23. Pemakaman Sophia

2307 Kata
Sepanjang malam, ratapan tangisan seorang kakak atas kepergian keluarga satu-satunya, yakni adik kesayangannya membuat langit malam semakin petang tanpa berhiaskan bintang sebagai penerang. Tidak ada suara burung berterbangan bebas, melainkan hanya hawa dingin menyergap kehidupan seorang Theresia Wilhelmina. Kepedihannya menyaksikan kepergian adiknya Sophia, rasanya jauh lebih sakit daripada ditinggal pergi kedua orang tuanya dalam kecelakaan maut tersebut. Jika saat kepergian ayah dan ibunya Theresia masih mempunyai sang adik sebagai alasannya untuk tetap melanjutkan kehidupan sebagai yatim piatu, tetapi dengan kepergian Sophia saat ini membuat Theresia kehilangan semangatnya untuk tetap menghirup udara. Sophia telah pergi, alasannya selalu kuat dan tegar selama ini hilang begitu saja bersama terpejamnya mata adik kesayangannya yang sangat Theresia kasihi. Keesokan harinya Theresia yang di temani Joseph hendak membawa jenazah Sophia ke rumah duka. Theresia tak kuasa saat melihat peti berisi jenazah Sophia yang akan di masukan ke mobil jenazah. Dengan pakaian serba hitam Theresia terus menangis di pelukan Jospeh. Gadis itu sungguh tak kuasa melihat adiknya untuk terakhir kali. “Sophia, adikku. Maafkan aku yang tidak pantas kau sebut sebagai seorang kakak,” isak Theresia histeris. Dari kejauhan Mikael masih terus mengikuti gadis itu. Rasa bersalah pun semakin bersar tertanam di diri Mikael. Seandainya saja Mikael bisa berjalan ke arah Theresia, lelaki itu ingin rasanya memeluk tubuh ringkih dengan punggung bergetar hebat akibat tangisannya. Mikael menggelengkan kepala, masih berupaya menahan keinginannya muncul di depan publik sebelum semua permasalahannya teratasi. Mikael tak mempunyai keberanian di dalam dirinya. Lelaki itu merasa kakinya tidak mampu untuk digerakkan berjalan ke arah seorang kakak yang adiknya sudah kehilangan nyawa di dalam apartement milik Mikael. “Maafkan aku,” lirih lelaki itu berulang kali. Joseph berusaha terlihat kuat dan tegar. Ia terus menenangkan Theresia sepanjang perjalanan, dia benar-benar tidak bisa melihat gadis yang sangat di cintainya menangis terus seperti ini. Mereka duduk di mobil jenazah bersama dengan peti yang berisi jenazah Sophia. “Jangan menangis seperti ini, Sophia tidak akan pernah menyukainya. Selama ini bukankah dia ingin melihatmu bahagia?” ujar Joseph menenangkan Theresia. Bukannya tenang, justru tangisan Theresia semakin menjadi-jadi mendengar penuturan Joseph. Theresia teringat benar, semua ucapan Sophia saat adiknya memutuskan untuk pergi merantau melanjutkan sekolahnya dan tinggal di asrama putri demi mengurangi beban kakaknya yang selama ini berjuang menjadi tulang punggung keluarga meskipun keduanya memiliki asuransi dari mendiang kedua orang tuanya. “Maaf sudah membuatmu semakin bersedih,” kata Joseph penuh penyesalan. “Apakah aku seorang kakak yang gagal menjaga adiknya sendiri?” tanya Theresia pedih. “Tidak, kamu adalah kakak paling baik sepanjang aku mengenal banyak kakak di dunia ini,” jawab Joseph. Ya, Joseph tidak berbohong. Bahkan kakak kandungnya sendiri juga sangat berbeda dengan Theresia. Mikael lebih acuh dan masa bodoh akan kelangsungan hidup adiknya meski kadang kala Mikael begitu cerewet ingin menyambangi dimana keberadaan adiknya. Tetapi kakak terbaik di pandangan Joseph adalah Theresia seorang. Rasa pedulinya terhadap sang adik melebihi rasa peduli Theresia terhadap kehidupannya sendiri. Gadis cantik tersebut sampai rela menggadaikan waktu istirahatnya demi mencari cuan agar kehidupan sang adik dapat berkecukupan tanpa memikirkan materi. Theresia tidak ingin adiknya merasa kesusahan usai kematian kedua orang tua mereka. “Kalau mengingat betapa kerasnya aku meminta Sophia untuk menabung, aku semakin merasa bersalah. Sekarang uang tidak ada lagi ada artinya ketika ditukar dengan kematian adikku,” seloroh Theresia penuh penyesalan. “Takdir seseorang memang tidak ada yang pernah mengetahuinya, kita hanya pemeran dengan kisah telah dituliskan oleh Tuhan,” pungkas Joseph. Kalimat bijaksana dari bosnya membuat Theresia tak mempunyai alasan lagi berkilah atas takdri yang menimpa Sophia. Sepanjang jalan Theresia menangis bersandar di bahu Joseph, dan lelaki it uterus mengelus halus rambutnya. Membisikan kata-kata indah untuk menguatkan gadis itu. Sedangkan Mikael mengikuti mereka menuju rumah duka jauh di belakang mobil jenazah. Jane yang sudah berada di rumah duka terlebih dahulu sibuk menyiapkan tempat untuk para tamu yang datang. Semalaman penuh Jane berusaha menghubungi sanak saudara dan kerabat dekat Sophia untuk memberikan berita duka itu. Banyak dari sanak saudara Sophia tidak menyangka dengan kabar yang mereka dengarkan. Padahal sebelumnya, kehidupan Sophia dan Theresia tampak baik-baik saja sebab keduanya sangat akur serta mengasihi satu sama lain. Satu persatu mereka pun datang dengan membawa karangan bunga bertulisan bela sungkawa. Jenazah Sohia tiba di rumah duka di dampingi Theresia dan Joseph. Mereka membawa peti Sophia ke ruang roukamer. Di sana terlihat wajah Sophia saat penutup peti dibuka. “Betapa dia menjadi gadis malang,” ucap salah satu sanak saudara menghela napasnya panjang. Tidak menyangka bahwa hari ini akan tiba masanya kakak beradik itu terpisahkan oleh kematian. Wajah yang terlihat tenang dan cantik dengan gaun berwarna putih, rambut yang sudah tersisir rapih terurai serta menggunakan headband bunga berwarna senada dengan baju dan sepatunya. Gadis itu hanya menawan seperti tidak ada dosa di wajahnya. Theresia yakin bahwa Sophia sudah tenang dan damai di sana. “Kakak tidak tahu harus mengatakan apa sebelum tubuhmu menjadi abu. Kakak hanya bisa mengucapkan permintaan maaf kepadamu, sebab Kakak tidak dapat menggantikan peran ayah dan ibu kita dengan baik,” kata Theresia. Tangan kanan Theresia membelai pelan wajah adiknya. Mata indah penuh keceriaan saat ini terpejam dan enggan untuk menatap dunia kembali. Theresia sungguh berharap semua berita miring tentang adiknya lenyap bersama meleburnya jasad Sophia kembali ke tanah. “Pergilah dengan tenang, perihal kakakmu ini, biarkan aku yang akan menemaninya di sisa hidupnya,” ujar Joseph meletakkan setangkai bunga mawar di sisi Sophia. Theresia tentu mendengar dengan jelas kalimat dari Joseph. Tetapi ini bukanlah saat Theresia menanyakan perihal sebuah perasaan, sedangkan hati Theresia hancur berkeping-keping atas kematian adik satu-satunya yang dia jadikan sebagai alasan untuk menapaki dunia kejam ini. Theresia tidak tahu lagi, entah apa nanti alasan Theresia tetap hidup di dunia, sedangkan keluarganya pergi dari dunia ini mendahului Theresia. Mereka yang hadir menaruh setangkai bunga berwarna putih di dekat peti Sophia dan mendokan kehidupan bahagia bersama Tuhan-Nya. Para tamu yang hadir terlihat sedih dan sangat kehilangan Sophia terutama teman-teman sekolahnya. Sophia sendiri terkenal sebagai gadis yang baik dan santun. Ia juga anak yang pandai dan selalu membantu temannya. Pergaulannya di asrama dan kampus pun terlihat sangat baik. Mereka tidak menyangka jika gadis itu akan meninggal dengan cara yang mengenaskan seperti itu. Seorang gadis muda yang menghampiri jenazah Sophia terlihat sangat terpukul, dia menangis terisak di hadapan jenazah itu. “Maafkan aku,” lirihnya memandang Sophia untuk yang terakhir kali. Kedatangan gadis asing di mata Theresia membuat seluruh orang memandang ke arahnya penuh kebingungan. Mereka kini penasaran apa hubungan Sophia dengan gadis yang datang secara tiba-tiba ke rumah duka sambari menyerukan permintaan maaf seperti orang dirundung penyesalan. Manik mata Theresia menajam, kening kakak dari Sophia mengerut penasaran. Apakah gadis asing itu ada hubungannya dengan kematian Sophia hingga dirinya menangis sedalam itu? “Siapa dirimu?” tanya Theresia penasaran. Gadis asing tersebut menghampiri Theresia yang duduk bersama Jane. Bukannya menjawab pertanyaan Theresia, dirinya malah menangis di hadapan Theresia meminta pengampunan dari kakak kandung Sophia. Perilaku gadis asing tersebut tentu menjadi sorotan para sanak kerabat yang datang melayat untuk melihat Sophia terakhir kalinya. “Aku sungguh menyesal,” ungkap gadis itu yang berlutut dan menangis di hadapan Theresia. Theresia sangat terkejut dan meminta gadis itu berdiri dan duduk di sampingnya. Theresia tidak bisa menahan rasa penasarannya seperti ini. “Apa yang membuatmu menyesal? Siapa dirimu?” kata Theresia penasaran. “Aku sangat menyesal, Kak,” ucap gadis itu berulang kali. Jawaban dari gadis asing yang duduk di sampingnya membuat Theresia semakin ingin tahu. Mengapa gadis itu sampai mengucapkan kalimat penyesalan berulang kali. “Jika aku boleh tahu siapa namamu, dan kenapa kamu menyesal?” ujar Theresia kepada gadis itu. Pandangan mata Theresia kini mengamati gadis itu seksama. Rasa ingin tahu di dalam diri Theresia membuncak seusai melihat ketakutan bercampur penyesalan pada mata lawan bicaranya. Theresia tidak tahu alasan di balik penyesalan gadis di sampingnya sehingga menatap Theresia meminta pengampunan. Apakah tebakan Theresia benar adanya, bahwa gadis di depannya ini memegang kunci kematian dari Sophia yang sampai detik ini masih dipenuhi awan gelap? “Aku Jessy teman kuliah Sophia,” sahut gadis itu. “Mengapa kau merasa menyesal?” tanya Theresia prihatin. “Harusnya aku tidak memberikan pekerjaan itu kepada Sophia,” ucap Jessy sambil menangis. Lagi dan lagi, Jessy menangis sesegukan tanpa tahu harus mengatakan apa di hadapan seorang kakak yang sudah kehilangan adiknya karena Jessy. Kalau waktu dapat diputar kembali, sudah pasti Jessy tidak akan mungkin memberikan pekerjaan tersebut kepada Sophia hingga teman baiknya itu kehilangan nyawa dengan cara mengenaskan seperti ini. Nasi sudah menjadi bubur, sampai kering penyesalan Jessy karena pekerjaan yang dia berikan kepada Sophia tak mampu membawa Sophia kembali hidup bersama mereka seperti sedia kala. Ingin rasanya Theresia bertanya lebih lanjut atas kalimat ambigu dari Jessy, tetapi Theresia menahannya dan mengajak Jessy bicara empat mata agar keduanya bisa membuka tabir ini secara privasi. Theresia membawa Jessy untuk mengikuti langkah kakinya. Sekarang keduanya sudah menjauh dari keramaian, dan Theresia bisa bertanya kepada Jessy dengan leluasa mengenai Sophia. “Sekarang tenangkan dirimu, Jessy. Jika aku boleh tahu apa yang di kerjakan adikku selama ini?” tanya Theresia kembali. “Dia bekerja sebagai bar attendant, dan juga teman minum,” jawab Jessy terisak. Theresia tidak dapat menutupi keterkejutannya, wanita itu lantas menutup mulutnya tak percaya mendengar penuturan dari Jessy. Siapa sangka Sophia dapat memilih pekerjaan seperti itu, sedangkan sang kakak Theresia bekerja membanting tulang demi menaikkan martabat keluarga mereka, mengangkat derajat mendiang kedua orang tuanya dengan susah payah. Sebenarnya apa isi otak Sophia sampai dirinya bisa memilih pekerjaan seperti itu? “Ya, Tuhan. Maksudmu Sophia….” Theresia tidak sanggup untuk mengatakannya. “Tidak! Bukan seperti yang kau pikirkan. Sophia hanya menemani minum saja tidak lebih.” Jessy mencoba menjelaskannya. Namun, Theresia tidak terima dengan perkataan Jessy, gadis itu kembali menangis sesegukan membayangkan sang adik berada dalam lingkaran dunia malam. Jane yang melihat sahabat baiknya terpukul langsung menghampiri kedua wanita tersebut. Jane meminta Jessy untuk meninggalkan mereka. Dari kejauhan Joseph melihat Theresia yang kembali menangis dan menghampiri gadis itu. “Ada apa, Jane?” tanya Joseph pada Jane yang sedang merangkul Theresia. “Tidak apa-apa Josh, dia hanya mengingat Sophia kembali,” ungkap Jane. “Theres, kau harus kuat. Doakan saja adikmu agar dia tenang di sana.” Joseph mengusap halus rambut Theresia. Perlakuan lembut dari Joseph mulai menyentuh ketenangan Theresia. Di balik keterkejutannya atas pekerjaan Sophia, Theresia mencoba untuk bersikap tenang demi kelancaran peristirahatan terakhir Sophia. Gadis itu pun mencoba menghentikan air matanya, Joseph membantu Theresia mengusap air mata yang mengalir membasahi pipi gadis cantik itu. Dia tersenyum manis di hadapan Theresia. Selama ini Joseph terus berada di samping gadis itu dan berusaha menguatkan wanita yang di cintainya. Para sahabat, kerabat dan sanak saudara pun sudah berkumpul semua, upacara pemakaman akan segera di lakukan. Joseph memberi sambutan menggantikan Theresia yang tidak kuasa untuk berkata lagi. “Saya ucapkan banyak terimakasih kepada para tamu yang sudah hadir di sini. Sebelumnya ijinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Saya adalah Joseph selaku wali dari Sophia Wihelmina. Atas nama Sophia saya meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan yang pernah dia perbuat selama masa hidupnya baik di sengaja atau pun tidak kepada para saudara atau saudari yang merasa pernah tersakiti. Saya mohon agar kalian dapat memaafkan Sophia jika selama ini masih tersimpan dendam dan benci di hati kalian maka lupakanlah,” kata Theresia memberikan sambutan. Dengan berlinang air mata, Theresia kembali melanjutkan kalimat perpisahannya. Theresia membaca biografi adiknya, air matanya tak mampu berhenti menetes. Sophia lahir di Den hag pada 17 Juni tahun 2000 adalah sosok gadis baik dan penurut, dia juga tidak pernah menyusahkan sang kakak Theresia selama hidupnya. Meski mereka tumbuh tanpa bimbingan ke dua orang tua yang telah lama meninggalkan mereka terlebih dahulu, tetapi Sophia tumbuh menjadi anak yang sopan dan santun. Joseph yang melihat Theresia tak sanggup melanjutkan kalimat perpisahan lantas mengambil alih biografi Sophia. “Biarkan aku mewakilimu,” pinta Joseph diangguki oleh Theresia. Joseph berdiri menggantikan Theresia di sampingnya. Joseph melirik ke arah Theresia sebelum melanjutkan kalimat perpisahan yang memang seharusnya diutarakan oleh Theresia sebagai perwakilan dari keluarga mendiang Sophia. “Saya sendiri merasa sangat kehilangan atas kepergian adik Sophia karena hal yang tak terduga. Maka dari itu saya sekali lagi mohon maaf atas nama besar keluarga Wihelmina atas semua dosa-dosanya. Sebagaimana tuhan juga maha pemurah hati jadi saya berharap kalian pun memiliki kemurahan hati itu. Jikapun Sophia masih memiliki sangkutan utang piutang bisa di bicarakan kepada saya atau sang kakak untuk menyelesaikannya. Doakan Sophia agar dia damai dan tenang di alam sana. Amin.” Joseph memberikan sambutan permintaan maaf kepada mereka yang datang. Theresia menangis tersedu-sedu saat mendengarkan Joseph berkata-kata. Kini Jenazah Sophia di bawa ke lahan pemakaman di ikuti para tamu yang hadir. Sebuah lubang berukuran peti jenazah Sophia sudah tergali rapi. Untuk terakhirkalinya Theresia membuka peti dan melihat sosok Sophia. Gadis itu mencium kening sang adik untuk terakhir kalinya. “Beristirahatlah dalam damai,” bisik Theresia saat mencium Sophia. Kemudian peti itu di tutup kembali, saat jenazah Sophia akan di kebumikan Theresia tak sanggup untuk melihatnya. Gadis itu pun kehilangan kesadaran saat prosesi pemakaman. Joseph yang berada di samping Theresia segera menyanggahnya. Jane memberika minyak angin agar Theresia sadar kembali. Satu tumpukan tanah sudah menutup peti itu. Theresia terus menangis tersedu-sedu. Perlahan demi perlahan peti jenazah Sophia sudah tidak terlihat lagi bersama dengan tubuh Sophia. Kini hanya ada kenangan yang tersisa di antara Theresia dan adiknya itu. Theresia menangis di tumpukan tanah kuburan Sophia. Sebuah batu bertuliskan nama Sophia Wihelmina terukir menghiasi makam tersebut. Bunga pun ditaburkan di atas untuk membuat makam itu mengeluarkan aroma wangi. “Mengapa kamu tega meninggalkan Kakak?” rintih Theresia terus menerus. “Sudahlah, doakan Sophia agar beristirahat dengan damai di peristirahatan terakhirnya,” ujar Joseph mengelus halus rambut Theresia. Para tamu satu persatu meninggalkan makam, begitu juga dengan Jane. Tersisa hanya Joseph dan Theresia. Lelaki itu berjanji akan terus berada di samping Theresia membantu gadis itu melewati masa kelamnya. Dari kejauhan Mikael yang hadir kepemakaman memperhatikan Theresia terus menerus. Rasa bersalah pun menghantui dirinya saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN