Kembali Terluka

1641 Kata
"Ndra! Kenapa lo pake bilang segala sama adik lo? Bukannya lo sendiri yang mewanti-wanti gue untuk nggak kasih tahu Liona dulu soal kondisi Volkan?" sahut Martha tak habis pikir. "Sori, keceplosan tadi!" Kalendra menggigit bibir bawahnya. Liona menggelengkan kepalanya tak menyangka. "Kalian tahu Volkan kecelakaan tapi nggak ngasih tahu gue? Kenapa?! Lo pikir gue ini siapa sampai nggak berhak tahu soal kondisi Volkan?" Liona mulai mengamuk seraya membocorkan air matanya. "Bukan begitu, Lio. Kami hanya nggak ingin kamu merasa semakin sedih." Kalendra mendekat ke arah Liona dan mencoba menenangkannya. "Tapi ini tentang Volkan, bukan orang lain! Kamu tahu seberapa penting Volkan di hidupku?" Liona semakin membocorkan tangisnya. "Lio—" Liona menepis tangan Kalendra. "Tega sekali kamu, Kak!" Liona membalikkan tubuh, berjalan menuju kamarnya dan mengambil tas kecilnya lantas kembali ke ruang tamu. "Kamu mau ke mana?" tanya Kalendra. "Bukan urusan kalian!" Liona berjalan menabrak tubuh Kalendra dan bergerak menuju pintu keluar. "Ndra!" Martha tampak cemas. Kalendra dengan cepat mengejar Liona. "Liona, kamu mau ke mana?" Kalendra berhasil menarik lengan adiknya. "Gue mau jenguk Volkan di rumah sakit!" "Ya udah, aku anter. Aku juga mau ke sana." "Enggak usah!" "Liona, jangan keras kepala. Pergi sama aku atau tidak sama sekali!" tegas Kalendra. Liona mengerjap. Meloloskan banyak air mata yang tertampung di kelopak. "Oke, sekarang kamu tenangin diri kamu dulu, ya?" Kalendra mendekap tubuh sang adik untuk diberikan ketenangan. Tangannya juga mengelus rambut Liona sembari menyemburkan napas berat. "Sekarang udah tenang?" Kalendra merenggangkan tubuh Liona dari pelukannya. "Bagaimana aku bisa tenang jika belum lihat kondisi Volkan?" Liona kembali menangis. Kalendra menarik napas berat. Lantas menoleh ke arah Martha yang berdiri di ambang pintu. "Kamu jaga Elsa, ya!" kata Kalendra. Lantas ia merogoh sakunya, mengeluarkan kunci mobil dan menekan tombolnya sehingga mobil yang terparkir di sana tampak merespon dengan suara dan sinar cahaya. "Ayo masuk mobil!" ajak Kalendra pada Liona. Lantas kedua matanya itu kembali melirik ke arah istrinya sejenak. "Kami pergi dulu, ya!" "Ya udah hati-hati!" kata Martha. Kalendra langsung membawa mobilnya meninggalkan pekarangan rumah setelah. Sesampainya di rumah sakit, Liona langsung keluar dari mobil dengan terburu-buru. Berjalan masuk begitu saja dan menuju ke area resepsionis untuk bertanya letak ruangan tempat Volkan dirawat. "Liona, pelan-pelan!" tutur Kalendra seraya berjalan tergesa-gesa membuntutinya. Liona tak mengindahkan peringatan kakaknya tersebut dan terus berlari. Sesampainya di ruangan tempat inap Volkan, ia membuka pintu tersebut dan seakan mendapat serangan jantung secara tiba-tiba. Liona terkesiap, berdiri mematung saat melihat Volkan tengah dipeluk oleh seorang wanita, yang bisa dipastikan itu adalah Rhea. Air mata kembali mengalir dari sudut pupil Liona. Meneguk ludah berkali-kali dengan perasaan hancur. Sebuah tas kecil yang dipegangnya merosot dari tangannya begitu saja, hingga menimpa lantai dan menimbulkan bunyi gebrakan. Suara itu berhasil membuat Volkan dan Rhea menoleh ke ambang pintu seketika. "Liona?" Volkan langsung menghempaskan pelukan Rhea dengan kasar sehingga wanita itu terjatuh. "Aduh!" Rhea tampak mengaduh. Liona menggelengkan kepalanya tak menyangka. Keputusannya datang ke rumah sakit untuk menjenguk Volkan adalah sebuah kesalahan besar baginya. Kini ia melihat orang yang dicintainya tengah dipeluk oleh gadis lain. Tentu saja itu membuatnya murka sekaligus sedih. Liona menarik napas berat, menahan emosi dan mengerjapkan kedua matanya. Lantas ia melirik tas kecilnya yang ia jatuhnya untuk ia pungut kembali. Setelah itu, ia membalikkan tubuh dan berjalan pergi dengan perasaan terluka. "Liona? Kenapa kamu balik lagi?" Kalendra yang melihatnya menjadi bingung. Apalagi saat menatap wajah adiknya yang dibasahi air mata. "Liona, kamu …." Tangis Liona semakin kencang. Ia terus berjalan melewati kakaknya begitu saja dan tak mengindahkan ucapannya. Kalendra yang penasaran berjalan mengecek ke dalam ruangan. Baru sampai di depan pintu ia sudah emosi saat melihat Rhea yang berada di ruangan Volkan. Sekarang ia tahu kenapa adiknya itu memilih untuk putar balik daripada menjenguk Volkan. Kalendra ikut memutar jalan mengejar Liona. Sementara Volkan merasa senang sekaligus khawatir melihat Liona. Ia berpikir pasti Liona akan tambah marah saat melihat Rhea memeluknya tadi. "Liona!" Volkan mencoba mencabut selang infus yang mengikat di tangannya. "Volkan, apa yang kamu lakukan?" Rhea mencoba menghentikan. "Diam! Semua ini gara-gara kamu! Jika saja kamu tidak datang, pasti Liona akan masuk ke sini tadi!" Volkan memarahi Rhea, tetapi suaranya itu masih tak mampu terdengar tinggi karena masih lemah. "Volkan, kamu masih sakit. Kamu mau ke mana?" tanya Rhea dengan wajah kepanikan. "Aku mau mengejar Liona, kekasihku!" ujar Volkan setelah berhasil mencabut infus dari tangannya. Kini pria itu mencoba beringsut dari ranjang. Tetapi saat hendak berdiri, ia hampir terjatuh. "Volkan, hati-hati," ucap Rhea sembari menolongnya. "Kamu masih lemas. Kamu perlu istirahat!" imbuhnya. "Aku bilang diam. Tidak perlu mencemaskanku!" bentak Volkan. "Volkan, kenapa kamu bersikap seperti itu padaku? Aku ini calon ibu dari anakmu." Rhea membuat suara layaknya wanita yang tersakiti sembari tangannya mengelus perutnya. "Jangan mimpi kamu! Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan anak yang kamu kandung itu! Lagi pula, entah itu anak beneran atau bohongan, aku sama sekali tak percaya denganmu!" Volkan berkata tegas. "Sekarang minggir!" Volkan mencoba berjalan walau dengan langkah terseok-seok. Sesampainya di luar kamar inap, ia melihat Liona dan Kalendra yang masih berdiri. Mereka tampak berpelukan. "Liona!" Volkan mencoba memanggilnya. Liona menoleh ke arahnya. Namun hanya rasa kebencian yang membara saat di benak jiwanya. "Kakak, ayo kita pulang saja!" pinta Liona dengan wajah emosi. Kalendra mengangguk. "Liona! Kamu mau ke mana? Tunggu … jangan pergi, Liona!" Volkan hendak mengejar tetapi kakinya itu tersandung dan jatuh. "Volkan!" Kalendra tampak panik. Begitupun dengan Liona. Liona hendak pergi menolongnya, tetapi tiba-tiba di belakang Volkan terdapat Rhea yang lebih dahulu menolongnya. Hal itu membuat Liona mengurungkan niatnya. Ia kembali sedih. Lantas menarik tangan Kalendra dan mengajaknya pergi. "Liona, jangan pergi!" isak Volkan yang mulai membocorkan air matanya. Sesaat kemudian dokter datang dan tergesa-gesa ke arah Volkan. "Bagaimana bisa seperti ini?" tanya Dokter heran. "Tadi saya sudah melarangnya pergi tapi dia tetep keras kepala, Dok!" ujar Rhea. "Dokter, aku ingin pergi. Aku ingin menemui kekasihku, Liona. Tolong biarkan aku pergi, Dok!" pinta Volkan dengan iba. "Anda masih sakit, Tuan. Anda perlu istirahat yang cukup," kata Dokter. "Tidak, Dok. Tolong biarkan aku pergi." Meskipun Volkan merengek tangis, tetapi Dokter tak mengindahkan permohonannya tersebut. Dokter malah membawanya masuk kembali ke dalam ruangan. Sementara itu, Liona dan Kalendra tampak sudah sampai di luar rumah sakit. Tetapi mereka dikejutkan oleh berbagai wartawan yang tiba-tiba menyerbunya dengan berbagai pertanyaan. Seakan para wartawan tersebut serupa sekawan zombie yang melihat daging segar untuk disambar. "Nona Liona, bagaimana kabar Tuan Volkan saat ini?" "Apakah anda baru saja menjenguk mantan kekasih anda?" "Kami dengar Nona Rhea juga ada di dalam, apakah kalian saling bertemu?" "Apakah kalian bertengkar?" Semua pertanyaan wartawan tersebut membuat Liona semakin emosi. "Hentikan! Hentikan semuanya!" Kalendra mencoba melindungi adiknya dari serbuan wartawan. Liona terus menangis dan mencoba mencari jalan keluar dari kerumunan. Tetapi para wartawan tersebut seakan tak akan puas sebelum mendapatkan jawaban apa yang mereka inginkan. "Scurity, tolong usir mereka!" pinta Kalendra meminta bantuan scurity. Dua orang pria berseragam putih langsung bergerak dan mencoba mengamankan para wartawan. "Tolong berikan kami jalan!" bentak Kalendra yang semakin emosi. "Kalian mau minggir atau gue buang barang-barang kalian!" ancamnya. Para wartawan tersebut seakan tak mengindahkan peringatan Kalendra dan terus menodongkan alat rekam dan juga mic ke wajah Liona. Kalendra yang habis kesabarannya mulai naik pitam. Ia merebut kamera salah satu wartawan dan membantingnya hingga pecah begitu saja. "Ini yang kalian mau, 'kan? Biarkan kami pergi atau kubanting semua barang-barang kalian!" teriak Kalendra. Mereka kini mulai mundur beberapa langkah. Beberapa juga mulai merekam aksi Kalendra yang marah-marah. "Lihatlah pemirsa, tindakan dari kakaknya Liona sangat tidak pantas. Dia baru saja membanting salah satu kamera milik wartawan. Ini benar-benar tindakan yang tidak bermoral. Jika kakaknya pemarah seperti ini, sepertinya itu yang menyebabkan Volkan tidak betah menjalin hubungan dengan Liona dan memilih gadis lain untuk dikencani." Kini mereka mulai berbicara yang tidak-tidak tentang Liona dan Kalendra. Kalendra yang semakin tersulut emosinya hendak menghajar wartawan yang memberitakan buruk tentangnya, tetapi Liona langsung menahannya. "Kak, sebaiknya kita pergi saja!" ajak Liona. Kalendra tak tahan melihat wajah Liona yang terpuruk itu terus tersorot oleh lensa kamera. Ia lantas membawa Liona pergi dari sana. Dengan bantuan dua scurity tadi, akhirnya kini Kalendra berhasil berada di mobilnya. Pria itu langsung menyuruh Liona masuk dan ia segera masuk ke dalam mobil juga dan membawa mobilnya tersebut meninggalkan area parkir. Liona menangis tersedu-sedu di dalam mobil. Melihat sang adik menangis, membuat Kalendra ikut menitikkan air mata. Tangan kirinya meraih kepala Liona dan merapatkannya pada bahunya. Mengelus rambut Liona dan membiarkan sang adik menangis di dadanya. Sementara tangan kanannya sibuk mengendalikan kemudi mobil. Sesampainya di rumah, Volkan membimbing Liona untuk masuk ke dalam kemudian mengunci pintu rumah rapat-rapat. "Sudah cukup nangisnya." Kalendra mengelus rambut Liona sembari menenangkannya. "Tega banget Volkan sama aku, Kak. Aku sangat mencemaskan keadaannya saat mendengar dia kecelakaan, tapi … dia malah berduaan dengan nenek sihir!" Liona menangis tersedu-sedu. "Ya mungkin karena wanita itu saja yang kegatelan," kata Kalendra. "Kok kamu malah membela Volkan, sih!" Liona berkata dengan suara sedikit tinggi. "Siapa yang bela Volkan? Aku nggak sedang membelanya. Aku hanya—" "Ada apa, sih, ribut-ribut?" Tiba-tiba Martha keluar dengan wajah yang mengantuk dan rambut berantakan. "Astaga!" Kalendra dan Liona kaget bersamaan. "Eh, jangan teriak. Elsa baru saja tidur. Jangan sampai bangun lagi!" ujar Martha. "Astaga, Martha. Aku kira kamu tadi kuntilanak," canda Kalendra. Martha bergerak ke arah suaminya dan menepuk bahunya. "Sembarangan! Dosa lo, istri sendiri lo katain kuntilanak!" sungut Martha. "Ya habis rambutmu berantakan begitu," kata Kalendra. "Heh, gue habis nidurin anakmu tuh rewel banget. Kepala gue pusing sampe acak-acakan begini!" Kini suara Marthi juga bernada tinggi. "Dia juga anakmu, Sayang," balas Kalendra. "Lagian kamu kalau keluar ya rapiin dulu rambutnya biar nggak berantakan," saran Kalendra. "Oh, jadi secara tidak sengaja lo mulai merasa aku ini udah jelek, iya? Gue udah nggak cantik lagi gitu maksud lo? Di mana janji manis lima tahun yang lalu yang katanya mau menerima gue apa adanya!" sungut Martha. Wanita satu ini jika sudah murka tidak akan ada habisnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN