Penghianat Cinta

1457 Kata
"Orang asing emang nggak tahu diri. Suka nelpon orang sambil ngomong yang enggak-enggak. Hehe ...," kata Volkan sembari mematikan panggilan teleponnya dan menaruh ponselnya kembali ke dalam saku. Lantas kedua pandangannya terpaku pada sosok gadis cantik di depannya. "Sayang, kamu—" Belum juga menyelesaikan kalimatnya, kini tubuh Volkan sudah terjungkal dari atas kasur dan menimpa lantai parket. "Aduh! Sayang, kok kamu gitu, sih? Kenapa aku ditendang?" Volkan mengaduh, sembari mengeluh dengan wajah melas ke arah Liona. Calon istrinya itu telah menendang tubuhnya begitu saja. Sementara Kalendra dan Martha tertawa cekikikan. "Masih mending gue tendang, bukan gue cincang!" Liona berkata dengan nada murka. Gadis itu benar-benar meradang. Bagaimana tidak, wanita bernama Rhea itu terus saja mengaku kalau dia hamil anaknya Volkan. "Aduh ...." Volkan mengulurkan tangannya ke arah Martha. "Bantuin gue!" "Nggak sudi!" Martha menyempar tangan pria itu. "Argh ... sepertinya memang nggak ada yang peduli sama aku." Dengan wajah murung, Volkan mencoba membangkitkan diri. "Bisa jelasin nggak sama kita-kita tentang si jalang yang barusan nelpon lo!" Martha melipat kedua tangannya di perut dengan sorot mata tajam ke arah Volkan, semakin membuat aura kengerian wanita itu terpancar. Volkan meneguk saliva. Apalagi saat memperhatikan Kalendra dan Liona yang juga melemparinya tatapan mengintimidasi. "Liona … sumpah demi Tuhan, aku nggak ada apa-apa sama Rhea. Kami hanya sebatas kenal saja, nggak lebih. Dia—" "Keluar!" perintah Liona, menyela ucapan Volkan. "Eh, kalian keluar. Biar aku sendirian sama Liona di kamar ini," ucap Volkan pada Kalendra dan Martha. "Lo yang disuruh keluar, Babi ngepet!" Martha menghardik Volkan seraya menabok punggung pria itu. "Aku nggak mau keluar. Aku mau di sini nemenin Lio." Volkan hendak duduk kembali di pinggiran ranjang, tetapi tatapan Liona yang penuh amarah membuatnya meneguk ludah. "KELUAR!" perintah Liona lagi. "Sayang …." "AKU BILANG KELUAR!" Liona membentak sembari mengacungkan telunjuk ke arah pintu keluar. Kalendra menatap ke arah Volkan, memberinya isyarat untuk segera keluar dari kamar. Namun Volkan tetap kekeh. Ia tak mau menyerah begitu saja. "Lio sayang …." "Eh, Volkanik, lo tuli, budeg, apa bego, sih? Lo nggak denger Liona bilang apa tadi?!" Martha kembali menyerbunya. "Martha lo diam saja, nggak usah ikut campur!" bantah Volkan. Kini kedua bola mata coklat terangnya itu tampak sayu, alisnya melengkung serupa kayu yang bengkok. Memandang Liona dengan penuh iba. "Liona …." Volkan mengambil kedua tangan Liona dengan menggenggamnya. "Dengerin aku, Sayang—" "—Nggak usah pegang-pegang!" Liona menyingkirkan tangannya dari genggaman Volkan. "NAJIS!" "Kok bicaranya gitu, sih, Sayang?" "Sudah deh, Volkan. Gue udah muak. Gue nggak menyangka lo bakalan lakuin itu ke gue. Kita mau nikah, Volkan. Lihatlah gaun pengantin ini? Lihat!" Liona memandangi gaun pengantin yang ia kenakan. Matanya mengembun dan sebentar lagi air dalam kantupnya akan bocor. "Lo tahu, kan, gue sangat bersemangat sekali untuk nikah sama kamu. Gue ngerancang gaun ini sendirian pake tangan gue." "Lio …." Volkan menjadi amat bersalah dan murung saat melihat butiran kristal yang mulai mengalir dari pelupuk mata Liona. "Nggak usah pegang-pegang!" Kembali Liona memperingatkan pada lelaki di depannya untuk tidak menyentuhnya. "Gue pikir, pernikahan gue akan menjadi pernikahan yang indah. Hanya ada kebahagiaan dan kesenangan. Tapi apa yang lo lakuin? Lo merusak semuanya, Volkan! Lo menghancurkan impianku!" Kalimat terakhir yang Liona lontarkan tersebut penuh dengan penekanan, dan hampir tak terdengar seakan menunjukkan betapa sakit hatinya saat ini. "Kamu selalu bilang sama aku kalau kamu akan selalu mencintaiku, membuatku bahagia, dan tidak pernah membuat air mataku mengalir, tapi apa buktinya ini, Volkan? Apa?" Liona mendekatkan dirinya pada Volkan. Menarik kerah kemeja putih dan mencengkeramnya erat. Wajahnya menatap wajah Volkan penuh kesedihan juga emosi yang berkobar. "Aku tidak bermaksud membuatmu sedih, Sayang …." Suara Volkan bahkan kini terdengar menyatu dengan serak tangis yang mencoba keluar. "Tapi apa buktinya, ini? Ha? Apa?!" Liona menggelengkan kepala dengan suara yang hampir tak terdengar. Sementara itu, Kalendra dan Martha hanya menunduk sedih. "Aku berani sumpah, Lio. Aku tidak pernah menghianatimu, mengkhianati cinta kita, sekalipun tidak pernah terpikir olehku." Volkan terus saja mencoba membela diri. "Kamu selalu ngomong gitu, tapi nyatanya hari ini kamu sudah membuatku sakit hati, Volkan. Kamu tahu, aku sangat mencintaimu, aku menggantungkan semuanya padamu, tapi kamu menghancurkannya!" Air mata Liona terus saja merembes tiada henti. Dan itu memancing emosi Kalendra yang sedari tadi ia tahan. "Enggak, Sayang—" Volkan menggantung ucapannya saat menyadari tiba-tiba tangan Kalendra mencengkeram lehernya. "Keluar atau gue buat muka lo babak belur!" ancam Kalendra. Rahang pria itu menjadi sekeras baja dan bola matanya menjadi sebesar piring. Jelas hal itu menandakan kalau singa dalam dirinya sudah mengaum memberontak untuk keluar. Baru kali ini ia bertindak kasar terhadap Volkan. "Andra …." Volkan mencoba mengucap dengan susah payah, lantaran jemari Kalendra terus mencekat lehernya. "Kalau menyangkut adik gue, gue nggak akan tinggal diam! Sebaiknya lo keluar atau gue bakalan lupain kalau lo temen gue!" ancam Kalendra sekali lagi. Volkan benar-benar dibuat gemetar nyalinya. "Nih Bekicot sawah masih nggak mau keluar juga!" Martha mencari sapu dan menodongkannya pada Volkan. "Lo keluar atau gue pukul!" "Mama!" Tiba-tiba suara gadis kecil terdengar dari ambang pintu, mengalihkan perhatian mereka semua. Gadis itu tampak bingung dengan wajah tertegun. Apalagi saat melihat Kalendra yang mencengkeram leher Volkan, serta melihat Martha yang hendak memukul Volkan, membuat gadis itu gemetar ketakutan. Kalendra dan Martha langsung buru-buru menghentikan aksinya. Mereka tidak mau kalau putri kecilnya itu melihat orang tuanya bertindak kekerasan. Kalendra menoleh ke arah Martha, mengisyaratkan pada sang istri untuk menangani putrinya. Martha segera membuang sapu yang dipeganginya dan bergerak ke arah anak kecil tersebut. "Mama, ada apa, Ma?" tanya anak kecil tersebut. "Nggak ada apa-apa, Elsa. Sudah ayo pergi." Martha langsung menggendong sang putri dan mengajaknya menjauh dari keributan. Volkan menatap ke arah Liona yang sama sekali tak sudi memandang dirinya. "Liona." Pria itu mencoba menyentuhnya tetapi Liona langsung menggelak dengan bahasa tubuh. Volkan menggerakkan kepalanya menatap Kalendra. Namun meminta dukungan dari seorang kakak yang murka karena adiknya sakit hati hanyalah sebuah hal yang tak ada gunanya. Kalendra kembali mengisyaratkan pada Volkan untuk segera enyah dari hadapan Liona. Volkan menyemburkan napas pasrah. Dengan amat terpaksa, ia bangkit dari duduknya. Memutar tubuh dan mulai menggerakkan langkah lungai ke arah pintu. Sebelum meninggalkan kamar, ia membalikkan tubuh guna menatap Liona. Namun Liona sama sekali tak sudi memandangnya. Gadis itu memasang wajah sedih serta kebencian. Dan itu amat melukai perasaan Volkan. Akhirnya, Volkan kembali melanjutkan langkahnya. Menutup pintu kamar dan berjalan sembari membocorkan air matanya. Ia sangat menyesal karena telah melukai hati gadis yang amat dicintainya. Sungguh, tidak pernah terbayang hal ini akan terjadi di hari pernikahannya. Hari yang seharusnya menjadi kebahagiaannya. Sementara itu, Liona juga langsung menangis di dalam sana. Kalendra mendekat, memeluknya, mengelus rambutnya bertindak sebagai seorang kakak yang peduli terhadap sang adik. "Keluarkan saja semua air matanya biar kamu puas dan enggak sedih lagi," kata Kalendra pada Liona sembari terus mengelus punggungnya. Tangis Liona semakin memecah. "Kenapa Volkan jahat banget sama gue. Kenapa dia khianati gue? Kenapa?" Suara Liona mulai terdengar samar saat kepalanya mendekap d**a Kalendra. "Gue nggak punya siapa-siapa lagi sekarang." "Husst … jangan bilang gitu." Kalendra mengelus rambut sang adik dengan lembut. Air matanya ikut terpancing untuk mengalir. "Hanya karena Volkan sudah pergi dari kehidupanmu, bukan berarti kamu sendirian. Dengar!" Kini Kalendra menata wajah Liona untuk menatapnya. "Kamu itu segalanya bagiku. Kamu satu-satunya keluarga yang aku punya. Sejak ayah dan ibu meninggal, aku berjanji akan mengurusmu. Aku, Martha, Elsa, kami semua sayang sama kamu. Persetan dengan Volkan. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sesuatu terjadi padamu." Kalendra memberi jeda sejenak. Mengambil napas serta mengerjap. "Kamu tahu, tadi aku takut banget sampai gemetar. Aku kira kamu … kamu …." Volkan tak mampu meneruskan perkataannya. Memikirkan bahwa adiknya akan bunuh diri adalah ketakutan terbesarnya. "Jangan pernah berhenti menyerah untuk hidup, Lio. Hanya karena satu orang menyakitimu, bukan berarti orang lain juga melakukan demikian. Ada banyak orang-orang yang masih sayang sama kamu." Lio memejamkan mata. Menuntaskan air matanya. Kemudian mengangguk pelan. "Maaf," ucapnya bersemu tangis. "Sudahlah." Kalendra kembali mendekap pada sang adik. Memberikan dukungan serta perhatian sebisanya. Sementara itu Volkan berjalan lunglai menuju ruang tamu. Wajahnya murung dan matanya mengembun. Terdengar Martha menutup semua pintu serta jendela dengan kasarnya. Lantas berjalan ke arah Volkan. "Cepat urus para wartawan sialan itu dan juga media di luar sana. Pokoknya dalam lima menit kalau mereka masih ngerumpi di depan rumah, gue lempari mercon sama bom!" ucap Martha lantas membawa putrinya menuju kamar. Volkan tahu betul, sumpah serapah Martha tadi tidak main-main dan penuh dengan ancaman juga penekanan. Pria itu menyemburkan napas pasrah. Berjalan ke arah pintu dan membukanya. Dilihatnya berbagai media yang berkerumun di depan halaman sana. Suara ricuh semakin nyaring terdengar saat mereka melihat Volkan keluar dari rumah. Tujuan mereka sama, yaitu mengharapkan klarifikasi dari seorang aktor kenamaan yang telah gagal menikah akibat adanya orang ketiga. "Sialan! Bagaimana caraku melewati semua media ini? Citraku benar-benar akan hancur sekarang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN