31. Mengulang Tindakan Bodoh

2377 Kata
Makan malam antara Theresia dan Mikael berjalan lancar. Pemandangan luar jendela kaca resto menampilkan keindahan kanal Herengracht. Hotel bintang lima yang terletak di dekat keramaian jantung kota Amsterdam. Bahkan untuk menuju perbelanjaan PC Hooftstraat saja hanya sekitar dua ratus meter saja. Theresia menikmati jamuan makan malam dari Mikael. Di restoran tersebut, selain menu makanan yang beragam, pelayanannya juga sangat ramah. Setiap menu makanan hanya membutuhkan beberapa menit dari waktu pemesanan untuk siap tersaji di atas meja makan. Gastronomi, atau gaya tata boga dalam menyajikan makanan seperti Restoran Spectrum, tatanan Goldfinch Brasserie yang elegan, Peacook Alley yang ikonis, ataupun Vault Bar yang intim. Pelayan juga menawarkan menu berupa daging-dagingan, termasuk pula apabila Mikael dan Theresia menginginkan roasted carving meat, dilengkapi seafood, serta sayuran hijau sebagai penghiasnya. Tidak hanya itu, Theresia dihadapkan pula pada aneka kuliner khas internasional, seperti Jepanese, Tiongkok, dan India. Tentu tanpa meninggalkan kuliner khas lokal mereka sendiri. “Bagaimana pendapatmu tentang pelayanan dan menu makanan di restoran ini?” tanya Mikael kepada Theresia. “Penyajian unik, menunya beragam, tempat makannya sangat ikonik, dan juga view akhir penyajiannya sangat elegan. Aku memberi nilai sembilan puluh untuk review makan malam di resto hotel ini,” jelas Theresia. “Mengapa bukan seratus saja?” protes Mikael tidak terima. Protes Mikael bukanlah tanpa dasar, lelaki itu jelas saja ingin mendengar review jujur dari Theresia sebagai pelanggan di resto hotel milik keluarganya. Mikael menunggu jawaban dari Theresia dengan pandangan mata seriusnya ingin tahu. Jika nilainya sembilan puluh persen, maka sepuluh persennya lagi ialah kekurangan dari restoran tersebut yang ada baiknya secepatnya Mikael perbaiki dalam management restoran demi memberikan kepuasan pelanggan. Theresia memandang Mikael sejenak. Wanita itu tampak berpikir kembali. “Kalau seratus artinya sempurna, sedangkan aku merasa sepuluh persen yang merupakan kekurangan dari resto ini adalah … mahal. Tidak sesuai dengan isi kantongku,” jelas Theresia diikuti kekehan darinya. Mikael ikut tersenyum mendengar keluhan dari Theresia. Lelaki itu mulai mendapatkan ide di dalam kepalanya. “Apakah kamu mau datang ke mari setiap bulan dengan fasilitas serupa seperti hari ini?” kata Mikael. “Tidak mau, semalam saja sudah pasti menghabiskan uang fantastis. Aku tidak ingin kelaparan pada dua puluh sembilan hari lainnya usai semalam menginap di tempat semegah dan semewah hotel ini,” jujur Theresia menggelengkan kepala. “Tidak akan dipungut sepeserpun darimu. Aku yang akan menanggungnya,” jawab Mikael serius. Bukannya tidak percaya dengan kalimat Mikael, hanya saja Theresia bukan tipe seseorang yang mau menanggung balas budi. “Diskon delapan puluh persen saja aku yakin masih keberatan membayar semua fasilitas malam ini, aku tidak mau gila di usia muda karena menanggung beban balas budi kepadamu,” sahut Theresia. “Anggap saja sebagai hadiah untukmu,” ucap Mikael. Kening Theresia bertautan, wanita itu merasa bingung bukan kepalang. Dia tidak sedang ulang tahun saat ini. Malah jauh lebih tepatnya Theresia sedang dirundung duka saat ini. Kepergian Sophia baru beberapa hari dan dirinya malah duduk menikmati fasilitas mewah malam ini. Apakah Theresia termasuk sebagai kakak paling buruk di dunia? “Hadiah karena kamu sudah berkenan tersenyum kembali,” jelas Mikael. Theresia menangkap maksud kalimat dari Mikael. Wanita itu menghela napas panjang sebelum pandangan mata dia alihkan pada pemandangan kanal yang begitu indah membentang sepanjang jalan. Di sana masih banyak pengunjung lalu lalang mengingat kanal tersebut termasuk warisan dunia yang terdaftar di dalam UNESCO. Pemandang seindah itu, apakah Sophia saat ini sudah bahagia berkumpul dengan ayah dan ibunya di surga? Jahat sekali, mengapa Theresia ditinggal seorang diri di dunia yang sepi. Theresia kesepian di tengah keramaian dunia. Sesaknya tidak dapat Theresia ungkapkan dengan kata-kata. “Kamu tahu, betapa cerianya Sophia ketika gadis itu menceritakan tentang moment dimana dia mendapatkan pekerjaan?” tanya Theresia. Mikael terhenyak. Setiap kali nama Sophia diperbincangkan oleh Theresia, lelaki itu selalu merasa tersayat batinnya. Pekerjaan apa yang hendak dibicarakan oleh Theresia? Mungkinkah wanita cantik dengan keanggunannya itu mengetahui sisi kelam pekerjaan sang adik? Jika benar, maka remuklah sudah perasaan Theresia. Wanita itu pasti sedang diselimuti perasaan bersalah atas keputusan Sophia mengambil pekerjaan yang bertolak belakang dengan etika serta moral keluarga mereka. “Dia meneleponku, suaranya begitu ceria. Kakak, aku mendapatkan pekerjaan, tidak usah mengirimiku uang jajan,” jelas Theresia melanjutkan ceritanya, menirukan cara Sophia di dalam telepon saat itu. “Dia adik yang sangat baik dan pengertian, kamu harus bangga mempunyai Sophia sebagai adikmu. Aku juga seorang kakak, tetapi adikku sangat bandel, dan susah diatur,” jawab Mikael teringat akan kelakuan Joseph. “Kau masih bisa melihat adikmu, sedangkan aku tidak,” lirih Theresia pelan. “Kau bisa memeluk adikmu dalam doa,” kata Mikael tak ingin membahas lebih lanjut perihal Sophia Wilhelmina. Sepanjang makan malam, Mikael dan Theresia bercerita banyak hal perihal pekerjaan. Theresia juga tak sungkan bertanya lebih lanjut tentang pekerjaan Mikael sebenarnya. Keduanya berpisah untuk kembali ke kamar mereka masing-masing dan beristirahat sebelum esok pagi Theresia memutuskan menyambangi kampus adiknya, melihat kenangan-kenangan yang biasanya Sophia lakukan setiap hari di tempat-tempat yang menjadi kebiasaannya. Hingga pagi hari tiba, Mikael terus memperhatikan Theresia diam-diam. Sejak kemarin malam lelaki itu selalu mengikuti Theresia kemana pun wanita itu berjalan. Mikael memastikan bahwa Theresia benar-benar kembali masuk di kamarnya. Sepanjang malam Mikael menaruh perasaan cemas, lelaki itu berpikiran buruk Theresia kemungkinan dapat melakukan hal-hal bodoh seperti kemaren. Pagi ini Theresia telah memberitahu Mikael niat dan tujuannya menyambangi kampus Sophia. Mikael sempat menawarkan hendak menemani Theresia menggunakan mobil hotel tetapi ditolak mentah-mentah oleh Theresia. Wanita itu ingin menikmati waktu mengenang Sophia tanpa kehadiran orang lain. Meski begitu Mikael tak tega membiarkan Theresia pergi tanpa pengawasan. “Aku tidak akan membiarkanmu merasa sendirian,” kata Mikael lirih. Bahkan saat keberangkatan dari Den Haag ke Amsterdam dia duduk di bus yang sama tanpa Theresia sadari, dan wanita paruh baya yang memberikannya sebuah sapu tangan itu adalah permintaan Mikael. Sapu tangan tersebut merupakan milik Mikael yang dia titipkan kepada sang wanita untuk diberikan kepada Theresia, agar Theresia bisa menenangkan tangisannya. Mikael tahu dia tidak bisa mengusap air mata Theresia secara langsung, tetapi dia akan terus melakukan apapun demi membuat wanita bermanik indah itu bisa tersenyum kembali dengan begitu dia bisa menebus segala dosa-dosanya terhadap Sophia. Saat itu Mikael berjalan tidak jauh dari Theresia, setiap kali Theresia menoleh ke belakang Mikael berusaha bersembunyi agar tak terlihat oleh Theresia. Pandangannya tidak bisa lepas dari sosok Theresia. Mikael berpikir andai saja ia bisa mendekati Theresia mungkin dia tidak akan melakukan cara seperti ini untuk melindunginya. Persis seperti hari lalu, sekarang Mikael juga membuntuti Theresia di belakangnya tanpa sepengetahuan Theresia. “Apakah Theresia benar-benar ingin mengunjungi kampus dan asrama adiknya?” gumam Mikael. Theresia berjalan menyusuri Kota Amsterdam, wanita itu tidak berniat menaiki transportasi dan lebih memilih untuk berjalan kaki menyusuri sudut kota itu. Theresia ingin menikmati kota tersebut sebagaimana perasaan Sophia waktu semasa hidupnya di tempat tersebut. Suasana kota yang terlihat selalu ramai dan tak pernah sepi itu membuat Theresia berpikir. Mungkin jika dia membaur di tengah keramaian akan lebih bisa menenangkan perasaannya dan melupakan semuanya. Bukan bermaksud melupakan Sophia, tetapi melupakan kejadian yang menimpa Sophia. Langkah kakinya terus melangkah entah tempat mana yang dia tuju. Sampai akhirnya Theresia tiba di asrama tempat tinggal Sophia. Theresia menuju ruangan pengurus asrama. Theresia datang ke sana usai semalam mengirimkan pesan kepada beliau untuk membantu mengemasi barang-barang Sophia yang masih tertinggal di sana. “Selamat pagi, Maam. Saya Theresia Wilhelmina, kakak Sophia,” sapa Theresia memperkenalkan dirinya. Air mata langsung luruh di wajah wanita paruh baya bernama Emmanuella. Wanita itu menghampiri Theresia dan memeluk kakak dari anak asramanya dengan begitu erat. Emma juga tidak pernah menyangka, jika Sophia bisa meninggal secara tragis. “Aku turut berduka cita atas kepergian Sophia. Semoga dia tenang dan bahagia bersama kedua orang tua kalian di surga,” ucap Emmanuella. Wanita paruh baya tersebut menarik pelan pergelangan tangan Theresia untuk bisa duduk di sofa panjang. Emmanuella bertanya tentang apa yang terjadi. Mereka menjalin percakapan cukup panjang dan hangat. Emma tak segan memberikan tissue untuk Theresia, meminta agar Theresia lebih tenang dan sabar. “Bolehkah saya menengok kamar adik saya selama tinggal di asrama ini, Maam?” pinta Theresia. Emmanuella menganggukkan kepala. “Tentu saja.” Emmanuella mempersilahkan Theresia mengikuti langkah kakinya. Ia masuk ke dalam asrama tersebut dan menuju kamar Sophia. Emma memanggil teman baik Sophia yang kebetulan juga melintas di depan mereka. Seorang sahabat Sophia mengantarkan Theresia menuju kamar adiknya. Saat kamar itu dibuka lutut Theresia terasa bergetar, teman satu kamar Sophia menunjuk kasur dimana Sophia menghabiskan malam di sana untuk melepas lelah. Wanita itu tersungkur tepat di hadapan kasur milik Sophia. Sahabat adiknya itu memeluk dan membantu Theresia untuk berdiri. Mereka pun duduk di atas kasur, sebuah bingkai photo terlihat di atas meja dekat kasur. Theresia mengambilnya dan memeluk bingkai berisi photo dia dan mendiang adiknya. Theresia menangis histeris, tidak sanggup lagi mengenang semua benda-benda peninggalan Sophia. Dia meminta Bela sahabat Sophia untuk membantunya mengemasi barang-barang milik Sophia. Masih ada beberapa baju dan boneka milik Sophia yang tertinggal. Satu persatu mereka masukan ke dalam koper milik Sophia yang pernah adiknya itu pakai saat membawa semua barangnya ke asrama ini. Setiap pakaian yang dimiliki Sophia memiliki kenangan tersendiri bersama Theresia. Sebuah kemeja bermotif kotak dan berwarna merah Theresia pegang, saat hendak akan di masukan ke dalam koper Theresia teringat akan sosok Sophia kembali. Baju itu pernah di gunakan adiknya saat memberitahukan bahwa Sophia lulus tes di The Hague University of Applied Sciences. “Apakah Sophia sudah lama tidak bermalam di sini?” tanya Theresia. “Sepertinya sudah jalan dua bulan, katanya ada kerabat yang meminta ditemani setiap malam karena tidak berani di rumah malam hari seorang diri,” jelas Amy. Masih teringat jelas raut wajah Sophia saat itu, adiknya sangat merasa bahagia. Saat itu Theresia masih bekerja di café dan Sophia datang menggunakan celana jeans hitam serta di padukan kemeja kotak-kotak berwarna merah serta rambut yang tertutup topi. Cantik sekali Sophia saat itu, senyum khas yang membuat lesung di pipinya. Sophia berlari ke arah Theresia dan memeluknya serta berkata bahwa dia sangat bahagia karena telah lulus tes di universitas negeri yang dia inginkan dan impikan selama ini. Amy mengusap halus bahu Theresia dan menyadarkan gadis itu dari lamunanannya. Theresia memeluk gadis itu dan menangis dalam dekapannya. Amy juga sangat merasa kehilangan akan sosok Sophia. Bagi sahabatnya itu Sophia adalah sosok gadis yang baik, bahkan saat Amy dalam kesusahan Sophia selalu membantunya dan selalu ada saat Amy butuhkan. “Sudah Kak Theres, ikhlaskan Sophia. Biarkan dia beristirahat dalam damai di surga sana. Aku yakin dia akan selalu mengawasi Kakak dari atas sana. Aku juga yakin dia tidak ingin Kakak terus terpuruk dalam kesedihan. Percayalah Kak bahwa akan ada pelangi setelah badai datang.” Amy memeluk Theresia dan juga meneteskan air mata. Theresia menangis tersedu-sedu, dia berpikir apa yang di katakan Amy mungkin benar ada benarnya juga. Ikhlaskan Sophia, tetapi meski mulutnya dapat berkata ikhlas berbeda dengan hatinya yang paling dalam. Hatinya masih tidak bisa menerima kepergian Sophia. Mereka pun mengemas kembali baju-baju milik Sophia dibantu oleh Emmanuella dan Amy, tidak semua barang milik mendiang adiknya itu dia bawa. Hanya beberapa barang tertentu saja dan memiliki kenangan untuk Theresia, sisanya dia bagikan ke beberapa temannya karena terlalu repot juga membawanya. Akhirnya selesai juga Theresia mengemas barang milik Sophia, tidak ingin terlalu lama dan larut dalam kesedihan di tempat itu. Theresia pun berpamitan kepada Emmanuella untuk segera pergi. “Terimakasih, Maam, Amy, sudah saatnya saya pamit pulang,” ungkap Theresia kepada temannya Sophia yang membantunya. “Sama-sama, Kak!” jawab gadis muda itu. Emmanuella mengelus puncak kepala Theresia. “Aku pastikan padamu, Sophia gadis yang sangat baik.” Theresia kembali melangkahkan kaki kembali keluar asrama dengan membawa barang-barang milik Sophia. Wanita itu menoleh ke arah asrama untuk yang terakhir kalinya. Di tempat itu selama ini Sophia tinggal demi menuntut ilmu. “Maafkan aku Sophia, aku memang kakak yang buruk. Aku menghancurkan mimpimu di tempat ini. Harusnya aku bisa menyewakan asrama yang jauh lebih bagus dari ini sehingga kau tidak perlu bekerja. Kau hanya cukup untuk belajar saja,” sesal Theresia dalam hati sambil memandang asrama Sophia. Theresia berjalan kembali tidak tahu arah mana lagi yang harus dia tuju. Dengan menarik sebuah koper wanita itu berjalan lunglai. Sementara Mikael masih terus mengikuti Theresia. Meski lelaki itu tidak paham Theresia akan pergi kemana, tetapi dia tidak pernah lelah memperhatikannya. Mikael melihat pandangan Theresia yang tidak fokus. Wanita itu berjalan bagaikan di atas air tidak menentu arah yang akan di tuju. “Apa kau tidak lelah dan terus berjalan seperti itu?” ujar Mikael dalam hati. Andai saja Theresia bisa mendengar suara hati Mikael mungkinkah wanita itu akan menjawabnya atau akan membenci Mikael seumur hidupnya. Theresia berhenti di dekat rambu lalu lintas, dia menunggu lampu pejalan kaki berwarna hijau. Saat rambu itu menghijau Theresia berjalan perlahan, wanita itu melamun dan menyalahkan dirinya. Dia tidak sanggup lagi untuk melangkah. Langkah kakinya seakan berat sekali, bahkan seperti ada yang berbisik kepada gadis itu untuk berhenti dan akhirilah di sini. “Papa, mama, Sophia, aku tidak sanggup lagi hidup seperti ini. Ijinkan aku pergi bersama kalian,” rintih Theresia dalam hati. Sementara rambu sudah berubah menjadi hijau, beberapa mobil memberikan klakson kepada Theresia. Namun, wanita itu hanya diam saja dan tidak bergerak sedikit pun. Theresia malah menangis, pandangannya terlihat begitu kosong. Mikael yang memperhatikan dari ke jauhan segera berlari ke arah Theresia berdiri karena Mikael melihat mobil yang melaju begitu cepat ke arah wanita itu. “Theresia!” seru Mikael lantang. Mikael terus berlari, berharap bisa menyelamatkan Theresia. Sementara Theresia yang tidak menyadari tetap berdiri di tengah jalan dengan wajah yang sangat putus asa. Theresia seolah sengaja ingin mengakhiri hidupnya di tempat itu setelah usahanya tempo lalu digagalkan oleh kehadiran Mikael. Mikael segera saja menarik tangan Theresia bersamaan dengan mobil yang hampir menabrak Theresia itu. Theresia tersentak dan berhenti di dekapan Mikael. Lelaki itu memeluk erat tubuh Theresia, berusaha keras melindunginya. Waktu seakan berhenti berputar saat Theresia berada di pelukan Mikael. Lelaki itu tidak bisa membayangkan jika dia telat sedetik saja menarik Theresia mungkin wanita yang ada di dekapannya sekarang sudah terbujur kaku di tengah jalan. Dan itu akan membuatnya semakin merasa bersalah. “Terimakasih, Tuhan.” Mikael mensyukurinya dalam hati. Bagaimana bisa Theresia mengulangi percobaan konyol untuk mengakhiri hidupnya secara tragis seperti ini hingga kedua kalinya? Sungguh, seandainya saja Mikael tidak punya insting dan firasat buruk akan kebodohan Theresia, lelaki itu tak akan mengikuti Theresia dan menyaksikan kembali adegan bodoh dari Theresia Wilhelmina.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN