Alexa memperhatikan mereka dengan wajah yang tidak dapat diartikan. Pandangan matanya mengamati setiap pergerakan dari Theresia Wilhelmina. Alexa bertanya-tanya, mengapa mobil putranya berhenti pada salah satu sekolah anak-anak. Mungkinkah wanita itu salah satu dari tenaga pengajar, atau mempunyai kepentingan di sana?
Manik mata Alexa mengamati pergerakan Mikael dan Theresia di depannya. Mikael memarkirkan mobil tepat di depan sekolah. Terlihat beberapa anak-anak sudah tiba dengan diantar oleh kedua orang tuanya. Dengan mata kepalanya, Alexa bisa melihat rona bahagia di wajah Mikael. Pancaran mata berbeda dari terakhir kali Mikael datang ke rumah keluarga Holen sambari menunjukkan kemarahannya.
Theresia tersenyum ke arah Mikael. “Terimakasih telah mengantarku,” ungkap Theresia.
“Kau tak perlu sungkan,” ujar Mikael.
Mikael sengaja ingin melihat aktivitas di hari pertama Theresia, setelah dua kali Mikael menyaksikan keinginan Theresia menghakhiri hidupnya. Dia memperlakukan Theresia bagaikan seorang putri, senyuman tidak pernah lepas dari wajah tampan Mikael.
Sedangkan Theresia merasa sungkan, wanita itu tak mau menjadi sorotan para orang tua wali muridnya saat mengetahui bahwa Theresia datang ke sekolah diantar oleh lelaki nan sangat tampan. Jika biasanya Theresia akan menggunakan transportasi umum, maka kali ini dia diantar oleh mobil mewah bersama sopir tampan di sebelahnya.
“Kau tidak perlu melakukan ini,” ucap Theresia canggung.
“Tidak apa-aku senang melakukannya.” Mikael tersenyum manis.
“Ya sudah aku masuk dulu ya,” ucap Theresia.
Mikael melambaikan tangan seperti halnya anak kecil. Lelaki itu tersenyum lebar memandang punggung Theresia semakin menjauh darinya. Sambari bersandar di pintu mobil, Mikael menyilangkan tangan sambari tersipu malu entah karena memikirkan apa. Bayangannya sungguh tidak masuk akal, Mikael malah membayangkan dirinya seolah mengantarkan istrinya berangkat bekerja.
Rasa penasaran yang kian membelenggu Alexa membuatnya lantas merogoh ponsel di dalam tasnya.
“Siapa wanita itu?” gumam Alexa dengan penuh amarah.
Alexa segera mencari kontak panggilan seseorang. Ia pun menelepon orang kepercayaannya yang dapat dia mintai informasi terkait rasa penasaran di dalam diri Alexa. Tidak biasanya Alexa menaruh rasa penasaran seperti kali ini jika bukan karena Alexa sangat khawatir kepada putranya.
Mikael adalah anak penurut, lelaki itu sedikitpun tidak pernah membangkang semua perintah dari kedua orang tuanya. Tetapi rasa bersalah di dalam diri Mikael membuat anak sulung Georgeus Van Holen dengan istrinya Alexa menjadi sosok yang membangkang kepada orang tuanya. Bahkan sejak tragedi di apartemennya hingga menewaskan Sophia, lelaki itu tidak pernah sekalipun pulang ke rumah kedua orang tuanya.
Lelaki itu memblokir semua akses penghubung di antara dirinya dan kedua orang tuanya. Bahkan Mikael tak pernah juga menjawab panggilan telepon dari Anne, maupun membalas pesan dari wanita yang sebenarnya adalah kekasih Mikael. Tampaknya Mikael sangat murka dengan semua orang yang turut serta menutup-nutupi kasus kematian Sophia Wilhelmina.
“Hallo, segera cari tahu tentang wanita yang bersama Mikael. Cari informasi yang lengkap tentang wanita itu,” geram Alexa.
“Baik, nyonya.” Terdengar suara lelaki di balik ponselnya menjawab dengan tegas.
Alexa mematikan sambungan teleponnya begitu saja. Dia meminta sopir untuk mengantarkannya ke suatu tempat untuk menemui Anne. Sebelumnya Alexa telah mengirim pesan singkat kepada Anne untuk bertemu di salah satu café mewah di kota ini. Alexa sebenarnya merasa enggan berinteraksi lebih dalam dengan Anne.
Entahlah, meskipun dirinya sendiri yang memerintahkan Mikael segera menikah bersama Anne demi memuluskan jalan suaminya menjadi orang nomor satu di kota itu, tetap saja Alexa tak menyukai sikap Anne yang arogan, kasar, dan juga tidak pernah menghargai Alexa sebagai seseorang lebih tua darinya.
“Capriole café,” perintah Alexa pada sang sopir.
“Baik, Nyonya,” jawab sang sopir.
Mobil mewah Alexa pun melaju menuju tempat yang sudah dituju oleh Alexa. Sepanjang jalan wanita itu terus memikirkan sosok cantik yang pergi bersama putranya. Dia sangat kecewa dengan tingkah Mikael yang mulai membangkang. Sebagai seorang ibu dia merasa Mikael sudah tidak peduli lagi dengannya. Alexa juga berpikir bahwa Mikael telah mengkhianati Anne.
Sekarang yang sedang menjadi pikiran Alexa bukanlah cara untuk menenangkan Mikael sejak insiden mencengangkan tersebut, melainkan Alexa tengah memikirkan cara meredam amarah Anne. Wanita itu semalaman menghubungi Alexa, berkata bahwa Mikael sangat susah untuk dia hubungi. Alexa pun tak dapat melakukan apa-apa mengingat dirinya juga kesulitan menghubungi Mikael sejak terakhir kali Mikael datang ke rumah dan mempertanyakan keberadaan Georgeus.
Akhirnya Alexa tiba di capriole café, di sana terlihat yang sudah terlebih dahulu tiba. Dia menghampiri wanita itu dan duduk di sampingnya.
“Hai, Anne!” ucap Alexa menyapa wanita itu.
“Hai, Ibu!” Anne mencium pipi Alexa, “Ada apa kau memintaku bertemu di tempat ini?” tanya Anne.
“Apakah kau sudah bisa menghubungi Mikael?” tanya Alexa berbasa-basi.
“Aku baru saja mengikuti Mikael dan melihat dia menemui seorang wanita,” ujar Alexa membatin.
Ibu dari Mikael Van Holen menggelengkan kepala. Dia tidak bisa memberitahu Anne tentang apa yang sedang dia ketahui barusan. Jika Anne dapat menjadi penyebab kematian Sophia Wilhelmina, maka siapapun bisa menjadi target kemarahan atas kecemburuan Anne. Alexa tidak ingin anaknya kembali terlibat dalam masalah yang disebabkan oleh kecemburuan Anne.
“Aku tidak bisa menghubungi Mikael. Kami bertengkar hebat beberapa hari lalu sebelum akhirnya dia mulai mengacuhkan panggilanku,” ujar Anne terlihat sangat kesepian.
Biasanya Anne akan menghabiskan akhir pekan bersama Mikael. Wanita itu selalu punya agenda liburan akhir pekan untuk dia lewatkan bersama kekasihnya. Tentu saja, Anne tidak perlu memikirkan perihal biaya, dia sudah lebih dari cukup mengingat Anne dapat berkeliling dunia tanpa perlu risau atas pengeluarannya.
Anne anak seorang dewan kehormatan sangat berpengaruh di Belanda. Anak tunggal yang sangat dimanja oleh kedua orang tuanya, meskipun sang ayah selalu meminta ibunda Anne berhenti memperlakukan Anne seperti anak burung mengingat Anne telah biasa dan butuh namanya pelajaran hidup.
“Apakah Mikael punya wanita lain selain diriku, Bu?”
Wajah Anne berubah menjadi masam. Alexa yang menyadari suasana hati Anne berubah, langsung secepatnya menjawab pertanyaan dari Anne.
“Apa? Wanita, tidak mungkin Mikael berlaku seperti ibu bukan?” sahut Alexa tersenyum.
“Tetapi Mikael tak pernah seperti ini,” kesal Anne murung.
“Aku tidak tahu pasti apa yang sedang dikerjakan oleh Mikael saat ini, tetapi aku sudah meminta seseorang untuk mencari tahu informasi tentang keberadaan Mikael agar mereka bisa menyampaikan pesan kita,” jelas Alexa.
“Aku harus segera menemui Mikael,” cetus Anne kesal.
Alexa tahu benar mengenai sifat putranya. Saat ini mungkin Mikael ingin menahan diri demi menenangkan pikiran dan suasana hatinya. Lelaki tampan dengan manik mata hijau hazel tersebut tidak pernah mengacuhkan orang lain seperti ini. Biasanya Mikael bahkan langsung menghubungi balik mereka yang berusaha menghubungi Mikael saat lelaki itu.
“Sabar, Anne. Kau harus menahan emosimu terlebih dahulu saat ini, sampai kita mendapatkan informasi yang pasti tentang keberadaan Mikael. Jangan sampai kau gegabah dan menyebabkan kekacauan seperti yang terjadi pada gadis di apartemen Mikael,” terang Alexa.
Anne terdiam memikirkan perkataan calon ibu mertuanya itu. Benar juga dengan apa yang dikatakan ibu dari kekasihnya, bahwa dia harus mendapatkan informasi yang pasti terlebih dahulu tentang dimana sebenarnya Mikael sehingga tidak dapat menghubungi Anne.
Kejengkelan juga dirasakan oleh Alexa, wanita paruh baya tersebut berpikir kalau seandainya saja Anne tidak melakukan tindakan gegabah seperti yang wanita itu lakukan di apartemen milik Mikael, mungkin saja Mikael tak akan mengalami kegundahan seperti hari ini. Bagaimanapun, Alexa tetaplah seorang ibu yang mengkhawatirkan kondisi putranya.
“Lalu apa yang akan kita lakukan? Aku tidak bisa jika harus terus diam seperti ini sambari menunggu kabar dari putramu, Ibu?” seru Anne menjengkel.
Kemudian Alexa berbisik kepada Anne, memberitahukan wanita tersebut tentang rencana yang akan dia buat. Anne mengangguk mendengar semua bisikan Alexa lalu mereka pun tersenyum sinis.
“Bagaimana, apakah kamu setuju, Anne?” Alexa tersenyum tipis.
“Baiklah aku akan mengikuti rencana Ibu, tetapi jika gagal, aku akan bertindak sesuai keinginanku,” ucap Anne.
Anne mencoba menghubungi Mikael, tetapi lelaki itu benar saja tidak memperdulikannya. Wanita itu semakin kesal dengan tindakan Mikael yang sudah tidak lagi peduli terhadapnya. Anne mencurahkan semua isi hatinya kepada sang calon mertua. Dia meminta Alexa untuk membujuk Mikael agar mau segera menikahinya. Anne benar-benar sudah kehilangan kesabaran, dirinya dibuat naik pitam oleh tunangannya, terlebih Mikael sering kali bersikap sangat menyebalkan.
Alexa berjanji kepada Anne akan segera menemui orang tuanya untuk meramar dia. Wajah Anne langsung berubah lebih sumringah kembali, dia tidak ingin rencana pernikahannya ini gagal kembali karena Mikael menolak.
“Sayang, dengarkan aku. Kami akan segera menemui orang tuamu untuk melamar kau. Jadi kamu tak perlu khawatir tentang Mikael, dia akan menjadi milikmu seutuhnya.” Alexa merayu Anne.
Saat ini Alexa harus menenangkan Anne, atau semua keinginan keluarganya akan hancur sekejap saja bagaikan istana pasir diterjang ombak.
“Benarkah, aku berharap tidak akan ada kegagalan lagi karena Mikael masih menolak keinginanku,” pungkas Anne.
“Aku ibu yang melahirkannya, jadi kau tenang saja. Mikael akan mengikuti semua keinginanku,” terang Alexa.
Anne memeluk wanita paruh baya di depannya penuh harapan. Ambisinya untuk memiliki Mikael sangat besar sekali, dia tidak akan segan-segan menghabis siapapun yang berusaha merusak hubungannya dengan Mikael. Jalannya mendapatkan Mikael akan dipermudah oleh Alexa, Anne yakin ibu mertuanya telah menunggu-nunggu saat dimana Anne dan Mikael dapat menikah.
Tidak dapat dipungkiri, tentu Anne bukan wanita bodoh yang tak tahu menahu tujuan dari keluarga Holen mendukung Anne mendapatkan anak sulung mereka. Semua orang di dekat Anne sangat haus oleh jabatan dan kemewahan duniawi. Jadi apa salahnya Anne menggunakan kekuasaan keluarganya untuk mendapatkan keinginannya memiliki Mikael Van Holen seutuhnya?
Kehidupan berbeda tampaknya tengah dimiliki oleh anak sulung keluarga Holen. Mikael tampak tidak rela pergi begitu saja meninggalkan Theresia seorang diri. Lihat saja sekarang Mikael malah mengejar langkah Theresia membuat kakak dari mendiang Sophia itu terkejut.
“Hei, kamu belum pergi juga rupanya?” tanya Theresia terkejut.
“Aku ingin mengetahui ruanganmu, dan caramu mengajar anak-anak,” ucap Mikael tanpa basa-basi.
Lelaki itu berniat mengantar Theresia hingga ke ruangan mengajarnya. Dia beralasan ingin tahu tentang tempat Theresia bekerja. Akhirnya Theresia pun tidak bisa menolak keinginan lelaki tampan itu. Mereka berjalan beriringan, beberapa anak menyapa Theresia.
“Selamat pagi, Miss,” ucap seorang gadis kecil.
“Pagi, sayang,” jawab Theresia ramah.
Mikael merasa bahagia karena Theresia sudah tersenyum kembali. Dia terlihat sangat bahagia saat bertemu dengan anak-anak itu. Theresia sendiri berjalan sambil memandangi setiap sudut sekolah. Rasanya sudah lama sekali dia mengurung diri dan berduka. Luka yang dirasakan Theresia tentu bukanlah luka ringan sehingga bisa disembuhkan oleh obat-obatan. Mikael menunggu aktivitas Theresia hingga selesai. Lelaki itu sangat sabar dan tertarik.
Theresia kini berdiri di tepi kolam dan menghirup udara segar. Angin yang berhembus membuat rambutnya berayun dan menutupi wajah. Theresia mencoba merapihkan, tetapi angin terus bertiup dan membuatnya kesulitan. Mikael meraih rambut Theresia dan menyilangkannya di telinga, lelaki itu tersenyum manis memandangi wajah Theresia.
Theresia pun langsung segera merogoh tas dan mengambil sebuah jempitan untuk menjepit rambutnya.
“Kau nampak cantik,” rayu Mikael.
Wajah Theresia tersipu malu. “Apa kau tidak terlambat untuk bekerja?” Theresia mengalihkan perkataan Mikael.
“Tidak!” jawab Mikael.
Mereka pun berjalan kembali hingga berhenti tepat di suatu ruangangan kelas. Sudah ada beberapa murid di dalamnya. Mereka sedang bermain satu sama lain.
“Ya, sudah. Aku harus mengajar, sekali lagi terimakasih banyak telah mengantarku,” ucap Theresia.
“Sama-sama. Oh iya, kau pulang jam berapa?” tanya Mikael.
“Sekitar pukul satu siang,” jawab Theresia.
“Aku akan menjemputmu,” terang Mikael, bukan sebuah permintaan, melainkan adalah pernyataan.
Theresia terkejut mendengar ucapan Mikael. “Hah … tidak perlu repot-repot, aku bisa naik trem.”
“Tidak apa-apa, itu tidak merepotkan,” terang Mikael.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu. Aku tidak ingin mengganggu.” Theresia menolak tawaran Mikael degan alasan tak ingin mengganggu pekerjaannya.
“Aku ini seorang arsitek swasta, jadi pekerjaanku tidak terikat dengan waktu. Kapanpun kau membutuhkan aku bisa meluangkannya untukmu.” Mikael meyakinkan Theresia.
“Oh…,” jawab Theresia singkat sambil mengangguk.
Wanita itu tidak tertarik untuk bertanya lebih lanjut setelah Mikael memberitahukan tentang pekerjaannya. Bukan dia tidak menyukainya, tetapi Theresia merasa itu tidak ada hubungan dengannya. Dia hanya mengangguk dan tersenyum. Mikael sendiri bersikukuh ingin tetap menjepit Theresia siang ini.
“Aku akan menjemputmu, kau tidak perlu berkata apapun karena apa yang akan kau katakan aku akan tetap menjemputmu,” pungkas Mikael.
Sebenarnya itu bukan sebuah tawaran bagi Theresia melainkan pemaksaan. Theresia akhirnya mengiyakan perkataan Mikael. Dia tidak tahu lagi cara menolak lelaki keras kepala seperti Mikael, bahkan senyuman dan tatapan lelaki itu membuat Theresia sulit untuk berkata tidak.
“Baiklah, karena tidak ada pilihan lain,” jawab Theresia dengan senyum ramah.
Mikael pun merasa bahagia, dia berusaha menyembunyikan kebahagiaannya dengan sikapnya yang terlihat dingin. Dia berpamitan kepada Theresia dan berjalan meninggalkan wanita tersebut yang masih memperhatikannya di depan kelas. Sesekali Mikael menoleh ternyata Theresia masih memperhatikannya. Dia pun tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah wanita itu.
Akhirnya Theresia sudah tidak terlihat lagi, wanita yang berprofesi sebagai tenaga pengajar sudah memasuki ruang kelas. Mikael mengenakan kacamata hitamnya dan berjalan dengan sangat sempurna. Ketampanannya mengalihkan pandangan beberapa orang tua wali murid. Beberapa orang sangat terkagum melihat Mikael dan yang lain bertanya-tanya siapa lelaki tampan itu. Beberapa orang yang melihatnya bersama Theresia, mengira bahwa Mikael adalah kekasih sang guru. Lelaki itu hanya tersenyum kecil saat mendengar ucapan para wali yang sedang membicarakannya dengan gamblang.