32. Mikael Van Holen

2092 Kata
Pandangan mata panik terpancar jelas dari manik hazel gelap milik Mikael Van Holen. Lelaki itu mengguncang pelan tubuh wanita di dekapannya, Mikael ingin marah kepada Theresia. Kebodohan terus diulangi oleh Theresia seolah hidupnya memang tidak lagi berharga tanpa adik kesayangan di samping Theresia. Padahal usia Theresia masih sangat muda, wanita itu punya seribu mimpi yang harus dia wujudkan. Theresia juga mempunyai cita-cita mulia, membuat bangga mendiang kedua orang tuanya. Mimpi dan cita-cita Theresia tidak bisa hancur begitu saja meskipun Sophia telah meninggalkan Theresia untuk selamanya menyusul kedua orang tua Theresia menuju surga. Wanita itu berkecil hati, rasa penyesalan di dalam dirinya sebab tidak pandai menjaga adik sematawayangnya dari kehidupan keras di luaran sana menjadi penyebab Theresia merasa menyalahkan dirinya sendiri. Theresia berpikir, hukuman paling tepat untuknya saat ini adalah turut serta menyusul kepergian seluruh keluarga intinya menghadap Tuhan. “Kenapa kamu bisa melakukan hal sebodoh ini lagi, dan lagi?!” sentak Mikael mulai kehilangan kesabarannya. Suara Mikael meninggi, keringat sebesar biji jagung mulai nampak di keningnya. Lelaki itu tidak peduli bahkan jika seluruh orang yang lalu lalang melintasinya dan Theresia menjadikan mereka berdua bahan perbincangan. Sekarang ini yang menjadi fokus utama Mikael adalah kesadaran Theresia agar menyudahi aksi gilanya. Tak ayal, kelakuan Theresia menjadi pusat perhatian, banyak dari mereka memperhatikan Theresia dan Mikael sebab wanita itu seolah sengaja ingin mengakhiri hidupnya di perlintasan rambu lalu lintas. Selang beberapa menit, seorang polisi lalu lintas datang menghampiri Mikael dan Theresia. “Permisi, Tuan, dan Nona. Apakah kalian berdua tahu, kalian menjadi penyebab kemacetan lalu lintas di perlintasan ini?” tanya seorang polisi di dekat mereka. Mikael menatap polisi itu. Dia tahu bahwa kegaduhan ini tentunya mengundang petugas kepolisian menghampiri tempat dimana dirinya dan Theresia berada. “Bisakah saya meminta kartu identitas Anda?” pinta petugas kepolisian kepada Mikael dan Theresia. “Saya akan memberikannya,” kata Mikael merogoh dompet di dalam saku celananya. Lelaki tampan tersebut mengeluarkan kartu tanda identitasnya. Beruntunglah semalam Theresia sudah mengembalikan kartu identitas itu kepada Mikael sehingga hari ini Mikael mampu menggunakan kebesaran nama belakangnya di hadapan petugas kepolisian yang sedang mengintrogasi mereka berdua di sana. Polisi menerima kartu identitas Mikael. Polisi tersebut mencocokkan wajah Mikael dengan foto di dalam kartu identitas nasional. Nama belakang Mikael membuat polisi itu tercengang. Van Holen, merupakan keluarga bangsawan di Belanda yang memang memiliki kuasa di negara mereka. Tidak ingin memperpanjang urusan dengan mereka, polisi tersebut langsung mengembalikan segera kartu identitas milik Mikael. “Saya harap kejadian seperti hari ini tidak akan terulang kembali. Saya lihat alamat rumah Anda di Den Haag, apa yang membawa Anda datang ke Amsterdam?” tanya polisi penasaran. “Kami mencari seorang kerabat,” kata Mikael singkat. “Baiklah kalau begitu, jika terjadi sesuatu jangan sungkan menghubungi kami di pos kepolisian atau menghubungi melalui nomor telepon nasional,” ujar polisi memberikan hormat sebagai tanda perpisahan mereka. Theresia tidak bereaksi, wanita itu masih terluka oleh kenyataan bahwa dirinya berkali-kali diselamatkan oleh Mikael. Manik mata Theresia mendongak menatap Mikael, masih teringat jelas di dalam benak Theresia bahwa wanita itu berkata kepada Mikael jika dirinya ingin berangkat ke kampus dan asrama tempat tinggal mendiang adiknya seorang diri. Lantas untuk apa Mikael di sana? Apakah Mikael membuntutinya sampai lelaki itu bisa mendapatkan timming yang pas untuk mencegah Theresia berbuat nekat di kota orang lain? “Apakah kau membuntutiku?” tanya Theresia penasaran. “Bodoh! Kenapa kamu bisa berbuat sangat bodoh seperti ini?” jawab Mikael melempar pertanyaan kepada Theresia. “Itu bukan jawaban atas pertanyaanku!” kesal Theresia. “Dan itu juga bukan jawaban atas pertanyaanku, Theresia!” ujar Mikael tak kalah kesalnya dengan Theresia. Keduanya saling menatap satu sama lain, Theresia menyimpan banyak tanda tanya di dalam kepala. Wanita itu berpikir keras, mengapa Mikael bisa menyelamatkannya dua kali? Lelaki itu seperti sudah diutus oleh Tuhan mencegah hal buruk terjadi kepada Theresia. Sedangkan Theresia berpikir demikian, Mikael malah menyentil kening Theresia hingga wanita cantik tersebut kembali dari lamunannya. “Ayo, kita kembali ke hotel,” ajak Mikael mengambil alih koper berukuran sedang milik Sophia dari tangan Theresia. “Kya! Aku tidak memberikan izin kepadamu merebut koper milik adikku dariku,” ujar Theresia. “Berhenti berteriak atau polisi tadi datang lagi dan menangkapmu sebagai biang keributan,” sergah Mikael mengakhiri. Mendengar ancaman dari Mikael, tentu saja Theresia akhirnya menurut saja. Wanita itu mengekor di belakang Mikael, mengikuti langkah kaki Mikael dengan hati mengumpat kepada Mikael. Beberapa kali Mikael menoleh ke belakang, memastikan bahwa wanita yang menjadi pusat perhatiannya beberapa hari belakangan ini masih berada di dalam jangkauannya. “Mikael,” panggil Theresia. “Kenapa?” tanya Mikael sekilas. “Kenapa kamu tidak menyelamatkan Sophia saja?” Deg! Pertanyaan Theresia membuat Mikael menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah Theresia. Manik mata hazel tersebut melebar, otaknya berpikir keras apakah Theresia mengetahui jika Mikael terlibat dalam kematian Sophia? Tidak mungkin, semua bukti dan rekaman CCTV telah bersih, bahkan tempat kejadian perkara bersih dari tanda-tanda keberadaan Mikael. Carlos sudah membersihkan semua tempat dari jejak Mikael sekalipun. Tangan Mikael lantas gemetar hebat, lelaki itu sampai lupa caranya bernapas dengan tenang usai Theresia Wilhelmina mempertanyakan kalimat menohok kepada Mikael Van Holen. “A-apa maksudmu?” tanya Mikael balik. “Tidak, aku hanya bertanya. Kamu sudah menolongku sebanyak dua kali dari maut, mengapa tidak satu kali saja saat itu kamu menjadi penolong adikku dari ambang mautnya?” ucap Theresia mengandai-andai. Mikael tersenyum kecut. “Seandainya saja aku punya kesempatan untuk itu, maka aku juga akan melakukan hal serupa untuk Sophia,” jawab Mikael. Theresia tertawa sumbang, air matanya mulai menitik di sudut mata meski tidak terlampau deras. “Benar juga, kamu tentu akan menolong Sophia kalau kamu punya kesempatan, dan ada di lokasi kejadian,” kata Theresia. Mikael mengangguk mengiyakan meski dadanya terasa nyeri. Theresia menaruh harapan begitu tinggi kepada Mikael, tanpa wanita itu ketahui kenyataan siapa gerangan Mikael yang sebenarnya. Bahkan ketika Mikael berada di tempat kejadian perkara kematian Sophia Wilhelmina, Mikael tidak dapat melakukan apa-apa untuk menolong Sophia mengingat saat ini Mikael dalam pengaruh minuman beralkohol. Seandainya saja malam itu Mikael tidak minum alcohol hingga tak sadarkan diri, Mikael pasti dapat mendengar detik-detik Sophia berteriak lemas meminta pertolongan darinya. Gadis malang yang dia undang untuk menemaninya minum malam itu, malah dia antarkan pada ambang kematiannya sendiri. Mikael adalah pemegang kunci utama tabir di balik kematian tidak masuk akal dari adik Theresia. Sayangnya Mikael juga tidak punya keberanian membuka mulut serta memaparkan kebenaran seperti apa yang dia kehendaki. Mikael menanggung banyak beban, nama baik keluarganya, dan masa depan beberapa pihak ketika Mikael berani membuka kenyataan yang sebenarnya. Lelaki itu terlalu lemah sehingga tidak punya kemandirian dalam memutuskan sebuah pilihan meskipun itu menyangkut kehidupannya sendiri. Kedua orang tuanya, beserta orang-orang di sekitar keluarga Holen seperti menjadi pagar berduri bagi Mikael. Ketika Mikael menentang dan berusaha menerobosnya, maka Mikael harus terima kenyataan luka yang akan dia terima tak mungkin ringan. “Aku akan kembali ke Den Haag malam ini,” kata Theresia kepada Mikael. Theresia dan Mikael memilih menggunakan taxi, mereka berdua duduk bersampingan di kursi penumpang. Pandangan mata Theresia memandang keluar deretan bangunan khas Amsterdam. Wanita itu memejamkan mata sejenak, menghela napasnya panjang dan mencari ketenangan di dalamnya. Mikael terperangah melihat wajah Theresia. Wanita cantik itu tampak mempesona tanpa mengenakan make up yang semalam telah Mikael belikan spesial untuk Theresia. Hanya pewarna bibir tipis untuk menemani aktivitas Theresia hari ini ditambah sunscreen sebagai kewajiban. Ada satu bagian menarik dari wajah Theresia, bulu matanya begitu lentik dan tebal seimbang dengan alis mata wanita itu. Mikael teringat akan wajah Sophia, keduanya tidak seperti kakak beradik sebab Sophia mempunyai alis berwarna hitam kecoklatan, selaras dengan manik matanya. “Theresia, apa kau sangat bahagia dnegan kehidupanmu saat Sophia masih berada di sampingmu?” tanya Mikael tiba-tiba. Theresia menganggukkan kepala. “Kami sangat bahagia, dalam kehidupan seadanya kami sangat bahagia,” jawab Theresia. Mikael tidak bereaksi, lelaki itu teringat kalimat Sophia saat Mikael bertanya apakah Sophia dengan kehidupannya. Rupanya kakak beradik tersebut menelaah arti kehidupan menggunakan sudut pandang serupa. Keduanya memaknai kehidupan bukan hanya perihal kecukupan materi semata. “Kami berbeda denganmu, Tuan Mikael. Kau berada dalam keluarga lengkap, disertai materi melimpah sepertinya,” kata Theresia tertawa singkat. “Kau benar, aku berada di dalam keluarga lengkap, namun brokend home di dalamnya. Seluruh anggota keluargaku seperti menggunakan topeng di wajah mereka,” sahut Mikael. Jawaban Mikael membuat Theresia ingin bertanya lebih lanjut kepada Mikael. Tetapi taxi yang mereka tumpangi terlebih dahulu sampai di hotel bintang lima tempat mereka berdua menginap. Dua orang bellboy datang menghampiri Mikael dan Theresia membantu membawa barang-barang bawaan dari Theresia yang berasal dari barang milik Sophia. Theresia memandang ke arah Mikael. “Aku sangat ingin menghabiskan banyak waktu untuk mendengarkan ceritamu, tapi di Den Haag aku masih punya banyak pekerjaan,” kata Theresia. Wanita itu memang berniat kembali pulang ke Den Haag sore ini juga sebelum waktu mulai petang. Theresia telah mengemasi semua barang-barangnya, bahkan termasuk barang-barang pemberian Mikael. “Aku harap kita bisa berkomunikasi dengan baik,” ucap Mikael. “Tentu saja bisa,” jawab Theresia tersenyum. Theresia meminta bellboy meletakkan koper-koper milik Sophia, sementara dirinya menuju kamar tempatnya tinggal semalam untuk mengambil semua barang-barang bawaannya. Mikael hendak membantu Theresia, tetapi wanita itu lagi-lagi menolak keinginan Mikael dengan dalih Mikael sudah terlalu banyak membantu dirinya. Selang beberapa menit menunggu, Theresia sudah siap, wanita itu mengenakan coatch pemberian Mikael sambari berjalan dengan senyuman di bibirnya. Mikael membalasnya, lelaki itu merasa semua pakaian sangat pantas melekat di tubuh Theresia Wilhelmina. “Aku akan membawa semua barang-barang pemberian darimu, aku anggap ini hadiah pertemuan kita berdua,” ucap Theresia riang. “Justru aku sangat terluka kalau sampai kamu mengembalikannya padaku,” kata Mikael. “Memang kamu akan menerima baju-baju bekas aku pakai? Terlebih emm, yang itu,” ujar Theresia sungkan membahas perihal pakaian dalamnya. Mereka berdua terkekeh bersama, tidak terasa jika keduanya sangat dikagumi oleh lalu lalang pekerja hotel dan resepsionis yang berjaga. Aura kecantikan Theresia begitu serasi bersanding dengan anak sulung dari keluarga bangsawan Holen. Walaupun Theresia sangat lugu sehingga tidak pernah tahu menahu perihal kehidupan keluarga bangsawan di kota dan negaranya, nyatanya Theresia bisa melebur berada di dekat Mikael. “Sebentar, aku akan mengurus administrasi cek outku terlebih dahulu,” ujar Theresia. “Tidak perlu, aku akan mengurusnya untukmu. Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau anggap saja ini hadiah pertemuan kita berdua,” kata Mikael. “Apakah tidak keterlaluan? Aku terdengar seperti wanita yang sedang menumpang hidup dengan lelaki kaya,” goda Theresia kepada Mikael. “Anggap saja sebagai hutang, bayar dengan pertemuan kita di lain waktu,” jelas Mikael. Mikael mengulurkan tangan, Theresia menyambut jabatan tangan Mikael. Senyuman mereka mengembang sejenak. Mikael ingin mengantarkan Theresia kembali ke Den Haag menggunakan mobil hotel, tetapi lagi dan lagi Theresia menolak niat baik Mikael. Theresia tidak mau merepotkan orang lain, selama ini Theresia memegang prinsip hidup agar tidak bergantung kepada orang lain. Bergantung layaknya menyandarkan diri pada orang lain, ketika orang lain itu pergi maka Theresia akan jatuh tersungkur sebab tidak punya kemandirannya sendiri. “Kau sudah menemaniku sampai Den Haag,” ujar Theresia. “Bagaimana bisa?” tanya Mikael. Theresia mengeluarkan kartu nama Mikael, wanita itu tersenyum menatap Mikael. “Kartu nama ini bukankah sama seperti dirimu? Aku bisa menghubungimu jika membutuhkan pertolongan selama di perjalanan,” kata Theresia. “Barang-barangmu akan dikirim pihak hotel ke alamat rumahmu, jangan khawatir,” jelas Mikael. “Aku tidak akan khawatir, kalau ada barang yang hilang aku bisa meminta ganti keuntungan darimu,” sahut Theresia. Mikael menggeleng, dia akan memastikan barang-barang Theresia sampai dengan selamat tanpa ada barang rusak maupun hilang sepanjang perjalanan. Terlebih barang-barang tersebut merupakan barang milik mendiang Sophia. Theresia menuju halte sambari membawa tas miliknya dan satu paperbag butik berisi hadiah musim semi yang semula menjadi hadiah dari Sophia, hadiah terakhir kali sekaligus kenang-kenangan mendiang Sophia spesial untuk Theresia seorang. Theresia menoleh ke belakang, entah mengapa ada keinginan di hati kecilnya bahwa lelaki yang sudah dua puluh empat jam bersamanya mengikuti Theresia dari belakang. “Ah, aku ini memikirkan apa?” ujar Theresia menghendikkan bahunya. Wanita itu menaiki bus, beberapa kali Theresia mengamati orang-orang di sekelilingnya. Theresia berpikir, bahwa semua orang mungkin punya kepedihan di dalam kehidupan mereka masing-masing. Benar kata Mikael, kehidupan tetap berjalan, wanita itu harus siap menerima kehilangan dan menemukan. Theresia merogoh kartu nama milik Mikael. “Mikael Van Holen,” gumam Theresia tersenyum simpul. Theresia merekatkan coatch yang dia kenakan, merabanya dengan lembut sambari membayangkan wajah tampan lelaki baik hati si pemberi coatch tersebut. Theresia berpikir, terbuat dari apa hati Mikael sampai bisa berbuat sebaik itu kepada wanita yang baru saja dia temui? Kepolosan Theresia menganggap bahwa Mikael melakukannya dengan ketulusan seperti apa yang ada di dalam benaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN