Suara bel berdenting di pintu kamar hotelnya membuat wanita yang sedang sibuk mengamati langit petang di Kota Amsterdam lantas menoleh. Theresia menyerngit heran, tidak tahu siapa tamunya kali ini karena Theresia memang tak mengundang siapapun di sana, kecuali Mikael itupun Theresia yakin benar bahwa Mikael bukanlah seseorang di depan pintu sana.
Kini Theresia teringat akan kalimat Mikael sebelum lelaki itu berpamitan meninggalkan Theresia di kamarnya sendiri. Mikael menyatakan bahwa tak lama lagi resepsionis akan membawakan pakaian ganti untuk Theresia. Merasa penasaran dengan ucapan Mikael, Theresia bergegas berjalan ke arah pintu.
“Selamat malam, Nona Wilhelmina,” sapa resepsionis kepada Theresia.
“Selamat malam,” jawab Theresia menimpali.
“Maaf karena sudah mengganggu waktu istirahat Anda. Saya membawa parsel kiriman dari Tuan Mikael. Beliau meminta saya mengantarkannya untuk Anda,” kata resepsionis menyerahkan tiga paperbag berukuran sedang kepada Theresia.
Theresia menerimanya sebab resepsionis mengucapkan nama Mikael sebagai pengirimnya. Theresia memandang tiga paperbag di tangannya dengan pandangan bingung penuh tanda tanya. Mengapa bukan Mikael sendiri yang mengantarkannya kepada Theresia, melainkan meminta jasa resepsionis?
“Kalau boleh saya tahu, memangnya Tuan Mikael kemana ya? Maksudnya, mengapa bukan beliau sendiri yang mengantarkannya?” tanya Theresia.
“Kebetulan Tuan Mikael tidak memberitahu saya lebih lanjut, Nona.”
Jawaban resepsionis membuat Theresia semakin penasaran. Theresia kemudian teringat akan koneksi Mikael yang membuat semua pegawai di hotel tersebut tidak henti-hentinya menyapa Mikael dan menundukkan kepala mereka saat Mikael menemani Theresia menuju kamarnya.
“Boleh saya bertanya lagi?” pinta Theresia kepada resepsionis.
“Silahkan Nona,” jawabnya ramah.
“Siapa Mikael?” tanya Theresia dengan polosnya.
Resepsionis tampak tersenyum ramah. Bukan dirinya tidak mau menjawab pertanyaan dari Theresia. Melainkan pertanyaan Theresia telah lebih dahulu diucapkan oleh Mikael saat lelaki itu memerintahkan dirinya mengantarkan paperbag berisi pakaian kepada Theresia. Mikael meminta agar resepsionis tak menceritakan lebih lanjut dan berbincang dengan Theresia di luar pribadi Mikael.
Menuruti perintah anak dari pemilik hotel tempatnya bekerja, resepsionis pun hanya menjawab pertanyaan Theresia dengan senyuman simpul.
“Anda bisa menanyakan langsung kepada beliau. Selamat bersiap-siap, Nona. Tuan Mikael menunggu Anda di resto hotel malam ini pukul delapan malam,” tukas resepsionis.
“Ah, baiklah. Terimakasih banyak,” jawab Theresia mengangguk kaku.
Sepeninggalan resepsionis, Theresia langsung kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamar hotel. Wanita itu menuju sofa yang disediakan di kamar suites berwarna biru tosca senada dengan cat ruangan kamar yang Theresia tempati. Theresia meletakkan semua paperbag pemberian Mikael. Satu per satu paperbag itu dia unboxing secara bergantian.
Paperbag pertama, berisikan piyama tidur berbahan satin silk lembut berwarna merah maroon dan cream. Di bawahnya juga terdapat satu kotak berisi pakaian dalam wanita, membuat Theresia membulatkan mata sempurna.
“What? Pakaian dalam wanita? Darimana Mikael mengetahui ukurannya? Jangan-jangan Mikael sebenarnya adalah si otak m***m?” seru Theresia melempar pakaian dalam itu ke lantai karpet.
Kemudian Theresia membuka paperbag selanjutnya, ada coatch dengan brand ternama, satu set celana jeans panjang serta kemeja polos, dan juga syal berwarna cream. Terakhir, terdapat gaun pesta malam berwarna hitam berbahan dasar bludru gliter. Tidak lupa pula Mikael menyertakan body care dan make up satu set untuk Theresia. Semua pakaian dan pemberian Mikael benar-benar berkelas dan mahal pastinya.
Theresia menjadi penasaran dibuatnya, berbekal nama brand di tag label pakaian tersebut, Theresia lantas membuka website brand kenamaan untuk mengetahui semuanya. Dan, kode yang melekat pada label tag pakaian tersebut semuanya asli bukan tiruan seperti halnya barang-barang yang beredar di pasaran.
Theresia berdecak kagum, padahal mereka berdua baru saja bertemu tetapi Mikael berkali-kali bersikap baik kepada Theresia hingga membuat Theresia kagum bukan main. Tetapi Theresia tidak boleh lengah begitu saja, wanita itu harus bersikap siaga untuk mengantisipasi niat jahat Mikael. Siapa tahu, Mikael adalah lelaki dewasa yang membawa Theresia menginap di salah satu hotel bintang lima di Amsterdam.
Terdapat secarik pesan dari Mikael di sana.
‘Datanglah tepat waktu, semoga kamu menyukai apa yang aku pilihkan untukmu. Mikael.’
“Memang siapa juga yang mau makan malam bersama denganmu?” ucap Theresia menjawab pesan di kertas tersebut.
Meski begitu Theresia tak mau membuang waktu lebih lama lagi. Wanita itu bergegas masuk ke dalam kamar mandi, menikmati semua fasilitas mewah di kamar suite tersebut dengan nyaman. Kapan lagi Theresia bisa menikmati semua itu dengan harga diskon delapan puluh persen seperti apa yang Mikael tawarkan kepada dirinya?
Air hangat menyapa tubuh Theresia, wanita itu menghela napasnya panjang. Sejenak, aktivitas pertemuannya dengan Mikael mampu melupakan kepahitan yang dia rasakan sebab kehilangan adik terkasihnya. Theresia tampak berbeda hari ini, berbekal pakaian pemberian Mikael, wanita itu terlihat sangat anggun dan berkelas,
“Apa aku pantas memakai pakaian mahal seperti ini?” tanya Theresia kepada dirinya sendiri pada pantulan kaca.
Bahkan Theresia menyayangkan jika make up mahal pemberian Mikael harus dia buka dan kenakan di wajahnya. Rasanya, Theresia tak pantas memakainya.
“Aduh, aku jadi khawatir wajahku jadi kecanduan make up mahal ini,” kekeh Theresia menggelengkan kepala.
Tidak mau membuang waktu lebih lama lagi, Theresia langsung menyapukan make up tersebut dengan lembut, menyesuaikan dengan tone warna kulit serta pakaian mewah yang dia kenakan. Theresia tak ingin terlihat menonjol malam ini, Theresia ingat benar bahwa tujuannya datang ke Amsterdam bukanlah untuk menikmati semua fasilitas seperti yang Mikael utarakan kepada dirinya.
Merasa sudah yakin dengan penampilannya, Theresia mengambil ponsel, dan juga mengenakan alas kaki seperti yang dia gunakan saat berangkat ke Amsterdam. Mungkin Mikael lupa dengan menyerasikan pakaian Theresia dan sepatu yang akan Theresia gunakan. Theresia melangkah menuju lift, dia memencet lantai sembilan belas dimana resto hotel itu berada.
“Nona Wilhelmina,” panggil Sir Andro ketika Theresia baru saja keluar dari lift.
“Sir Andro?” sapa Theresia kepada Sir Andro.
“Mari saya antarkan ke table Anda,” kata Sir Andro.
Theresia mengikuti langkah kaki Sir Andro, wanita itu terus mencari keberadaan sosok Mikael Van Holen yang memberikan undangan makan malam kepada dirinya. Theresia masih tidak menemukan Mikael saat matanya sudah fokus pada sepenjuru restoran itu.
“Tuan Mikael akan datang sebentar lagi,” ucap Sir Andro seolah mengetahui apa yang sedang Theresia pikirkan saat ini.
Wanita itu pun menganggukkan kepala pertanda mengerti. Theresia menjadi malu sebab tertangkap basah sedang mencari sosok lelaki asing tersebut. Theresia duduk di tempat yang telah dipersiapkan oleh pihak hotel. Kebetulan sekali, table itu mempunyai pemandangan berupa pemandangan indah kanal Herengracht.
Theresia menatap ke luar kaca, lalu lalang orang menikmati warisan dunia UNESCO tersebut menjadi perhatian Theresia saat ini. Tanpa sadar, Theresia membayangkan, mengapa dulu dia tidak menghabiskan waktu bersama Sophia menyusuri kanal Herengracht, bersepeda dengan tenang, membeli makanan yang menjadi kuliner khas kota Amsterdam di sana.
Selama ini Theresia sedang fokus dan sibuk dengan pekerjaannya. Tuntutan tanggungjawab Theresia membuat wanita itu lupa memberikan waktu kepada Sophia. Bagi Theresia, dia cukup mengabari Sophia, memberikan uang bulanan kepada adiknya meski selama beberapa bulan belakangan Sophia selalu menolak uang pemberian Theresia dengan dalil Sophia mempunyai pekerjaan strategis yakni membantu membantu ibu kantin asrama tempatnya tinggal memasak makanan untuk semua penghuni asrama.
“Theresia,” panggil Mikael ke sekian kalinya menyentuh pelan pundak Theresia.
Lamunan Theresia buyar, bersamaan itu pula air mata menetes di pipi Theresia. Wanita itu dengan cepat menghapus air matanya agar tidak menjadi pusat perhatian banyak orang di sana. Namun sayang, air mata Theresia sudah tertangkap mata terlebih dahulu oleh Mikael sebelum Theresia sempat menghapusnya.
“Kenapa kamu menangis? Apakah kamu tidak nyaman berada di tempat ini?” tanya Mikael.
“Tidak, aku hanya sedang mellow saja. Aku suka tempat ini, keramaian cukup membantuku mengisi keheningan di dalam hatiku,” jawab Theresia mencoba tersenyum.
Theresia memandang mata Mikael, meyakinkan pemilik mata hazel tersebut agar percaya dengan Theresia.
“Darimana saja dirimu? Bukankah kamu yang mengundangku untuk datang di restoran ini, lantas mengapa malah dirimu terlambat datang?” tegur Theresia berpura-pura kesal.
“Ini, aku lupa membelikanmu sepatu yang pas untuk gaun malammu,” kata Mikael menunjukkan paperbag di tangannya.
Tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu, Mikael berjongkok di hadapan Theresia. Lelaki itu membuka paperbag, mengeluarkan satu kotak sepatu dengan ciri khas berwarna orange, lalu membukanya. Sepasang heels berwarna hitam, berhak kaca setinggi tujuh cm, kemudian terdapat satu tali tunggal horizontal melintang menambah kesan simple pada heels tersebut.
Mikael membuka sepatu Theresia, membuat wanita itu segera memundurkan langkah kakinya.
“Aku bisa memakainya sendiri, Mikael,” ujar Theresia meyakinkan.
“Cinderella tidak memakai sepatu kacanya sendiri, Theresia,” jawab Mikael.
Kegiatan Mikael saat ini tentu menjadi pusat perhatian banyak dari pengunjung resto hotel. Theresia menggaruk tengkuknya tidak gatal, wanita itu merasa malu menjadi pusat perhatian banyak orang di sana. Berkali-kali Theresia menundukkan tubuhnya, mencoba memasang heels sendiri agar Mikael tidak berjongkok di depannya seperti orang sedang cosplay lamaran.
Theresia dan Mikael menjadi pusat perhatian di sana. Mikael meminta agar Theresia mengikuti saja apa kehendaknya daripada membuat semua menjadi lama.
“Kakimu sangat cantik, seperti orangnya,” puji Mikael saat sepatu yang dia pilihkan untuk Theresia melekat dengan sempurna.
Beruntunglah pakaian yang Mikael pilihkan untuk Theresia melekat sempurna di badan wanita itu.
“Aku tidak tahu berapa ukuran tubuhmu, semuanya hanya perkiraanku saja,” kata Mikael.
“Apakah termasuk pakaian dalamku juga masuk dalam perkiraanmu?” tukas Theresia membuat wajah Mikael pias seketika.
Lelaki itu terkekeh, perihal ukuran pakaian dalam Theresia, Mikael meminta staff brand tersebut untuk mengira-ngira berapa ukuran Theresia dengan menunjukkan foto Theresia di salah satu media sosial wanita cantik itu. Beruntungnya Mikael bisa menemukan media sosial milik Theresia. Meski tidak banyak postingan di sana, tetap saja Mikael dapat menemukan satu foto dengan ukuran tubuh yang sama Theresia saat ini.