut lah yang menjadi kemarahan Joseph saat para pelayan di rumah keluarganya malah berdiri seperti sedang mengamati apa yang sedang terjadi di sana.
Para pelayan diperkerjakan dengan gaji tinggi, namun mereka tidak loyalitas terhadap tuan dan nyonya mereka.
“Memang keluarga ini tak akan pernah harmonis, karena lelaki itu tak pandai menjadi kepala keluarga,” gerutu Joseph sepanjang jalan.
Joseph pun masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya. “Tuhan, mengapa kau takdirkan aku seperti ini, apa salahku?” teriak Joseph sambil memukul setir yang ada di hadapannya.
Joseph menempelkan dahinya di setir tersebut, meratapi semua yang terjadi di dalam hidupnya. Keluarganya semakin kacau dan berantakan. Dia sangat menyesal karena telah memiliki ayah yang kejam dan kaku. Belum lagi Alexa, ibunya hanya pandai berbelanja dan mempercantik wajah serta tubuhnya saja agar suaminya tidak tergiur dengan wanita lain di luar sana. Sebagai seorang ayah dan ibu, tentu saja keduanya telah gagal dalam mendidik serta mengasihi kedua anak mereka, baik Mikael maupun Joseph.
Sedangkan di sisi lain Georgeus sangat bingung karena dihadapkan pada posisi yang sulit. Joseph tidak tahu bahwa penyebab kematian Sophia berawal dari undangan Mikael sang kakak. Mungkin saja jika ia tahu tentang itu, mungkin dirinya akan paham atas kemarahan sang ayah tadi. Tetapi sekarang ini yang ada di dalam benak pikiran Joseph adalah perasaan Theresia.
Saat Joseph akan menyalakan mobil, tiba-tiba ponselnya bordering. Jane menghubunginya, sontak saja lelaki itu segera menerima panggilan telepon Jane. Dia yakin pasti gadis itu akan memberikan kabar menyangkut Theresia.
“Hallo, Jane?” ucap Joseph.
“Joseph, segeralah kembali kemari. Theresia ….” Terdengar suara Jane yang kebingungan.
“Ada apa dengannya?” timpal Joseph penuh khawatir.
“Cepat kemarilah! Aku akan menjelaskannya nanti,” terang Jane lalu memutuskan panggilannya.
Terdengar juga suara Theresia yang sedang menangis histeris. Joseph yakin hal buruk terjadi kepada wanita yang dicintainya, kemudian Joseph melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh. Kepala Joseph semakin pening, belum selesai kekesalannya terhadap sang ayah, sekarang Joseph harus segera sampai di rumah sakit dan menenangkan sosok wanita yang selama ini dia cintai dalam kebungkaman.
Sementara di rumah sakit Theresia terlihat kacau, terlebih saat dia mengembalikan dokumen untuk outopsi ke pihak rumah sakit dan pihak kepolisian. Gadis itu memutuskan untuk menolak tidak mengotopsi jenazah sang adik. Theresia tak punya keberanian menyulitkan langkah adik tercintanya menuju nirwana.
Dia memilih untuk segera mengkremasi dan menguburkan adiknya. Theresia tidak ingin adiknya itu menderita lagi karena harus menjalani prosedur outopsi.
“There, jika tidak melakukan outopsi bagaimana bisa mereka mengungkap kematian Sophia?” bujuk Jane merangkul Theresia.
“Benar, Nona. Jika kau ingin mengungkap kematian adikmu maka ijinkan pihak rumah sakit untuk melakukan outopsi,” tutur seorang dokter.
Air mata Theresia terus mengalir, meski matanya sudah sembab dan air mata mulai mongering. Selama hidup Sophia sudah mengalami banyak kesakitan hingga hembusan napas terakhirnya berada di dunia ini. Apakah Theresia tak menjadi sosok kakak yang jahat jika Theresia masih tetap berkeinginan melakukan tindakan menyakitkan tersebut kepada tubuh adiknya?
“Tidak! Aku tak ingin dia merasakan penderitaan lagi,” lirih Theresia.
“Tapi, Theresia,”ujar Jane.
“Jangan paksa aku, Jane!” sela Theresia.
Gadis itu bersikeras tidak ingin mengotopsi jenazah sang adik. Dia ingin Sophia tenang di alam sana. Theresia tidak mau jika Sophia merasakan penderitaan lagi, biarlah dia bahagia di surge bersama papah dan mamahnya yang telah dulu pergi. Kebenaran pasti akan terungkap dengan sendirinya. Pikir Theresia dalam batinnya.
Joseph datang menghampiri Theresia, lalu dia bertanya kepada Jane dan Theresia. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya lelaki itu.
Jane menjelaskannya. “Theresia tidak ingin jenazah Sophia dioutopsi terlebih dahulu.”
Lelaki itu pun menggandeng Theresia untuk duduk. Dia memberikan sebotol minuman yang sengaja ia beli untuk gadis itu. Joseph kemudian membawa Threresia ke taman rumah sakit untuk menghirup sedikit udara segar dan menenangkan pikiran gadis itu. Mereka pun duduk di sebuah bangku di taman.
“Mengapa kamu tidak ingin melakukan outopsi?” tanya Joseph penuh prihatin.
Theresia malah menangis kembali, Joseph memeluk tubuh gadis itu. Ia tak kuasa melihat gadis yang sangat di cintainya terus dalam kesedihan.
“Aku tidak ingin membutanya menderita lagi, sudah cukup bagi Sophia meninggal dalam kesepian. Aku tidak akan membiarkan Sophia dalam kesakitan lagi karena harus di otopsi sampai menunda pemakamannya.” Theresia menarik napas sejenak, “cukup untukku menjadi kakak yang gagal, tidak bisa melindungi adiknya sendiri. Aku hanya ingin Sophia bahagia di surga bersama mama dan papa,” rintih gadis itu dalam tangisnya.
Joseph hanya bisa terdiam sambil mengusap halus rambut Theresia. Dia paham akan rasa kehilangan gadis itu. Meski sama sedang di terpa masalah, tetapi Joseph lebih mengutamakan Theresia.
“Aku paham akan kesedihanmu. Apapun keputusanmu aku akan selalu mendukung,” tutur Joseph.
“Terimakasih, Joseph. Biarlah waktu yang akan menemukan kebenarannya,” ungkap Theresia yang masih bersandar di bahu Joseph.
“Aku akan mengungkap semuanya, dan menemukan kebenaran itu untukmu. Aku berjanji,” tekad Joseph dalam hati
Waktu seakan berhenti begitu saja, Joseph merasa sangat nyaman saat Theresia menangis dalam pelukannya. Daun-daun berguguran tepat di atas kepala mereka, pohon yang rindang seakan bergoyang saat melihat ke dua sejoli itu.
Kesedihan demi kesedihan datang silih berganti menerpa Theresia, seakan berkata bahwa dia harus jauh menjadi lebih kuat. Meski kini hatinya tidak ada yang tahu betapa hancur dan rapuh dia saat merasakan kehilangan untuk yang ke dua kalinya.
Bukan Tuhan tak peduli kepadanya, mungkin Tuhan memiliki rencana yang baik untuknya. Kata-kata itu kini terngiang kembali di pikirannya. Sebuah kalimat yang sering kali Sophia katakan kepada Theresia.
Keadaan Theresia kini jauh lebih baik, mereka pun kembali ke ruangan dimana Sophia berada. Theresia sudah membulatkan tekadnya untuk tidak melakukan otopsi. Jane dan Joseph hanya bisa mendukung keputusan gadis itu jika memang terbaik untuknya.
Kini jenazah Sophia di bawa ke ruang jenazah untuk dimandikan. Joseph membantu Theresia mengurusi jenazah sang adik. Ia bertindak sebagai wali dari Sophia karena Theresia tak kuasa melihat adinya untuk yang terakhir kali.
Joseph menemui pihak rumah sakit untuk mengurus semua administrasi dan jenazah Sophia agar bisa di bawa ke rumah duka. Joseph meminta Jane untuk membawa Theresia pulang terlebih dahulu. Kondisi gadis itu sudah sangat lemah dan terpukul. Namun, Theresia menolak dan ingin tetap di rumah sakit bersama jenazah sang adik.
“Pulanglah bersama Jane terlebih dahulu, aku akan menyusul,” ucap Joseph.
“Aku di sini saja.” Suara Theresia terdengar serak.
“Jika kamu terus di sini, kau tak akan bisa beristirahat. Bagaimana dengan proses pemakaman Sophia esok?” papar Joseph dan membuat gadis itu terdiam.
“Baiklah.” Theresia mengangguk.
Pandangan mata Joseph kini mengarah kepada Jane. Lelaki tampan tersebut seperti memasrahkan segalanya kepada Jane. Joseph berharap Jane bisa menemani Theresia dan memastikan bahwa wanita yang dia cintai akan baik-baik saja selama tak berada di dekat Joseph.
“Jane jaga dia baik-baik, aku akan segera menyusul,” pinta Joseph kepad Jane.
“Tenang saja, aku akan menjaganya,” jawab Jane lalu menggandeng tubuh Thersia.
“Hati-hati di jalan.” Joseph dengan berat hati.
Akhirhirnya Jane dan Theresia pulang terlebih dahulu, melihat hari yang sudah mulai malam dan kondisi Theresia yang memburuk. Joseph masih sibuk mengurus jenazah Sophia agar bisa segera di bawa ke rumah duka. Mungkin saat ini hanya Joseph yang dapat diandalkan oleh Theresia ketika semua orang terdekatnya satu per satu pergi hilang meninggalkan Theresia untuk selamanya.
Kedua orang tuanya, kemudian Sophia yang menjadi teman dalam kesepiannya juga pada akhirnya menyerah pada takdirnya sendiri. Gadis itu tentu merasakan kehidupan tidak adil terhadap Theresia.