Aroma minuman beralkohol melekat kuat pada tubuh Mikael. Lelaki itu merasa dunianya sedang tidak baik-baik saja. Mengingat ekspresi wajah Theresia yang tengah menangis meraung pada pemakaman mendiang Sophia semakin menjadi alasan mengapa Mikael tidak pantas merenggut kehidupan wanita malang seperti Sophia.
Mikael mengingat segalanya, apa yang Sophia katakan di malam terakhir kali dirinya dapat menghirup udara di dunia ini. Sophia mengatakan dirinya sangat iri terhadap anak-anak yang masih mempunyai sepasang orang tua lengkap di dalam kehidupan mereka, dan saat itu Mikael menolak tegas persepsi Sophia. Mikael menyatakan bahwa memiliki orang tua lengkap juga tidak selamanya membahagiakan.
Buktinya, Mikael dan Joseph memiliki kedua orang tua dan kehidupan sempurna dalam taraf perekonomian. Mereka lahir dan tumbuh di keluarga terpandang di negara mereka. Tidak ada yang tak dapat mereka miliki serta kuasai, buktinya saja kasus yang sedang menyeret nama Mikael mengalir begitu saja tanpa menyangkut pautkan nama Mikael. Semua itu terjadi karena kekuasaan ayahnya.
“Kenapa aku harus berada dalam situasi seperti ini?” ujar Mikael penuh kemarahan di dalam dirinya.
Usai menenggak habis beberapa botol minuman di depannya, Mikael memutuskan untuk kembali ke rumahnya, wajah lelaki itu terlihat sangat kacau sekali. Dia berteriak memanggil ayahnya hingga membuat Alexa yang tengah memandangi satu kotak aquarium berisi ikan-ikan hias peliharaannya lantas menoleh ke sumber suara.
“Mikael?” panggil Alexa bak bergumam.
Sebagai seorang ibu, Alexa tentu saja merasakan kekhawatiran mendalam usai mendengar permasalahan apa yang tengah dihadapi oleh anak-anaknya. Kali ini Alexa mendapati kenyataan bahwa anak sulungnya mendapatkan masalah pelik, yakni terlibat pembunuhan di apartemen mewah miliknya walaupun Mikael bukanlah pelaku pembunuhan yang menewaskan Sophia Wilhelmina.
Langkah kaki Mikael terdengar sangat terburu-buru. Para pelayan yang sedang berada dalam pergerakan Mikael langsung menundukkan kepala mereka saking tidak beraninya menatap mata penuh kemarahan dari Mikael. Para pelayan di kediaman orang tua Mikael tersebut sedikit banyak sudah mengerti keretakan yang ada di dalam keluarga mereka, keluarga Van Holen terkenal oleh nama tenar tersohor di penjuru negeri.
“Papa,” teriak Mikael berulang kali.
Sore itu suasana kediaman keluarga Georgeus sangat sunyi sehingga suara Mikael terdengar nyaring. Alexa yang sedang sibuk mengagumi ikan hias kesayangannya tak bisa diam begitu saja mendengar kemarahan terdengar jelas di suara anak sulungnya tersebut. Sorot mata penuh kerinduan tampak menyiksa bagi ibu yang sudah semalaman penuh mencoba menghubungi keberadaan anak sulungnya itu tetapi tidak kunjung juga mendapatkan jawaban dari Mikael.
Alexa sedikit banyak mendengar dan memahami apa yang sedang terjadi pada Mikael Van Holen, bahkan Alexa tidak hanya berpangku tangan melihat segala kekacauan yang melibatkan anaknya. Alexa juga berusaha menghubungi Anne demi mendapatkan informasi terkait keberadaan Mikael. Alexa sangat khawatir kalau suaminya tak akan ikut campur pada masalah anak sulung mereka.
“Mikael, anakku,” panggil Alexa sedikit merasa lega.
Alexa menghampiri Mikael dan memberikan pelukan hangat seorang ibu. Aroma minuman keras menyeruak begitu Alexa mendekap erat Mikael dalam pelukannya. Meski begitu Alexa tidak menghentikan kegiatannya, Alexa merasa sangat lega usai melihat dengan mata kepalanya sendiri jika anaknya dalam keadaan baik-baik saja meskipun Mikael sedang melewati terjangan hujan badai.
Tangan Alexa menyentuh kening Mikael yang saat ini sedang dibanjiri keringat sebiji jagung efek dari kinerja minuman keras yang dia tenggak. Mikael melepaskan pelukan ibunya sepihak.
“Kemana saja kamu sayang tidak pulang semalaman? Dan apa yang membuatmu berteriak seperti itu?” tanya Alexa.
“Dimana Papa, Ma?” tanya Mikael balik.
“Papamu masih di kantor,” terang Alexa memberitahu Mikael.
Tanpa mengucapkan salam perpisahan kepada sang ibu, Mikael pergi begitu saja. Ia bergegas menuju kantor ayahnya untuk menemui lelaki paruh baya yang tak lain adalah ayah kandungnya. Alexa terus berusaha memanggil nama Mikael, berharap anaknya akan berkenan menanggapi panggilan darinya. Sayang seribu sayang, Mikael seperti tengah dibakar oleh kemarahan di dalam dirinya.
Tidak butuh waktu lama yang lama Mikael tiba di kantor sang ayah. Ia bertemu Carlos yang baru saja keluar dari ruangan Georgeus. Carlos berusaha menahan Mikael untuk tidak masuk ke ruangan ayahnya, tetapi dia bersikeras ingin berbicara dengan sang ayah. Ada pembahasan penting yang harus Mikael utarakan di hadapan Georgeus sehingga tak ada alasan bagi tangan kanan sang ayah sampai menghalangi tujuan Mikael menemui ayahnya sendiri.
“Dimana papaku?” geram Mikael kepada Carlos.
“Beliau ada di dalam, tetapi sebaiknya Anda tidak mengganggunya saat ini, Tuan Muda!” sahut Carlos.
Mendengar larangan dari Carlos membuat darah Mikael kian mendidih.
“Aku harus bertemu dengannya, sekarang!” pekik Mikael mendorong Carlos.
“Tapi….” Belum selesai Carlos berbicara, Mikael segera masuk begitu saja.
Georgeus terkejut saat melihat putra sulungnya masuk, dia yang sedang menandatangani sebuah dokumen segera meletakkan penanya di atas meja.
“Ada apa ribu-ribut seperti ini?” tegur Georgeus.
“Maaf, Tuan. Putra Anda memaksa ingin menemui Anda,” jawab Carlos.
Georgeus menganggukan kepala dan meminta Carlos untuk keluar ruangannya. Pria itu pun mengikuti perintah tuannya dan segera meninggalkan Georgeus dengan Mikael berdua di dalam ruangannya. Ia pun tidak lupa menutup pintu ruangan itu rapat.
“Apa yang membuatmu sampai datang kemari?” ujar Georgeus dan meminta Mikael untuk duduk.
Mikael berusaha untuk mengatur napas. “Aku akan mengakui semuanya, Pa,” kata lelaki itu.
“Apa maksud perkataanmu?” Georgeus mengusap dahinya yang berkeringat.
Sepertinya kalimat Mikael bisa dipahami secara jelas oleh Georgeus, hanya saja lelaki paruh baya tersebut sedang menelaah lebih lanjut akan permintaan anak sulungnya. Bagaimana bisa setelah Mikael merengek meminta untuk diselamatkan dari jeratan hukum sekarang malah datang tanpa dosa dan mengucapkan keinginannya agar dirinya dapat mempertanggungjawabkan kesalahannya di muka hukum.
“Iya, aku akan mengatakan kejadian yang sebenarnya kepada pihak kepolisian.” Mikael mengungkapkan keinginannya.
“Dimana akal sehatmu?” seru Georgeus, “Apa kau sudah kehilangan akal, hah!” lanjut lelaki tua itu.
“Tidak, Pa! Aku hanya ingin bertanggung jawab atas apa yang terjadi, lagi pula itu bukan kesalahanku,” geram Mikael menatap tajam Georgeus.
Wajah Georgeus terlihat marah. Ia berdiri menghampiri Mikael dan menarik kerah baju putranya itu sampai membuatnya berdiri.
“Kau bilang itu bukan kesalahanmu? Kau bodoh Mikael.” Georgeus menggampar wajah Mikael.
“Tentu saja, Pa. aku tidak membunuh Sophia, kematiannya bukan kesalahanku,” teriak Mikael sambil menangis.
“Kau yang sudah mengundangnya, kau meminta gadis muda itu untuk menemanimu. Apa kau yakin itu bukan kesalahanmu,” erang Georgeus marah besar.
Mikael terdiam mendengar ucapan sang ayah, dia menyedari dan menyesalinya. Benar yang dikatakan ayahnya, andai saja dia tidak mengundang Sophia mungkin gadis itu masih bernapas hingga saat ini dan Theresia tidak akan terluka sedalam itu.
Namun, dia kembali teringat akan sosok Theresia yang merasakan penderitaan dan kesedihan yang mendalam karena kematian Sophia. Mikael tidak sanggup untuk melihat mata indah gadis itu yang terus mengeluarkan air mata dan larut dalam kesedihan.
“Ijinkan aku untuk mengatakan semuanya, Pa!” Mikael masih ingin bertanggung jawab.
“Jangan pernah kau lakukan itu!” erang Georgeus menatap tajam Mikael.
“Aku tidak bisa terus hidup seperti ini, dikejar dosa. Aku tidak akan bisa tidur dengan tenang jika di luar sana ada yang sangat kehilangan akan sosok gadis itu.” Mikael menangis dan terlihat frustasi.
“Kamu cukup memberikan keluarganya uang dan meminta mereka untuk tutup mulut. Aku tekankan sekali lagi agar kau diam dan melupakan kejadian ini,” tekan Georgeus menunjuk wajah Mikael.
“Papa kira semua bisa di ukur dengan uang, hah? Aku akan tetap melapor meski tanpa atau dengan seijinmu.” Mikael menahan emosi.
“Cukup! Aku tidak tahan lagi. kalian memang anak tidak bisa di banggakan, hanya bisa menyusahkanku saja. Kau pikir ini hanya tentangmu, hah? Lihat berapa banyak orang yang akan kau korbankan akibat ulahmu ini. Harusnya kau bisa berpikir panjang bukan hanya menyusahkan saja,” teriak Georgeus penuh emosi, “jika kau masih bersikeras ingin melapor, detik ini pun kau bisa menebarkan abuku. Paham!” lanjut sang ayah dengan mata merah.
Mikael hanya terdiam, bagaimana bisa ayahnya berbicara seperti itu. Kini dia bagai memakan buah simalakama, Mikael bingung harus berbuat apa. Di sisi lain dia ingin bertanggung jawab dan dapat menghapus air mata Theresia. Namun, di lain sisi sang ayah mengancam dirinya jika melaporkan kejadian itu maka detik ini pun Mikael bisa menabur abu ayahnya.
Mikael tidak ingin kehilangan sang ayah, tetapi dia juga tidak mau melihat Theresia terus larut dalam kesedihan. Ia bingung harus berbuat apa saat ini, rasanya seperti berdiri di ujung tombalk tidak tahu harus melangkah kemana.
“Lakukanlah jika kau ingin melihatku mati detik ini juga.” Ancam sang ayah kembali.
Mikael pergi meninggalkan ruangan Georugeus. Dia membanting pintu dengan keras, dan berjalan menuju mobil. Kemudian lelaki itu melajukan mobilnya, kini Mikael tidak tahu harus kemana dan berbuat apa. Mikael juga tidak bisa bercerita masalahnya kepada Joseph karena dia yakin sang adik akan menyalahkannya atas kematian dari adik salah satu pegawainya.
Dalam pikiran Mikael terus terlintas wajah Theresia dengan segenap kesedihannya. Mikael menepikan mobilnya di pinggir jembatan. Pria itu keluar mobil dan berdiri tepat di tepi jembatan. Pandangannya kosong hanya menatap ke bawah jembatan yang begitu tinggi.
“Tuhan, apa yang harus aku lakukan,” rintih Mikael menyesali semuanya.
Ponsel Mikael berdering, tertera nama Anne dalam handphonenya. Kemudian Mikael mengangkat telephone dari Anne.
“Untuk apa kau menghubungiku lagi, harusnya kau menghubungi polisi dan mempertanggung jawabkan perbuatanmu,” teriak Mikael.
“Apa kamu masih berpikir aku yang salah, dia mati karena ulahnya. Harusnya jika memang dia tidak bisa berenang harusnya gadis itu tidak perlu melompat ke dalam kolam renang itu. Itu akibat kebodohannya yang haus akan uang. Jadi kau tak perlu menyalahkanku.” Terdengar suara Anne di balik ponsel itu.
“Kau memang wanita gila, tidak punya hati. Kau sangat egosi Anne, aku menyesal telah mengenalmu,” pekik Mikael.
“Katakan kepadaku sekarang kau dimana, aku dengar kau ingin melaporkan kejadian itu. Jangan pernah main-main denganku Mikael,” terang Anne.
“Iya aku akan mengirimmu kebalik jeruji agar kau bisa berpikir jenih.” Mikael mematikan ponselnya.
Kemudian dia melemparkan ponsel miliknya ke bawah jembatan. “Dasar wanita s****n,” teriak Mikael penuh emosi.
Dia menyalahkan Anne atas kejadian ini. Mikael berpikir harusnya wanita itu mempertanggung jawabkan semua perbuatannya pada pihak berwajib, tetapi sayang Anne terlalu gila dan merasa dirinya tak berdosa.
“Apa aku harus mengakhiri hidupku ini, Ya Tuhan, agar gadis itu bisa tersenyum kembali. Aku tidak ingin melihat mata indah itu selalu mengeluarkan air mata. Aku tidak bisa larut dalam kesedihannya. Aku memang bodoh, harusnya dari awal aku tidak kabur dan mengatakan semua kebenarannya,” rintih Mikael dalam tangisnya.
Tubuhnya kini menjadi lemah dia berlutut sambil memegang besi jembatan, menyandarkan kepalanya di tiang jembatan sambil terisak tangis. Pikiran Mikael mulai tidak jernih bahkan dia ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat ke bawah jembatan yang sedalam jurang agar bisa terbebas dari semu masalah ini.
Namun, di sisi lain Mikael berpikir jika dia mengakhiri hidupnya mungkin dirinya akan mati sia-sia karena tidak bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada Theresia. Akhirnya Mikael mengurungkan niatnya. Mungkin dengan menjaga Theresia dia bisa sedikit lebih tenang.