“Sudahlah, Ma. Tidak akan ada yang tahu Kansa istriku sekalipun kami jalan di tempat umum. Yang mereka tahu istriku Nabila.” "Kansa berbeda dengan Nabila. Siapa yang akan curiga padanya? Tidak ada, Ma." Sultan berharap setelah menjawab dengan kalimat tersebut, mamanya akan diam. Akan tetapi, pikirannya ternyata keliru. Marita masih melanjutkan. “Tentu saja tidak akan ada yang tahu dia istrimu, karena dia memang tidak pantas bersanding denganmu. Tapi Sultan, mereka bisa saja berpikir kamu selingkuh dengan pembantumu. Sekarang pulang. Jangan buat masalah. Kakekmu bisa marah besar.” “Kami sudah sampai. Aku tutup dulu. Kita bicara lagi nanti.” “Sultan! Sultan!” Marita berteriak memanggil sang putra yang seenaknya saja mengakhiri sambungan telepon. Wanita itu dengan kesal menurunkan ponsel

