"LIONA!"
Volkan sontak terkesiap melihat pecahan kaca berceceran mengerubungi seorang gadis yang tengah menangis tersedu. Juga, terdapat darah yang mengalir di sekitarnya.
"Astaga, Lio! Kamu tidak apa-apa, kan?" Lelaki tampan itu mendekat ke arah Liona. Memeriksa keadaannya. Menjadi panik saat melihat tangan sang kekasih yang bersimbah darah. "Ya, Tuhan, tanganmu, Sayang."
Liona mendongak, menatap Volkan sejenak. Lantas menyapu pandang ke arah dua orang yang berdiri di belakang Volkan dengan wajah kepanikan.
"Apa kalian malaikat maut yang hendak menjemputku?" tanya Liona membuat mereka mengernyitkan dahi keheranan.
"Aku sudah mati, kan?" tanyanya lagi.
"Kamu bicara apa, sih, Sayang? Kamu masih hidup," jawab Volkan.
"Tidak mungkin. Kalian pasti bohong. Kalian pasti malaikat maut, kan?" Liona kembali bertanya.
"Eh, Liona, elu tadi jedorin palamu ke kaca apa gimana kok bisa sampe seperti orang lupa ingatan gitu?" cerocoh seorang wanita yang berambut sedikit keriting. Wanita itu mendekat. Mengulurkan tangannya, menyentuh kening Liona. "Perasaan tidak apa-apa deh. Gue ini Martha Kakak ipar lo! Bukan malaikat. Ada-ada aja lo."
"Liona, kamu beneran nggak ngenalin kita?" Lelaki bertubuh tinggi ikut maju. "Aku Kalendra, kakakmu. Masa nggak kenal sama kakak kandung sendiri?" tanya pria bernama Kalendra, yang merupakan suami dari Martha.
"Nah, durhaka lo nanti!" timpal Martha.
"Sayang ...." Kembali Volkan mengambil alih perhatian Liona. Mengelus pipi gadis itu dengan tangan hangatnya, diiringi air mata yang menetes. Detik berikutnya, Volkan memeluk Liona. "Aku senang kamu tidak kenapa-napa!"
"Matamu tidak kenapa-napa!" Martha menabok kepala Volkan. "Lo nggak lihat itu lengan calon istri lo berdarah?"
Volkan merenggangkan pelukannya. Kembali fokus pada lengan Liona. Kemudian melepas jas pernikahannya, dan digunakan untuk mengelap noda darah dari lengan Liona.
"Nanti aku obati, ya. Ayo!" Volkan menggendong Liona, dan merebahkannya di atas kasur.
"Mar, tolong ambilkan kotak obat!" pinta Volkan.
"Bentar!" Martha bergegas, bergerak ke arah laci dan mencari kotak obat-obatan.
Sementara Kalendra mengamati pecahan kaca dan juga lemari yang sudah rusak. Kepalanya menggeleng dengan tarikan napas panjang. "Astaga, Lio, apa yang coba kamu lakukan?"
"Ini!" Martha menaruh kotak obatnya di atas nakas samping ranjang. "Sini, biar gue aja yang obatin."
"Enggak, aku aja!" ujar Volkan.
Pria itu mulai mengobati lengan Liona.
"Lio, apa maksud semua ini? Kamu beneran melukai dirimu sendiri?" tanya Kalendra tak habis pikir dengan tingkah adiknya tersebut.
"Ndra, udah jangan diintimidasi dulu adikmu. Biarkan dia napas dulu," saran Martha.
Kalendra hanya bisa mendesah pasrah dengan kepala menggeleng.
"Au!" Liona mengaduh merasakan nyeri saat lukanya tersentuh dengan cairan obat-obatan.
"Sakit, ya, Sayang?" tanya Volkan dengan ekspresi cemas.
"Pelan-pelan dong!" tutur Martha dengan suara judesnya.
"Sebentar lagi kamu bakalan sembuh, kok. Terus kita bisa melanjutkan upacara pernikahan kita lagi," kata Volkan.
"Siapa juga yang mau nikah sama Lo!" Suara Liona terdengar merajuk, dan kini memalingkan wajah dari Volkan.
"Sayang, jangan bilang gitu, dong. Aku kan cinta sama kamu."
Liona memutar mata malas. Melihat langit-langit kamarnya sembari berpikir.
"Ini gue beneran masih hidup, ya?" Pertanyaan yang keluar mulutnya itu membuat mereka mengerling heran.
"Astaga, masih aja nanya pertanyaan konyol lagi nih anak. Lo masih bisa napas, kan, ya artinya lo masih hidup," beo Martha.
"Yah, sayang sekali. Padahal aku kira tadi aku sudah mati dan kalian para malaikat yang akan mengantarkanku ke surga."
"Eh, Liona Laserin! Kalaupun kami ini malaikat, gue akan anterin elo ke neraka bukan surga! Enak aja!"
"Kok gitu?"
"Ya mana ada orang yang berniat bunuh diri langsung masuk surga? Makhluk kayak gitu cocok dicemplungin ke neraka jahannam biar menjadi santapan ular-ular raksasa!"
"Martha, lo ngomong apaan sih!" Volkan tampak tak terima.
"Ye, gue mah hanya bicara kenyataan!" bela Martha.
Suara tekanan kasur terdengar saat Kalendra mendudukkan tubuhnya yang cukup berisi itu di atas permukaannya. Kedua pandangan fokus pada Liona. Seakan mengungkapkan rasa keprihatinannya terhadap sang adik.
"Kenapa sih, harus melukai diri sendiri? Nggak bisa diselesaikan dengan baik-baik tanpa ada yang tersakiti?" Suara Kalendra merendah. "Kamu tahu bunuh diri itu dosa besar. Kasihan ayah dan ibu di surga sana kalau tahu anaknya mencoba hal buruk."
"Siapa juga yang mau bunuh diri!" Suara Liona terdengar judes.
"Terus, yang tadi itu apa maksudnya?"
"Gue nggak sebodoh itu sampai mau bunuh diri dan mendaftarkan diri buat nyemplung ke neraka. Apalagi demi laki modelan kek gini!" Kaki Liona menyenggol pinggang Volkan dengan sangat keras. "Gue tadi hanya terbawa suasana saja, sehingga ngomong mau bunuh diri."
"Terus kenapa kacanya sampai pecah gitu?" sahut Martha bertanya.
"Itu … itu karena tadi gue kesel dan emosi, terus mukul-mukul kaca sampe kacanya pecah."
Martha mengerling heran. Mendekat, memperhatikan tangan Liona. "Lio, lo tadi kerasukan Hulk apa gimana? Kok tangan lembek gini bisa mecahin kaca lemari?"
"Udah deh, Martha. Apaan, sih? Yang penting Liona selamat, udah," sahut Volkan.
Kalendra menarik napas lega. "Ya udah, kakak seneng dengarnya—"
"—seneng tangan Liona sakit seperti ini?" selak Liona memotong perkataan Kalendra.
"Bukan begitu. Kakak seneng kamu tidak mencoba menyakiti diri sendiri." Tangan Kalendra terlurur, mengelus pelipis Liona dengan lembut. "Cepet sembuh, ya!"
Liona tersenyum kemudian mengangguk.
"Aku janji akan mengurusmu sampai kamu sembuh, Lio Sayang," kata Volkan dengan mulut manisnya.
"Kayak ada yang ngomong tapi kok enggak ada wujudnya, ya?" sindir Liona. "Siapa, ya?"
"Jin Ifrit, kali!" timpal Martha begitu saja.
"Ih, serem banget kamarku. Besok tolong panggilkan orang pintar ya, buat rukyah kamar ini," celetuk Liona.
Martha dan Kalendra tertawa bersamaan. Sementara Volkan hanya bisa memasang ekspresi pahit.
"Kalian kenapa sih? Seenggaknya dukung aku dong, biar Liona nggak marah lagi sama aku," kata Volkan pada Martha dan Kalendra.
"Kami mah dukung manusia baik, bukan syetan yang suka buntingin anak orang dan ngumbar-ngumbar janji palsu ke pasangan!" sindir Martha dengan suara ketus.
"Aku orang baik, kok. Aku tidak pernah hamilin anak orang dan aku tidak pernah mengobral janji manis. Aku ini setia!"
"Iya, setiap tikungan ada!" sahut Kalendra asal.
"Andra!" Volkan menoleh ke arahnya dengan mata memicing. Lantas kembali fokus pada Liona.
"Sayang, kamu jangan dengerin mereka, ya? Kamu percaya kan, kalau aku ini sayangnya cuma sama kamu aja."
"Duh, manisnya mulut jantan kalau habis keselek sate aligator!"
"Hahaha!" Kalendra dan Martha tertawa serentak.
"Sayang, sepertinya bukan kamarnya deh yang perlu dirukyah, tapi kamu. Biar kamu dijauhin sama si Wewe gombel mulut mercon ini!" ujar Volkan menyindir Martha.
"Sembarangan! Lo ngejek gue?!" Tanpa basa-basi, Martha langsung menabok kepala Volkan. Wanita itu jelas-jelas tersindir terhadap perkataan Volkan berusan. Bagaimana tidak, Martha memang terkenal dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos dan bernada judes. Layaknya mercon yang jedar-jedor.
Kembali Volkan terfokus pada Liona. Mengambil tangan kanan sang kekasih dan menggenggamnya erat. "Liona Sayang, a—" Suara Volkan terpotong saat ponselnya berdering.
"Siapa, sih?" Volkan merogoh benda pipih berteknologi canggih tersebut dari saku celananya. Mengerutkan dahi saat melihat nomor tak dikenal menghubunginya.
Pria itu memilih untuk menolaknya. Menaruh ponsel pintar tersebut di sebelahnya, lantas kembali fokus pada sosok perempuan cantik di depannya.
"Sayang—"
Perkataannya tersebut kembali terganggu oleh suara dering nada panggilan.
"Angkat dulu!" saran Kalendra.
"Biarin aja, nomor tidak dikenal soalnya!" ujar Volkan. Menolak panggilan tersebut.
Kembali mengutarakan suara hatinya pada Liona. "Liona, aku janji kalau aku akan—"
Dering ponsel kembali terdengar dan itu membuat mereka semakin muak.
"Eh, Kutu ayam, lebih baik lo angkat atau buang handphone lo sekalian biar nggak ganggu mulu!" sahut Martha.
"Lagian tinggal angkat apa susahnya, sih!" Liona ikut berkomentar.
"Bukan begitu, Sayang. Aku tidak kenal nomornya. Mungkin hanya orang yang salah sambung saja!" tebak Volkan.
"Dari mana lo tahu salah sambung kalau lo sendiri belum angkat? Siapa tahu itu calling-an tentang pekerjaan," celetuk Martha.
"Kalau tentang pekerjaan, kenapa nggak menghubungi lewat managerku saja?" sangkal Volkan.
"Ya mungkin saja manajermu lagi ngopi, makanya susah dihubungi!" Dalam hal berdebat, Martha jelas tidak mau kalah.
"Enggak mungkin, Martha. Manajerku selalu siap dua puluh empat jam kalau ada hal apa pun. Apalagi cuma angkat telepon doang."
"Kenapa jadi kalian yang berantem, sih? Kan harusnya aku yang berantem sama si buaya ini!" sahut Liona menengahi mereka.
"Kakak iparmu tuh yang mulai!" cerca Volkan ke arah Martha.
"Gundulmu botak! Jelas-jelas lo yang ngeyel, Tai bebek!"
"Lo duluan yang marah-marah, Mie Instan!"
"Lo ngapain manggil gue mie instan?"
"Lo nggak nyadar rambutmu keriting seperti mie instan? Haha!"
"Heh, Bulepotan! Mentang-mentang muka lo setengah bule, sudah berani rambut shaming sama gue, ya!" Mulut Martha langsung nyeletuk.
"Body shaming?" Liona bermaksud membenarkan.
"Kan rambut gue yang diejek, berarti ya rambut shaming!" kilah Martha.
"Orang yang ngeyel ya begini. Susah dibilangin," ujar Volkan.
"Diem lo, Kutu mermaid! Lo duluan yang ngajak gue debat!"
"Mana ada? Orang tadi kamu yang nyerocos duluan nyuruh-nyuruh angkat telepon!"
"Ya karena handphone lo ganggu telinga gue. Lama-lama pengen gue geprek lo pake palunya Thor!"
"Yah, apaan si, orang dia duluan 'kan, Sayang, yang salah?" Volkan meminta pendapat Liona.
"Elu, Bego!" Liona berkata ketus ke arah pria itu.
"Nah, mampus Lo. Sekarang tau 'kan siapa yang salah? Asal Lo tahu, perempuan tidak pernah salah. Catat itu baik-baik dijadat lo!"
"Konspirasi macam apa ini?" Volkan menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau begitu, berarti handphone-nya yang salah!"
"Kenapa bisa gitu?" tanya Liona.
"Kan dia yang berdering!" jawab Volkan.
"Bego! Pemiliknya lah yang salah, nggak mau ngangkat!" timpal Martha.
"Ya kan aku nggak kenal," sahut Volkan kembali berdebat.
"Ya makanya angkat lalu kenalan," ujar Liona.
"Udahlah, Liona, jelas-jelas laki model buaya kek bigini nggak akan mau ngalah. Gimana dia jadi suami lo nanti. Jangan mau!" kata Martha ke arah Liona.
"Kok gitu sih! Kan aku emang nggak salah. Yang nelpon yang salah." Volkan masih mencoba membela diri.
"Itu handphone siapa?"
"Handphone-ku."
"Ya berarti lo yang salah!"
"Udah-udah, gue yang salah!" Akhirnya Kalendra angkat suara menengahi perdebatan mereka. "Gue yang salah, oke? Puas kalian!" Lelaki itu menyemburkan napas gusar. Melihat perdebatan mereka membuat kepalanya terasa ingin meledak.
"Volkan, mending lo cepat angkat tuh handphone atau mau gue banting sekalian?!" perintahnya pada Volkan.
Volkan mendesah pasrah. "Iya, iya. Bawel semua kalian!"
"Jadi lo juga ngatain gue bawel?" Liona tampak tak terima.
"Enggak, Sayang. Khusus kamu, nggak bawel. Hehe." Pria itu cengengesan, sembari mengangkat telepon dari ponselnya yang terus berdering. Dan tanpa ia sadari, jemarinya itu menekan tombol pengeras suara.
"Halo, ini siapa?" tanya Volkan setelah menempelkan ponsel tersebut di daun telinganya.
"Volkan!" Terdengar suara perempuan yang menyahut. Jelas-jelas itu membuat mereka terkejut mendengarnya.
"Ini siapa?"
"Volkan Sayang, masa kamu nggak ngenalin aku? Masa kamu nggak simpan nomorku?"
"Maaf, ya, aku nggak kenal!" Volkan hendak mematikan panggilan tersebut.
"Volkan, aku Rhea. PEREMPUAN YANG MENGANDUNG ANAKMU!"