29. Tawaran Menginap

1528 Kata
Tekad bulat Mikael untuk menjadi teman, sahabat, sekaligus keluarga bagi Theresia usai kepergian Sophia rupanya bukan omong kosong semata. Lelaki tampan yang tak lain adalah anak sulung dari keluarga Holen sekarang tidak membiarkan Theresia untuk pergi kemanapun tanpa tujuan yang jelas. Mikael menatap Theresia dalam-dalam, wanita cantik dengan sorot mata teduh kini tengah sibuk oleh beberapa pesan dari teman-temannya yang masih mengucapkan bela sungkawa mereka atas musibah yang menimpa Sophia. Theresia berpamitan untuk segera undur diri, wanita itu memang tidak tahu kemana tujuannya lagi saat ini. Theresia tidak mempunyai pandangan akan menginap dimana, dan akan melakukan apa lagi di Amsterdam. Lagi dan lagi, bagi Theresia, rumah sederhananya adalah tempat paling nyaman untuknya pulang. “Kamu akan menginap di mana?” tanya Mikael memandang lurus ke arah Theresia. Theresia yang semula tengah sibuk membalas pesan masuk dari banyak orang-orang terdekatnya lantas mendongakkan kepala. Theresia menggeleng, sebagai jawaban bahwa dia tidak akan menginap malam ini, ataukah Theresia tidak tahu dimana dia harus menginap untuk malam ini. “Aku tidak akan menginap, aku harus kembali pada jam terakhir keberangkatan bus ke Den Haag,” jelas Theresia. “Kenapa tidak menginap saja untuk beberapa malam? Apakah kau yakin tak ingin menikmati udara yang sama seperti keseharian mendiang adikmu?” kata Mikael. Jawaban dari Mikael sontak saja membuat Theresia mengakui keberannya. Ada baiknya Theresia tetap berada di Amsterdam selama beberapa malam untuk menikmati udara yang sama, mencaritahu kegiatan kampus adiknya sepanjang berkuliah di sana, dan kegiatan lainnya. “Ide darimu tidak buruk juga. Baiklah, aku akan mencari peginapan di dekat sini,” ujar Theresia mengangguk setuju. “Kau tidak perlu mencari penginapan, aku punya rekomendasi hotel nyaman di kota ini untukmu,” terang Mikael. “Rekomendasi hotel untukmu? Mmm … tapi sepertinya kita tidak berasal dari kasta yang sama, Tuan Muda. Rekomendasimu pasti langsung menguras isi tabunganku,” sahut Theresia mengamati sosok lelaki tampan di depannya. Jawaban Theresia tentu bukan hanya kalimat sarkasme yang bisa dia ucapkan kepada Mikael. Melainkan Theresia telah menilai dari penampilan Mikael Van Holen. Dari brand pakaian yang dikenakan Mikael saja sudah menandakan dari mana sekarang Mikael berada. Jika Theresia harus mengikuti rekomendasi lelaki itu, sudah pasti Theresia akan kebobolan isi tabungannya selama ini yang telah susah payah Theresia kumpulkan. “Tenang saja, kamu pasti sangat bahagia jika mendengar ini,” ucap Mikael kepada Theresia. “Apa memangnya? Jangan membuatku bertanya-tanya,” kata Theresia. “Kebetulan ada salah satu hotel yang sedang grand opening malam ini, kamu bisa mendapatkan diskon delapan puluh persen untuk menikmati malam hangat di sana,” jelas Mikael. Manik mata Theresia sontak membulat sempurna. Baru kali ini Theresia mendengar diskon potongan harga pada promo pembukaan hotel. Biasanya paling tinggi ialah mencapai angka separuh harga. Tetapi Mikael kini menjelaskan diskonnya hingga delapan puluh persen. “Apakah kamu sedang bercanda, Tuan?” tanya Theresia kembali memastikan. “Ayo ikut denganku jika memang kamu tidak percaya,” kata Mikael. Bukannya menolak ajakan dari Mikael, tetapi Theresia bukanlah wanita bodoh yang tergiur oleh iming-iming lelaki asing. Meskipun hari ini bukan pertemuan mereka berdua, tetapi tetap saja Theresia tidak mengenal dengan baik sosok lelaki di depannya. Theresia mengakui, bahwa Mikael sangat baik dan cukup ramah di awal pertemuan mereka. Mikael juga sampai menolong Theresia, memberikan pundaknya untuk Theresia menangis, dan juga memberi jamuan berupa minuman hangat serta makanan pelengkap seperti tahu benar bahwa dari pagi Theresia tak dapat menelan makanan ataupun minuman masuk ke dalam tubuhnya. “Tidak, aku tidak membawa baju ganti. Biarkan aku kembali ke Den Haag saja, kau lanjutkan saja pekerjaanmu di sini,” ujar Theresia pada akhirnya menolak. “Aku pasti sangat kecewa kalau kamu menolak niat baikku. Ah, mungkin kamu merasa tidak cukup percaya pada lelaki asing sepertiku, maka biarkan ini menjadi bahan jaminannya,” seloroh Mikael. Mikael mengeluarkan kartu identitasnya, meletakkan di depan Theresia. “Itu kartu identitasku, mungkin saja kamu mengira aku mempunyai niat buruk padamu,” ucap Mikael menebak isi kepala Theresia. Wanita itu tersenyum simpul, senyuman yang pernah Mikael lihat saat dirinya menyambangi café milik Joseph. Kala itu Theresia begitu ramahnya menyambut kedatangan Mikael dan memberikan hadiah kecil atas nama café tempatnya bekerja. Senyuman hangat, namun menghanyutkan bagi siapa saja yang dapat melihat ketulusan di sana. Sayangnya, senyuman Theresia sempat pudar oleh tangisan dan kepedihan akibat kepergian sang adik untuk selamanya. “Mikael Van Holen,” gumam Theresia tersenyum sambari menatap manik mata Mikael lekat-lekat. Usai meyakinkan Theresia, Mikael pada akhirnya dapat meraih keyakinan Theresia. Mereka berjalan kaki setelah hujan reda, melewati lima perempatan zebra cross untuk sampai di hotel yang merupakan tujuan Mikael. Hotel itu ialah hotel keluarga Holen, hotel tersebut mulai dibuka dan beroperasi sudah satu bulan lamanya. Seandainya saja Mikael tak membuat keributan, mungkin lelaki itu akan menjadi direktur di sana, mengawal operasional hotel dan hidup mandiri jauh dari jangkauan kedua orang tuanya meski tidaklah mudah. Mikael malah datang ke hotel tersebut sebagai tamu yang membawa pula tamu rekomendasinya turut datang bersama dirinya. “Selamat malam, Tuan. Ada yang bisa saya bantu,” ucap resepsionis mempersilahkan Mikael dan Theresia dengan ramah. Detik selanjutnya resepsionis mulai mengenali wajah Mikael. Lelaki itu menganggukkan kepala pertanda bahwa semua harus bersikap biasa saja. Sang resepsionis langsung melakukan panggilan kepada manager hotel untuk bisa bertemu dengan Mikael dan menyapa anak pemilik hotel. “Saya sudah menghubungi Sir Andro, mohon Tuan dan Nona berkenan menunggu sebentar,” kata sang resepsionis. Theresia menatap Mikael bingung. “Memangnya siapa itu Sir Andro? Dia resepsionis lelaki begitu?” tanya Theresia. “Dia merupakan teman sekolahku dulu yang bekerja di sini, sudah kita tunggu saja,” bisik Mikael pada Theresia. Theresia mengangguk mengerti, mungkin diskon delapan puluh persen yang Mikael utarakan merupakan diskon seorang rekan. Mikael meminta agar Theresia duduk di kursi tunggu. Theresia pun hanya menurut saja sampai Sir Andro benar-benar datang ke arah mereka dengan senyuman sumringah. “Tuan Mikael, saya sangat susah menghubungi Anda,” kata Sir Andro. Melihat sosok Sir Andro terlihat lebih tua dari Mikael, jelas saja Theresia mengerutkan kening. Wajah Sir Andro tampak seperti lelaki yang hendak mendekati usia empat puluh tahun. Bagaimana bisa perbedaan wajah di antara mereka terjadi secepat itu jika memang Mikael dan Sir Andro adalah teman sekolah? “Kita bicarakan saja nanti. Bukankah hotel ini sedang grand opening dan memberikan diskon delapan puluh persen bagi pengunjungnya?” tanya Mikael sambari mengedipkan mata. “Grand opening diskon?” ucap Sir Andro kebingungan. “Iya, itu yang kamu kirimkan vouchernya ke kontakku,” kata Mikael memberi kode. Mikael melirik ke arah Theresia, berharap Sir Andro mengerti apa yang sedang Mikael bicarakan. Beruntungnya Sir Andro langsung menangkap kode dari Mikael sehingga langsung mengiyakan saja apa kata Mikael daripada mencari masalah dengan anak dari pemilik hotel tempatnya bekerja. Sir Andro memberikan perintah kepada resepsionis untuk menyiapkan kamar suite untuk Mikael dan teman wanitanya, Theresia Wilhelmina. “Siapkan satu kamar suite, untuk Tuan Mikael dan teman wanitanya,” kata Sir Andro. Theresia langsung berdiri dari tempat duduknya. Mana mungkin Theresia harus satu kamar dengan Mikael? “Maaf, tetapi saya ingin kamar berbeda dengan Tuan Mikael,” ucap Theresia. Mendengar jawaban tersebut, Sir Andro menatap Mikael untuk meminta jawaban. Mikael menganggukkan kepala mengizinkan permintaan dari Theresia. Sir Andro pun menyanggupi permintaan Theresia atas izin dari Mikael. “Siapkan dua kamar suite secepatnya,” titah Sir Andro. “Apakah tidak ada kamar small, deluxe, atau large? Rasanya terlalu mahal kalau saya menginap di kamar suite,” pinta Theresia kebingungan. Theresia juga harus sadar diri. Hotel yang dia sambangi kini bukanlah hotel ekonomis seperti hotel-hotel langganannya saat traveler ke luar kota. Hotel itu begitu megah dengan pelayanan sangat baik sehingga rasanya Theresia wajib sadar kemampuan ekonominya sendiri. Mikael memegang pergelangan tangan Theresia. “Aku sudah bilang bukan, harga sewa semalam akan didiskon delapan puluh persen. Jadi kamu tenang saja,” kata Mikael kembali. “Bukan begitu maksudku, tapi tetap saja kamar suite terlalu mewah untukku,” ujar Theresia tidak nyaman. “Sudah pasrahkan saja padaku, kamu hanya perlu menikmati waktu santaimu saja di sini,” jelas Mikael meyakinkan. Mikael meminta supaya Sir Andro segera menyiapkan kamat bagi Theresia. Mikael juga turut mengantar langsung Theresia sampai di kamarnya. Lelaki itu memberitahu Theresia tentang semua fasilitas yang akan dia dapatkan selama menginap di sana. Theresia sempat merasa heran atas kemampuan Mikael menjelaskan dengan detail setiap fasilitas hotel seperti Mikael pernah berkerja di hotel baru tersebut. Mikael tersenyum lembut ke arah Theresia saat melihat raut wajah kebingungan dari wanita cantik itu. Mikael berharap, apa yang dia lakukan sekarang ini kepada Theresia setidaknya dapat membantu sedikit melegakan beban pikiran Theresia. “Nikmati waktumu dengan santai, kamu bisa menghubungiku jika membutuhkan teman bicara,” ucap Mikael memberikan kartu namanya kepada Theresia. “Hei, lama-lama aku menjadi pengoleksi kartu-kartu milikmu,” protes Theresia. “Tidak apa, nanti kita buat kartu baru dengan status berbeda,” jawab Mikael mengedipkan mata menggoda. Rona merah langsung menghiasi wajah Theresia. Entah apa yang menjadi alasan wanita itu sampai merona seperti itu usai mendengar jawaban dari Mikael. “Nanti malam aku akan menunggumu di resto hotel ini, sebentar lagi resepsionis akan membawakan baju ganti untukmu, Theresia,” kata Mikael. Ini pertama kalinya Theresia mendengar lelaki tampan tersebut menyebutkan namanya. Biasanya Theresia tak akan bertingkah seperti ini, hanya saja nama Theresia tampak begitu indah saat diucapkan oleh Mikael.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN