Langkah kaki Theresia terhenti ketika wanita cantik itu hendak keluar dari gerbang sekolah di tempatnya mengajar. Sebagai guru, tentu saja Theresia tidak lantas pulang meskipun waktu sekolah telah selesai. Theresia harus memastikan anak-anak didiknya melakukan daycare dan dalam pengawasan tenaga pengajar lainnya demi keselamatan semua pihak. Theresia tidak ingin lalai di dalam tanggungjawabnya pada anak-anak.
Pandangan mata Theresia terarah pada sosok Mikael yang sudah menunggunya di depan mobil mewah milik lelaki itu. Theresia sangat penasaran, apakah pekerjaan Mikael memang seorang arsitek swasta membuat Mikael mempunyai banyak waktu santai berkeliaran bebas di luaran sana, tanpa memikirkan tentang pekerjaannya. Lihat saja lagaknya, Mikael memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya membuat si pemilik manik mata hijau hazel tersebut bertambah kadar ketampanannya.
“Hai,” sapa Theresia tersenyum sumringah.
“Anda telat sempat puluh menit, Miss Wilhelmina,” ujar Mikael menatap Theresia memperingatkan.
Theresia terkekeh singkat. “Maaf, aku hanya memastikan anak-anak daycare diawasi dengan baik,” kata Theresia membela diri.
Mikael hanya mengangguk tanpa memberikan bantahan, sebab Mikael tahu benar profesi Theresia sangat mulia dan juga sangat berat tanggungjawabnya. Mikael langsung membukakan pintu mobil untuk Theresia serta mempersilahkan kakak dari Sophia segera masuk ke dalam mobil.
“Kamu tidak perlu membukakan pintu untukku, tanganku masih sempurna untuk melakukannya,” ujar Theresia merasa sungkan.
“Memangnya perlakuan seperti ini sangat mengganggumu hingga kamu merasa tidak enak hati?” tanya Mikael.
Wanita itu merapihkan pakaiannya usai duduk di kursi pengemudi.
“Ya begitulah, aku tak ingin orang lain yang melihat kita jadi salah paham terhadap hubungan kita,” jelas Theresia mengungkapkan kegelisahannya.
“Memang hubungan kita seperti apa?” Mikael secara tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah Theresia hingga membuat wanita yang berprofesi sebagai tenaga pengajar membelalakkan mata.
Manik mata Theresia membulat sempurna, wanita itu tak menyangka Mikael secara mendadak mendekatkan wajahnya ke arah Theresia. Detak jantung Theresia bergemuruh hebat tidak karuan rasanya. Theresia berdeham, wanita cantik itu berusaha untuk mengubah gaya duduknya namun tetap saja tidak bisa.
Jarak di antara dirinya dan Mikael sangat dekat, Theresia sampai tidak bisa bernapas dengan tenang saat ini. Mikael sepertinya sengaja, lelaki yang merupakan anak sulung keluarga Holen menyunggingkan senyuman penuh kemenangan.
“Kenapa wajahmu memerah seperti itu?” ucap Mikael menatap Theresia penasaran.
Mikael rupanya sedang memasangkan seatbelt kepada Theresia. Tetapi tampaknya Mikael menikmati waktunya berlama-lama berdekatan dengan Theresia sampai rasanya Theresia mengira aktivitas Mikael saat ini tidak kunjung selesai juga. Wanita itu mendorong pelan d**a bidang lelaki di depannya. Situasi di sana sangat tidak menguntungkan bagi Theresia, terlebih pasokan udara di dalam paru-paru Theresia mendadak hilang begitu saja.
Rona merah di wajah Theresia membuat Mikael tersenyum, entahlah, Mikael merasa sangat bahagia melihat kegugupan di wajah cantik Theresia Wilhelmina. Pandangan mata teduh, bulu matanya yang lentik dan juga bentuk bibir penuh membuat Mikael begitu betah memandangi paras ayu rupawan kakak Sophia itu. Ingin rasanya Mikael menghentikan waktu saat itu juga agar keduanya bisa berada dalam posisi menyenangkan bagi Mikael Van Holen.
“Mungkin udara sedang panas, dan aku lupa memakai sunscreen,” jawab Theresia gugup.
“Apakah aku perlu mengirimkan sunscreen dan berbagai skincare sejenisnya untukmu juga?” tanya Mikael menawarkan diri sambari menaikkan satu alisnya.
Theresia terbelalak mendengar tawaran dari Mikael. Sungguh Theresia sampai kebingungan, mengapa Mikael sangat hobby menawarkan diri dengan sejuta kebaikan kepada Theresia. Padahal Theresia baru saja mengenal Mikael, kalau bukan karena insiden aksi percobaan bunuh diri Theresia dengan cara menabrakkan diri di jalanan umum, mungkin Theresia dan Mikael tak akan berbicara sedekat seperti sekarang.
Belum lagi, Theresia mengakui dirinya tidak mudah bergaul dengan orang baru dikenalnya. Theresia bukan wanita supel sehingga bisa menempatkan diri dimanapun dia berada. Semenjak kepergian kedua orang tuanya, Theresia lebih menjadi pribadi tertutup, dia hanya akan menunjukkan sifat aslinya di depan orang-orang terdekatnya saja. Menurut Theresia, untuk hidup tidak perlu menunjukkan dokumen asli di depan orang lain, cukup mengikuti cara mereka memperlakukan kita, begitu kita akan memperlakukan mereka.
“Berhenti menawarkan kebaikan untukku, atau aku akan keluar dari mobil ini karena tak sanggup menerima semua kebaikanmu,” ujar Theresia.
Mendengar ancaman dari Theresia, Mikael pun tersenyum lebar sambari berlari menuju pintu kemudi dan melajukan mobilnya keluar dari pelataran sekolah tempat Theresia mengajar. Mereka berdua bercanda, sesekali Mikael mencoba mengorek perasaan Theresia saat ini. Tentu saja apa yang dirasakan Theresia saat ini sangat berpengaruh bagi Mikael untuk melakukan tindakan selanjutnya.
Mikael merasa bahagia, setelah dirinya menyaksikan banyak air mata tumpah dari manik mata indah milik Theresia, sekarang Mikael sudah melihat secercah harapan Theresia memutuskan melanjutkan kehidupannya dengan baik. Walaupun semuanya tidak akan mudah bagi Theresia, tetap saja Mikael akan senang hati menemani langkah kaki Theresia menapaki kehidupan barunya bersama rencana hidup masa depan yang sudah menanti Theresia di depan sana.
“Apakah perutmu lapar?” tanya Mikael kepada Theresia.
“Tidak begitu, aku bisa makan di café tempatku bekerja,” jawab Theresia.
“Kau akan langsung berangkat ke café sore ini? Mengapa tidak meminta cuti tambahan saja kepada bosmu, atau aku bisa memintakannya langsung kepadanya?” ucap Mikael.
Lelaki itu merasa begitu yakin apabila permintaannya untuk mengajukan cuti Theresia pastinya diterima baik oleh Joseph sang adik. Mengingat Joseph tidak pernah membangkang kepadanya selama ini, dan Mikael tidak pernah mengajukan permintaan kepada sang adik. Tak ada salahnya Mikael meminta cuti tambahan agar Theresia dapat beristirahat sejenak, sebelum mempersiapkan dirinya kembali bekerja di café milik Joseph.
“Tidak, aku sendiri yang memutuskan untuk kembali bekerja ke café. Aku merasa jenuh jika hanya berdiam diri di rumah saja,” sahut Theresia.
Theresia merasa waktunya berdiam diri di rumah meratapi nasibnya sebagai sebatang kara di dunia ini sudah lebih dari cukup. Dunia terus berjalan, jika Theresia tidak bangkit, maka dunia akan menggilasnya dengan lambat laun semua orang akan melupakan Theresia dan meninggalkannya sama seperti apa yang sudah terjadi pada kedua orang tuanya dan Sophia.
Wanita itu ingin menyibukkan diri agar pikirannya dapat teralihkan dari kenestapaan kematian Sophia Wilhelmina. Duduk berdiam diri di rumah membuat Theresia terus-menerus meratapi kepergian anggota keluarga satu-satunya, sehingga Theresia semakin gencar menyalahkan dirinya sendiri sebab tidak mampu menjaga adiknya dengan baik.
Tidak ada salahnya memutuskan untuk mencari kesibukan, sehingga waktu yang dilewati Theresia berkualitas, tanpa termenung meratapi betapa tidak beruntungnya menjadi dirinya.
“Baiklah jika itu yang kamu kehendaki, tetapi apakah aku boleh mengantarkanmu ke café?” tanya Mikael.
Lelaki itu memandang Theresia. “Aku bisa menunggumu bersiap hingga waktunya berangkat bekerja.”
“Ayolah, kamu bukan sopir pribadiku. Aku tidak bisa memperlakukanmu seperti sopir pribadi,” kata Theresia menolak dengan tegas.
Mikael masih ingin mendebat jawaban dari Theresia, namun wanita itu dengan cepat menggelengkan kepala, menjadi pertanda bahwa apa yang menjadi keputusan Theresia sudah final. Wanita itu tak mau menumpuk hutang budi kepada Mikael lagi dan lagi sampai Theresia tidak tahu bagaimana cara membayar segala hutang budinya kepada lelaki tampan yang saat ini duduk di sampingnya.
Lagipula, Theresia yakin lelaki itu juga mempunyai kesibukan lain yang jauh lebih penting daripada hanya berperan sebagai sopir pribadi bagi Theresia Wilhelmina. Belum lagi Theresia khawatir, kebersamaannya dengan Mikael dapat menimbulkan kesalahpahaman bagi mereka yang hanya melihat sekilas kerapnya Theresia bersama Mikael Van Holen.
Baru saja Theresia menerka sebab kesibukan Mikael, tampaknya apa yang dikhawatirkan Theresia terbukti kebenarannya. Dering ponsel mahal keluaran terbaru Mikael berdenting memenuhi sepenjuru ruangan mobil mewah yang mereka tumpangi. Theresia menoleh ke arah Mikael, benaknya bertanya-tanya mengapa Mikael tidak mengangkat panggilan telepon masuk di ponselnya.
“Kenapa diam saja, bukan mengangkat panggilan teleponnya? Siapa tahu panggilan itu penting,” ujar Theresia.
“Tidak penting, tak perlu diangkat aku juga sudah tahu maksudnya menelepon,” jawab Mikael.
“Memang siapa?” tanya Theresia berhati-hati.
“Orang rumah,” sahut Mikael membuat Theresia ber-oh ria.
Namun detik selanjutnya Theresia memandang Mikael menelisik. Maksud kata orang rumah membuat Theresia berprasangka liar terhadap anak sulung keluaga Holen. Theresia menaruh curiga bahwa orang rumah yang dikatakan oleh Mikael adalah keluarga Mikael, istri mungkin saja.
Mikael yang mengerti arti pandangan mata Theresia berdecak sebal.
“Pemikiranmu terlalu jauh, Nona,” pungkas Mikael menggelengkan kepala.
“Bukan istrimu?” tanya Theresia memastikan.
“Bukanlah! Orang rumah yang aku maksud adalah ibu dan ayahku,” jelas Mikael.
“Ouh syukurlah kalau begitu,” jawab Theresia lega.
Mikael menyunggingkan senyuman menggoda kepada Theresia, lelaki itu seolah merasa sangat bahagia menyaksikan Theresia berprasangka dirinya adalah lelaki yang telah terikat komitmen pernikahan. Menyadari ekspresi Mikael, Theresia langsung menegaskan arti dari kalimat syukur yang dia ucapkan barusan.
“Maksudku bukan aku bersyukur kamu tidak beristri, tetapi lebih tepatnya aku bersyukur tidak terlibat dalam pernikahan orang lain,” ujar Theresia.
“Aku pikir kamu sedang cemburu,” kata Mikael terkekeh.
Tak mau meladeni ucapan Mikael terlampau jauh, Theresia lebih memilih mengeluarkan tablet dari dalam tasnya. Wanita itu menoleh ke arah Mikael, kemudian menorehkan pena tablet di atas layar drafting. Mikael melirik aktivitas Theresia kali ini.
“Kamu suka melukis?” tanya Mikael.
“Iya, aku suka melukis bersama anak-anak,” jawab Theresia.
“Lalu sekarang kamu sedang melukis apa?” Mikael tampak ingin tahu dengan lukisan Theresia.
“Ini, aku sedang melukis jalanan. Aku sangat menyukai lalu lalang kendaraan,” ucap Theresia menjawa pertanyaan Mikael.
Selang beberapa menit kemudian, kendaraan mewah yang mereka tumpangi kini memasuki perumahan menengah kota Den Haag. Mikael hendak membukakan pintu mobil untuk Theresia, namun Theresia bergegas keluar terlebih dahulu. Theresia memandang pemilik manik mata hijau hazel dengan pandangan tak suka.
Padahal sebelumnya Theresia telah mengungkapkan keberatannya saat Mikael memperlakukannya sedemikian rupa, kekhawatiran orang lain menaruh kesalahpahaman terhadap mereka menjadi alasan utama mengapa Theresia sampai menolak sikap gentleman dari Mikael.
“Apakah kamu tidak menawarkan teh, atau kopi hangat untukku?”
Mikael sengaja mengutarakan permintaannya kepada Theresia agar wanita itu tidak segera meminta Mikael pulang. Rasanya Mikael ingin berlama-lama menghabiskan waktunya bersama Theresia. Perasaan bersalah sebab turut menjadi penyebab Sophia Wilhelmina kehilangan nyawa hanya bisa dipadamkan saat Mikael melihat Theresia baik-baik saja usai kehilangan adik satu-satunya. Itulah alasan mengapa Mikael ingin setiap saat berada di dekat Theresia demi memastikan Theresia baik-baik saja dan tidak melakukan hal-hal bodoh seperti yang pernah wanita itu lakukan sebelumnya.
Mikael tak ingin membiarkan kejadian Sophia menimpa Theresia. Hidup dalam penyesalan sangat menyesakkan d**a menurut Mikael, dengan bersama Theresia, dia harap penyesalan yang dia rasakan dapat mereda. Mikael telah berjanji menjaga dan melindungi Theresia semampunya.
“Bukannya aku tidak punya keinginan menawarkan minuman untukmu, tapi aku merasa tidak nyaman saat membiarkan lelaki masuk ke dalam rumahku sementara ini,” jelas Theresia.
Apa yang Theresia ucapkan bukanlah omong kosong semata, Theresia memang tidak pernah membiarkan lelaki menyambangi kediamannya, lebih tepatnya Theresia tak pernah punya teman lelaki yang sampai mengharuskan Theresia membiarkan mereka mampir ke rumahnya.
“Baiklah kalau begitu. Apakah kamu yakin tidak perlu aku antarkan ke café?” tanya Mikael menatap Theresia.
Wanita cantik itu menganggukkan kepala. Theresia akan berangkat menggunakan kendaraan umum seperti biasanya. Berkumpul dengan banyak orang merupakan salah satu upaya Theresia healing. Wanita itu ingin mengisi keheningan di dalam hidupnya dengan cara berkerumun bersama banyak orang.
Meski begitu Theresia malah merasakan sepinya di tengah keramaian. Theresia merasakan kesepian sedangkan fisiknya berada di antara banyaknya lalu lalang orang-orang. Sama seperti ketika Theresia tertawa lepas bersama anak-anak muridnya, di sudut hati Theresia paling dalam seolah berteriak agar Theresia berhenti memakai topeng di wajahnya.
“Aku akan naik kendaraan umum. Terimakasih atas bantuanmu hari ini, Mikael?” ucap Theresia memanggil nama Mikael tanpa embel-embel tuan di depan namanya.
Panggilan itu sungguh indah melantun pada telinga Mikael, anak sulung keluarga Holen merasa dirinya tidak pernah mendengarkan seseorang menyebutkan namanya sangat indah seperti Theresia baru saja. Suasana hati Mikael sungguh baik hari ini, lelaki itu tersenyum lembut menjawab ucapan Theresia.
“Kalau begitu hati-hati dalam perjalananmu, jangan sungkan menghubungiku. Nomorku, apakah kamu sudah menyimpannya?”
“Aku akan menyimpannya nanti,” jawab Theresia.
“Kenapa harus nanti? Padahal aku mengirimkan pesan padamu sejak tadi?” ujar Mikael tidak terima.
“Ponselku penuh dengan kontak orang-orang,” kata Theresia tak berbohong.
Terlalu banyak kontak orang tua dari anak-anak muridnya, setiap tahunnya Theresia selalu menyimpan kontak orang tua peserta didik baru di sekolahannya tempat Theresia mengajar membuat memori ponsel wanita itu sampai penuh.
“Besok aku akan membawakanmu ponsel baru yang punya ruang penyimpanan besar,” kata Mikael.
“Tidak, tidak, aku hanya becanda. Aku tidak serius Mikael. Jangan mengancamku dengan mengirim barang-barang kepadaku lagi,” pinta Theresia menolak keras.
“Baiklah, jangan lupa untuk menyimpan nomor ponselku,” perintah Mikael dijawab anggukan oleh Theresia.
Entah sudah berapa kali Theresia mendengar Mikael menawarkan banyak kebaikan dan barang-barang kepadanya. Theresia sampai kesusahan menolak apa yang tengah Mikael tawarkan kepada dirinya. Jujur saja Theresia tidak tahu apa motif Mikael melakukan semua itu? Apakah Mikael iba kepada Theresia usai Theresia mengadukan nasibnya di depan Mikael saat lelaki itu menyelamatkan nyawa Theresia?
Mungkinkah kisah hidup Theresia sangat menyedihkan bagi Mikael sampai-sampai Mikael ingin mengusahakan banyak hal terhadap Theresia?