25. De Monasque Designer

1501 Kata
Pemakaman Sophia Wilhelmina sontak menjadi moment paling menyedihkan bagi mereka yang mengenal Sophia. Gadis baik dengan segala macam kepolosannya pada kesempatan penuh kedukaan malah menyambangi salah satu apartemen mewah di kotanya dan menjemput ajalnya sendiri secara tragis. Rasa tidak percaya Theresia, sebab penjelasan dari teman Sophia mengenai pekerjaan adiknya masih dia simpan sampai peti jenazah Sophia tertimpun rapat oleh tanah menggunung di atasnya. Itulah tempat peristirahatan terakhir Sophia, jika selama ini dunia tak pernah memberikan tempat paling nyaman untuk pulang, maka di alam ini lah Sophia berharap mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Selama hidupnya Sophia adalah beban bagi sang kakak, begitu menurut Sophia. Gadis itu selalu berharap suatu hari nanti Sophia bisa membebaskan diri dari tanggungjawab besar di pundak sang kakak. Siapa sangka, keinginan itu terwujudkan dengan cara tragis, Sophia harus meregang nyawa di tempat asing menurutnya. Kolam renang, masih tidak bisa Theresia terima dengan akal sehatnya bahwa adiknya bisa tenggelam di kolam renang unit apartemen mewah di kota mereka tinggal. Tak semua orang dapat memasuki apartemen elit itu secara sembarangan. Para penghuni dan pemiliknya juga berasal dari kelas atas serta sangat berpengaruh di negeri mereka. Joseph mengantarkan Theresia ke rumahnya setelah acara pemakaman Sophia. Sesampainya di rumah Theresia meminta Joseph untuk tidak menemaninya karena dia ingin sendiri dan menenangkan diri. “Terimakasih, Joseph,” ucap Theresia saat keluar mobil. “Tidak perlu berterimakasih.” Joseph mengusap halus rambut Theresia. Theresia terkesiap menerima perlakuan hangat dari bosnya. Wanita itu kini mengundurkan diri. “Maaf aku tidak bisa membawamu masuk ke rumah, ijinkan malam ini aku untuk sendiri.” Theresia meminta Joseph pulang. Permintaan Theresia tentu menjadi keraguan tersendiri bagi Joseph. Lelaki tampan yang tidak lain adalah adik kandung penyebab kematian Sophia kini mengamati netra seorang gadis yang sudah mencuri perhatiannya sejak pertama kali mata Joseph memandangnya. “Apa kau yakin, There?” tanya Joseph khawatir. “Iya aku baik-baik saja, aku butuh waktu untuk sendiri dan menenangkan diri,” pinta Theresia. “Baiklah, jika ada sesuatu segera hubungi aku. Jaga dirimu baik-baik.” Joseph mencium kening Theresia. Akhirnya Joseph pun pulang dan meninggalkan Theresia seorang diri. Meski dia merasa khawatir dengan wanita itu, tetapi Joseph tidak bisa berbuat banyak hal. Ada baiknya Joseph membiarkan Theresia menenangkan dirinya sendiri seperti apa yang Theresia kehendaki. Theresia membuka pintu rumahnya, berjalan perlahan memasuki ruangan. Kakinya seakan berat untuk melangkah. Hatinya hancur dan air mata kembali membasahi manik indah itu. Theresia teringat kembali dengan mendiang sang adik. Di rumah ini mereka tumbuh besar bersama. Setiap ruangan terukir kisah indah dan menarik tentang mereka berdua. Theresia menyalahkan lampu agar ruangan terlihat terang, dia melihat sebuah bunga plastic di atas meja. Wanita cantik itu mengambil bunga tersebut dan memeluknya sambil duduk di atas sofa. Theresia teringat kembali saat membuat origami bunga plastic tersebut bersama Sophia. Saat itu usia Sophia masih lima belas tahun, adiknya mempunyai tugas sekolah untuk membuat karangan bunga dari plastic dan Theresia mengajari Sophia saat itu. Berulangkali Sophia mencoba, tetapi selalu gagal dan membuatnya putus asa. Hingga Theresia berucap kepada adinya bahwa tidak ada yang tak mungkin di dunia ini jika kita mau terus berusaha. Kata-kata itu membuat Sophia bersemangat kembali, dan Theresia tersenyum saat melihat adiknya itu penuh semangat. Dengan terus berusaha akhirnya Sophia mampu membuat setangkai bunga. Dan bunga pertamanya itu dia berikan kepada Thersia sebagai tanda cinta dan sayangnya terhadap sang kakak. Hingga detik ini bunga itu selalu di jaga Theresia sampai akhirnya sebuah cerita dan kenangan yang tersisa di dalamnya. Langit sudah mulai gelap tidak terasa Theresia tertidur di sofa sambil memeluk setangkai bunga plastik itu. Ia membuka matanya perlahan menyadari perutnya yang mulai berbunyi karena sejak pagi tidak terisi makanan apapun. Theresia berjalan ke dapur untuk mencari makanan yang bisa mengganjal perutnya. Dia membuka lemari dan hanya menemukan mie instan. Saat melihat makanan itu Theresia teringat kembali akan sosok mendiang Sophia sehingga membuatnya menangis kembali. Ya, adiknya itu sangat menyukai mie instan bahkan hampir setiap kali mereka bertemu, Sophia selalu meminta sang kakak untuk membuatkan mie instan. Theresia terus menangis sambil memasak. Bahkan saat dia akan memakan mie itu bayangan Sophia semakin jelas di pandangannya. Theresia terus menangis terisak-isak hingga dia tak mampu untuk memakannya. Wanita cantik itu menelungkupkan wajahnya di atas meja. “Sophia, aku merindukanmu. Aku tak sanggup jika harus menjalani hidup tanpamu. Mengapa kau tega meninggalkan kakakmu ini seorang diri?” rintih Theresia dalam tangisnya. Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu. Theresia menoleh ke arah jam yang menempel di dinding, waktu sudah menunjukan pukul delapan malam. Dia tidak mengerti siapa yang bertamu semalam ini. Wanita itu berpikir mungkin Jane yang akan mengunjunginya. Theresia pun mengusap air mata yang membasahi pipinya. Dia berjalan membuka pintu. Ia pun terkejut saat melihat Mark yang tak lain seorang polisi ada di hadapannya. “Selamat malam, Nona Theresia,” ujar Mark saat Theresia membuka pintu. Theresia menautkan kedua alis terkejut menatap Mark bingung, dia bertanya-tanya dalam hati apa yang membuat komandan itu menemuinya lagi sedangkan jenazah Sophia telah dikebumikan dengan tenang. “Malam, Tuan. Maaf apa yang membuatmu ke mari?” tanya Theresia. “Maaf menganggu waktu istirahat Anda, Nona. Saya kemari hanya ingin memberikan barang milik mendiang adik Andq.” Mark memberikan sebuah ponsel pada Theresia. “Silahkan masuk terlebih dahulu.” Theresia mengambil ponsel dari tangan Mark. Theresia merasa dirinya juga perlu mengucapkan banyak terimakasih atas kesigapan Mark dalam mengusut kematian Sophia. “Tidak perlu, Nona! Saya masih harus menyelesaikan beberapa kasus di kantor, jika begitu saya permisi terlebih dahulu. Selama malam,” ucap Mark meninggalkan Theresia. “Terimakasih banyak, Tuan. Selamat malam,” balas wanita cantik itu. Theresia kembali masuk dan mengunci pintu. Dia berjalan menuju kamar Sophia, perlahan Theresia Wilhelmina masuk dan duduk di kasur milik mendiang adiknya. Theresia melihat seluruh isi kamar itu mencoba untuk mengenang kembali masa-masa indah bersama sang adik. Dia mengambil sebuah boneka dan memeluknya. Theresia memejamkan mata membayangkan sedang memeluk Sophia adik yang begitu dia sayangi. Harusnya gadis itu bisa tumbuh bahagia, bahkan hingga saat ini Theresia merasa belum bisa membahagiakan Sophia sepenuhnya. Theresia teringat ponsel yang di berikan oleh petugas Mark tadi, dia segera mengambil dan menyalakan ponsel itu. Pertama Theresia melihat gallery berisi photo dan video Sophia. Sejenak gadis itu bisa tersenyum saat melihat photo-photo sang adik di dalam ponsel tersebut. Begitu banyak hal yang di lakukan adiknya itu selama ini. Sophia bahkan selalu tersenyum manis saat di photo, gayanya pun bagaikan seorang model. Theresia juga melihat sebuah video tentang Sophia dan kegiatannya selama di asrama, gadis itu tampak terlihat ceria tanpa beban sedikit pun dalam video tersebut. Tidak ada photo dan video aneh dalam ponsel tersebut. Bahkan tidak ada sosok seorang pria atau teman dekat Sophia di dalam photo-photonya, seperti yang Theresia tahu adik memang belum memiliki teman kencan hingga saat ini. Kemudian Theresia penasaran dengan chat di ponsel Sophia, siapa tahu bisa menemukan jawaban atas kepergiannya. "Kakak tidak pernah percaya dengan apa yang sudah diucapkan oleh temanmu tadi di pemakamanmu, Sophia," lirih Theresia mengingat kembali ucapan Jessy. Sayang sekali tidak ada chat yang mencurigakan di dalamnya. Hanya ada beberapa pesan dari Theresia dan teman-teman Sophia. Mungkin Sophia tipikal seseorang yang suka menghapus pesan dari orang lain untuk menjaga privasinya tetap aman. Mata Theresia mulai lelah, dua hari ini dia tidak bisa tidur dengan tenang karena terlalu memikirkan sang adik. Akhirnya Theresia menutup kembali ponsel milik Sophia dan hendak tidur. Saat gadis itu akan menaruh ponsel milik sang adik, tiba-tiba ponsel tersebut berdering. Theresia melihat siapa yang masih menghubungi adiknya. Tertera nama De Monasque Designer Outlite di dalam ponsel itu. Theresia ingat itu adalah salah satu butik ternama yang ingin dia kunjungi. Panggilan telephone itu pun Theresia terima, mungkin ada hal penting yang akan di sampaikan. “Selamat malam, Nona Sophia,” sapa seorang wanita di balik ponsel. Detak jantung Theresia bergemuruh hebat mendengarkan nama adiknya disebutkan. Seseorang di seberang sana tentu tak tahu apa yang sudah terjadi kepada Sophia. “Malam,” jawab Theresia. “Maaf sebelumnya jika mengganggu istirahat Anda, karena dari siang tadi kami mencoba menghubungi Anda, tetapi nomor ini tidak bisa di hubungi. Kami dari De Monasque Designer hanya ingin memberitahukan bahwa pesanan baju hangat yang di pesan untuk kakaknya telah selesai dan bisa segera diambil,” ucap wanita itu ramah. Deg! Hati Theresia seakan beku mendengar ucapan wanita itu. Bagaimana bisa Sophia memesankannya sebuah baju hangat. Sunggu mulia hati adiknya itu. “Oh, iya baiklah. Besok saya akan mengambilnya,” balas Theresia dengan suara bergetar. “Baik, Nona. Kami tunggu kehadiran Anda. Jika begitu selamat beristirahat dan mohon maaf atas gangguannya. Selamat malam,” ucap wanita itu kembali. “Malam,” balas Theresia. Lalu panggilan itu pun berakhir. Theresia menangis kembali, dia berpikir mungkin baju hangat itu sudah di persiapkan Sophia untuk menyambut musim dingin beberapa bulan lagi. Mengapa waktunya bersama Sophia bisa sesingkat ini dengan segala ketidaktahuan Theresia tentang kesibukan dan pekerjaan adiknya selama ini. “Harusnya kita dapat merayakan natal dan tahun baru bersama,” isak Theresia. Wanita malang itu pun kelelahan hingga matanya tak kuat lagi untuk mengeluarkan air mata. Perlahan Theresia pun tertidur di dalam tangisnya sambil memeluk sebuah boneka milik Sophia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN