Mata Theresia perlahan terbuka, meski sulit untuk melakukannya karena mata indah itu terlalu lelah sepanjang hari terus menangis. Wanita itu mengambil ponsel waktu masih menunjukan jam lima subuh, beberapa pesan juga terlihat di ponsel miliknya yang belum sempat Theresia baca termasuk dari Joseph dan sahabatnya Jane, pun beberapa pertanyaan dari sanak keluarga yang tak sempat hadir dalam pemakaman Sophia Wilhelmina.
Dia segera membersihkan diri, karena teringat bahwa hari ini ia harus pergi ke De Monasque Designer untuk mengambil outer dingin milik Sophia. Theresia merasa tidak ada kesibukan yang dapat mengurangi beban sesal dan juga perasaan sedih di dalam dirinya.
Cuaca di luar masih terasa dingin sekali, Theresia berjalan sendiri menuju halte bus. Ia memasukan tangannya ke dalam saku mantel yang di kenakannya. Syal yang terikat indah di leher jenjang wanita itu membantu menghangatkannya dari dinginnya pagi ini. Langkah kakinya terdengar tersentak seperti berirama. Theersia terus berjalan sambil menundukan pandangannya.
Sesampainya di halte, dia masih harus menunggu bus yang akan di naikinya. Theresia duduk di sebuah kursi, terlihat suasana halte yang masih sepi karena terlalu pagi gadis itu berjalan. Ponselnya pun berdering, dia mengambil ponsel yang ada di dalam tas. Terlihat nama Jane yang menghubunginya. Segera gadis itu mengangkat telephone dari Jane.
“Hallo, Jane,” ucap Theresia.
“Pagi, Theres. Bagaimana keadaanmu?” Terdengar suara Jane yang sedikit serak.
“Pagi, Jane. Aku baik-baik saja,” jawab Theresia.
Jane merasa Theresia sedang tidak di rumahnya karena terdengar bising sekali.
“Kau sedang dimana, Theres? Bising sekali,” tanya Jane nada penasaran.
“Oh, aku sedang di halte,” sahut Theresia.
“Halte? Apa kau akan pergi bekerja sepagi ini?” balas Jane bingung.
Tidak bukan itu, Jane justru merasa syok saat mendengar Theresia menaiki bus. Jane berpikir bahwa Theresia mungkin akan berangkat bekerja, sedangkan awan gelap penuh kedukaan masih menyelimuti diri Theresia. Bahkan seharusnya Jane turut menemani Theresia tadi malam, mengisi keheningan yang teman baiknya itu rasakan usai menerima kenyataan bahwa adik sekaligus anggota keluarga satu-satunya pada akhirnya harus terpisahkan oleh kematian.
Jane berpikir bahwa pihak sekolah tempat Theresia bekerja juga tak akan sekeras itu meminta wanita yang kini sebatang kara hidup di dunia harus bekerja usai hari lalu menyaksikan jasad adiknya disemayamkan kembali ke tanah. Terlebih Joseph, bos di cafe tempat Theresia bekerja tak mungkin membiarkan Theresia bekerja lebih dulu sebelum kondisi psikis dan hati Theresia kembali membaik.
Bukan rahasia umum lagi kalau Joseph menyimpan perasaan cinta dan ketertarikan luar biasa kepada Theresia.
“Tidak, Jane! Aku harus ke Amsterdam untuk mengunjungi asrama Sophia dan mengambil beberapa barangnya yang masih tertinggal di sana.” Theresia menjelaskan tujuannya pada Jane.
“Dengan siapa kau ke sana, Theres?” tanya Jane kembali.
“Aku sendiri Jane,” pungkas Theresia.
Sebagai teman baik Theresia, jelas saja Jane tak akan pernah tega membiarkan wanita yang sedang berduka berangkat ke luar kota sendirian tanpa ditemani seseorang. Theresia mungkin sedang membutuhkan teman yang bisa dia ajak bicara.
“Tunggu di halte Theresia, aku akan mengantarmu,” pinta Jane.
“Tidak perlu! Aku bisa melakukannya seorang diri,” balas Theresia.
“Apa kau yakin, Theres? Aku dengan senang hati menemanimu ke sana.” Jane merasa Khawatir pada temannya itu.
Theresia tak mungkin terus-menerus menjadi penyebab beban bagi teman-temannya. Wanita itu sudah merepotkan Jane dan Joseph sepanjang hari usai berita kematian Sophia mencuat di telinga mereka. Kini Theresia harus menerima kenyataan bahwa tidak selamanya dia dapat menggantungkan diri kepada orang lain.
“Iya, aku akan baik-baik saja. Lagi pula aku masih butuh waktu untuk sendiri.” Theresia meyakinkan Jane.
“Ok, baiklah jika kau akan baik-baik saja. Jaga dirimu di sana. Kabari aku jika terjadi sesuatu.” Jane mengingatkan Theresia.
“Iya, sayang. Ya sudah nanti aku kabari lagi. Bye Jane,” ujar Theresia.
“Bye, Theres,” jawab Jane.
Panggilan telephone tersebut pun akhirnya terputus bersamaan dengan bus yang berhenti tepat di hadapan Theresia. Lalu gadis itu pun berdiri dan memasukan ponselnya kembali. Saat pintu bus terbuka secara otomatis, Theresia melangkah masuk menaiki bus. Dia mencari tempat duduk yang kosong. Sepanjang perjalanan wajah wanita itu masih terlihat sedih.
Theresia menoleh ke arah jendela yang tepat di sampingnya, kakak dari Sophia itu terus menatap sekeliling jalan. Mungkin dengan melihat pemandangan kota Theresia berharap dapat menenangkan diri dan mengobati luka di hatinya. Lambat laun Theresia mencoba memejamkan mata dan menarik napas panjang serta menghembuskannya perlahan.
Saat wanita dewasa itu melihat dua orang gadis kecil yang menaiki bus yang sama bersama ke dua orang tua mereka, seketika Theresia teringat kembali sosok mendiang adiknya. Mereka sangat mirip dengan dirinya dan Sophia saat kecil. Senang saat menaiki bus dan selalu menatap ke luar jendela. Air mata perlahan menetes kembali di pipinya.
Theresia mencoba menghapusnya terus menerus, tetapi air mata itu sangat sulit terhenti. Bahkan orang yang duduk di samping Theresia pun memperhatikannya menangis.
“Apa kau baik-baik saja, Nak?” tanya wanita paruh baya yang duduk di sampingnya.
“Ya, Mam. Aku baik-baik saja,” jawab Theresia tersendu.
Wanita itu pun memberikannya sebuah sapu tangan saat wanita itu hendak turun dari bus. Theresia pun berterimakasih kepada wanita tersebut. Perjalanannya masih sangat jauh. Butuh waktu tiga jam untuk menuju lokasi yang di tuju. Berkali-kali Theresia mencoba memejamkan mata. Tetapi dia tidak bisa tertidur juga.
Hingga akhirnya Theresia tiba juga di halte yang dituju. Theresia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki karena lokasi de monasque designer outlite tidak jauh dari halte tersebut. Gadis itu terus berjalan hingga tiba di depan butik. Theresia melangkahkan kaki memasuki butik.
Butik yang sangat mewah dan terlihat menarik, gadis itu yakin harga pakaian di tempat ini pasti sangat mahal. Terlihat dari model-model baju yang di pajang pun sangat mewah. Seorang wanita bergaya elegan menghampiri Theresia.
“Selamat pagi, selamat datang di De Monasque Designer Outlite. Ada yang bisa kami bantu?” ujar wanita itu ramah.
“Pagi, saya ingin mengambil pesanan atas nama Sophia Wilhelmina,” ucap Theresia.
“Mari ikut saya,” ajak wanita itu masuk ke tengah butik.
Semakin dalam pemandangan butik itu semakin menarik dan menggoda mata. Theresia bahkan sampai menelan silvinanya karena sebuah dress yang terlihat mewah dan elegan.
“Nona, ini yang mau mengambil outer hangat atas nama Sophia Wilhelmina,” ujar wanita elegan itu kepada si pemilik butik.
“Maaf sepertinya Anda bukan Sophia?” tanya pemilik butik itu.
Pemilik itu mengenali wajah Sophia dan dia heran mengapa bukan Sophia sendiri yang mengambilnya. Theresia pun memperkenalkan diri kepada pemilik butik itu dan menjelaskan apa yang terjadi pada Sophia.
“Saya Theresia Wihelmina, kakak dari Sophia Wihelmina,” jawab Theresia mengulurkan tangan.
“Oh, jadi Anda adalah Theresia, senang bertemu dengan Anda. Saya Lula pemilik butik ini.” Pemilik butik itu terlihat sangat ramah.
“Senang juga bisa bertemu dengan Anda,” balas Theresia.
Salah satu pegawainnya membawakan outer hangat yang di pesan Sophia.
“Ini Theresia, silahkan coba terlebih dahulu.” Lula memberikan outer kepada Theresia.
Theresia pun mencoba outer itu dan menunjukannya kepada Lula.
“Wah pas sekali, tidak salah adik Anda meminta saya membuatkan outer ini untuk kakaknya yang begitu cantik.” Lula memuji Theresia.
Wanita itu malah menangis dan membuat Lula bingung. Apa yang salah dari perkataannya sampai menyebabkan Theresia menangis seperti itu?
“Mengapa Anda menangis? Apa kamu tidak menyukainya Theresia?” tanya Lula heran.
“Bukan seperti itu, hanya saja ini akan menjadi kenang-kenangan terakhirku dari Sophia,” rintih Theresia dalam tangisnya.
“Kenang-kenangan terakhir? Maksud kamu?” Lula semakin tidak paham.
“Iya, Sophia sudah meninggalkan kita untuk selamanya.” Theresia menangis semakin dalam.
Pandangan mata Lula membulat sempurna. Detik selanjutnya Lula paham kalimat yang Theresia ucapkan adalah suatu pertanda bahwa Sophia sudah tiada, meninggalkan semua orang yang dikenalnya di dunia untuk menuju kehidupan lebih kekal abadi.
“Ya Tuhan, maaf aku yang tidak mengetahuinya.” Lula terkejut mendengar berita duka itu.
“Tidak apa-apa Lula, saya pun tidak menyangka Sophia akan pergi untuk selamanya,” ujar Theresia menghapus air matanya.
“Saya turut berduka atas kepergian Sophia,” ungkap Lula memeluk Theresia.
“Terimakasih, Lula!” sahut Theresia.
Theresia pun membuka outer itu kembali. Dia terus memeluk dan menangisinya. Sudah cukup lama Theresia berada di de monasque designer outlite. Akhirnya dia pun membayar outer musim dingin itu dan pergi meninggalkan butik.
“Hati-hati di jalan, Theres,” ucap Lula memberikan pelukan perpisahan.
“Iya, sampai jumpa lagi, Lula.” Theresia pergi meninggalkan butik.
“Sampai jumpa lagi, Theresia.” Lula melambaikan tangan.
Theresia melangkahkan kaki keluar butik, dia merasa sangat hancur sekali. Langkahnya terhenti begitu saja. Theresia memeluk kembali outer itu dan menangisinya. Tanpa dia sadari sepasang mata terus memperhatikannya sedari tadi.
Ternyata Mikael sejak kemarin terus mengikuti kakak dari Sophia itu, bahkan dia rela tidur di dalam mobil yang terparkir di depan rumah Theresia. Lelaki itu pun mengikuti Theresia yang menaiki bus dan duduk di belakang gadis itu tanpa di sadarinya. Kini dia hanya bisa memperhatikan Theresia dari kejauhan.
Dengan menggunakan jaket kulit berwarna coklat, serta menggunakan topi dan kacamata, lelaki itu terlihat berbeda. Saat melihat Theresia menangis ingin rasanya Mikael menghampiri wanita itu untuk menghapus air matanya, tetapi langkahnya sangat berat. Dia tidak sanggup melihat manik indah itu terus mengeluarkan air mata.
Sudah berapa banyak mili liter air mata yang keluar dari mata Theresia atas kesalahan Mikael mengundang gadis tidak berdosa masuk ke dalam apartemen mewah miliknya sehingga menjadi penyebab kecemburuan Anne sampai akhirnya alasan itulah awal mula Sophia harus meregang nyawa secara tidak disangka-sangka. Mikael menyesal, semarah apapun Mikael dengan Anne dan dirinya sendiri tak akan mampu mengembalikan nyawa gadis tidak berdosa itu.
"Lihat Mikael, kau menghancurkan dunia dua gadis tak berdosa!" umpat Mikael menyalahkan dirinya sendiri.
Dua gadis yang harusnya masih saling mengasihi sebagaimana kasih sayang kakak adik pada umumnya. Mikael terenyuh ketika menyaksikan niat baik Sophia membeli hadiah mengesankan untuk kakaknya. Sayang sekali, Sophia malah tak punya kesempatan memberikan hadiah langsung kepada sang kakak.