Tragedi

1673 Kata
Volkan ingin menghantam setiap wajah mereka, tetapi itu hanya akan memperburuk situasi saja. Lagi pula, saat ini dirinya sendiri sedang kehilangan kebugaran. Volkan memilih keluar dari klub malam. Matanya menyapu pandang. Jalan raya tampak sudah mulai kehilangan kendaraanya yang biasa berlalu lalang. Di tepian tampak beberapa orang yang menunggu taksi. Terlihat pula secara acak mencomot gadis untuk dibawa pulang. Hal semacam itu memang sudah menjadi hal lumrah jika berada di sekitar klub malam. Volkan berjalan menuju tempat parkir. Tangannya merogoh kunci cerdas dan menekan tombolnya. Detik berikutnya sebuah mobil berwarna hitam mengkilap langsung berbunyi seakan mengenali sang pemilik. Volkan segera masuk ke dalam mobil, dan mulai mengendarainya meninggalkan area parkiran. Pikirannya terbayang-bayang akan sosok Liona. Pria itu mengulas senyum saat mengingat momen bahagia, tetapi tiba-tiba merasa sedih saat menyadari kenyataan kalau saat ini kekasih yang amat dicintainya itu sedang marah besar terhadapnya. "Sialan! Semua ini gara-gara wanita berengsek itu! Bagaimana bisa dia datang dan menghancurkan pernikahanku dengan Liona?!" Volkan memukul setir mobil dengan keras. "Bagaimana bisa dia mengaku tengah mengandung anakku sementara aku sendiri tidak pernah menyentuhnya?!" Volkan menggerutu mengingat akan perbuatan Rhea terhadapnya. Kepala pria itu kembali pusing. Selain alkohol yang menguasainya, beban pikiran juga menggerogoti otaknya. Volkan mencoba menghubungi Liona. Berkali-kali tetapi tak kunjung mendapat jawaban. "Tidak mungkin kamu sudah tidur. Kamu pasti sengaja tidak mengangkatnya, 'kan?" Volkan bergumam dengan wajah murung. Tangan kirinya masih sibuk memutar kemudi. Sementara tangan kanannya mengoperasikan ponsel. "Aku tidak akan menyerah, Sayang. Aku akan terus menghubungimu!" Serupa mendapat angin segar, tiba-tiba saja Liona menerima panggilannya tersebut. Volkan tampak gembira sekali. "Halo, Sayang. Akhirnya kamu angkat juga. Aku kangen banget sama kamu, Lio." Wajah Volkan berbinar-binar, seolah kembali mendapatkan nyawanya yang hampir lenyap. "Lo ngapain ganggu tidur gue! Nggak usah lagi nelpon gue!" Suara Liona terdengar membentak. "Lio, kok ngomongnya gitu sih? Aku calon suamimu loh." "Enggak lagi! Buat gue, sekarang lo sudah mampus dibakar di neraka! Stop hubungi gue! Kita nggak ada hubungan apa-apa lagi!" "Sayang, aku kan cinta banget sama kamu. Aku nggak bisa hidup tanpamu." "Nggak peduli! Gue nggak akan kemakan sama omongan aligator lagi. Lo tahu apa yang tersisa dalam hati gue? Kebencian! Hanya kebencian. Gue benci banget sama lo, Volkanik!" "Sayang, jangan gitu dong—" "—Mampus aja lo!" Panggilan terputus. "Lio, Sayang … Liona …." Ekspresi wajah Volkan kembali layu serupa bunga yang disiram air mendidih. "Sial ... sial, berengsek!" Volkan membanting ponselnya begitu saja. Detik berikutnya air matanya mengalir pelan dari sudut pupilnya. "Liona, kenapa kamu tidak percaya padaku. Aku benar-benar sangat mencintaimu, Liona. Aku tidak bisa hidup tanpamu." Terlalu banyak beban yang dipikul, ditambah alkohol yang terus menguasainya, membuat Volkan kehilangan kendali kemudi. Pandangnya mulai buram dan tak bisa melihat badan jalan dengan jelas. Mobilnya tiba-tiba oleng, dan melintasi pembatas jalan. Volkan mencoba fokus, tetapi mobilnya tidak bisa dikendalikan. Hingga akhirnya, suara tabrakan terdengar mengguncang mobil Volkan. "Argh ...!" Detik berikutnya, semuanya menjadi gelap. Volkan tak bisa melihat apa-apa lagi. *** "Pemirsa, kabar dari aktor terkenal Volkan Ardonio yang gagal menikah dengan sang kekasih—" "Volkan Ardonio dikabarkan menjalin hubungan secara diam-diam dengan lawan mainnya yang bernama Rhea—" "Volkan Ardonio—" "Aktris cantik Rhea—" Acap kali Liona mengganti saluran televisi, tetapi isinya sama, yaitu membicarakan tentang kabar Volkan yang gagal menikah dengan dengan embel-embel orang ketiga. Tentu saja itu membuat Liona merasa muak sekaligus sedih. "Volkan dan Rhea dikabarkan menjalin hubungan perselingkuhan. Berikut beberapa foto mesra mereka yang tertangkap kamera—" "Seperti yang kita tahu Rhea adalah aktris yang menjadi lawan main Volkan dalam film—" Liona menyemburkan napas kesal. "Sial! Apa stasiun TV sudah kehabisan bahan berita sehingga selalu menampilkan berita murah itu di mana-mana!" Liona tampak menggerutu. "Kalendra!" Tiba-tiba suara Martha terdengar memecah ke segela penjuru ruangan. Liona masih sibuk mencari acara televisi yang tidak menayangkan berita tentang Volkan, dirinya, dan juga Rhea. "Ndra! Cepat ke sini, jangan nonton TV mulu!" Martha kembali berteriak, mengira kalau suaminya yang tengah menonton televisi. Selang beberapa saat, Martha sudah berada di ruang keluarga. Matanya menjadi sebesar piring saat melihat wajah Rhea yang tengah diwawancarai di televisi. "Apakah benar anak yang kamu kandung itu anaknya Volkan?" Seorang presenter tampak bertanya pada Rhea. Rhea terlihat duduk sembari mengurai air matanya. Yah, seorang aktris memang pandai memainkan perasaan. Bahkan ia tahu kapan dan di mana air mata itu harus keluar. "Volkan bilang dia sangat mencintaiku. Kami menghabiskan malam bersama. Bla … bla …." Perkataan Rhea tentu saja membuat telinga Martha terasa tersengat lebah. "Ndra! Ngapain sih lo nontonin nenek lampir yang cocotnya asal ngoceh itu!" Martha tampak meradang dan bergerak mendekat. Namun ia terkejut saat menyadari seseorang yang tengah duduk di sofa tersebut bukanlah Kalendra suaminya melainkan adik iparnya, Liona. "Astaga, Lio! Ternyata elo!" Martha merasa tak habis pikir. "Ngapain lo nonton berita murahan yang hanya membuat hati lo makin terbakar?" tegur wanita itu dengan kedua tangan yang berkacak pinggang. Liona hanya terdiam dengan ekspresi datar. Bahkan sama sekali tak mau melirik ke arah kakak iparnya tersebut. Ia hanya sibuk memandangi layar televisi dengan tatapan kosong. Sementara tangan kanannya memegang remot dan terus menekan tombolnya agar salurannya berganti-ganti. "Nih anak memang susah dibilangin, ya!" Martha menyemburkan napas kesal. Acara di layar televisi kembali berganti saat Liona menekan tombol remote kontrol. "Pemirsa, kabar mengejutkan datang dari aktor tampan Volkan Ardonio. Baru saja tadi malam dia mengalami—" Berita itu terputus saat Martha tiba-tiba menjambak kabel televisi dan memutus koneksinya sehingga televisi tersebut mati total. Tanpa mereka sadari, ternyata berita tersebut mengabarkan tentang kecelakaan yang dialami Volkan tadi malam. "Sudah cukup!" ujar Martha puas. Detik berikutnya tampak Kalender yang baru dari luar memasuki ruang keluarga. Pria itu sedikit terkejut saat melihat Martha dan Liona yang seperti sedang tidak baik-baik saja. "Ada apa, sih?" tanya Kalendra. "Tanya sendiri tuh sama adikmu. Kalau bodoh jangan kelewat batas! Masa dia dari tadi nontonin berita murahan yang hanya membicarakan soal pernikahannya yang gagal?!" ujar Martha masih dengan suara emosi. Kalendra mengerling heran. Kemudian bergerak ke arah Liona. "Lio, buat apa sih lihat sesuatu yang hanya membuatmu terluka? Mending kamu nonton Netflix atau apa gitu kartun apa lah!" saran Kalendra. Liona hanya terdiam dengan tatapan kosong. Martha berjalan ke arah Kalendra dan memegang lengannya. "Ndra, cepat panggil ahli rukyah. Keknya adikmu udah kerasukan deh. Liat aja tatapannya kosong begitu!" Martha tampak memberi saran dengan suara sedikit cemas. "Kamu ini ada-ada saja!" ujar Kalendra pada istrinya. Lantas kembali fokus pada Liona. "Untuk sementara nggak boleh ada yang nonton televisi. WiFi juga aku matikan biar Liona nggak lihat berita di internet!" ucapnya tegas. "Nah, bagus!" ujar Martha setuju. Kemudian tampak berpikir. "Tapi, Ndra … terus kalau nggak ada pesan w******p yang masuk gimana? Kalau aku ketinggalan gibah di grup gimana?" tanya Martha dengan ekspresi kecut. "Udah, nanti aku beliin kuota internet buat kamu. Sekalian buat Elsa kalau mau nonton YouTube!" kata Kalendra. Martha mengangguk dengan ekspresi gembira. "Eh, Elsa untuk sementara jangan kasih main Hp. Soalnya kepalanya suka pusing kalau malam hari." Martha memberi jeda sejenak, seakan baru sadar akan suatu hal. "Astaga, Ndra!" Wanita itu menepuk jidat. "Ada apa?" "Elsa! Dia demam! Tadi aku nyariin kamu. Aku pikir kamu yang sibuk nonton berita di TV, tapi ternyata Liona. Kamu dari mana saja tadi?" "Aku tadi habis nyiram tanaman di halaman," jawab Kalendra. "Elsa demam?" tanyanya kemudian. "Iya, coba kamu cek!" Martha langsung menyeret suaminya untuk pergi ke kamar mengecek kondisi putrinya. Kalendra mendekat ke arah putrinya yang tertidur dan mengecek suhu badannya. "Aduh, panas banget. Kamu udah kompres dia?" tanya Kalendra. "Belum. Aku bangun tidur tadi langsung bersih-bersih. Waktu aku ke kamar lagi Elsa masih tidur. Terus aku cek badannya panas banget. Bentar aku kompres dulu!" Martha segera bergegas mengambil air kompres. Kalendra duduk di pinggiran ranjang sembari mengelus putrinya dengan ekspresi cemas. Beberapa saat kemudian Martha datang membawa baskom berisi air dan kain lembut. Martha mulai mengompres, meletakkan kain lembab tersebut ke area dahi putrinya. "Gimana keadaannya?" Tiba-tiba suara Liona terdengar dari balik pintu. Kalendra dan Martha menoleh ke arahnya. "Masih demam," jawab Kalendra. Liona mulai melangkahkan kaki mendekat. Tiba-tiba Elsa terbangun tetapi matanya masih terpejam. Gadis kecil itu hanya merengek seperti orang kesakitan dan terus menyebut nama Volkan. "Om tampan … Ma, Pa, tolong Om Tampan …." Tentu saja kalimat yang keluar dari mulut Elsa tersebut membuat mereka mengerling heran. "Bisa-bisanya dalam keadaan sakit gini masih kepikiran soal jin ifrit itu!" ujar Martha mengejek Volkan dengan sebutan jin ifrit. "Sayang, kamu tenang dulu, ya!" Kalendra mengelus tangan mungil putrinya. "Pa, aku mau sama Om Tampan. Tolong panggilkan Om Tampan …," rengek Elsa. "Ndra, demamnya makin tinggi. Ayo kita bawa ke dokter saja!" usul Martha dengan suara panik. "Ya udah ayo. Aku nanti izin saja nggak masuk ke kantor." Kalendra bangkit dari duduknya. Bergerak ke arah Liona. "Lio, kamu di rumah saja, ya?" "Aku mau ikut, Kak. Aku khawatir sama Elsa," pinta Liona memelas. "Liona, keadaannya tidak memungkinkan untuk kamu keluar. Pasti nanti akan banyak wartawan yang mengerubungimu. Kamu di rumah saja, ya?" Kalendra memegang kedua bahu Liona seakan mencoba membuatnya mengerti. "Sudah nggak usah banyakan debat kalian. Ini Elsa dalam keadaan gawat, bukannya cepat siap-siap malam banyakan bacot!" Martha tampak meradang. "Ya udah, deh." Liona menyemburkan napas pasrah. Kalendra tersenyum dan menepuk kecil pipi adiknya itu. Kemudian menatap ke arah Martha. "Aku siapin mobilnya dulu, ya." Usai mengatakan hal itu, Kalendra bergegas keluar kamar. "Ayo, Nak!" Martha mulai menggendong putrinya. "Lio, jaga rumah, ya! Pokoknya awas aja kalau kamu keluar!" peringat Martha sembari berjalan terburu-buru keluar kamar. "Iya … iya …." Liona membuntutinya dengan ekspresi pasrah. Liona memandangi mobil mereka yang sudah meninggalkan halaman rumah. Kemudian ia menutup pintu dan menguncinya. Terdiam sejenak sembari berpikir. "Kenapa aku merasa khawatir dengan Volkan? Padahal 'kan yang sakit Elsa." Liona menepuk jidatnya. Menggelengkan kepala mencoba melenyapkan bayangan Volkan dari ruang kepalanya. "Lupakan Volkan, Bodoh! Dia bukan siapa-siapamu lagi!" sergah Liona pada dirinya sendiri. Namun, usahanya untuk mengusir kenangan Volkan dari pikirannya hanyalah sia-sia belaka. Malahan, perasaannya itu semakin bertambah cemas. "Kenapa aku tidak bisa melupakannya? Dan ada apa sebenarnya dengannya? Kenapa perasaanku merasa tidak enak begini?" Liona menyemburkan napas gusar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN