38. Siapa Theresia?

1603 Kata
Suasana menegangkan kini terasa di kediaman utama keluarga Holen, nyonya rumah terkejut bukan main ketika mendengar kabar bahwa suaminya saat ini tengah dalam perjalanan menuju rumah, usai melakukan perjalanan dari dinas luar kota. Jika biasanya Alexa akan sangat bahagia ketika melihat suaminya yang beberapa hari ini tidak dia jumpai, tetapi sekarang Alexa merasa begitu gundah dibuatnya. Alexa menatap wajahnya di depan cermin, wanita yang menjadi ibu dua anak tersebut bergerak ke sana ke mari menatap dirinya dengan pandangan resah. Suaminya pasti akan bertanya tentang keberadaan anak sulung mereka Mikael. Terlebih beberapa hari ini Mikael memang tidak pernah datang ke rumah. Terbesit pertanyaan juga di benak Alexa, dimana saat ini anaknya berada sebab Mikael tidak mungkin menginap di apartemen mewah milik lelaki itu yang sebelumnya menjadi tempat kejadian perkara insiden hilangnya nyawa gadis tak berdosa, Sophia Wilhelmina. Apartemen milik Mikael masih terpasang garis polisi, lelaki itu juga tentunya merasa sangat terpukul dan tak mungkin menyambangi apartemen miliknya meskipun sangat mewah dan menjadi incaran para billionaire di kelasnya. Bagi Mikael, apartemennya merupakan kenangan paling menyayat bagi dirinya hingga menyisakan duka mendalam sebagai penyesalan tiada ujung baginya. “Nyonya, Tuan Besar sudah berada di rumah. Mobilnya baru saja melewati gerbang,” kata pelayan di kediaman keluarga Holen. “A-apa? Georgeus tiba secepat ini?” ucap Alexa bergumam sambari melebarkan mata. Pelayan yang melihat Alexa bergumam tidak jelas dalam indra pendengarannya langsung menatap Alexa penuh tanda tanya. “Maaf, Nyonya mengatakan sesuatu?” tanya pelayan kepada Alexa. “Tidak ada, kalian persiapkan saja makan malam untuk Tuan Besar. Jangan lupa siapkan juga air hangat dan peralatan mandi beliau,” kata Alexa memberikan perintahnya. “Baik, Nyonya,” jawab pelayan mengundurkan diri. Alexa mengacak rambutnya dengan perasaan gelisah bukan main. Georgeus pasti akan murka kepada Alexa dan menyalahkan semuanya kepada Alexa sebab dianggap tidak becus mengontrol kelakuan anak-anak mereka. Alexa telah kehilangan kontrol atas diri Joseph sejak lama sehingga anak bungsunya itu pergi meninggalkan rumah, dan enggan kembali lagi ke rumah sampai bertahun-tahun lamanya. Pribadi tak ingin dikekang oleh aturan keluarga bangsawan Belanda membuat Joseph menjadi pribadi yang ingin hidup bebas sesuai dengan kehendaknya sendiri. Berbeda dengan Mikael, anak sulung keluarga Van Holen terlihat begitu tenang dibandingkan Joseph. Mikael sosok lelaki lembut dan sangat menyayangi keluarganya sehingga tak tega bagi Mikael membangkang apa yang telah dikatakan oleh kedua orang tuanya. Namun kali ini semuanya telah berbeda menurut Mikael, keputusan keluarganya dan pihak keluarga Anne menutup tuntas kasus kematian Sophia Wilhelmina tanpa memberikan Sophia keadilan merupakan pemicu Mikael berbalik arah. Tidak ingin membuat suaminya murka kepadanya, Alexa langsung bergegas keluar dari kamar untuk menyambut kedatangan sang kepala keluarga. Tetapi baru saja Alexa membuka pintu kamarnya, sosok lelaki yang membuat tubuhnya merasa panas dingin telah berdiri di depannya dengan pandangan mata menyiratkan kemarahan. “Sa-sayang?” panggil Alexa kepada Georgeus. Alexa berniat memeluk tubuh suaminya, namun sang suami malah melewati Alexa begitu saja sambari menutup pintu kamar dengan kencang sehingga membuat Alexa berjingkat kaget. Wanita itu sampai memejamkan mata, Alexa merasakan degup jantungnya bergemuruh hebat menyaksikan suaminya dalam amarah memuncak seperti ini. Alexa mencoba mengulum senyumannya, wanita itu berupaya mengalihkan pemikiran sang suami dari anak-anak mereka demi menyelamatkan Alexa dari amukan Georgeus Van Holen. “Sayang, aku tahu kamu pasti lelah dan butuh istirahat. Apakah kamu mau membersihkan diri terlebih dahulu, atau mau makan?” tanya Alexa menawarkan perhatian kepada suaminya. Mendengarkan kalimat sanjungan basi dari istrinya, Georgeus menatap tajam ke arah Alexa. Wanita itu tak berani melangkah mendekat ke arah suaminya, kakinya terasa kaku tidak bisa untuk digerakkan. “Dimana anak itu berada sekarang ini?” tanya Georgeus kepada Alexa. Matilah ia, ini adalah pertanyaan yang sejak tadi telah Alexa usahakan untuk dia hindari. Namun tebakan Alexa sepertinya tepat sasaran, suaminya memang sedang mencari keberadaan Mikael sekarang. Sudah pasti Georgeus mempertanyakan dimana keberadaan anak sulungnya mengingat terakhir kali pertemuan mereka, Mikael datang menyambangi Georgeus dan mengutarakan niatnya mengungkapkan semua kebenaran yang terjadi di apartemen miliknya. Sebagai sosok parlemen dengan tujuan menjadi orang nomor satu di kota tersebut, sudah pasti Georgeus tak ingin usahanya sia-sia karena kelalaian yang dilakukan oleh Mikael. Sudah cukup dia tidak mendapatkan kehormatan dari anak bungsunya yang teramat sangat membangkang, namun Georgeus tidak menyangka dirinya juga akan kehilangan kontrolnya pada anak sulungnya. “Dimana lagi, Sayang, tentu saja dia sedang di café miliknya saat ini. Tumben sekali kamu mencari Joseph?” jawab Alexa dengan sengaja berpura-pura menangkap bahwa pertanyaan suaminya ditujukan kepada Joseph anak bungsu mereka. “Berhenti berpura-pura tidak mengerti tentang pertanyaanku, Alexa. Kau tahu benar siapa yang tengah aku bicarakan!” ucap Georgeus murka. “Aku tidak sedang berpura-pura Sayang. Memang siapa yang sedang kau bicarakan?” tanya Alexa kembali. Georgeus menatap Alexa tajam, dia tahu benar bahwa istrinya memahami arti kata yang keluar dari mulutnya tanpa perlu dia jelaskan lebih gamblang tentang siapa yang sedang Georgeus tanyakan di sini. Sejak kedatangan Mikael di tempat kerjanya, Mikael tak dapat lagi dihubungi oleh Georgeus, maupun orang-orang suruhannya. “Dia datang ke Amsterdam, di hotel keluarga kita dengan membawa wanita bersamanya!” sentak Georgeus membuat Alexa tercenganga. “Kapan? Dan siapa wanita yang datang bersama Mikael ke hotel keluarga kita, Sayang? Apakah itu Anne?” tanya Alexa terkejut bukan main. Ucapan suaminya sungguh hal mengejutkan bagi Alexa yang tidak tahu bahwa putranya datang ke hotel keluarga mereka, mengingat memang Alexa hanya mengetahui beberapa aktivitas Mikael yang berada di bawah pengawasan orang suruhannya, termasuk ketika Mikael mengantarkan Theresia ke tempat kerjanya. “Jika aku mengenal siapa wanitanya, aku tidak mungkin menanyakan keberadaan Mikael kepadamu. Wanita itu bukan Anne, namanya Theresia,” ujar Georgeus kepada Alexa. “Theresia? Kenapa namanya sangat asing di telingaku? Apakah dia wanita yang biasa menemani Mikael bermalam?” kata Alexa menebak. “Tidak, dia bukan wanita seperti itu. Orang suruhanku akan mencaritahunya lebih lanjut,” ujar Georgeus. Lelaki itu menyadari, bahwa usahanya mencaritahu langsung kepada Andro selaku manager hotel juga sangat percuma mengingat hubungan baik Andro dengan Mikale maka Andro akan melindungi Mikael. Georgeus juga yakin Mikael pasti sudah memerintahkan orang-orang hotel mengikuti apa yang telah Mikael perintahkan saat Georgeus mengendus keberadaannya di hotel keluarga mereka. Mikael tidak sebodoh itu, Mikael pasti sudah memperkirakan ayahnya dapat menemukan keberadaannya. Meski begitu saat ini Mikael benar-benar membutuhkan waktu menyendiri tanpa komunikasi dari keluarganya. “Bisa-bisanya kau tidak tahu dimana keberadaan putramu, dan kehilangan informasi tentangnya,” ujar Georgeus meremehkan istrinya. “Putraku? Apakah Mikael dan Joseph hanya putraku? Apakah keduanya bukan putramu juga?” jawab Alexa seperti membalikkan kalimat suaminya. “Aku bekerja siang dan malam untuk mengikuti gaya hidup hedonismu. Semua yang aku lakukan adalah demi mensejahterakan kalian dan semua pekerjaku! Sedangkan apa tugasmu sebagai seorang ibu?” tanya Georgeus menatap Alexa kesal. “Apa tugasku kamu bilang?” Alexa menyunggingkan senyum pahit. Sampai detik ini seluruh keluarga suaminya memang tidak pernah menganggap apa yang dia lakukan adalah hal yang benar. Apapun keputusan Alexa selalu salah di mata semua orang, termasuk suami yang seharusnya memahami alasan di balik keputusan Alexa. Jika membicarakan seseorang yang layak untuk disalahkan, maka salahkan saja Alexa dan Georgeus sebab menjadikan anak-anak mereka sebagai pion catur sebagai pemulus jalan mereka mendapatkan apa yang mereka kehendaki. “Bahkan kamu tidak tahu apa makanan alergi bagi Mikael sejak dia masih kecil sampai besar. Kamu juga tidak pernah tahu apa makanan favorit anakmu Joseph,” ujar Alexa menyudutkan Georgeus. Bibir Georgeus mendadak kelu, dia tidak berniat menyalahkan Alexa atas apa yang terjadi, akan tetapi sangat disesalkan bagi Georgeus mengingat Alexa tak pernah melakukan hal yang benar selain belanja dan belanja. Sebagai seorang suami yang waktunya memang telah habis untuk mengabdikan diri pada negara, Georgeus berharap Alexa bisa mengerti tentang dirinya dan kesibukannya sehingga tak akan cukup waktu mengamati tumbuh kembang kedua putranya. Tidak ada orang tua di dunia ingin melewatkan begitu saja masa pertumbuhan anak-anak mereka. Sekejam apapun orang tua, sekeras apapun didikan mereka kepada anak-anak, tidak pernah sedetikpun Georgeus melepaskan tanggungjawabnya atas Mikael dan Joseph. Bahkan saat Joseph memutuskan pergi dari rumah, Georgeus selalu mengutus orang meramaikan café putranya tanpa sepengetahuan orang lain. Di luar memang Georgeus menunjukkan ketidakpeduliannya, tetapi dia tetaplah seorang ayah yang ingin memastikan anak-anaknya hidup dengan baik dan terarah. Kasih sayangnya terbukti melepaskan Joseph hidup sesuai keinginannya, tetapi tidak dengan Mikael. Menurut Georgeus, Mikael adalah anak yang dapat dia andalkan. Ketika nanti terjadi sesuatu kepada Georgeus, Mikael dapat melanjutkan kejayaan keluarga Holen seperti kemampuannya. Hidup bersama Anne, bagi orang tua Mikael, menjalin hubungan dengan Anne merupakan pendukung nomor satu agar keluarga mereka tetap stabil di tengah gempuran billionaire borjuis yang sedang berusaha menyingkirkan keluarga bangsawan kuno di negara mereka. Kekuatan ekonomi bangsawan kuno dapat melemah jika tak ada salah satu dari keluarga yang memegang kejayaan. “Maka hentikan kegiatan hedonismu agar aku bisa melepaskan salah satu kegiatanku dan mengawasi kedua anak-anakku!” kata Georgeus berjalan keluar dari kamar. Alexa berbalik badan memandang langkah kaki suaminya menjauh dari pandangannya. Terdengar suara pintu tertutup kencang sampai menggetarkan dinding kamar utama. Alexa mengepalkan tangan, wanita itu melemparkan lampu tidur di meja nakas hingga menimbulkan suara pecahan nyaring. Wanita itu merasa murka, dia tidak ingin menjadi pihak paling disalahkan. Alexa telah mengabdikan diri kepada keluarga Holen selama berpuluh-puluh tahun lamanya, tak pantas rasanya ketika semua usahanya hanya dinilai kesalahan semata di mata suaminya sendiri. Sampai kapan Alexa harus menerima semua kesalahan yang selalu dilimpahkan kepadanya hingga detik ini. “Theresia! Siapa wanita itu sampai menyebabkan Mikael tidak pulang ke rumah, hah?!” teriak Alexa kehilangan kesabarannya. Baru kali ini dirinya mendengar nama Theresia di telinganya. Alexa berpikir bahwa Theresia adalah salah satu wanita koleksi anak sulungnya untuk menemani malam Mikael. Alexa semakin dibuat penasaran usai Georgeus menyatakan bahwa Theresia bukanlah bagian dari wanita koleksi putra mereka. Siapakah sosok wanita bernama Theresia itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN