27. Lelaki Bonus Akhir Bulan

1497 Kata
Theresia benar-benar sudah merasa kehilangan akal, dia berpikir untuk mengakhri hidupnya di tempat ini. Bersama dengan air mata yang mengalir, wanita muda itu sudah siap dengan yang akan terjadi. Percuma pula Theresia hidup di dunia ini sedangkan alasannya untuk tetap hidup di dunia sudah tidak ada lagi. Wanita yang bekerja sebagai guru taman kanak-kanak sekaligus melakukan pekerjaan paruh waktu di cafe milik Joseph menatap dunia seperti seluruh dunia ini tak punya alasan yang dapat menahannya tetap hidup di dunia ini. Theresia memandang perlintasan bus di depannya, pemikiran buruk lantas melintas di benaknya bersamaan dengan munculnya satu gerbong bus kota di depan matanya. "Aku tidak berhasil menjaga adikku sendiri di dunia ini, tidak ada gunanya aku tetap hidup di dunia ini!" ujar Theresia menitikkan air mata. Beruntung, pemikiran Theresia dapat dimengerti oleh lelaki yang sedari awal mula kepergian Theresia ke Amsterdam. Lelaki itu menggelengkan kepala seraya mengumpat frustasi. "Oh s**t! Pemikiran gila macam apa yang akan kau lakukan Theresia!" ujar Mikael menggelengkan kepala. Theresia berjalan frustasi ke arah perlintasan bus kota. Pemikiran Theresia sudah bulat sempurna sehingga tidak ada penyeselan lagi di belakang nanti. Air mata telah bersimbah membasahi wajah Theresia Wilhelmina. Langkah kakinya semakin cepat menuju arah perlintasan bus di depannya. Tanpa dia sadari seseorang menariknya dengan begitu cepat dan menyelamatkan nyawanya. Tubuhnya tersentak dan mendekap di pelukan seorang lelaki berdada bidang. "Aku tahu otak gilamu itu! Berhenti berpikiran pendek!" seru Mikael murka. Mendengar kalimat tegas penuh peringatan dari seseorang yang tengah memeluknya, Theresia membisu tanpa berani menatap siapa sosok lelaki tersebut. Tangisannya pecah saat itu juga, dia tidak tahu siapa lelaki yang mendekapnya saat ini. Namun, yang dia rasakan saat ini adalah sebuah sandaran. Theresia terus menangis dalam pelukan Mikael dan membuat lelaki itu semakin merasa bersalah. Berbeda rasanya saat melihat Theresia menangis dari kejauhan dengan saat ini yang begitu dekat di pelukannya. Jika beberapa kesempatan Mikael hanya mampu menyaksikan tangisan Theresia dari jauh, maka hari ini Mikael dalam merengkuh pundak yang selama beberapa hari ini terus bergetar oleh tangisan kematian sang adik. Hati Mikael seakan ancur berkeping-keping dan larut bersama hancurnya hati Theresia. “Kau sudah gila, hah! Apa kau tidak ingin hidup lagi?” umpat Mikael kepada Theresia, “Mengapa kau ingin mengakhiri hidupmu seperti ini? Dimana akal sehatmu?” lanjut Mikael dengan sangat emosi. Theresia menangis semakin histeris dan mendorong tubuh Mikael. “Iya aku sudah kehilangan akal, aku memang tidak ingin hidup lagi. Untuk apa aku hidup jika Tuhan sudah mengambil semuanya dariku!” Theresia berlutut merendahkan tubuhnya, mencoba menundukkan wajah saking dia tak ingin orang lain melihatnya hancur seperti ini, terlebih Theresia baru saja melakukan hal bodoh yang tak seharusnya dilakukan oleh manusia berakal sehat. Perbuatan yang sangat dibenci oleh Tuhan ialah bunuh diri, itu merupakan titik akhir pemikiran manusia tanpa semangat hidup dan telah kehilangan akal sehatnya. Pemikiran singkat dengan akibat hilang nyawanya sendiri tak akan menguntungkan siapapun. Melainkan Theresia terus terbebani oleh perasaan bersalah dan tidak pernah mendapatkan kedamaian hingga akhir nanti. Wanita itu terus menangis meratapi kesedihannya. “Mengapa kau menolongku. Harusnya kau biarkan aku mati saja?!” jerit Theresia dalam tangisnya. Mikael ikut berlutut dan memeluk Theresia kembali, meski wanita itu memberontak melepaskan tubuhnya, tetapi akhirnya dia luluh juga. Saat ini yang dibutuhkan Theresia ialah pelukan dan tempat bersandar. “Maafkan aku,” ucap Mikael dengan mata yang berkaca-kaca. Mikael ikut menangis bersama Theresia. Meski wanita itu tidak mengenal siapa yang memeluknya saat ini, tetapi dia merasa sangat nyaman sekali. Sangat jauh berbeda saat dia menangis dalam dekapan Joseph. Mikael menepuk halus punggung Theresia berusaha menenangkan wanita itu. Theresia sendiri bingung, mengapa Mikael terus menerus mengucapkan permintaan maaf? Sementara Theresia berusaha memejamkan mata dan menenangkan dirinya, pelukan hangat Mikael bisa dengan cepat menghentikan tangisannya. Theresia pun tersadar bahwa dia menangis dalam pelukan pria asing yang tidak dia kenal. Perlahan Theresia melepaskan tubuhnya kembali dari Mikael. Lelaki tampan itu mengulurkan tangan membantu Theresia untuk berdiri. Manik mereka kini saling pandang. Theresia masih bertanya mengapa lelaki itu menolongnya dan tidak membiarkan dia mati saja. “Mengapa kau menolongku dan tidak membiarkan aku mati saja,” sungut Theresia menatap Mikael. “Apa untungnya aku membiarkanmu mati, jika kau mati dengan cara seperti tadi itu hanya akan menyusahkan orang-orang yang ada di sini saja, termasuk aku,” sindir Mikael. Perkataan Mikael membuat Theresia terdiam. “Ya, benar aku hanya bisa menyusahkan saja. Lalu apa untungnya juga aku hidup?” “Mengapa kamu pergi ke tempat yang sangat jauh seperti ini, bukankah membutuhkan waktu tiga jam untuk sampai ke sini?” tanya Mikael. Theresia terheran, mengapa lelaki itu tahu dia harus menempuh perjalanan selama itu. Theresia memandang Mikael sangat dalam. Siapa lelaki yang berdiri di hadapannya ini dan dengan lancang sudah menolong Theresia, mengapa dia tahu tentangnya? “Mengapa kau tahu hal itu? Siapa dirimu?” Theresia menatap aneh Mikael. “Apa kau lupa denganku, beberapa waktu lalu kita pernah bertemu di café tempatmu bekerja?” Mikael berusaha mengingatkan Theresia. Theresia diam dan berusaha mengingat-ingat, karena terlalu banyak lelaki yang mengunjungi tempat itu dan terlalu banyak orang yang bertemu dengannya di café tersebut. Butuh waktu cukup lama untuk Theresia berpikir. Wanita itu menatap Mikael aneh, dia merasa sangat ragu dengan pria asing itu. Kemudian Mikael mengeluarkan sebuah cendramata yang pernah Theresia berikan dari dalam sakunya. “Bonus pelanggan akhir bulan,” ucap Mikael menatap Theresia. “Ya, Tuhan. Kau.... Ya, aku mengingatmu sekarang!” jawab Theresia menganggukkan kepalanya. Mikael tersenyum lega karena wanita itu masih mengingat dirinya. Dia sendiri tidak menyangka bahwa Theresia masih mengenalinya, padahal bagi wanita seperti Theresia yang sering bertemu banyak orang mungkin akan sangat sulit untuk mengingat orang yang datang ke cafe tersebut karena tempat itu pun selalu sangat ramai pengunjung yang berdatangan. “Lalu, mengapa Anda sendiri berada di tempat ini?” tanya Theresia heran. Wajah Mikael berubah seketika, dia gelagapan seperti orang bingung dan menjadi salah tingkah. Tidak mungkin untuk Mikael harus berkata jujur kepada Theresia bahwa dirinya telah mengikuti wanita itu hingga sejauh ini, mungkin Theresia akan takut jika tahu hal itu bahkan malah mencurigainya. Mikael tidak ingin hal itu terjadi, dia pun terus berpikir apa yang harus dia katakan kepada Theresia. Wanita itu menatap Mikael dengan mata yang masih merah dan berkaca-kaca. “Aku ... aku ....” Mikael bingung harus berkata apa. Dia terus menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. “Aku sedang dalam perjalanan bisnis,” celetuk pria itu, “ya, dalam perjalanan bisnis,” ucapnya lagi agar Theresia percaya kebohongannya. “Oh!” sahut Theresia menganggukkan kepala. Tanpa mereka sadari langit sudah berubah menjadi mendung, angin pun berhembus lebih kencang. Hujan perlahan turun satu persatu sebelum akhirnya menjadi begitu deras dan di susul dengan kilatan petir yang menyadarkan mereka untuk segera berlari dan mencari tempat berteduh. Dengan tidak ragu Mikael menarik tangan Theresia dan mengajaknya berlari. Theresia menatap wajah lelaki itu yang terus memandang ke depan. Air yang turun dari atas langit membasahi wajah mereka. Theresia tidak percaya lelaki asing itu sangat peduli terhadapnya. Sepanjang perjalanan Theresia terus menggenggam tangan Mikael dan menatap wajah lelaki itu. Dia tidak tahu mengapa perasaannya jauh lebih tenang saat ada di dekat lelaki asing tersebut. Theresia saat ini bahkan merasa aman saat berada di genggamannya. Wajah tenang Mikael bisa menyejukkan hatinya. Mikael membawa Theresia berlari ke sebuah cafe yang tidak jauh dari tempat awal mereka bertemu. Tubuh Theresia terlihat menggigil kedinginan. Mikael memberikan sapu tangan yang dia keluarkan dari saku jasnya. Theresia malah menatap wajah Mikael bingung dan terpaku. Lelaki itu mengusap wajah Theresia dengan sapu tangan yang dia pegang dan menyadarkan wanita itu dari lamunannya. “Terimakasih,” ucap Theresia kaku, lalu dia mengambil sapu tangan dari tangan Mikael. Mereka pun masuk ke dalam cafe dan duduk menghadap jendela. Seorang pelayan menghampiri mereka memberikan daftar menu yang ada di cafe itu. Mikael memesankan dua minuman tanpa bertanya terlebih dahulu kepada Theresia. Pandangan gadis itu terus menatap kaca jendela yang basah oleh air hujan yang mengalir perlahan di hadapannya. Mikael memandang wajah polos Theresia. Terlihat lingkar hitam di bawah ke dua matanya. Mikael berpikir pasti gadis itu tidak henti-hentinya menangis belakangan ini dan membuat mata indah itu terlihat sangat lelah sekali. “Maafkan aku,” lirih Mikael dalam hatinya. Rasa bersalah pun semakin erat tertanam di hati Mikael, dia tahu betapa tersiksanya Theresia karena kesalahan dan kebodohan yang dia buat. Wanita itu terus menatap ke arah jendela tanpa menyadari Mikael terus memperhatikannya. Perlahan tangan Theresia menyentuh kaca jendela tersebut, dia menggerakkannya dengan sangat lembut seolah dapat menyentuh air hujan itu. Bayangan Sophia terlihat jelas bersama jatuhnya air yang mengalir. Mata indah itu kembali berkaca-kaca. Namun, kali ini Theresia bisa mengendalikannya dan tidak membuat air mata membasahi pipinya. Wanita itu berharap bersama jatuhnya air hujan ke muka bumi ini bisa menghapus kesedihannya sedikit demi sedikit. Mungkin akan berat untuk Theresia menatap masa depan saat ini, tetapi mau tidak mau dia pun harus bangkit bersama kesedihannya. Begitu pun dengan Mikael dia berharap bersama turunnya air hujan jatuh ke muka bumi ini dia berharap dapat mengusap air mata kesedihan Theresia dan menggantikannya dengan air mata kebahagiaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN