33. Pertemuan Yang Direncanakan

2107 Kata
Satu minggu sudah Sophia meninggalkan Theresia untuk selamanya. Segala macam barang milik Sophia sudah dikemas rapi oleh Theresia. Mungkin jika suatu saat nanti dirinya dapat merelakan sepenuhnya kepergian Sophia, wanita itu akan menyumbangkan semua barang-barang milik Sophia kepada badan amal nasional agar bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan, sekaligus menjadi ladang pahala bagi Sophia. Hari ini, wanita itu pun bersiap untuk memulai aktivitasnya kembali. Meski hatinya masih sedih, tetapi dia harus bekerja seperti rutinitas hariannya karena masa cuti berdukanya telah usai. Akhirnya Theresia memutuskan untuk melanjutkan hidup seperti biasanya. Dengan dukungan dari orang-orang terdekat dia menjadi lebih kuat untuk menjalani hidup tanpa Sophia. Benar, hidup harus tetap berjalan, dan Theresia akan terlalu bodoh jika wanita itu secara sadar berniat mengakhiri kehidupannya seperti tidak ada gunanya lagi di masa depan. Tidak terasa begitu berat seminggu ini dia hidup tanpa sang adik, bahkan Theresia sering lupa bahwa Sophia sudah tiada. Wanita itu sering menunggu pesan singkat atau telepon dari adiknya dan bahkan dia menangis histeris saat menyadari bahwa adiknya sudah meninggal dunia. Sekarang, tak ada salahnya dia mencoba menguatkan diri untuk kembali bekerja. Theresia berpikir mungkin dengan dia sering bertemu orang-orang di luar sana akan sedikit mengobati kerinduannya terhadap Sophia, apalagi jika dia bertemu dengan anak-anak di mana dirinya mengajar kemungkinan besar anak didiknya itu bisa membuatnya tertawa riang dan sedikit melupakan kesedihannya. “Biasanya, jam segini Sophia akan menghubungiku dengan nada cerianya,” lirih Theresia menghela napas kasar. Mata gadis itu melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Dia pun menyempatkan diri untuk sarapan terlebih dahulu dan menyiapkan bekal makan siangnya. Setelah sarapan Theresia bersiap-siap untuk pergi mengajar, meski waktu masih terlalu pagi, tetapi hari ini dia ingin menghirup udara segar sambil berjalan kaki. Sudah lama rasanya Theresia mengurung diri dengan tidak keluar rumah. Theresia membuka pintunya perlahan, sebelum melangkahkan kaki dia pun berdoa berharap bisa melewati hari ini dengan baik-baik saja. Kehidupan barunya dimulai di hari pertama pada hari ini. Theresia berharap Tuhan bersama dengannya, membantu wanita itu melewati hari yang tentunya terasa panjang. “Tuhan, buatlah hariku ini lebih bermakna dan baik-baik saja. Mama, Papa, Sophia doakan aku agar bisa menjalani hari-hari ke depan dengan penuh kemudahan,” pinta Theresia dalam hati. Wanita itu menarik napas panjang sambil memejamkan mata serta menghembuskannya perlahan. Betapa terkejutnya Theresia saat melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya. Kening Theresia berkerut heran menyaksikan mobil mewah berdiri di depan kediamannya yang tergolong sangat sederhana itu. Theresia bertanya-tanya, siapakah sosok pemilik mobil mewah mengkilap tersebut? Theresia segera menutup dan mengunci kembali rumahnya serta berjalan mendekati mobil tersebut. Theresia bingung, mengapa sebuah mobil mewah terparkir di depan rumahnya, dia juga tidak mengenali itu mobil siapa? Tidak mungkin pula itu adalah kendaraan Joseph, mengingat Theresia yakin benar Joseph tak pernah mengendarai mobil hitam metalik seperti itu. “Mungkinkah Joseph membeli mobil baru?” pikir Theresia bergumam. Di dalam mobil, lelaki yang sudah beberapa hari ini menunggu keputusan Theresia untuk menjalani kembali kehidupannya bersama harapan baru merasa begitu bahagia. Mikael memang tidak berinteraksi dengan Theresia usai pertemuan mereka di Amsterdam hari lalu, tetapi Mikael terus memantau media sosial Theresia sebagai bentuk rasa penasarannya kepada Theresia. Mikael keluar dari mobil mewah nan elegan itu, dia melambaikan tangan ke arah Theresia dan memanggil nama wanita itu. Theresia membelalakkan mata tak menyangka Mikael ada di depan rumahnya sepagi ini. “Theresia,” sapa Mikael tersenyum. “Mikael?” sahut Theresia terkejut. Theresia berlari kecil menghampiri Mikael dengan sebuah senyuman di bibir mungilnya. Bahagianya hati Mikael saat melihat senyum Theresia kembali. Theresia merasa sangat penasaran, dia tidak tahu darimana Mikael mendapatkan alamat rumahnya sehingga lelaki itu bisa menyambangi Theresia seperti sekarang. “Pagi, Theres.” Sambut Mikael sambil mencium pipi Theresia. “Pagi, Mikael! Bagaimana bisa kamu sampai di sini?” papar Theresia heran. “Hmm ... Aku tidak sengaja melewati jalan ini dan kebetulan saja aku melihatmu ke luar dari rumah itu,” imbuh Mikael beralasan sambil menunjuk ke arah rumah Theresia. “Owh....” Theresia mengangguk berpura-pura percaya. Mana mungkin Mikael melewati jalanan kawasan sederhana seperti tempat tinggal Theresia. Jika melihat dari penampilan, kelas, dan juga dari mana asal Mikael pastilah Theresia menolak alibi Mikael yang disampaikan kepada dirinya. “Tidak menyangka kita bertemu kembali,” ucap Mikael grogi, “oh iya, apa ini rumahmu?” tanya Mikael basa-basi demi melanjutkan pembicaraan. “Iya, aku tinggal di sini. Ini rumah peninggalan orang tuaku. Sudah tahu masih bertanya lagi,” jawab Theresia jengkel. Mikael terkekeh dibuatnya, lelaki itu memang mengetahui alamat rumah Theresia dari data pengiriman paket milik Theresia saat wanita itu mempercayakan barang-barang miliknya dikirim melalui ekspedisi agar tidak menyusahkannya selama di perjalanan. Mikael sempat ragu, lelaki itu berpikir mungkin saja alamat tersebut hanyalah rumah singgah bagi Theresia, atau bahkan kediaman keluarganya yang lain. Beruntung sekali Mikael bisa mendapati Theresia keluar dari rumah tersebut. Mikael sudah tidak sabar berbagi cerita, mengulik perasaan Theresia kembali. “Ngomong-ngomong sepagi ini kamu sudah rapi, memang mau pergi kemana?” tanya Mikael kembali. “Aku akan pergi mengajar di basisschool, memang terlalu pagi. Namun, sengaja karena aku ingin menikmati pagi dan menghirup udara segar,” terang Theresia. “Jika begitu bagaimana jika kau pergi bersamaku?” Mikael menawarkan diri. Theresia menatap Mikael bingung atas perkataan lelaki itu dan Mikael segera menjelaskannya. Raut wajah Theresia memang tidak pernah bisa berbohong. Semua yang berada di dalam benak Theresia dapat Mikael lihat secara gamblang dari ekspresi wajah Theresia saat ini. “Maksudku, bagaimana jika kita pergi bersama menaiki mobil,” ucap Mikael grogi sambil menunjuk mobilnya, “kebetulan tempat aku bekerja tidak begitu jauh dari tempatmu mengajar,” sambung Mikael. Lagi dan lagi Mikael menawarkan bantuannya kepada Theresia sehingga membuat wanita itu langsung menggelengkan kepala. Mikael sudah terlalu banyak membantu Theresia selama di Amsterdam. Lelaki itu menyelamatkan Theresia sebanyak dua kali dari ambang maut. Mikael tidak ingin Theresia melakukan hal-hal bodoh sehingga bisa menambah beban serta rasa bersalah di dalam hati Mikael. Memang benar, Mikael telah gagal menyelamatkan Sophia dari kematian, tetapi Mikael berharap Tuhan tidak menghalang-halangi niat baik serta tujuannya untuk memastikan Theresia tetap hidup dengan aman dan nyaman, sama seperti ketika Sophia masih ada di dunia. Walaupun semua tidak dapat berjalan seperti semula, tetap saja Mikael ingin menggugah semangat Theresia melanjutkan kehidupannya agar beban penyesalan pada diri Mikael tak semakin membumbung tinggi. “Tidak perlu, aku bisa naik trem!” jawab Theresia merasa sungkan. Jawaban dari Theresia membuat Mikael tak suka. “Ayo, masuk. Aku tidak suka jika seseorang menolak permintaanku.” Mikael memaksa Theresia untuk ikut bersamanya. Wanita cantik itu bingung dan ragu, tetapi Mikael memegang tangan Theresia dengan tatapan memaksa. Akhirnya wanita yang berprofesi sebagai guru dan tenaga paruh waktu itu tidak bisa menolak permintaan Mikael dan masuk ke dalam mobil. Mikael merasa sangat bahagia sekali, lelaki itu pun segera masuk ke dalam mobil. Dia melirik ke arah Theresia lalu mendekat dan memakaikan seatbelt pada Theresia. “Jangan lupa untuk tetap bersikap waspada, gunakan sabuk pengaman sebagai standar berkendara,” ucap Mikael memberi petuah. Wanita itu terdiam seraya menganggukkan kepala kaku, terlebih saat wajah Mikael berhadapan dengannya. Hembusan napas Mikael terasa hangat di wajah Theresia. Napasnya begitu harum mint sehingga membuat wajah Theresia memerah tersipu malu. Manik mereka saling berpandangan satu sama lain. Bahkan waktu terasa berhenti berputar bagi ke duanya. Mikael terpesona melihat ke cantikkan Theresia dari dekat. Tubuh lelaki itu pun kaku bagai patung, dia tidak menyadari bahwa seatbelt sudah terpasang dari tadi. Deheman Theresia menyadarkan Mikael dari lamunannya memandang Theresia. Lelaki itu pun segera melepaskan tangannya dan menjauh dari Theresia. Dia tersenyum malu sambil bertingkah aneh. Kini keduanya terlihat salah tingkah di dalam mobil. Udara serasa panas, padahal sebentar lagi mereka akan memasuki musim dingin, dan pendingin ruangan di mobil mewah Mikael sedang menyala. Karena grogi Theresia sampai menjatuhkan tasnya. “Ya, ampun,” ucap Theresia kaku. Saat lelaki itu hendak mengambil tas miliknya, Mikael dengan refleks ikut mengambilnya sehingga kepala mereka saling terbentur halus. Mikael mendongak, mata mereka saling menatap satu sama lain. Manik mata hazel milik Mikael seolah menyelam teduhnya manik mata milik Theresia. Theresia lantas mengerjapkan mata, wanita cantik itu harus sadar ke dunia nyata. “Maaf, maaf,” ucap Mikael grogi. “Iya, tidak apa-apa,” jawab Theresia yang ikut grogi. Mikael segera memberikan tas Theresia yang berhasil dia ambil. Anak sulung dari keluarga Van Holen menggaruk tengkuknya tidak gatal. “Ya, sudah kita jalan,” ujar Mikael menyalakan mobil. Theresia hanya tersenyum dan mengangguk. Wanita itu melemparkan pemandangannya menatap sepanjang jalanan menuju tempatnya bekerja. Lalu lalang mobil penjemputan sekolah juga melintas di depan Theresia. Sebagai wanita yang bagaikan pohon daunnya sudah berguguran karena musim gugur, Theresia juga silih berganti ditinggalkan keluarganya karena batasan umur. Mikael dan Theresia sendiri memang sudah saling kenal satu sama lain setelah pertemuannya tempo hari saat Mikael menyelamatkan nyawa Theresia. Hujan yang turun begitu lama membuat mereka terjebak di sebuah café, membawa Mikael memberanikan diri mengajak Theresia menginap di hotel milik keluarganya. Keduanya melewatkan makan malam romantis, Mikael juga menyelamatkan nyawa Theresia untuk kedua kalinya, dan di situlah mereka saling berkenalan. Theresia sendiri banyak bercerita kepada Mikael tentang kematian Sophia, sementara Mikael hanya mendengarkan wanita itu penuh perhatian dan belum memberitahukan siapa dia sesungguhnya. Setelah perkenalan itu mereka saling mencoba membuka diri satu sama lain. Tidak ada komunikasi intens di antara mereka berdua, hanya saja Mikael sempat memfollow akun media sosial milik Theresia. Bahkan Mikael ingin sekali mengirim pesan singkat kepada Theresia walau hanya sekedar mengingatkannya makan atau menyemangati gadis itu setiap harinya. “Aku pikir kamu datang untuk menagih semua hutangku padamu, dua puluh persen sisa diskon menginap di hotel mewah,” kata Theresia membuka percakapan. “Tidak perlu, aku yakin gaji teacher tidak sebanyak itu untuk membayar tagihanmu,” goda Mikael menyombongkan diri. “Kya! Sombong sekali Anda, Tuan Muda,” keluh Theresia berpura-pura marah. Theresia sangat nyaman dengan perhatian Mikael selama ini meski dia tidak mengetahui siapa Mikael sebenarnya. Mikael sendiri sangat bahagia karena bisa dekat dengan Theresia, maka dengan begitu dia bisa dengan mudah menebus segala kesalahannya kepada wanita itu. Dan hari ini untuk ke sekian kalinya mereka saling bertemu kembali. Mikael padahal sengaja menunggu Theresia di depan rumahnya, karena dia tahu bahwa hari ini gadis itu akan mulai bekerja kembali karena masa cutinya telah usai. Mikael tidak ingin Theresia menaruh curiga kepadanya sehingga dia beralasan bahwa tidak sengaja melewati jalan rumah Theresia, meski kebohongannya dapat dipahami oleh Theresia sendiri. Mikael telah berjanji pada dirinya sendiri dan mendiang Sophia bahwa dia akan terus menjaga Theresia, mengabdikan sepenuh hati dan jiwanya untuk wanita itu. Mikael memang turut bersalah mengenai kematian Sophia Wilhelmina, tetapi kecelakaan seperti itu bukanlah kemauan dari Mikael Van Holen. “Apakah kau serius akan membayar tagihan penginapanmu?” tanya Mikael menoleh ke arah Theresia. Theresia menggeleng. “Tentu saja tidak, aku tadi hanya basa-basi. Syukurlah kau memahami bahwa gajiku tak cukup untuk itu,” kata Theresia membela diri. “Tapi kau sudah membayar hutangmu, pertemuan kita sekarang adalah bentuk dari permintaanku sebagai ganti kerugian membayar tagihanmu,” jelas Mikael. Theresia teringat permintaan Mikael sebelum dirinya kembali ke Den Haag sore itu. Mikael menyatakan bahwa Theresia bisa membayar balas budi kepada Mikael asalkan mereka dapat bertemu kembali di lain kesempatan. Dan hari ini, bukankah semuanya sudah lunas? Mobil Mikael akhirnya melaju, dia melirik ke arah Theresia dan tersenyum. Namun, tanpa mereka sadari seseorang memperhatikan. Ternyata sang ibunda, Alexa Holen, membuntuti Mikael pagi ini. Semenjak mendengar cerita dari Georgeus tentang Mikael yang berencana memberitahukan kasus kematian yang menimpa seorang gadis di apartemennya, tak lain adalah adik kandung Theresia, kepada pihak berwajib. Akhirnya Alexa membayar seseorang untuk mengikuti Mikael. Orang tersebut mengikuti Mikael kemana pun dia pergi dan memberikan semua informasi kepada Alexa dengan siapa putranya itu bertemu, apa yang di lakukkannya selama ini. Karena Alexa tidak ingin Mikael mengungkap kematian gadis itu yang akan menyeret nama Anne di dalamnya. “Mikael tidak bisa bertindak bodoh seperti ini!” geram Alexa murka. Alexa mendapat informasi bahwa Mikael sering mengikuti seorang wanita, bahkan dia sempat menyelamatkan nyawa wanita itu. Alexa juga mendapat beberapa foto saat Mikael dan Theresia bertemu tempo hari. Karena penasaran akhirnya Alexa membuntuti putranya sendiri hingga depan rumah Theresia. Mobilnya sengaja dia parkir cukup jauh dari Mikael, tetapi masih cukup jelas untuk mengawasi putranya itu. Alexa terkejut saat melihat seorang wanita berparas cantik berpakaian formal keluar dari rumah sederhana itu dan Mikael menyambutnya dengan tatapan yang berbeda. Bahkan putranya itu terlihat sangat ramah. Tidak pernah Alexa mendapati pandangan teduh putranya setelah Alexa dan sang suami mengutarakan niat mereka menjodohkan Mikael dengan Anne. Anak sulungnya yang teramat sangat manis, berubah menjadi sosok pendiam. Sorot mata Mikael berubah drastis, pandangan matanya pada Alexa dan Georgeus tak lebihnya seperti pandangan mata kepada musuh meskipun Mikael diam membisu tanpa melakukan perlawanan kepada kedua orang tuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN