Naik Pitam

1702 Kata
"Eh, stop! Kenapa malah kalian jadi berantem?" Liona mencoba menengahi mereka. "Kakak lo yang mulai duluan tuh!" sahut Martha tak mau disalahkan. Kalendra menggaruk kepala bagian belakangnya sembari menggeleng tanda kepasrahan. "Sudah-sudah! Katanya kalau ngomong nggak boleh kencang-kencang, nanti takut Elsa bangun. Tapi kamu sendiri malah kek toa masjid!" ujar Liona ke arah Martha. "Eh, anda ya … kalau ngomong dijaga tuh mulut!" balas Martha tak terima. Kemudian ia berhenti sejenak. Memperhatikan wajah gadis di depannya itu. "Lo abis nangis, ya?" tanyanya. Liona terdiam seraya menundukkan kepalanya. "Kenapa?" tanya Martha sekali lagi. Tetapi Liona tetap tak mau bilang. Lantas kedua manik Martha beralih ke arah Kalendra. "Ndra, ada apa?" tanyanya. Kalendra menarik napas berat sebelum menjawab, "tadi waktu kami mau menjenguk ke ruangan Volkan, ternyata ada Rhea di dalam sana." "Apa? Nenek lampir itu masih saja dekat-dekat dengan Volkanik?!" Martha menyela dengan suara bernada emosi. "Asal lo tahu, nenek lampir itu meluk-meluk Volkan. Kurang ajar banget, kan…," sahut Liona dengan wajah cemberut. "Kurang asem! Emang ya, nenek lampir itu perlu gue geprek pake palunya Thor!" Martha mengepalkan kedua tangannya. Hendak bergerak keluar. "Eh, mau ke mana?" Kalendra langsung menahan tangannya. "Mau bunuh si Wewe gombel Rhea Reo!" jawab Martha dengan suara ketus. "Udah nggak usah macem-macem. Di sana lagi banyak wartawan." Kalendra memberi jeda sejenak. "Sebenarnya bukan hanya wanita itu yang bikin aku marah. Tapi para wartawan. Bisa-bisanya dia terus mengejar Liona dan mendesaknya dengan pertanyaan-pertanyaan tak mendasar. Aku sampai ngamuk tadi." "Keknya musuh kita makin banyak, ya!" Martha menyemburkan napas kesal. "Semua ini gara-gara si Volkanik tuh. Akar masalahnya adalah dia. Benar-benar kampret!" umpat Martha. Kalendra menoleh ke arah Liona. "Lio, sebaiknya kamu tidur saja. Istirahat, pasti kamu capek," sarannya. "Iya, Lio. Lo tenang saja, biar gue besok yang ngehadapin nenek lampir sama si Volkanik!" sahut Martha dengan suara menyakinkan. "Terserah mau lo apain mereka. Gue nggak peduli lagi!" Dengan suara ketus, Liona berjalan kesal menuju kamarnya meninggalkan kedua kakaknya tersebut. "Kasihan tuh adikmu. Dia nggak hanya lelah fisik tapi juga batin." Kini suara Martha sedikit rendah. Kalendra menganggukkan kepalanya. "Bisa kita urus. Sekarang kita istirahat saja. Aku juga capek sekali seharian ini," kata Kalendra. Lantas ia merangkul Martha dan mengajaknya berjalan menuju kamar. Keesokan harinya, Martha tampak selesai memasak di dapur. Sebuah notifikasi dari ponselnya tiba-tiba terdengar merasuki gendang telinganya. Wanita itu meraih ponselnya dan melihat pesan w******p dari grup yang berisi teman-teman sosialitanya. Martha mulai membuka grup w******p tersebut. Beberapa anggota grup mengirimkan link berita berserta video dan meminta Martha untuk membacanya. Saat Martha membuka link tersebut dan membaca judulnya, langsung membuatnya mengamuk. Apalagi ia juga menonton video yang menampilkan Kalendra tengah membanting kamera milik salah satu wartawan. "Psikopat! Kakak dari Liona diduga gangguan mental dan suka marah-marah. Mungkinkah ini alasan Volkan memilih gadis lain daripada Liona?" Setelah membaca rentetan kata tersebut tentu langsung membuat darah Martha mendidih. "Bangke … siapa yang membuat berita murahan seperti ini!" sungutnya. Lantas ia pergi keluar dapur dan mencari suaminya. "Ndra! Sini! Ndra!" "Ada apa, sih? Pagi-pagi sudah berteriak. Aku lagi olahraga!" ujar Kalendra yang saat itu berada di halaman belakang rumah. "Coba lo liat ini!" Martha menyodorkan ponselnya ke arah sang suami. Kalendra memindai berita dari layar ponsel tersebut. Wajahnya tampak biasa saja seakan tak lagi terkejut. "Kok lo biasa aja, Ndra? Ini mereka lagi memfitnahmu!" heboh Martha. "Terus aku harus bagaimana? Percuma aku melawan mereka juga bakalan memutar balikkan fakta." "Terus gue lihat video lo banting kamera wartawan." Kalendra terdiam beberapa jenak. "Ya mau gimana lagi? Para wartawan sialan itu terus memojokkan Liona dengan pertanyaan sampah!" amuk Kalendra. "Bagus, Ndra! Tapi lo bego!" sahut Martha. "Kenapa memangnya?" "Kenapa lo cuma banting satu kamera, harusnya semua lo banting. Andai gue ada di sana, gue banting semua sekalian orang-orangnya juga!" sungut Martha. Darahnya benar-benar mendidih saat ini. "Gue nggak bisa sabar lagi, Ndra. Mereka sudah keterlaluan!" "Sudahlah, biarkan." "Tapi, Ndra … citra kita benar-benar buruk di mata masyarakat." "Gue nggak peduli kalau citra gue buruk di mata dunia, asal jangan ada yang nyakitin Liona. Dah itu aja!" ujar Kalendra tegas. Tanpa mereka ketahui, Liona tengah mendengar pembicaraan mereka dari balik jendela kamarnya. Dan itu membuat Liona meneteskan air matanya. "Gue juga nggak mau Liona kenapa-kenapa, karena itu gue mau melakukan sesuatu," ujar Martha. "Kamu mau apa?" "Pokoknya lihat saja nanti. Kalau gue nggak berhasil membuat si Volkanik dan wanita sinting bernama Rea reo itu membersihkan nama kita, maka namaku bukan Martha Martina." Martha memicingkan mata penuh ambisi. Siang itu Martha tampak berkunjung ke rumah sakit tempat Volkan dirawat. Wanita itu hanya sendirian, pergi tanpa bilang pada Kalendra maupun Liona. "Bangke, kenapa ada keluarga si Volkanik. Dan wanita sinting Rhea Reo juga ada di sana. Sialan! Mending masuk nanti aja deh." Saat Martha hendak putar balik, tiba-tiba Volkan melihatnya dan menghentikan wanita itu. "Martha!" panggil Volkan, yang langsung membuat orang-orang di sekelilingnya menoleh ke arah pintu. "Sial! Si kutu mermaid ngapain manggil di saat yang tidak tepat!" Martha bergumam sembari menepuk jidatnya. Ia masih belum menoleh ke belakang. "Martha!" Volkan memanggil sekali lagi. Dengan terpaksa wanita itu memutar kepala menoleh ke belakang. Meringis saat menatap ke arah kedua orang tua Volkan. Namun kembali judes saat menatap Rhea dan Volkan. "Martha, kapan kamu datang? Ayo masuk!" Lisa, ibunya Volkan mempersilakan Martha untuk masuk ke dalam. Dengan langkah canggung, akhirnya Martha mengerakkan kakinya masuk ke dalam. "Di mana Kalendra?" Zach Ardonio, yang merupakan ayahnya Volkan beratnya pada Martha. "Um … Kalendra nggak ikut, Om. Soalnya anak kami lagi sakit. Jadi dia jagain di rumah," kata Martha dengan suara canggung. "Elsa sakit?" Volkan menyahut bertanya. "Sakit apa? Nggak parah, kan?" Martha langsung memicingkan mata ke arahnya tanpa menjawab pertanyaannya. Seakan merasa geram dengan pria itu. Tetapi ia coba kontrol emosinya karena ada kedua orang tuanya. "Sakit apa putrimu?" Kini Lisa bertanya dengan lembut. "Cuma demam, Tante," jawab Martha. "Semoga Elsa lekas sembuh, ya!" ujar Lisa sembari mengelus bahu Martha. "Kalau Liona? Nggak ikut ke sini?" Zach kembali bertanya. "Iya, di mana Liona?" sahut Volkan. Dari suaranya ia sangat mengharapkan kedatangan Liona. Ditambah kepalanya celingukan memperhatikan pintu berharap kekasihnya itu menampakkan dirinya. Martha memperhatikan wajah mereka sejenak dan berakhir pada wajah Rhea yang hanya terdiam membisu. Ingin sekali ia menjambak rambut wanita itu. "Ehm. Liona lagi patah hati. Mungkin kalian sudah tahu kenapa," jawab Martha dengan suara judes. Mereka langsung terdiam seraya menunduk. "Om, Tante, boleh saya ngobrol sama putra om yang tersayang ini?" Nada suara Martha sangat rendah, tetapi terdengar sangat mengerikan bagi Volkan. "Oh tentu. Silakan saja. Kami juga akan keluar sebentar untuk menemui dokter," kata Lisa. "Ayo, Pa!" Lisa mengajak suaminya untuk keluar. Zach menganggukkan kepalanya dan mulai berjalan keluar bersama Lisa. Sementara Rhea buru-buru membuntinya lantaran ia takut melihat wajah Martha yang terus mengintimidasinya. "Dih, mental cengeng. Bisa-bisanya dia keluar. Padahal gue mau cabik-cabik mukanya lalu kukasih makan buaya!" gerutu Martha ke arah Rhea. Sementara Volkan yang mendengarnya langsung meneguk saliva. Ia sudah takut duluan berada di ruangan bersama Martha. Ia yakin, kali ini wanita itu akan menghabisinya. Tatapan setajam pedang berpindah arah menghujani wajah Volkan. Volkan cengengesan. Memasang wajah lugu sekaligus gemetaran. "A … ada apa ya ibu Martha yang cantik? Kenapa mau berbicara dengan saya?" tanya Volkan basa-basi. Martha terus memicingkan mata ke arahnya. "Mar, kamu hari ini cantik banget. Pasti Andra tergila-gila denganmu. Sebaiknya kamu cepat temui Andra sekarang sebelum kencantikanmu itu menghilang." "Heh, kutu ayam!" Martha berteriak sembari menggebrakkan tangannya di meja samping ranjang. "Elo yang akan hilang dari muka bumi ini!" Volkan menelan ludah berkali-kali. "Mar, aku lagi sakit. Dosa loh mengintimidasi orang sakit. Nanti kamu dimarahin dokter!" "Engga peduli! Gue nggak takut sama siapa pun! Gue cuma mau pertanggungjawaban dari elo!" "Pertanggungjawaban apa? Emang Lo lagi hamil?" "Bego! Pacar Lo tuh yang hamil!" "Hah? Liona hamil?" Kedua mata Volkan berbinar-binar. "Elo dulu sekolah di mana sih, Kecoa gepeng? Bukan Liona yang hamil, Bego … tapi si Rhe Reo! Gara-gara elo hamilin dia, semua keluarga gue jadi kena getahnya!" "Mar, aku kan udah bilang sama kamu kalau aku nggak ngehamilin siapa pun. Kok kamu nggak percaya banget sih sama aku?" "Muka lo itu macam buaya buntung mana mungkin bisa dipercaya!" "Kamu jahat banget sama aku." "Udah, deh. Nggak usah cengeng kek cewe jadi-jadian. Dan nggak usah sok sopan sama gue. Pake bahasa aku kamu segala. Biasanya juga manggilnya mie instan." "Oh iya, Mie Instan. Lo jangan marah-marah mulu, kalau lo marah terus lo makin mirip sama mie instan rasa ayam geprek." "Bangke … nih anak!" Martha semakin emosi. "Mar, ini rumah sakit loh! Dokter bisa aja datang ke sini dan mengira kamu salah masuk rumah sakit." "Salah masuk gimana?" "Soalnya ini rumah sakit diperuntukkan bagi orang sakit yang otaknya masih normal, bukan sakit jiwa." "Kurang ajar lo, Kodok sawah! Lo ngatain gue gila—" "—Tolong!" Volkan tampak berteriak. Tiba-tiba seorang perawat datang menemuinya. "Suster tolong saya!" pinta Volkan. "Kenapa anda berteriak? Apa wanita ini hendak melukai anda?" tanya perawat wanita itu. "Eh, suster kalau ngomong jangan sembarangan, ya! Dia ini calon adik ipar saya, mana mungkin saya mau berbuat jahat dengannya. Iya, kan, Volkan!" Martha menyentuh bahu Volkan tetapi dengan cengkraman yang erat seakan mengisyaratkan sesuatu. "I-iya … Sus. Dia calon kakak ipar saya," kata Volkan dibawah tekanan. "Terus kenapa anda minta tolong tadi?" tanya Suster lagi pada Volkan. "Um … saya hanya ingin istirahat, jadi saya minta untuk tidak diganggu. Itu saja, Sus," ucap Volkan. "Kalau begitu Mbak tolong keluar, ya! Pasien sedang ingin istirahat," pinta suster tersebut pada Martha. "Kan saya bilang dia calon adik ipar saya, jadi saya bebas dong mau nemenin dia," sanggah Martha. "Baru calon, kan, Mba? Itu artinya masih ada kemungkinan itu tidak terjadi. Jadi, demi kebaikan pasien, Mba dipersilahkan pergi. Mari!" Suster tersebut mengantarkan Martha untuk keluar ruangan. "Kurang ajar si Volkanik, bisa-bisanya dia punya cara untuk ngusir gue!" gumam Martha. "Mba ngomong sesuatu?" tanya Suster di sebelahnya. "Enggak, saya lagi cuma bersenandung tadi. Hehe …," kata Martha dengan senyuman sumbang. Martha kemudian keluar rumah sakit dengan segudang emosi. Namun kini emosinya semakin meledak saat melihat Rhea sedang diwawancarai oleh para wartawan di area parkir. "Ular betina itu pasti memulai sandiwara baru. Lihat saja apa yang akan gue lakukan padanya dan juga para media sialan itu!" Martha berjalan tergesa-gesa menghampiri kerumunan tersebut dengan kedua tangan yang mengepal sempurna. "Woy!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN