35. Pertemuan Yang Joseph Nantikan

2101 Kata
Theresia menatap Mikael yang mulai menjauh, gadis itu memperhatikannya di depan kelas. Mikael menoleh dan tersenyum kepada Theresia, entah mengapa saat melihat senyum Mikael dapat menyejukkan hatinya. Theresia tertawa kecil saat menatap Mikael. Perlahan tubuh Mikael pun tak terlihat lagi. Theresia memasuki kelas yang sudah terisi anak didiknya. Semua anak-anak tersenyum menyambut kedatangan ibu guru mereka di ruang kelas. Walaupun ketidakhadiran Theresia selama satu pekan digantikan oleh guru lainnya, tetapi cara mengajar mereka sangat berbeda dengan Theresia. Wanita itu mempunyai tekhnik mengajar yang sangat unik sehingga semua anak-anak di bawah pengajarannya menjadi rindu, ingin sekali menemui Theresia di luar waktu sekolah saat Theresia mangkir dari pekerjaannya. Sayangnya, anak-anak itu tidak mempunyai transport menuju kediaman Theresia mengingat mereka masuk masuk ke daycare atau Butenschooise opvang hingga waktu selesai dan mereka diantarkan oleh mobil sekolah kembali pulang ke rumah masing-masing. “Miss,” teriak semua anak didik dengan ceria. “Selamat pagi semua,” sapa Theresia ramah. Wanita cantik itu melambaikan tangan penuh semangat baru. Melihat senyuman di wajah anak-anak didiknya membuat luka Theresia terlupakan sejenak meskipun semua itu tidaklah mudah baginya menutup rapat perihal kesedihannya atas kepergian Sophia selama-lamanya. Setidaknya, aktivitas mengajar Theresia kali ini dapat membuat dirinya sibuk dan teralihkan pikirannya dari duka yang dia simpan rapat. “Pagi, Miss,” jawab mereka serentak. “Miss … kami merindukanmu,” ujar salah satu murid. “Benarkah?” Theresia menggoda. “Benar Miss,” teriak semua murid. “Aku pun sama merindukan kalian.” Theresia merentangkan tangannya. Semua anak didiknya berlari menghampiri Theresia dan memberikan pelukan hangat. Benar saja anak-anak itu mengembalikan kehangatan untuk hati Theresia. Theresia memeluk semua anak didik nya meski tidak terdekap semua. Kasih sayang anak-anak itu bisa mengobati kesedihan Theresia. “Miss, kemana saja? Aku merindukanmu,” ungkap seorang gadis kecil. “Aku … tidak kemana-mana hanya tidak enak badan saja. Aku pun merindukan kalian semua,” jawab Theresia ramah. Dia mengelus halus rambut panjang gadis kecil itu. Sama seperti ketika Theresia membantu Sophia merapikan rambut panjangnya di saat sang adik masih tinggal satu rumah dengannya, sebelum Sophia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya dan tinggal di salah satu asrama putri demi memupuk kemandiriannya sejak dini tanpa selalu bergantung kepada Theresia setiap saat. “Miss, jangan pernah berlibur lama-lama lagi ya,” ucap seorang murid dengan polos. “Baiklah, aku janji tidak akan lama-lama meninggalkan kalian. Asal kalian harus rajin belajar. Ok!” “Siap, Miss!” teriak mereka. “Jika begitu, mari kembali ke tempat duduk masing-masing.” Akhirnya murid-muridnya kembali ke tempat duduk masing-masing. Mereka mengikuti semua perkataan Theresia. Para murid itu sangat menyayangi Theresia sehingga mereka mematuhi perkataan ibu guru cantiknya itu karena tidak ingin kehilangannya. Theresia memperlakukan mereka dengan begitu lembut dan penuh kasih keibuan. Theresia sendiri sangat senang karena anak didik nya begitu antusias dan menyayanginya. Setidaknya kini wanita itu sadar bahwa dia tidak benar-benar seorang diri. Dia masih punya semangat melanjutkan hidup, tujuan hidupnya masih belum tercapai. Theresia tahu begitu banyak yang menyayanginya. Theresia terdiam dan mengingat perkataan Mikael tempo hari. Lelaki itu berkata. “Tetaplah hidup, lanjutkan perjalanan hidupmu karena masih banyak yang membutuhkanmu dan masih banyak pula di dunia ini yang menyayangimu. Kau tidak benar-benar sendiri di dunia ini. Bukalah mata dan hatimu, lihatlah jauh ke depan maka kau akan merasakannya.” Perkataan Mikael itu kini benar terbukti adanya. Theresia harus tetap hidup dan menjalankan kehidupannya dengan sangat baik. Anak-anak ini salah satu dari orang-orang yang membutuhkannya dan juga begitu peduli terhadapnya. Tawa anak-anak, memberikan semangat bagi Theresia. Tidak ada alasan bagi wanita itu mengakhiri hidup hanya karena merasa ditinggal seorang diri di dunia tanpa orang-orang terdekatnya. Theresia menitikkan air mata dalam senyumnya. Wanita itu kembali melayangkan tawa bahagia di hadapan anak-anak itu, mereka bernyanyi bersama. Saat bersama anak didiknya tidak ada seorang pun yang akan menyangka bahwa kehidupan gadis itu sangat menyedihkan. Dia selalu terlihat bahagia, tertawa lepas dengan sangat riang. Tutur katanya yang halus dan lembut membuat para anak duduknya begitu nyaman saat berada di dekat Theresia. Waktu bergulir begitu sangat cepat, Theresia pun mengakhiri kegiatan belajarnya. Para murid sudah merapihkan alat tulis dan memasukkannya ke dalam tas mereka masing-masing. “Baiklah semua, hari ini kita belajar sampai di sini,” ucap Theresia. “Iya, Miss,” jawab semua murid. “Bagaimana jika sebelum menyelesaikan pembelajaran kita bernyanyi terlebih dahulu?” ajak Theresia pada muridnya. Para murid pun berdiri dan maju ke depan bersama Theresia. Mereka bernyanyi sambil menari bersama sebelum pulang. Beberapa wali murid yang kebetulan mendapat undangan bulanan review progress anak-anak mereka melihat keseruan kelas itu dari luar. Theresia menyadari bahwa para orang tua sudah menunggu anak-anaknya. Dia pun mengakhiri pertemuannya. Satu persatu anak-anak itu keluar kelas tidak lupa mereka memberikan salam kepada Theresia. Akhirnya kelas menjadi sepi kembali. Theresia merapikan peralatan mengajarnya. Beberapa dari mereka juga melanjutkan kegiatan daycare hingga waktu selesai. “Semoga daycaremu menyenangkan, Shine,” ucap Theresia mengelus lembut rambut anak muridnya. “Semoga harimu menyenangkan Miss,” jawabnya antusias. Mengembalikan buku-buku pada tempatnya dan memasukan alat tulis ke dalam tas. Theresia duduk di bangkunya. Wanita itu menghela napas pendek. Cukup lelah hari ini harus belajar hal baru bersama anak-anak itu, tetapi semuanya terasa sangat menyenangkan sekali. Theresia mengambil ponselnya terlihat ada beberapa pesan singkat dari temannya, termasuk … Mikael. “Hei, dia mempunyai nomor ponselku?” ucap Theresia secara mendadak. Dia tersenyum saat membaca pesan darinya yang mengatakan bahwa dia sudah di depan gerbang sekolah untuk mengatakannya kemanapun dia inginkan. Rona merah lantas menghiasi wajah Theresia. Wanita itu sama sekali tidak menyangka bahwa Mikael akan membuktikan ucapannya menjemput Theresia, sedangkan mereka berdua bertemu hanya beberapa kali. Namun rasanya mereka berdua sudah sangat akrab sehingga Mikael dapat memaksakan kehendaknya kepada Theresia. Saat Theresia akan memasukan ponselnya ke dalam tas. Tiba-tiba saja ponsel itu berdering. Joseph meneleponnya. Theresia segera mengangkat panggilan telepon dari Joseph. Wanita itu sampai lupa memberikan kabar kepada bosnya bahwa hari ini Theresia sudah memulai kegiatan rutinannya seperti biasa. “Hallo, Joseph,” ucap Theresia ramah. “Hallo, Theresia. Bagaimana kabarmu?” tanya Joseph. “Aku baik-baik saja!” jawab Theresia. Mendengar jawaban dari Theresia tidak membuat Joseph langsung percaya begitu saja. Terakhir kali adik Mikael Van Holen datang menyambangi kediaman Theresia namun tidak mendapati wanita yang dia sukai berada di rumah. Setelah mencari informasi dari teman dekat Theresia sesama waiters di café miliknya, rupanya Theresia sedang menyambangi kota sebelah untuk mengunjungi asrama mendiang Sophia Wilhelmina. Beberapa hari dirinya sempat kehilangan komunikasi bersama Theresia, akhirnya kini Joseph memberanikan diri kembali menghubungi Theresia guna menanyakan kegiatan Theresia hari ini. Jujur saja, Joseph merasa gelisah kalau satu hari di dalam hidupnya tidak mendengar ataupun melihat sendiri kabar dari wanita yang sudah mencuri perhatiannya sejak pertama kali Theresia datang melamar pekerjaan paruh waktu di café miliknya. “Hmm … apa hari ini kau sedang sibuk?” tanya Joseph kaku. “Aku baru saja selesai mengajar,” terang gadis itu. Joseph terkejut dibuatnya. “Apa kau sudah kembali bekerja?” tanya Joseph kembali. “Iya, hari ini aku sudah mulai mengajar kembali karena masa cutiku tela usai.” Penjelasan dari Theresia tampaknya membuat Joseph merasa lega. Setidaknya Theresia tidak mengurung diri di dalam rumah dan menyalahkan dirinya sendiri atas kesalahan fatal yang menyebabkan Sophia menghembuskan napas terakhirnya. Joseph sangat bahagia mendengar Theresia sudah berani menghadapi dunia dan kembali melanjutkan kehidupannya. Semua kehidupan pasti akan menemui pasang dan surut. “Lalu kapan kau akan kembali bekerja di cafeku,” ucap Joseph yang sangat merindukannya. Joseph sangat merindukan wanita itu. Setelah hari pemakaman Sophia tempo hari. Joseph tidak pernah lagi bertemu Theresia, bahkan wanita itu hanya membalas pesannya dengan singkat dan sesempatnya saja. Setiap kali Joseph berkata ingin menemui Theresia, tetapi kakak dari Sophia itu selalu menolak dengan alasan dia masih butuh waktu untuk sendiri. Joseph pun selalu menghargai keputusan Theresia karena tidak ingin membuatnya tambah terpuruk. Mungkin Joseph berpikir ini waktu yang tepat untuk dia bertemu dengan Theresia. Lelaki tampan itupun segera menanyakan kapan Theresia akan datang ke café dan kembali bekerja, sebab Joseph memang tidak memberikan rentan waktu kepada Theresia. Joseph hanya memberikan Theresia kebebasan, wanita itu bisa kapan saja datang ke café dan memulai pekerjaannya kembali saat perasaannya sudah membaik, mengingat Joseph menjadi saksi bahwa Theresia begitu hancur dan terpukul atas kepergian mendiang Sophia. “Sore ini aku akan mulai bekerja kembali,” jawab Theresia. Manik mata Joseph membulat sempurna. “Benarkah, aku senang sekali mendengarnya,” ungkap Joseph terdengar sangat bahagia. “Iya, aku akan bekerja sore ini di cafému,” terang Theresia. “Yeah,” ucap Joseph perlahan meski begitu Theresia masih dapat mendengarnya. Mendengar jawaban dari Theresia membuat Joseph bersorak kegirangan. Lelaki itu sampai berdiri dan bersorak penuh kebahagiaan setelah mendengar kabar bahwa Theresia akan kembali bekerja di café sore ini. Joseph sudah tidak sabar lagi menunggu kedatangan Theresia, lelaki itu telah menahan kerinduannya sejak beberapa hari ini hingga menggunung. Seandainya saja Theresia mengetahui perasaan Joseph yang sesungguhnya. Wanita itu tersenyum tersipu karena atasannya itu sangat bahagia. Theresia tahu pasti para pekerja lain di café Joseph merasa kerepotan karena tidak ada dirinya dan pasti Joseph yang menggantikan posisi dirinya di saat ia tak masuk bekerja. Dia tak mau menjadi beban bagi siapapun, apalagi sampai merepotkan rekan kerjanya yang lain hanya karena perasaan pribadi Theresia sendiri. Theresia harus memikirkan orang lain juga. “Theresia, aku akan menunggumu. Bahkan aku akan menjagamu dengan baik dan menemani perjalananmu seperti biasanya,” terang Joseph. “Terimakasih, Joseph. Jika begitu sampai bertemu nanti sore,” ujar Theresia lembut. “Ya, sampai bertemu nanti sore Theresia.” Joseph mematikan ponselnya. Theresia merasa sangat bahagia memiliki atasan seperti Joseph yang begitu sangat peduli. Dia tidak tahu apa jadinya jika tidak ada Joseph. Mungkin ia tidak akan kuat saat mengetahui Sophia telah tiada saat itu. Joseph sangat berjasa sekali di dalam hidupnya, meski dia adalah seorang bos, tetapi dia atasan yang baik karena begitu mementingkan para pegawainya. Theresia tidak pernah menyadari jika Joseph sangat menyukainya. Yang dia tahu bahwa Joseph begitu peduli terhadap para pekerjanya. Apapun yang di lakukan Joseph saat ini Theresia berpikir karena dia seorang atasan yang sangat loyal dan perhatian kepada para pekerjanya. Theresia tidak pernah sedikitpun berpikiran lebih dari itu, bahkan dia tidak pernah menyadari perhatian yang lebih dari Joseph. “Dia selalu kekanak-kanakan,” kekeh Theresia memandang ponselnya. Masih dapat Theresia ingat dengan benar, betapa Joseph setia menemani Theresia mengurus jenazah dan pemakaman mendiang sang adik, Sophia Wilhelmina. Theresia merasa bahwa dirinya sangat berhutang budi kepada Joseph atas semua kebaikan yang sudah lelaki itu berikan kepada dirinya. Theresia sangat beruntung mendapatkan teman-teman baik dan juga bos baik seperti Joseph. Wanita itu tak yakin dirinya dapat melewati semua kepedihan ini seorang diri kalau saat itu Joseph tidak menguatkannya. Bahkan di saat Theresia tidak punya tempat bernaung, Joseph datang menawarkan dirinya menjadi tempat berteduh dan sandaran bagi kaki Theresia ketika kehidupannya sudah goyah. “Akhirnya hari ini aku bisa melihatmu lagi,” kata Joseph begitu riang. Di tempat lain Joseph terlihat sangat gembira sekali saat mendengar Theresia akan kembali bekerja. Dia sangat menunggu momen ini. Sudah lama juga Joseph tidak memandang wajah teduh Theresia. Padahal selama ini setiap hari Joseph selalu menunggu di trem yang biasa di naikin Theresia, berharap tiba-tiba saja wanita itu ada. Namun, sayang pada kenyataannya Theresia belum siap untuk beraktivitas. Hari ini penantian Joseph menemukan titik akhir. Lelaki itu akan melihat Theresia beraktivitas lagi seperti sebelumnya, sama seperti ketika kedukaan belum merundung kehidupan Theresia. Joseph tersenyum memandangi ponselnya yang telah mati, dia tidak sabar menunggu sore tiba. Pria itu pun segera membersihkan diri mencari pakaian terbaik agar terlihat rapih oleh Theresia. Dia juga memilih parfum yang sekiranya enak di hirup untuk memberikan kesan terbaik pada gadis itu. Joseph terdiam, manik matanya tertuju padasebuah cermin yang ada di hadapannya saat ini. “Apa yang harus aku katakan nanti saat bertemu Theresia,” gumamnya pada dirinya sendiri. Beberapa hari keduanya tidak bersama-sama membuat kepiawaian Joseph merangkai alasan di hadapan Theresia menjadi surut. Lihatlah raut wajah gundah yang saat ini sedang dirasakan oleh Joseph ketika membayangkan dirinya hari ini bertemu lagi dengan wanita yang sudah dia rindukan sejak beberapa hari lalu. “Hai, Theres. Apa kau baik-baik saja?” ucap Joseph sambil menghadap cermin. Lelaki itu menggelengkan kepala. Dia tidak mungkin bertanya seperti dirinya tengah menaruh kecurigaan kepada Theresia. “Tidak-tidak, pertanyaan itu terlalu kaku,” seru Joseph. Joseph berdeham. “Theres, Bagaimana keadaanmu? Aku sangat merindukanmu.” Joseph berulang kali melatih diri saat berhadapan dengan Theresia, dia menyiapkan apa yang akan dikatakannya di depan wanitanya nanti. Padahal Theresia bukanlah orang baru yang akan dia temui, tetapi saat bersama wanita itu perasaan tugup selalu hadir menghantuinya. “Ah sudahlah, aku akan melakukannya dengan spontan saja,” keluh Joseph pada akhirnya menyudahi reka adegan pertemuannya bersama Theresia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN