Setibanya di klinik, Kalendra dan Martha langsung membawa masuk putrinya. Mereka berjalan menuju meja resepsionis untuk mengisi administrasi dan mengambil daftar antrian.
"Bu, bisa tolong saya dicepetin antriannya nggak? Soalnya anakku ini demam tinggi banget!" pinta Martha pada petugas resepsionis.
"Ibu silakan tunggu dulu sesuai antrian, ya! Soalnya Ibu baru datang dan belum membuat janji terlebih dahulu sebelumnya sama dokter, jadi mau tidak mau Ibu harus mengantri," jelas petugas resepsionis.
"Tapi anak saya—"
"Sudahlah …." Kalendra memotong perkataan Martha yang belum usai. Tangan kanannya itu mengalung di bahu Martha dan mengelusnya seakan membuat sang istri mengerti. "Kita ikuti aturan saja," bisik Kalendra pada wanita di sebelahnya.
"Tapi, Ndra …."
"Sudah, ayo duduk di ruang tunggu!" Kalendra menuntun istrinya tersebut menuju bangku-bangku yang ditata rapi di ruangan tunggu.
"Sialan banget penjaga resepsionisnya nggak bisa diajak kompromi!" Martha menggerutu sembari mendudukkan tubuhnya dengan kasar.
"Lagian kamu juga aneh banget. Semua hal itu ada aturannya, kamu jangan asal ngerubah aja." Kalendra tampak menceramahi istrinya.
"Sudah diam, Ndra. Kalau mau ceramah di Masjid aja sana atau di Gereja!" sinis Martha.
Kalendra langsung meneguk saliva terdiam.
"Aduh, sampai kapan nih? Mana antrian masih panjang banget," keluh Martha sembari melihat orang-orang yang duduk di kursi tersebut, yang pasti mereka lebih dulu datangnya dari pada dia.
Kalendra menyemburkan napas pasrah.
Tiba-tiba di belakang mereka terdapat beberapa ibu-ibu yang sedang bergosip.
"Eh, tau nggak? Artis yang gagal nikah itu? Katanya dia punya selingkuhan," kata salah satu dari mereka.
"Oh, maksudmu Volkan Ardonio? Iya, aku kemarin juga dengar beritanya!" seru ibu lainnya.
"Iya, loh. Beritanya di mana-mana. Katanya mau nikah sama pacarnya tapi gagal gara-gara ada cewe lain yang datang dan ngaku hamil anaknya!"
"Cewe itu kan yang main film sama dia. Siapa namanya, lupa aku."
"Rhea. Dia kayaknya artis baru deh. Ah, sudah pasti mah mereka pasti selingkuh. Lagian si Rhea juga cantik dan seksi, sih."
"Ya, jelas lah. Namanya artis pasti penampilan dijaga. Cantik, seksi, elegan, yang jelas nggak akan setara deh dibandingkan sama kita-kita yang badannya kayak ikan paus ini. Hahaha!"
Mendengar perbincangan mereka tentu saja membuat telinga Martha terasa tersengat. Sementara Kalendra malah ikut tertawa kecil.
"Ndra, lo kok ikut tertawa sih?" Martha mencubit paha suaminya.
Kalendra mendekatkan wajahnya pada telinga Martha. "Soalnya mereka lucu kalau ngegibah, haha!"
Martha langsung menoyor kepala Kalendra untuk menjauh dari wajahnya. "Adik lo yang digibahin lo malah santai aja!"
"Terus gimana nasib pacarnya, ya? Jadi kasihan deh." Kembali mereka melanjutkan gosipnya.
"Ya pasti nangis lah, ya! Bahkan kalau dalam film-film sampai bunuh diri gara-gara ditinggal sama orang yang lagi sayang-sayangnya."
Mendengar kalimat tersebut langsung membuat detak jantung Kalendra seperti hendak loncat. Tiba-tiba rasa cemas menyerbu pikirannya.
Martha menoleh ke arah suaminya yang wajahnya mendadak pucat. Lantas ia menggenggam tangan suaminya tersebut sembari berkata, "Jangan mikir macem-macem, Ndra. Yakin saja kalau Liona nggak akan melakukan hal itu."
Kalendra mengangguk canggung.
"Eh, lagi pada ngapain sih, Bu!" Seorang wanita yang baru datang langsung duduk dan ikut nimbrung bersama para sekumpulan ibu-ibu di belakang sana.
"Ini loh lagi gibahin artis yang gagal nikah." Dengan entengnya salah satu dari mereka menjawab demikian.
"Oh, si Volkan itu, ya?"
"Iya. Sayang banget. Padahal dia idolaku."
"Aku juga nge-fans banget sama dia. Eh, udah tahu berita terbarunya belum?"
"Berita apa lagi?"
"Tadi malam Volkan dikabarkan mengalami kecelakaan mobil!"
"Apa?!" Kalendra dan Martha langsung terkesiap sembari menoleh ke belakang menatap mereka.
***
"Astaga! Kenapa pikiranku menjadi kacau seperti ini?" Liona mengacak rambutnya bagai orang gila. Ruang kepalanya terus terisi bayangan sosok Volkan.
Kedua maniknya itu melirik ke arah benda pipih berteknologi canggih yang tergeletak di atas nakas. Ia terus mengamatinya. Detik berikutnya ia meraih ponsel tersebut. Menekan tombol power sehingga layar ponsel tersebut menyala.
"Kenapa tidak ada pesan atau panggilan dari Volkan? Apa dia sudah menyerah begitu saja?" Liona tampak berpikir keras. "Apa aku semalam terlalu kasar padanya saat berbicara di telepon? Aku sampai bilang padanya untuk mampus saja. Argh...!"
Liona melemparkan ponselnya ke arah bantal. Lantas ia mengambil selimut dan meremasnya.
"Argh! Kenapa juga aku memikirkan pria yang sama sekali tidak peduli denganku?"
Liona membanting tubuhnya di kasur.
"Huft … dengar Liona! Kamu itu gadis yang kuat dan mandiri. Kepergian Volkan tidak ada artinya bagimu. Kamu cantik, pekerja keras, karirmu juga bagus, pasti ada banyak cowok-cowok bule yang lebih tampan dari Volkan yang bisa mencintaimu dengan tulus nanti." Sepanjang hari Liona hanya mengoceh pada dirinya sendiri. Terus menceramahi dirinya untuk melupakan sosok Volkan dari hidupnya, tetapi kenyataan hatinya itu berbanding terbalik. Semakin ia memikirkannya, semakin ia mencemaskannya.
Suara kucing yang mengeong tiba-tiba langsung membuyarkan lamunan gadis itu. Liona bangkit dari ranjang, melihat seekor kucing peliharaannya yang menatapnya dengan perasaan iba.
"Pipo, kamu lapar?" tanya Liona pada kucing itu. Lantas ia mengangkat kucing tersebut dan menciumnya.
Pipo adalah kucing kesayangan Liona. Bulunya lembut dan berwarna putih bersih. Sementara kedua matanya memiliki warna yang berbeda, yang satu biru dan yang satu kuning. Kucing yang berjenis kelamin laki-laki itu merupakan kucing anggora setengah persia. Kucing itu adalah hadiah dari Volkan saat pertama kali mereka berpacaran.
"Kamu lapar, ya? Maaf, ya, aku lupa ngasih kamu makan. Sebentar, aku siapkan makananmu dulu," ucap Liona sembari mengelus pucuk kepala kucing kesayangan tersebut.
Liona kemudian membawa kucing tersebut berjalan menuju kandangnya yang berada di balkon dekat kamarnya. Ia melihat tempat makan kucing tersebut yang masih penuh dengan makanan.
"Lah, ini masih banyak, kok." Liona kembali menatap kucing yang digendongnya. Wajah kucing itu tampak melas sekali. "Kamu udah kenyang, 'kan? Tapi kenapa wajahmu melas begini?" tanya Liona dengan raut wajah kebingungan.
Detik berikutnya telinga Liona merangsang suara di ruang tamu sana.
"Itu pasti mereka sudah datang," gumam Liona. Lantas gadis itu berjalan menuju ruang tamu. Ia melihat Kalendra dan Martha yang sudah datang dan mereka tampak berbincang dengan berbisik.
"Kalian sudah pulang?" tanya Liona sembari melangkahkan kaki mendekat. "Gimana hasil pemeriksaannya? Elsa baik-baik saja, 'kan?" sambungnya.
"Syukurlah hanya demam saja. Dokter juga sudah memberinya obat. Nih!" seru Kalendra sembari menunjukan kantong obat yang dibawanya.
Liona mendekati Martha dan mengelus kening Elsa. "Demamnya udah turun, ya?"
"Ehm." Martha menganggukkan kepala. Lantas maniknya menatap seekor kucing yang Liona gendong. "Anakmu kenapa tuh?" tanyanya.
Liona menoleh ke arah kucingnya. "Nggak tahu, nih. Aneh banget. Wajahnya kayak melas gitu."
"Udah kamu kasih makan belum?" tanya Martha.
"Tempat makannya sih masih penuh. Lihat, perutnya juga udah kenyang gini kayaknya," kata Liona sembari memeriksa perut kucingnya.
"Tadi malam sudah aku kasih stok banyak makanan di tempat makannya. Buat jaga-jaga, kalau kamu lupa ngasih makan," sahut Kalendra.
"Sejak kapan Liona lupa ngasih makan anak kesayangan itu? Beda sama Elsa. Kalau aku tinggal, aku wanti-wanti dia untuk kasih Elsa makan, tetap saja dia lupa," celetuk Martha.
Liona memutar mata malas jika sudah mendengar ocehan dari kakak iparnya itu.
"Kak, aku mau ke dokter hewan, ya," ucap Liona kemudian pada Kalendra.
"Ngapain? Kan aku sudah bilang, jangan keluar dulu. Banyak banget wartawan di luar sana yang cari-cari kamu," kata Kalendra. Lantas ia mengulurkan tangannya dan mengelus kucing Liona. "Aku rasa Po baik-baik saja, kok. Nanti juga dia seger lagi. Makanya ... daripada kamu bengong mikirin Volkan terus, lebih baik kamu ajak main Po," saran Kalendra.
"Siapa juga yang mikirin buaya buntung itu!" sungut Liona saat mendengar nama Volkan. "Aku udah nggak peduli lagi sama tuh orang. Walaupun dia mampus kecemplung neraka pun aku udah nggak peduli!"
"Eh, kalau ngomong dijaga. Ucapan itu bagian dari doa, loh. Jangan bilang seperti itu sama Volkan," kata Martha dengan nada suara rendah.
Liona mengerling heran dengan perubahan sikap kakak iparnya itu.
"Sejak kapan kamu jadi bersimpati sama si buaya itu? Bukannya selama ini kamu selalu berada di garda terdepan kalau soal caci mencaci Volkan?" Liona memberi tatapan menyelidik.
Martha meneguk ludah. "Ya … ya 'kan kita nggak bisa menebak umur, Lio. Bisa saja orang yang sekarang sehat besoknya langsung jadi mayat. Kan umur nggak ada yang tahu. Makanya, selagi masih hidup, jangan disumpahin untuk mati," ucap Martha yang semakin membuat Liona mengernyitkan dahi.
"Tunggu … tunggu … kok jadi bahas soal umur dan mayat sih. Memangnya apa yang terjadi?" tanya Liona.
Martha dan Kalendra saling pandang sejenak.
"Udah, kalian nggak usah berdebat." Kalendra memutus perbincangan mereka. "Sayang, sebaiknya kamu tidurkan Elsa di kamar," perintahnya pada sang istri.
"Liona kamu juga main gih sana sama Po, atau ngapain gitu biar kamu punya kesibukan, asal jangan keluar rumah!" perintah Kalendra lagi pada Liona.
Liona menyemburkan napas pasrah. "Ya udah deh. Aku masuk kamar saja." Dengan wajah kecewa, Liona membalikkan tubuh dan berjalan menuju kamarnya lagi.
Martha langsung merapatkan tubuhnya ke arah Kalendra. Ia berbisik, "Ndra! Sepertinya kucing itu juga merasa sedih deh soal Volkan yang kecelakaan. Elsa juga tiba-tiba demam, 'kan. Terus Elsa juga menyebut nama Volkan terus. Gue heran deh, hal yang berkaitan sama Volkan kenapa pada peka banget, ya. Seakan mereka ikut merasakan penderitaan Volkan."
"Tapi Liona sepertinya biasa aja tuh. Dia malah emosi mulu sama Volkan," balas Kalendra dengan suara berbisik.
"Lo kayak nggak tahu adikmu saja. Dia bilangnya benci, tapi gue yakin, hatinya pasti merasa sedih dan cemas. Apalagi kalau tahu Volkan kecelakaan, pasti dia makin hancur."
"Makanya … aku bilang sama kamu untuk tidak cerita dulu sama Liona terkait kondisi Volkan saat ini. Dia bisa sangat sedih lagi nanti. Luka kemarin belum sembuh masa mau ditambah luka baru."
"Iya … iya, sebisa mungkin gue akan tutup mulut!" ucap Martha seraya menunjukkan gerakan mulutnya dikunci.
***
Malam itu Martha tampak bermain handphone di sofa. Detik selanjutnya tampak Kalendra keluar dari dalam sembari berbicara di telepon bersama seseorang.
"Iya, aku ke sana sekarang." Kalendra menutup panggilannya.
"Siapa?" tanya Martha.
"Orang tua Volkan. Saat ini mereka masih belum sampai di Indonesia karena ada masalah sama penerbangan," jawab Kalendra.
"Gila! Anaknya sekarat di rumah sakit tapi mereka masih di Amerika?!" Suara Martha terdengar berteriak.
"Hust … pelankan suaramu. Nanti Liona bisa dengar," pinta Kalendra dengan suara rendah. Ia menarik napas berat. "Mereka sekarang sudah di Singapura. Tapi mereka nyuruh aku untuk ngecek kondisi Volkan. Lagipula, aku juga penasaran bagaimana kondisinya." Kalendra memberi jeda sejenak. "Kamu tolong jaga Elsa sama Liona, ya. Kayaknya aku bakal pulang telat nanti."
"Tapi, Ndra? Nanti gimana kalau Elsa nangis nyariin kamu? Masa kamu mau lama-lama di rumah sakit?" Martha tampak protes.
"Aku sudah janji sama ayahnya Volkan untuk jaga Volkan."
"Kan udah ada perawat sama dokter? Lagian pasti manager Volkan juga ada di sana. Volkan itu artis, banyak media juga di sana pasti yang kepo kondisinya. Ngapain pake dijagain segala?"
"Kamu 'kan tahu sendiri, kalau ayahnya Volkan itu bos di kantorku. Masa aku mau melanggar janji yang sudah aku ucapkan sendiri? Lagian Volkan itu juga temanku. Jadi, sudah sepatutnya aku menjenguknya."
"Jenguk siapa?" Liona tiba-tiba datang dan bertanya.
"Jenguk Volkan! Dia habis kecelakaan." Tanpa sengaja Kalendra mengucap demikian.
"Apa?!" Liona terkesiap. Matanya menjadi sebesar piring dan mulutnya menganga. "Volkan kecelakaan?"