Tamu Misterius

1652 Kata
"Woy!" Teriakan Martha langsung membuat semua orang di sekitar sana menoleh ke arahnya. Martha berjalan menghampiri dengan mengamuk. "Kalian nggak usah percaya dengan apa yang dikatakan oleh wanita sinting ini. Dia ini wanita tidak waras. Dia mengaku hamil anaknya Volkan padahal dia hanya mengarang!" ujar Marthi ke arah wartawan. Kini semua media langsung menyorot ke arahnya. "Asal kalian tahu, Volkan dan Liona sudah berpacaran lima tahun lebih dan Volkan tak pernah melewati batasnya dengan Liona. Lalu kenapa kalian semua pada percaya sama orang gila ini yang mengaku sudah tidur dengan Volkan. Volkan sendiri mengaku tidak pernah menyentuhnya! Sudah jelas wanita sinting ini hanya ingin menjatuhkan nama Volkan!" "Bohong! Wanita ini sudah berbohong. Bagaimana aku bisa berniat menjatuhkan nama orang yang aku cintai. Volkan dan aku saling mencintai dan kami sudah merencanakan sebuah pernikahan." Bahkan Rhea tak mau kalah juga di depan para media. "Heh, nenek lampir, kalau Volkan cinta sama lo kenapa lo diusir tadi? Asal kalian tahu, wanita ini sudah diusir oleh Volkan karena yang sebenarnya Volkan sendiri merasa jijik dengannya lalu bagaimana bisa kalian percaya mereka telah tidur bersama?" Kini para wartawan mulai saling berspekulasi sendiri-sendiri. Beberapa ada yang mulai meragukan Rhea, beberapa juga ada yang masih tetap teguh pendirian membelanya. "Dalam kasus seperti ini, wanita yang terus menjadi korban. Para pria biasanya memang menolak dengan kehadiran anak. Mereka terkadang memang hanya ingin enaknya saja. Habis itu udah, nggak mau tanggung jawab. Apa menurut Volkan termasuk pria seperti itu?" tanya salah satu wartawan pada Martha. Sementara Rhea mulai membocorkan air matanya. Wanita itu memang pandai berakting. "Nona Rhea, kami prihatin dengan apa yang anda alami. Karena itu kami menuntut pada Volkan untuk bertanggung jawab atas semua ini!" ujar salah satu wartawan. "Eh, bego! Kalian ini sekolah tinggi-tinggi buat jadi jurnalis atau korban sinetron, hah? Wanita ini seorang aktris, dia pandai memainkan perasaan kalian. Dia hanya berakting, harusnya kalian tertawa bukan prihatin!" semprot Martha. Dia memang tak ada takutnya meskipun ia sedang diliput oleh beberapa media. "Bagaimana kamu bisa mengatakan seperti itu sebagai sesama wanita? Bayangkan jika ini terjadi padamu!" ujar Rhea ke arah Martha. "Ini nggak akan terjadi sama gue karena gue bukan drama queen seperti lo! Lo pikir gue akan percaya sama air mata buaya lo! Murahan sekali lo!" cerca Martha pada Rhea. "Lihatlah, wanita ini sudah menghinaku sebagai wanita murahann. Aku sangat sedih sekali." Rhea kembali berakting. "Halah tai bebek!" umpat Martha. Kini ia kembali menghadapi para wartawan. Tepat di hadapan kamera dia berkata, "Heh, dengar, ya! Gue nggak peduli kalian mau jodohin nenek lampir ini sama si Volkanik atau tidak. Yang jelas, nggak usah lagi ganggu hidup Liona dan keluarganya. Jika kalian masih saja mengejar Liona untuk menanyainya dengan pertanyaan sampah, gue akan banting kamera kalian satu-satu. Gue nggak takut sama hukum, karena gue juga bisa menuntut kalian! Camkan itu baik-baik!" Setelah mengatakan itu, Martha langsung pergi meninggalkan keributan tersebut. Sementara itu, di dalam ruangan, Zach dan Lisa kembali menemui Volkan. "Volkan, di mana Martha? Dia sudah pulang?" tanya Lisa. "Iya, Ma! Untung saja si biawak itu sudah pulang. Serem banget. Volkan mau digeprek pakai palunya Thor katanya," adu Volkan dengan wajah cemberut yang serupa anak kecil yang ketakutan. "Volkan … Volkan … kamu ini ada-ada saja." Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lagian salah siapa kamu menyakiti adiknya," sahut Zach. "Aku tidak berniat menyakiti Liona, Pa." Volkan memberi jeda sejenak. Lisa kini mendekat dan duduk di sebelah Volkan. "Volkan, sekarang kamu jujur sama kami. Apa benar kamu tidak menghamili wanita itu?" tanyanya dengan nada rendah. "Ma, demi Tuhan Volkan nggak ngelakuin itu. Kalian, kan tahu sendiri kalau aku sangat mencintai Liona. Nggak mungkin aku mengkhianatinya." "Ya mungkin kamu terpengaruh minuman keras," sahut Zach. "Pa …." Suara Volkan benar-benar putus asa. "Asal kalian tahu, semenjak pacaran sama Liona aku tidak pernah menyentuh minuman beralkohol. Pernah sih, itu pun diam-diam dan nggak sampai parah apalagi kehilangan kesadaran dan sampai menghamili wanita lain." Volkan kembali menatap sang ayah lekat. "Pa, tolong aku, Pa. Tolong bereskan semua masalah ini. Aku ingin kembali bersama Liona dan menikahinya." "Iya, Zach. Aku juga mulai lelah dengan semua ini. Media nggak ada habisnya mencariku," tambah Lisa. "Benarkah? Bukannya kamu senang kamu akan memiliki cucu?" canda Zach. "Apa? Yang benar saja? Mama setuju kalau aku menikah dengan Rhea?" protes Volkan. "Nggak usah percaya sama Papamu. Dia kalah bicara memang suka ngasal!" ujar Lisa. "Rhea itu wanita berbahaya, Ma! Dia saja bohong saat ini kalau aku ayah dari anaknya, bagaimana jika dia nanti jadi istriku. Pasti dia hanya akan menginginkan harta kalian," tebak Volkan. "Kan sudah Papa bilang, tidak ada wanita sebaik Liona yang bisa menjadi istrimu. Tapi lo malah sia-siain dia. Sekarang kalau sudah begini jadi ribet, kan?" "Pa … kenapa Papa malah membuatku semakin putus asa?" "Papa akan mencoba menyelesaikan semua ini. Tapi, apakah Liona akan kembali lagi padamu? Dia sepertinya sudah sangat sakit hati denganmu. Kamu kecelakaan aja dia nggak jenguk." "Siapa bilang? Liona tadi malam ke sini kok. Hanya saja dia pergi lagi saat melihat aku berpelukan dengan Rhea." "Bodoh!" Zach langsung menoyor kepala putranya begitu saja. "Zach, Volkan masih sakit kenapa kamu malah melakukan itu padanya?" protes Lisa. "Kamu dengar sendiri, 'kan tadi dia bilang apa. Dia malah berpelukan sama wanita itu di depan Liona?" "Maksudku Rhea yang memelukku, Pa. Bukan kok kami sengaja berpelukan. Jadi Liona salah paham." "Tuh dengerin dulu kalau putranya lagi ngomong," saran Lisa pada Zach. "Bagaimana aku bisa dengerin dia kalau dia sendiri nggak pernah dengerin nasihat papanya ini." "Perasaan selama ini aku selalu dengerin Papa deh!" sanggah Volkan. "Oh, ya? Justru Papa yang selalu dengerin keinginanmu. Kamu pengen jadi model Papa turutin. Kamu ikutan ajang Mister-misteran Papa juga kasih izin. Tapi saat Papa minta kamu menerusin bisnis Papa kamu nggak mau. Malah sibuk jadi artis. Sekarang kalau sudah jadi artis makin ribet, kan? Makin banyak orang-orang yang mau menjebakmu. Dan terlebih, saat ada masalah sedikit para media langsung menyorot seperti segerombolan semut lihat gula saja!" Volkan hanya terdiam seraya menunduk mendengar tuturan sang ayah. Sementara itu, setibanya di rumah, Martha langsung disambut oleh Kalendra di depan pintu dengan wajah penuh arti. "Dari mana kamu?" tanya Kalendra dengan tatapan sinis. Sementara di belakangnya juga berdiri Liona dengan wajah yang sama. Martha tampak cengengesan. "Hehe … habis dari pasar tadi. Belanja sayur. Kenapa memangnya?" ucap Martha berbohong. "Terus sayurnya mana?" tanya Kalendra lagi saat tak lagi melihat barang apa pun di tangan Martha, kecuali tas kecil yang ia gantung di lengannya. "Itu … um … sayurnya dibegal orang tadi." Martha kembali beralasan. "Bagaimana seorang Martha bisa dibegal orang? Yang ada orangnya langsung masuk rumah sakit," sahut Liona. "Udah nggak usah bohong. Kami sudah liat wujudmu tadi di TV," kata Kalendra. "Gue masuk TV?" Kedua mata melotot. "Iya. Kayak emak-emak kerasukan," sahut Liona. "Kenapa kamu bisa ngamuk-ngamuk gitu?" Kini Kalendra yang bertanya. "Kalian sibuk menghakimi gue padahal gue di sana bela-belain kalian. Kalian nggak denger apa yang gue omongin?" Martha berjalan gusar menuju sofa. "Gue denger, kok. Malahan gue bangga sama lo. Lo udah kayak emak-emak di film Kungfu Hustle kalau lagi nggamuk. Haha!" canda Liona. Martha menghempaskan tubuhnya di sofa. "Gilak, gue panas banget sumpah. Tapi gue udah mendingan sih habis menghujat si nenek lampir dan membuat peringatan sama media." "Lo emang jagoan sih!" sahut Liona yang ikut duduk di sebelah Martha. "Nggak usah dipuji, Lio. Dia akan semakin bangga nanti!" sahut Kalendra yang sepertinya tak suka dengan apa yang istrinya lakuin. "Ada apa sih, Ndra? Kok kamu kek emosi gitu?" tanya Martha. "Gue nggak emosi, hanya saja hal kayak gitu nggak usah diulangi lagi kalau bisa. Aku takut nanti Elsa lihat, atau teman-teman Elsa lihat terus di sekolah dia jadi diejek." "Iya, juga, sih. Habis mau gimana lagi, rasanya tuh panas banget mau meledak kalau lihat mereka," kata Martha. "Oh, iya, tadi aku ke rumah sakit sudah ada orang tua Volkan." "Benarkah?" Kini Liona tampak antusias. "Lalu bagaimana pendapat orang tua Volkan tentang kasus ini?" Liona tampak sangat penasaran. "Ya, namanya orang tua pasti membela anak ya. Lagian kan mereka udah mau punya cucu, pasti ya menerima Rhea dengan lapang d**a. Malahan senang banget," ujar Martha berbohong. "Hah? Yang benar?" Liona dan Kalendra mengucap serempak dengan wajah keterkejutan. "Iya. Malahan mereka sudah mau merencanakan tanggal pernikahan." "Apa?!" Liona dan Kalendra kembali tersentak. Martha memandangi wajah mereka secara bergantian kemudian tertawa terbahak-bahak. "Prank! Hahah!" kata Martha sembari tertawa pecah. "Nggak lucu!" Liona mengambil bantal sofa dan melemparnya ke wajah Martha. "Lihatlah wajah kalian, serius banget. Haha!" "Harusnya aku sudah menduga kalau hal itu tidak akan terjadi. Keluarga Ardonio itu sangat terhormat, nggak mungkin akan menerima anak di luar pernikahan," ujar Kalendra. "Gue juga nggak tahu sih pendapat orang tua Volkan tentang kasus ini, soalnya kami nggak sempat ngobrol tentang ini tadi," kata Martha. "Terus kalian tadi ngobrolin apa? Apa mereka menanyakanku?" tanya Liona penasaran. "Iya, mereka nanyain kamu. Tapi aku bilang kalau kamu sudah move on dari Volkan dan sudah punya pacar baru lagi. Aku bilang pacarmu om om. Hahaha!" canda Martha. "Nggak lucu!" Liona kembali memukul bahu Marthi dengan bantal sofa. "Gue tadi hanya bicara sama Volkan. Gue ngamuk-ngamuk, eh kurang ajarnya si suster datang dan gue diusir. Sialan, kan?" "Hahaha!" Kalendra dan Liona tertawa bersamaan. Mereka saling bercanda seakan melupakan masalah kesedihannya sejenak. Keesokan harinya, bel rumah berbunyi. Martha yang sibuk memasak berteriak pada Kalendra untuk membukakan pintunya. "Ndra, buka pintunya, ada tamu!" teriak Martha. "Kak Andra mungkin lagi mandi. Tadi abis olahraga soalnya!" sahut Liona yang saat itu tengah bermain dengan kucingnya dan Elsa di halaman belakang rumah. "Ya udah lo aja yang bukain. Gue lagi masak, nih!" perintah Martha. "Argh! Siapa sih tamu pagi-pagi begini ganggu aja!" sebal Liona. "Elsa, kamu jaga Pipo, ya. Jangan boleh keluar pagar," perintah Liona. "Siap, Tante Ona!" Liona lantas berjalan menuju ruang tamu dan bergerak ke arah pintu yang terus berbunyi seakan tak sabar untuk dibuka. "Iya, sebentar!" Saat Liona membuka pintu tersebut, alangkah terkejutnya ia mendapati sosok dibalik pintu tersebut. Bahkan ia sampai mematung dan tak bisa berkata-kata. "Ka…."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN