Penantian selama beberapa waktu untuk bertemu dengan Theresia Wilhelmina tampaknya tidak hanya sebatas angan kosong semata bagi Joseph. Anak bungsu keluarga Holen telah menunggu pertemuan ini sebab selama beberapa hari Theresia memang menutup akses pertemuannya dengan siapapun, wanita itu berkata ingin menikmati kesendiriannya sambari mengikuti prosedur kepolisian yang masih bergulir sampai sekarang.
Meski Theresia menyatakan menolak tegas outopsi ulang, namun para pihak kepolisian tetap melakukan upaya penyelesaian kasus dengan baik sebagai bagian dari prosedur dalam menutup kasus yang menewaskan Sophia Wilhelmina. Tanpa Theresia ketahui, kasus adiknya memang tak akan berjalan menemui jalan keadilan sebab segalanya telah buntu sebab peran dari keluarga Holen demi melindungi Mikael dan Anne.
Sore yang di tunggu akhirnya tiba juga. Joseph sudah duduk manis di sebuah trem yang akan melaju melewati halte dimana wanita itu menunggu. Dengan jantung berdebar kencang, Joseph menggenggam tangannya sendiri demi menenangkan perasaannya saat ini, terlebih trem yang dia tumpangi kini akan tiba di halte yang di tuju. Joseph merasa seperti dirinya hendak menjemput kekasih untuk melakukan datting.
“Apakah Theresia sudah stand by di halte?” gumam Joseph tak mau meninggalkan Theresia apabila wanita idaman hatinya sampai terlambat menunggu rute trem menuju café milik Joseph.
Lelaki tampan itu menghembuskan napas dengan kasar. Ada perasaan cemas dan khawatir, sekaligus terbesit perasaan tidak sanggup kecewa kalau pada akhirnya Theresia tidak jadi berangkat bekerja di café milik Joseph hari ini. Joseph melirik ke arah jendela, terlihat dari kejauhan seorang wanita berambut coklat caramel sepunggung sedang berdiri seorang diri. Joseph tahu itu Theresia. Dia tersenyum dan menarik napas singkat mencoba untuk menenangkan diri.
Joseph dirundung perasaan gelisah, ini adalah bentuk kegugupannya bertemu kembali dengan Theresia usai beberapa hari Theresia tak bertatap muka dengan Jospeh. Saat ini memang Theresia bersiap-siap untuk melakukan pekerjaan keduanya. Awalnya Mikael ingin mengantarnya ke café, tetapi Theresia menolak karena beralasan seorang teman sudah menunggunya dan Theresia tidak mau terlampau jauh melibatkan Mikael pada kehidupan pribadi Theresia. Mikael pun hanya bisa pasrah dengan keputusan Theresia.
Wanita cantik itu berjalan seorang diri menunggu trem yang akan di naikinya. Dia berdiri di halte cukup sepi. Theresia melirik ke jam tangan yang dia kenakan. Sebuah trem berhenti tepat di hadapannya. Theresia melangkahkan kaki masuk kedala trem dan tidak lupa menempelkan kartu trem ov-chipkaart yang selalu dibawanya.
Theresia memandang ke depan benar saja Joseph sudah menantinya di dalam trem, lelaki itu melambaikan tangan dengan senyum khasnya ke arah Theresia. wanita itu menghampiri Joseph yang telah menantinya. Theresia sudah bisa menebak bahwa Joseph pasti akan menunggunya. Jika setiap hari sebelum kepergian Sophia, Joseph beralasan bahwa lelaki itu hanya kebetulan saja menaiki trem, maka hari ini Joseph lebih terbuka di hadapan Theresia.
“Selamat sore, Theres,” sapa Joseph.
Theresia pun duduk di samping Joseph. “Selamat sore, Joseph.”
Lelaki yang tengah berbincang dengan Theresia menyunggingkan senyuman penuh kebahagiaannya. Begitupun Theresia, dirinya menatap Joseph dengan senyum hangat seperti biasa. Joseph telah dia anggap sebagai kerabatnya sendiri, selalu menemani Theresia dalam suka dan dukanya. Sampai Joseph juga membantu mengurus pemakaman Sophia hingga tuntas.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Joseph sedikit gugup.
“Aku baik-baik saja,” jawab Theresia tersenyum ramah.
“Syukurlah, aku sangat mencemaskan keadaanmu dan aku juga sangat khawatir terhadapmu selama ini,” ungkap Joseph memegang tangan Theresia.
Tidak ada dusta di mata Joseph, lelaki itu memang begitu mencemaskan Theresia dengan sangat. Bahkan Joseph akan menanyakan kabar Theresia lewat para karyawan di cafenya yang dekat berhubungan dengan Theresia saat Joseph tak punya akses mendapatkan kabar dari wanita itu.
“Terimakasih Joseph telah mengkhawatirkan aku, dan aku minta maaf selama ini selalu merepotkanmu,” terang Theresia.
“Tidak apa-apa Theresia, aku tidak merasa direpotkan olehmu.” Joseph tersenyum ramah.
Sepanjang perjalanan mereka pun berbincang dengan sangat menyenangkan sampai tidak sadar trem sudah berhenti di tempat yang mereka tuju. Mereka turun bersamaan dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju café. Keduanya berbincang banyak hal, dari kesibukan Theresia di hari pertama masuk bekerja hari ini. Joseph tampak bersemangat mendengarkan cerita yang diutarakan oleh Theresia.
Joseph benar-benar menepati janjinya utuk menemani Theresia dalam perjalanan menuju café. Theresia sangat senang memiliki atasan seperti Joseph. Akhirnya tiba juga di depan café milik Joseph. Mereka pun harus berpisah karena ruang kerja yang berbeda. Theresia hendak melangkah menuju loker, tetapi langkahnya terhenti saat Joseph memanggilnya kembali.
“Theresia,” panggil Joseph.
Theresia menoleh ke arah Joseph.
“Semangat,” ucap Joseph sambil mengangkat tangannya memberi semangat Theresia.
Theresia tersenyum dan mengangguk. Betapa beruntungnya dia memiliki atasan yang begitu perhatian bahkan perhatian yang lebih dari sekedar atasan. Joseph tidak memberikan batasan antara karyawan dengan atasan. Lelaki itu sangat ramah dan dekat dengan para pekerjanya.
Joseph memperhatikan Theresia yang melangkah menuju loker. Lelaki itu tersenyum bahagia karena telah menemani Theresia dalam perjalanan. Walau hanya bisa memendam perasaannya pada wanita itu, tetapi Joseph sangat merasa bahagia sekali. Akhirnya penantian Joseph melihat Theresia kembali bekerja dengan riang dapat dia realisasikan.
Lebih baik Joseph mengawasi Theresia dan melihat langsung kegiatan wanita yang dia cintai, ketimbang Joseph gelisah duduk menantikan kabar dari Theresia seperti apa yang telah Joseph lakukan selama beberapa hari belakangan. Kabar dari Theresia layaknya kabar paling membahagiakan bagi Joseph, bahkan Joseph bisa hidup tanpa kabar keluarganya sendiri, sedangkan untuk kabar perihal Theresia malah membuat Joseph sangat bersemangat dibuatnya.
“Theresia!” teriak Jane dan rekan kerja lainnya saat melihat Theresia melangkah ke arah mereka berada.
Jane berlari kecil menghampiri Theresia. “Theresia aku merindukanmu,” ujar Jane jujur.
“Hai, Jane.” Theresia berlari kecil menghampiri Jane.
Mereka saling berpelukan melepas kerinduan. Jane sangat rindu dengan sahabatnya itu. Hanya Jane satu-satunya teman yang dia miliki meski Jane sendiri sulit untuk memahami Theresia yang begitu tertutup. Wanita itu memang sangat pendiam tak jarang karyawan yang lain bisa dekat dengannya mungkin mereka hanya akan bertegur sapa layaknya sesama pegawai café.
Theresia sesekali akan nimbrung dengan kegiatan mereka, senyuman ramah dari Theresia begitu kental terasa sehingga rasanya ada yang berbeda pada café tempat mereka bekerja ketika Theresia tidak berangkat bekerja.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Jane sambil memperhatikan tubuh Theresia.
Tentu saja Jane memperhatikan tubuh Theresia karena terlihat sedikit lebih kurus. Jane yakin selama ini pasti Theresia tidak makan dan tidur dengan teratur. Jane paham benar, kehilangan anggota keluarga yang tersisa satu-satunya pastilah sangat menyesakkan bagi Theresia.
Terlebih Jane menyaksikan betapa memilukan tangisan Theresia mengiring kepergian mendiang Sophia. Theresia yang selama ini sedang mengusahakan banyak hal untuk adiknya, malah harus kehilangan Sophia untuk selama-lamanya, dan tak akan pernah kembali.
“Aku baik-baik saja, Jane.” Theresia tersenyum, “Maafkan aku telah merepotkanmu dan teman-teman lainnya saat aku tidak bekerja,” lanjut gadis itu.
“Jangan berkata seperti itu, Theres. Aku senang kau sudah bisa kembali beraktivitas.” Jane memeluk Theresia kembali.
“Aku juga senang Jane bisa kembali bekerja.”
Mereka akhirnya mengganti pakaian dengan seragam kerja. Beberapa teman kerja Theresia menyambut wanita itu, ada pula yang masih mengungkapkan bela sungkawa kepadanya karena saat pemakaman tidak bisa hadir. Theresia tahu betapa banyak yang peduli terhadapnya. Kini semangatnya pun pulih kembali. Ia bekerja dengan sangat baik, tidak terlihat murung atau bersedih sekalipun.
Dia tidak sendirian, banyak dari lingkungan tempat tinggal dan tempat bekerjanya memberikan support sistem bagi Theresia agar bersemangat menjalani kehidupan. Theresia menghampiri sebuah meja untuk di bersihkan. Joseph memandang wanita itu dari dari ruangannya. Dia pun berjalan mendekati Theresia dan membantunya bekerja.
Theresia terkejut saat mendapatkan Joseph berada di sampingnya ikut mengelap meja.
“Joseph? Kau tak perlu melakukan ini.” Theresia mengambil lap meja dari tangan Joseph.
“Aku pemilik café ini, jadi bisa melakukan apa saja,” ledek Joseph.
Panggilan nama memang terkhususkan oleh Joseph untuk Theresia seorang. Joseph akan murka ketika Theresia memanggilnya dengan sebutan kehormatan selayaknya seorang bos baginya. Theresia terkekeh mendengar perkataan Joseph, dia mengangguk dan mengiyakan ucapan lelaki itu. Tentu saja memang benar adanya, Joseph adalah pemilik café ini dan apapun yang dia lakukan tidak ada yang bisa melarangnya. Lelaki itu bebas melakukan apa saja di café miliknya itu.
“Baiklah, pasal satu ialah pemilik café selalu benar,” kata Theresia menggoda.
“Kau tahu benar tentang perpasalan padahal jurusanmu adalah pendidikan,” kekeh Joseph disusul senyuman singkat dari Theresia.
Joseph menemani Theresia selama wanita itu bekerja, dia sama sekali tidak mempersulit Theresia di hari pertamanya. Bahkan Theresia tidak dibiarkan terlalu lelah oleh Joseph itu. Meski begitu bukan Theresia namanya kalau dirinya tetap diam mengamati rekan kerjanya yang lain kewalahan menghadapi banyaknya pesanan masuk dari para pengunjung café.
Ketahuilah bahwa Theresia merupakan waiters idola di café tempatnya bekerja. Tidak sedikit para pengunjung menanyakan keberadaan Theresia dan mengungkapkan rasa duka mendalam atas keeprgian adik dari Theresia. Mereka berniat mengunjungi Theresia, tetapi Jane mengungkapkan bahwa teman kerjanya tak ingin menerima tamu siapapun dalam waktu dekat demi menenangkan pikirannya. Theresia selalu murung usai mendapatkan ucapan duka yang datang kepadanya.
Para pekerja lain memperhatikan Joseph yang begitu perhatian terhadap Theresia. Kadang pandangan tersebut sering membuat Theresia risih serta tidak nyaman. Dia merasa tidak enak hati dengan karyawan yang lain, tetapi apa yang bisa di perbuat Joseph selalu saja membantunya dan meski Theresia menolak lelaki itu tidak pernah mendengar perkataannya.
Namun, lambat laun Theresia sudah terbiasa dengan perlakuan Joseph dan pandangan dari karyawan lain. Dia lebih tidak memperdulikan apa kata orang di sekitarnya yang terpenting dia bisa bekerja, karena niatnya memang dia ingin bekerja bukan mencari perhatian atasannya.
“Sepertinya Bos menyukaimu, Theres,” kata Jane menggoda teman kerjanya.
“Menyukai pekerjaanku tentu saja, aku kan karyawan teladan serta rajin,” ujar Theresia.
Meski beberapa kali Jane memberitahu Theresia bahwa sepertinya Joseph menyukainya, tetapi wanita itu hanya terus mengelak dia tidak ingin terlalu percaya diri dan akhirnya hanya akan membuat luka di hati. Theresia selalu berkata pada Jane bahwa Joseph memang atasan yang baik bukan hanya pada dirinya, tetapi kepada semua karyawannya lagi pula dia tidak ingin berharap pada hal yang tak pasti.
Di waktu luang Theresia kembali ke pantry untuk duduk sejenak dan meluruskan kakinya beristirahat. Joseph mengikuti Theresia diam-diam.
“Mungkin Theresia kelelahan,” gumam Joseph layaknya stalking.
Dia melihat wanita yang sangat di cintainya sedang minum, terlihat wajahnya yang begitu lelah. Joseph ingin sekali mengusap keringat yang terlihat di dahi Theresia, tetapi dia tidak berani melakukannya. Joseph selalu mencari-cari alasan agar dirinya bisa selalu dekat dan berinteraksi dengan Theresia agar perasaannya tak membuat Theresia merasa tidak nyaman kepadanya.
Joseph menghampiri Theresia dan menepuk halus pundak wanita itu. Theresia terkejut, mendongak ke atas melihat wajah Joseph yang berada di belakangnya. Tentu saja wanita itu harus mendongak karena posisi Theresia sedang duduk dan Joseph sedikit membungkuk. Joseph yang tinggi sulit untuk mengimbangi Theresia.
“Maaf, maaf, aku mengejutkanmu ya,” ujar Joseph tak tega.
Theresia segera berdiri saat menyadari Joseph berada di belakangnya. “Joseph,” ucapnya terkejut.
Tentu saja wanita itu terkejut karena terlihat sedang duduk bersantai oleh atasannya. Meski Joseph begitu baik kepadanya tetap saja dia seorang atasan dan Theresia hanya seorang pegawai biasa. Theresia harus mempunyai batasan selayaknya seorang karyawan di sana dan tidak melunjak seenak jidatnya sendiri.
“Ma-maaf Joseph, aku hanya …,” Theresia merunduk.
Belum selesai Theresia berkata, Joseph malah tersenyum sambil memberikan dia sebotol minuman bervitamin.
“Minumlah, baik untuk menambah ion tubuhmu!” Lelaki itu tersenyum ramah.
“Terimakasih, Joseph.” Theresia mengambil minum yang telah diberikan Joseph.
Wanita itu melangkah kembali keluar dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara Joseph masih berdiri terpaku di pantry. Dia tidak tahu mengapa Theresia selalu bersikap biasa-biasa saja saat dia mendekatinya. Bahkan wanita itu tidak seperti karyawan yang lain suka mencari perhatian darinya.
Theresia memang wanita yang sangat istimewa, dia sangat berbeda dengan wanita pada umumnya. Sikapnya baik dan tulus serta tutur katanya sangat lembut membuat Joseph semakin tertarik pada wanita itu pada hari pertama keduanya bertatap muka.
“Saya ingin melamar pekerjaan, Tuan,” ucap Theresia kala itu masih jelas dalam ingatan Joseph.
Melihat ketekunan Theresia dan kisah hidup wanita itu membuat Joseph menaruh perhatian lebih kepada Theresia hingga berakhir perasaan cinta untuknya. Seandainya memiliki kesempatan, Joseph ingin sekali rasanya memberitahu Theresia bahwa dia begitu mencintainya, tetapi lelaki itu berpikir kembali bahwa saat ini bukan waktu yang tepat karena Theresia masih bersedih atas kehilangan Sophia. Joseph masih tak punya keberanian mengungkapkan rasa cintanya untuk Theresia dalam suasana duka seperti ini.
Mencintai dalam diam memang menyakitkan, tetapi akan lebih sakit jika Theresia tahu perasaan yang sesungguhnya lalu pergi meninggalkannya. Entah sampai kapan Joseph bisa menyembunyikan dari Theresia dan berharap bahwa wanita itu bisa membaca isi hatinya.
Joseph hanya butuh waktu untuk mengungkapkan. Butuh kata untuk diucapkan. Bahkan butuh keberanian untuk menyatakannya. Menyatakan cinta kepada wanita paling spesial dalam hidupnya tentu tak akan mudah dia lakukan.