28. Sebuah Tekad

2067 Kata
Amsterdam, ibu kota yang sangat cantik, dengan keindahan kanal melebihi negara-negara lain. Mempunyai beribu keindahan sehingga para pendatang dan turis mancanegara datang silih berganti untuk merasakan langsung keindahan Ibu Kota Belanda tersebut. Kota yang dibagun di atas ribuan kayu, disebutkan dalam sejarah Belanda bahwa Istana Kerajaan memiliki 13.659 tiang kayu dan Amsterdam Central Station lebih dari 9.000 tiang. Bukan lagi rahasia umum, bahwa Belanda adalah negara maju maju serta menjadi tolak ukur perekonomian maupun pemerintah dari negara-negara berkembang lainnya. Negara istimewa dengan dua ibu kota. Ya, Den Haag dan juga Amsterdam. Mereka bagaikan tangan dan juga kaki. Den Haag sebagai pusat administrasi negara, dan Amsterdam dijadikan sebagai tulang punggung negara. Menyambangi kota ekonomi dan budaya di Belanda tidak membuat seorang wanita yang baru saja terpukul oleh kematian adiknya menjadi ceria. Wajah cantiknya tetap muram, pandangannya tak mampu menerima berbagai keindahan bangunan Kota Amsterdam di hadapannya, apalagi saat ini dia sedang duduk di salah satu café terkenal di pusat kota tersebut. Pemikiran dan fokus Theresia Wilhelmina saat ini ialah tentang adiknya seorang. “Aku sudah memesan minuman hangat untukmu,” kata Mikael menatap wanita yang sekarang sibuk mengamati rintik hujan di luar ruangan. Tidak ada jawaban dari Theresia. Wanita itu menghitung satu demi satu rintik hujan, berharap hitungan ke sekian kalinya akan membawa dirinya masuk pada dimensi waktu seperti salah satu drama yang pernah Theresia tonton. Seorang pelayan datang membawakan dua gelas minuman yang Mikael pesan tadi. Pelayan itu pun meletakannya di atas meja yang ada di hadapan mereka berdua. Suasana masih terlihat hening, mereka hanya duduk tanpa berbicara sepatah kata apapun. Theresia terlihat sangat canggung untuk membuka suara begitu juga dengan Mikael. Kini hanya sebuah Caramel Mochaciato hangatlah yang menjadi saksi betapa kakinya mereka berdua saat ini. Mikael mencoba menarik napas panjang. “Silahkan diminum! Agar tubuhmu hangat,” ucap Mikael. Merasa tidak mendapatkan respon sama sekali dari Theresia, Mikael memberanikan diri menyentuh pelan punggung tangan Theresia hingga wanita yang bekerja di café milik sang adik tersebut lantas mendongakkan wajah ke arah Mikael. “Minumlah selagi hangat,” kata Mikael mengulangi kalimatnya. “Iya, terimakasih!” Theresia mengambil gelas dan menyeruputnya perlahan. Theresia bertanya-tanya, wanita itu sama sekali tidak merasa memesan minuman. Ah, mungkin saja Mikael sudah terlebih dahulu memesan minuman hangat tersebut ketika Theresia sedang sibuk akan kemelut di dalam pikirannya sendiri. Kini keduanya menyeruput caramel mochaciato hangat itu perlahan. Tubuh mereka sudah terasa lebih hangat dan rilex. Mikael meletakkan gelasnya dan mencoba membuka suara terlebih dahulu. “Kau tadi belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana bisa kamu bisa sampai ke tempat yang cukup jauh ini?” tanya Mikael. Wanita itu terdiam dan meletakkan gelasnya perlahan. Ia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Pecah sudah suasananya kini. Air mata Theresia kembali mengalir membasahi pipi. Mikael bingung mengapa Theresia menangis, apa pertanyaannya membuat dia bersedih atau dia salah bertanya? Mikael Van Holen menjadi kikuk dan bersalah. Tentu saja pertanyaan Mikael membuat Theresia selalu teringat akan tujuannya menyambangi Kota Amsterdam. Di samping tempat duduknya, Theresia mengelus lembut paperbag butik kenamaan yang menjadi pilihan Sophia memesan outer hangat menjelang tahun baru natal spesial untuk kakak tersayangnya. Theresia menghela napas perlahan. “Sebenarnya, aku jauh-jauh ke sini hanya untuk mengambil sebuah outer musim dingin,” ungkap gadis itu di susul tangisan kembali. Dia sungguh tak kuasa untuk berkata lagi. Theresia menutup ke dua mata dengan tangannya, wanita itu terus terisak tangis. Mikael menggeser tempat duduknya mendekati Theresia dan mengusap halus punggung wanita itu. “Bagaimana bisa kau memesan outer hangat sejauh ini?” Mikael tidak dapat berpikir. “Sebenarnya, yang memesan outer itu adalah mendiang adikku. Dia memesankan dua untuk aku dan dia pakai di musim dingin tahun ini. Namun, sebelum musim dingin itu tiba dia sudah meninggalkanku untuk selamanya.” Theresia terisak tangis. Mikael terdiam mendengar ucapan Theresia. Hatinya hancur, tangan lelaki itu gemetar seolah dia merasa tidak pantas untuk menyentuh Theresia saat ini. Mikael tidak tahu bahwa perbuatannya akan menjadi pengaruh besar bagi kehidupan Theresia. Setiap tangisan Theresia membuat sayatan segar di dalam hati Mikael. Lelaki itu semakin tahu betapa pedih luka yang Mikael sebabkan pada Theresia dan Sophia. Keduanya seharusnya dapat melewati malam natal dan tahun baru bersama, seperti apa yang telah keduanya idam-idamkan seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, Mikael menjadi alasan hancurnya kebahagiaan kakak dan adik itu. Tidak seharusnya Mikael masih punya keberanian berhadapan dengan kakak dari seorang gadis malang yang meregang nyawa di kolam renang apartemen mewahnya. Apakah ini adalah saat Mikael mengungkapkan rasa bersalahnya di depan Theresia dan meminta pengampunan kepada wanita itu? “Maafkan aku,” lirih Mikael menggenggam tangan Theresia, “Aku turut berduka atas apa yang menimpa adikmu. Aku sungguh-sungguh meminta maaf,” lanjut lelaki itu penuh penyesalan. Kalimat Mikael justru membuat Theresia menggelengkan kepala. Tanpa keraguan dan kecurigaan Theresia menolak permintaan maaf Mikael. Theresia malah menganggap Mikael merasa tidak enak hati sebab mempertanyakan pertanyaan sensitive kepada Theresia sehingga menjadi pemicu Theresia kembali teringat akan luka kehilangan yang sedang dia rasakan, sampai air mata duka tumpah kembali membasahi pipi Theresia. Theresia tak akan menganggap kematian Sophia adalah kecelakaan. Setelah mendengar penuturan dari Jessy dan segala kenyataan yang ada, Theresia menganggap seluruh kesalahan adalah berpusat kepada dirinya. Seandainya Theresia mampu menjadi kakak yang baik dan bertanggungjawab atas seluruh kehidupan adik satu-satunya, Theresia yakin benar bahwa kejadiaan seperti ini tidak akan terjadi, dan Theresia tak akan melihat adiknya meninggal dengan segala tabir kepalsuan menyelimuti fakta sebenarnya. “Tidak! Kau tak perlu meminta maaf. Bukan salahmu bertanya. Aku hanya tidak dapat menahan air mataku lagi,” ungkap Theresia. Wanita polos itu berpikir bahwa Mikael meminta maaf karena telah bertanya dan membuatnya menangis. Padahal Mikael meminta maaf karena telah membuat Theresia kehilangan adiknya. Dia ingin mengatakannya saat ini, tetapi Mikael teringat akan ancaman sang ayah. Mikael dan Anne masih belum menemukan jalan tengah untuk penyesalan yang Mikael hadapi. Melihat kemarahan dan rasa sakit pada diri Theresia, Mikael yakin benar jika Theresia tidak akan pernah memaafkannya serta bersikukuh melawan Mikael hingga Sophia mendapatkan keadilan seadil-adilnya. Theresia pun menghapus air matanya yang mengalir. “Harusnya aku yang meminta maaf karena telah lancang menangis di hadapanmu,” tambah Theresia. Anak sulung dari Georgeus dan Alexa menggeleng. Justru Mikael merasa sangat bahagia jika dirinya mendapatkan kesempatan membagi duka dengan wanita yang sudah kehilangan satu-satunya anggota keluarga karena kesalahan Mikael. Setidaknya, meskipun penuh kebohongan, Mikael bisa menenangkan Theresia dan memberikan semangat kepada Theresia. “Tidak apa-apa aku paham akan kesedihanmu,” imbuh Mikael merasa bersalah. Mata Mikael terus mengamati wajah ayu Theresia yang sangat lesu dan pucat. Mikael yakin wanita di depannya tidak punya waktu cukup untuk dia beristirahat tenang usai kepergian Sophia Wilhelmina untuk selamanya. “Harusnya aku tak pantas mengatakan hal ini, bahkan aku tak pantas berada di hadapanmu saat ini. Andai kau tahu aku lah penyebab kematian adikmu dan hancurnya kehidupanku saat ini. Mungkin kau enggan untuk berbicara denganku bahkan memandangku pun kau tak mau,” sesal Mikael di lubuk hatinya yang paling dalam. Embusan napas panjang mengalun bersama naik turunnya gerakan d**a Theresia. Keriuhan Café Kuijper, tak mampu mengisi keheningan di dalam hati Theresia saat ini. Café yang berada di dekat Hotel Manor tersebut merupakan langganan muda-mudi pecinta minuman bir lokal. “Flammkuchen please,” pinta Mikael kepada pelayan yang datang melintasi mereka. Mikael berpikir, minuman hangat mereka sangat cocok ditemani pizza crispy yang terkenal di café tempat mereka duduk berdua saat ini. Mikael masih berharap dirinya dapat menahan Theresia semakin lama di sana, demi Mikael bisa memastikan Theresia tidak melakukan hal-hal konyol lagi seperti yang Theresia lakukan beberapa menit lalu. “Aku sedih karena aku merasa kecewa pada diriku sendiri. Aku gagal menjadi seorang kakak. Harusnya aku bisa membahagiakan adikku. Andai saja aku dapat memenuhi semua kebutuhannya, mungkin dia tidak akan pergi secepat ini.” Theresia mulai terbuka dalam bercerita. Wanita itu pun tidak mengerti mengapa dia tidak sungkan untuk menceritakan semuanya pada Mikael, padahal dia tahu dia hanya sosok lelaki asing yang belum dia kenal lebih jauh. Namun, rasanya saat berbicara dan memandang lelaki itu dia jauh lebih tenang dan nyaman. Mikael memberikan tanggapan menyenangkan pada setiap patah kata yang keluar dari bibir Theresia membuat Theresia mengagumi sisi kemanusiaan Mikael. Tanpa Theresia ketahui alasan di balik semua itu ialah rasa bersalah di dalam diri Mikael. “Apa itu yang menjadi alasanmu tadi untuk mengakhiri hidup?” tanya Mikael kembali. “Aku sendiri tidak tahu. Hanya saja aku berpikir untuk apa lagi aku hidup, sedangkan tujuanku sudah tidak ada. Dan buka hanya tujuan saja bahkan aku sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini. Hanya adikku satu-satunya yang aku miliki.” Theresia tersenyum kecil di balik kesedihannya. “Jangan berkata seperti itu. Kau tidak sendiri di dunia ini. Bukan karena kau kehilangan adikmu maka hilanglah tujuanmu. Harusnya kau mengejar semua yang jadi tujuanmu dan kebahagiaan yang belum adikmu miliki. Buktikan kepada mendiang adikmu bahwa kau bisa melakukannya demi dia. Buatlah dia bahagia dan tenang di atas sana,” sahut Mikael. “Tetapi, aku tidak tahu apa tujuanku saat ini. Dulu tujuanku adalah membahagiakan Sophia, itu janjiku kepada kedua orang tua kami. Kini Sophia sudah tiada maka hilanglah tujuanku.” Mata Theresia terus berkaca-kaca. Mikael mengepalkan tangannya yang berada di bawah meja. Batinnya hancur seperti pecahan kaca saat mendengar cerita Theresia dan melihat wajah sedihnya. Mikael memahami bagaimana rasanya menjadi Theresia. “Sejak kapan kau kehilangan kedua orang tuamu?” tanya Mikael untuk tetap bisa mendengarkan suara hati Theresia. “Sudah cukup lama. Waktu itu aku masih duduk di bangku sekolah menengah atas dan Sophia sendiri masih kecil. Kedua orang tua kami meninggal karena sebuah kecelakaan, hari itu hatiku pun hancur, tetapi tak sehancur saat ini.” Theresia sedikit menghela napas, “sejak saat itu aku berjanji kepada mendiang kedua orang tuaku untuk merawat dan membesarkan Sophia bahkan aku berjanji untuk selalu menjaga dan membahagiakannya. Namun, aku gagal. Aku gagal menjadi seorang kakak yang baik dan aku gagal menepati janjiku. Yang lebih sakit dan membuatku jauh lebih hancur adalah aku membiarkan Sophia pergi dalam kesedihan dan kesendirian. Aku tahu mungkin saat itu dia membutuhkanku, membutuhkan pertolonganku, tetapi aku tidak ada di dekatnya. Sophia yang malang bahkan tidak bisa berenang, harusnya aku ada di dekatnya saat itu.” Theresia menangis kembali. Dia terus meraung mengingat tentang kematian Sophia. Pertanyaan yang sangat mendalam di benak Theresia ialah, mengapa Sophia bisa meninggal di kolam renang apartement mewah? Rasanya kesedihan wanita itu semakin mendalam. Theresia merasa gagal dan sudah tidak memiliki tujuan hidup lagi. Kini dia tidak tahu harus melakukan apalagi setelah kehilangan orang-orang yang begitu dia cintai. Wanita itu menceritakan kepedihannya selama ini, dia berjuang kerja keras hanya demi Sophia dan dia pun rela melakukan pekerjaan apapun demi adik kesayangannya. Semuanya dia ungkapkan kepada Mikael. Sedangkan lelaki itu terdiam meratapi kesalahannya. Tangis Theresia kembali pecah saat Mikael memeluk tubuhnya dan mengusap halus punggungnya. “Menangislah, jika air mata dapat mengobati lukamu. Menangislah seperti langit yang menjatuhkan air hujan untuk menyingkirkan awan hitam,” lirih Mikael berbisik halus di telinga Theresia. Terdengar wanita itu terseguk-seguk menangis. Mikael terus mencoba menenangkannya, mengelus lembut punggung Theresia. “Ijinkan aku untuk tetap bersamamu, menemanimu menghapus semua air mata yang jatuh membasahi pipimu, mengobati luka hati yang aku buat padamu. Dan ijinkan aku menjadi penerangmu dalam kesedihan seperti mentari yang memberikan cahayanya setelah hujan turun sehingga bisa menjadikan pelangi sesudahnya. Aku harap kau bisa menemukan kebahagiaanmu lagi, kau bisa menghadirkan pelangi setelah kesedihanmu ini,” ungkap Mikael dalam batinnya. Perlahan Mikael pun menitikkan air mata. Dia sangat tidak tahan mendengar semua jeritan hati Theresia. Mikael merasa Theresia benar-benar tersiksa karenanya. Dia terus memeluk tubuh Theresia. Wanita itu tidak menyadari bahwa Mikael ikut larut dalam kesedihannya. Hujan yang turun seperti berpihak kepada Mikael untuk bisa lebih dekat dengan Theresia. Begitu pun dengan Theresia dia begitu nyaman bisa menangis di pelukan Mikael, kini perasaannya jauh lebih tenang. Dia tidak tahu mengapa lelaki asing yang memeluknya erat ini bisa meredakan kesedihannya. “Aku bersumpah akan mendampingi hidupmu selamanya, bahkan aku akan merelakan apa pun untuk tetap bisa berada di dekatmu sekalipun itu kebahagiaan yang aku miliki saat ini, bahkan nyawaku sekali pun.” Mikael bersumpah untuk mendampingi Theresia sebagai rasa pertanggung jawabannya kepada lelaki itu. Guntur yang menyambar seolah Tuhan mendengarkan dan menyetujui sumpahnya saat ini. Tekad Mikael menjadi pelangi di kehupan gelap Theresia sudah dia tekad’i. Meskipun Mikael yakin bahwa keluarganya akan menentang keputusan Mikael tetap berada di dekat Theresia yang notabennya ialah kakak dari Sophia. Terlebih orang tua Mikael pasti meminta Mikael tak lagi mendekat pada segala hal yang berhubungan dengan Sophia maupun alasan kematian gadis malang itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN