BAB 10

2316 Kata
Terhitung tiga hari berlalu sejak Nana mengumumkan tentang peraturan baru untuk para pekerja. Sejauh ini tak ada satu pun pekerja yang mengeluh, mereka mematuhi peraturan itu tanpa protes apa pun. Tak ada lagi kegaduhan akibat warga desa yang melakukan demo, sepertinya ancaman Rex yang akan melaporkan mereka ke polisi sukses membuat nyali para warga desa menciut. Rex bisa bernapas lega karena semuanya berjalan lancar di tempat ini, termasuk Nana yang sudah tak pernah membahas lagi mengenai makhluk penunggu gunung yang hingga detik ini masih dianggap Rex sebagai sebuah takhayul semata. Seperti biasa kegiatan Rex selama berada di dalam kamarnya tidak lain dan tidak bukan adalah memeriksa laporan yang dikirimkan sang asisten padanya. Seperti saat ini contohnya, Rex sedang sibuk mengamati huruf demi huruf yang terpampang jelas di layar komputernya. Jika saja atensinya tidak terganggu karena ponsel miliknya yang bergetar di atas meja. Rex mengambil ponsel itu, mengerutkan pangkal hidungnya saat melihat nama asistennya yang muncul di layar. Dengan malas, dia pun mengangkat telepon itu. “Selamat pagi, Pak Rex,” sapa Rudi ramah di seberang sana. “Iya, pagi. Ada apa meneleponku?” Sahut Rex dengan nada ketusnya seperti biasa. “Saya ingin melaporkan hasil penyelidikan tentang Nana Athalia, Pak.” Rex menegakan duduknya yang sempat merosot, ekspresi malasnya berubah seratus delapan puluh derajat menjadi antusias begitu Rudi menyebut nama Nana. “OK, katakan padaku apa yang kamu temukan?” Timpalnya serius. “Nana Athalia ... tinggal bersama neneknya sejak orangtuanya meninggal. Dan sekarang dia tidak memiliki sanak saudara setelah neneknya meninggal sekitar satu tahun yang lalu. Berdasarkan pengakuan para tetangganya di Indramayu, Nana itu sosok gadis yang baik hati, ramah dan mandiri. Sebelum bekerja di perusahaan kita, dia rutin membuat kue dan menitipkannya di warung-warung  dan toko kue terdekat. Dia disukai oleh tetangganya.” Rex terdiam, dia mendengarkan dengan seksama semua penjelasan Rudi. Dia pun tak menyela sedikit pun. “Saya juga sempat pergi ke sekolahnya dulu. Nana sempat tinggal di Bandung selama beberapa tahun. Dia juga sekolah disana. Berdasarkan pengakuan pihak sekolah yang saya tanyai, mereka bilang Nana itu murid yang baik, sopan dan cerdas. Dia selalu mendapat peringkat tertinggi di kelasnya semasa sekolah. Di samping semua prestasinya dalam bidang akademi, dia memiliki beberapa kekurangan juga.” “Apa itu?” Tanya Rex, akhirnya menyahut. “Semasa sekolah Nana selalu menyendiri, dia nyaris tak punya teman dan sering menjadi korban bully. Dia dikucilkan oleh teman-temannya. Hanya dua orang yang mau berteman dengannya yaitu Rachel Addison dan Diana Dwi Kusuma.” “Rachel Addison?” Gumam Rex, saat mendengar nama marga Rachel yang sama dengan rival abadinya, Araya. “Rachel ini saudara sepupunya Araya Addison, Pak. Dan sepertinya karena rekomendasi Rachel juga, Nana bekerja di perusahaa Araya.” “Ooh, OK. Lanjutkan,” titah Rex, yang langsung dipatuhi Rudi. “Rachel Addison sekarang menetap di London. Dia melanjutkan study-nya di sana sekaligus membuka usaha butik di sana. Kemarin saya menemui sahabat Nana yang lain, Diana Dwi Kusuma. Dia bekerja sebagai dokter gigi di salah satu rumah sakit di Jakarta.” “Apa yang kamu dapatkan dari dia?” Tanya Rex, tak sabar. “Awalnya dia ragu menceritakan tentang Nana, tapi beruntung saya berhasil meyakinkannya.” “Rudi.” “Iya, Pak.” “Langsung saja ke intinya. Apa yang dia katakan tentang Nana?” Di seberang sana terdengar suara Rudi yang meneguk salivanya gugup. “Hm, berdasarkan cerita dari dokter Diana, Nana itu memiliki kemampuan khusus, Pak.” “Kemampuan khusus?” Dahi Rex mengernyit saat mendengar kata-kata ini. “Iya, semacam orang indigo yang bisa melihat penampakan hantu dan makhluk mistis lainnya.” Rex terbelalak kali ini, dia tentu tahu arti dari kata indigo itu sendiri. Tapi dia tak pernah menyangka Nana seorang indigo. “Alasan Nana selalu dijauhi teman-temannya saat masih sekolah karena mereka takut pada Nana yang sering bertingkah aneh. Mereka sering memergoki Nana bicara sendirian. Lagipula katanya mereka bisa merasakan aura menyeramkan saat ada di dekat Nana.” “Tapi aku tidak merasa begitu,” sahut Rex, tak setuju. “Saya juga tidak tahu pak, dokter Diana yang mengatakannya.” “Apa lagi yang dia katakan tentang Nana?” “Hm, itu, Pak. Dia bilang Nana juga yang menyadari bahwa istri Araya Addison dirasuki makhluk halus setelah dia mengalami kecelakaan.” Rex kembali terbelalak. “Istri Araya dirasuki makhluk halus?” “Iya, Pak. Dan katanya juga nenek Nana meninggal setelah terlibat dengan masalah ini. Semenjak neneknya meninggal hubungan Nana dan Araya menjadi renggang. Nana bahkan menolak lamaran Araya padahal Nana jatuh cinta padanya.” “Apa kamu bilang barusan? Araya pernah melamar Nana?!” Sahut Rex dengan suara tingginya sukses membuat Rudi di seberang sana terpekik kaget. “I-Iya, Pak. Saya dengar begitu. Sepertinya mereka menjalin hubungan asmara juga selain status mereka yang sebagai atasan dan bawahan di perusahaan Araya.” Rex mendengus saat mengingat Nana yang secara tegas menyanggah bahwa dirinya memiliki hubungan asmara dengan Araya ketika sesi interview di ruangannya kala itu. “Jadi, Araya berselingkuh dengan Nana di belakang istrinya?” “Hm, sepertinya begitu, Pak,” jawab Rudi, tak yakin. “Aku tidak menyangka Araya b******n juga. Dan Nana ... tidak lebih dari seorang w************n,” timpal Rex, dia menggeram di akhir ucapannya. “Saya rasa tidak begitu, Pak. Buktinya Nana menolak lamaran dari Araya. Jika dia w************n seharusnya dia bersedia menikah dengan Araya setelah istrinya meninggal. Bukankah begitu pak? Selain itu saya dengar Nana tidak pernah berhubungan asmara dengan pria mana pun sebelumnya.” “Entahlah, aku tidak yakin. Kerjamu bagus, aku puas dengan hasil penyelidikanmu.” “Terima kasih, Pak. Jadi sudah tidak ada lagi yang harus saya selidiki tentang Nana, kan, Pak?” “Ya, sudah selesai. Kamu bisa fokus pada urusan kantor lagi.” “Baik, Pak.” Setelah itu, Rex memutus sambungan telepon itu secara sepihak. Dia tertegun sejenak, mencerna kembali informasi tentang Nana yang baru saja dia ketahui. Ada banyak hal yang membuatnya tercengang terutama saat mendengar Nana seorang indigo. “Mungkinkah dia pernah melihat makhluk penunggu gunung makanya dia ngotot minta pembangunan resort ini dihentikan?” Gumamnya pada dirinya sendiri. “Aku harus menanyakan ini padanya sekarang juga.” Dan Rex pun melangkah pergi untuk menemui Nana. ***  Rex berkeliling mencari Nana karena dia tak menemukan keberadaan Nana di dalam penginapan, jadi dia berinisiatif mencari Nana di area kontruksi. Setelah hampir setengah jam dia berkeliling di sekitar area kontruksi, dia pun menemukan Nana sedang duduk bersandar di bawah pohon besar. Tanah berumput menjadi alas duduknya. Rex mengembuskan napas lega saat melihat pemandangan itu, tanpa pikir panjang lagi dia berjalan menghampiri Nana. Lantas tanpa permisi dia duduk di sebelah Nana. “Pak Neval, ada apa ke sini?” Tanya Nana bingung, kedua matanya yang membulat sempurna menjadi bukti nyata dia terkejut bukan main melihat atasannya tiba-tiba duduk di sampingnya. “Kamu sendiri sedang apa di sini?” Ucap Rex, balik bertanya. Nana mengangkat buku gambar A3 dalam pangkuannya, menunjukannya pada Rex. “Saya sedang membuat sketsa untuk rancangan resort-nya,” jawab Nana. “Ooh, kamu udah dapat inspirasi buat rancangan resort-nya?” Nana mengangguk kali ini. Tertegun sejenak seolah ragu untuk kembali bicara. “Hm, sepertinya saya harus menanyakan pendapat Anda dulu, khawatir Anda tidak setuju dengan rancangan saya.” “OK, saya juga ingin tahu rancangan kamu kayak gimana,” jawab Rex antusias. Nana menatap Rex sekilas dalam diam, sebelum kembali menatap pada buku gambarnya. “Jadi Pak, saya berencana membuat bangunan resort nanti hanya satu lantai. Berhubung areanya sangat luas, jadi kita bisa membangun banyak kamar dan fasilitas untuk pengunjung,” ucap Nana seraya memperlihatkan gambar sketsa bangunan resort yang sudah sempat dia gambar tadi. Bangunan itu membentuk persegi empat berukuran raksasa, yang rencananya akan didirikan banyak kamar serta ruangan lainnya. “Bangunan beton sepertinya sudah biasa ya pak, jadi saya berencana bangunannya terbuat dari kayu semua. Coba Anda bayangkan, rumah kayu bernuansa klasik di daerah pedalaman yang masih asri dan jauh dari polusi seperti di sini, pasti lebih cocok dibandingkan bangunan bergaya modern yang semuanya berbahan beton. Gimana menurut Anda?” Rex menganggukan kepalanya tanpa suara. “Di belakang bangunan kita bisa mendirikan kolam renang untuk orang dewasa dan anak-anak. Saya juga berencana akan membuat kolam renang ini seperti akuarium raksasa, jadi lantai dan pinggiran kolamnya terbuat dari kaca. Di dekat kolam kita siapkan fasilitas untuk bersantai dan berjemur. Serta kita dirikan juga lapangan untuk volly pantai. Sedangkan untuk kolam renang anak-anak, kita buat semirip mungkin dengan water playground. Kita sediakan seluncuran, kastil buatan, air mancur, pokoknya kita buat kolam itu seperti surga untuk anak-anak.” Rex tak berkedip menatap Nana yang tampak bersemangat saat menjelaskan rancangan buatannya. Melihat Nana tersenyum lebar selama menjelaskan, tak ayal membuat Rex pun tanpa sadar menyunggingkan senyumannya. “Di dekat area kolam renang, kita juga harus menyiapkan ruangan khusus membersihkan diri dan ruangan untuk berganti pakaian. Tidak lupa berbagai peralatan safety seperti pelampung harus kita siapkan juga. intinya kita harus memastikan keselamatan para pengunjung saat menggunakan fasilitas kolam renang ini.” Rex mengangguk setuju saat Nana menoleh ke arahnya. “Untuk di tengah-tengah bangunan yang kosong ini,” lanjut Nana seraya menunjuk ke arah area kosong di tengah-tengah bangunan resort berbentuk persegi empat tadi. “Kita bisa mendirikan taman di sini. Kita buat taman itu seindah mungkin. Kita tanam semua jenis bunga di sana agar semua pengunjung bisa melihat dan mencium aroma wanginya dari kamar mereka masing-masing.” “Ide bagus,” sahut Rex, Nana mengangguk penuh semangat. “Di bagian samping kanan bangunan, kita juga bisa mendirikan taman bermain. Kita sediakan wahana seperti komedi putar, kora-kora mini dan wahana lainnya sebagai hiburan untuk para pengunjung. Untuk di bagian depan bangunannya kita buat halaman seindah mungkin, kita dirikan air mancur dan kolam ikan. Kalau bisa kita biarkan beberapa pohon tetap tumbuh. Kita bisa meletakan beberapa kursi dan meja untuk para pengunjung yang ingin bersantai di sana. Saya rasa lebih sempurna jika kita buat ayunan juga di antara pohon-pohon. Sejauh ini gimana, Pak? Anda setuju?” Rex kembali menganggukan kepalanya tanpa suara. “Kalau begitu saya lanjutkan.” “OK,” balas Rex cepat. “Di samping kiri bangunan, kita bisa mendirikan area khusus untuk pasangan kekasih atau suami-istri seperti mendirikan jembatan cinta disana contohnya. Hahahaha.” Rex mendengus saat melihat Nana tertawa geli dengan idenya sendiri. “Kita buat area seromantis mungkin dan cocok dijadikan tempat foto-foto. Anak remaja zaman sekarang kan tidak bisa lepas dari foto. Benar, kan?” “Setuju,” sahut Rex, dia angguk-anggukan kepalanya. “Untuk fasilitas di dalam bangunannya sendiri, kita siapkan tempat untuk gym, spa, dan restoran. Oh iya, karena di sini jauh dari kota, jadi saya pikir ada bagusnya kita mendirikan mini market juga untuk menunjang kebutuhan para pengunjung.” “Iya, saya juga berencana mendirikan mini market di sini.” Nana tersenyum lebar saat Rex mendukung rencananya ini. “Karena di dekat resort ada sungai juga dan kebetulan arusnya kecil, kita bisa memanfaatkan sungai itu untuk dijadikan kolam arus. Kita siapkan alat untuk dinaiki para pengunjung melakukan petualangan mengarungi sungai sambil melihat keindahan alam di sekitar sini.” “Saya rasa kita juga bisa menyediakan area khusus untuk memancing di sungai,” sela Rex, Nana langsung mengangkat jempolnya disertai raut antusias di wajahnya. “Betul itu, Pak. Saya juga berpikir untuk menyediakan area khusus memancing di sungai.” “Bagus, berarti sudah fix, rancangan resort-nya seperti yang kamu bilang barusan.” “Anda yakin sudah setuju, Pak? Tidak ada lagi yang ingin Anda ganti?” Tanya Nana, memastikan. “Saya setuju semua rancangan kamu itu. Tapi ada beberapa yang ingin saya tambahkan juga seperti kita akan menyediakan bus untuk mengantar pengunjung yang ingin pergi ke pantai, kebetulan jarak laut tidak jauh dari sini.” Nana mengangguk-anggukan kepalanya setuju. “Hutan dan gunung juga bisa kita manfaatkan.” Seketika Nana tersentak kaget mendengar ucapan Rex kali ini. “Saya berencana membersihkan semak-semak liar di hutan agar bisa didatangi para pengunjung. Mendirikan area perkemahan di sana untuk mereka yang ingin merasakan tidur di alam terbuka, tentu termasuk fasilitas api unggun. Untuk gunungnya bisa kita manfaatkan untuk fasilitas pendakian.” “Maaf, Pak. Saya tidak setuju dengan rencana Anda ini,” sela Nana cepat, raut wajah semringah Nana hilang dalam sekejap dan digantikan tatapan khawatir tiada tara. “Kenapa kamu gak setuju?” “Pak, saya sudah bilang kan hutan apalagi gunung itu sangat berbahaya. Jadi, tolong hindari kedua tempat itu. Saya bahkan berencana akan membangun benteng setinggi mungkin untuk membatasi area resort dengan hutan dan gunung agar makhluk itu tidak bisa masuk ke area resort.” Mendengar kata-kata ini, Rex teringat pada pembicaraannya dengan Rudi tadi. Dia pun teringat lagi dengan rencana awalnya mencari Nana. “Kamu yakin banget ya makhluk itu ada? Memangnya kamu pernah lihat pake mata kepala kamu sendiri?” Nana terenyak, dia menoleh ke arah Rex dengan raut terkejut. “S-Saya gak pernah lihat makhluk itu. Saya malah berharap gak akan pernah melihat makhluk itu. Kepala desa mengatakan pada saya, gak pernah ada orang yang selamat udah ketemu sama dia karena dia gak pernah biarin mangsanya lepas.” “Jadi kepala desa yang bilang? Mungkin dia cuma nakut-nakutin aja. Saya kira kamu pernah lihat makhluk itu makanya percaya banget dia ada.” Rex tersenyum mencemooh, semakin tak percaya bahwa makhluk itu benar-benar ada, menurutnya pak kepala desa pasti sengaja mengarang cerita tentang makhluk itu untuk menakut-nakuti agar pembangunan resort dihentikan. “Walaupun saya belum pernah melihat dia langsung, tapi saya percaya makhluk itu benar-benar ada. Dia sangat berbahaya, Pak. Saya mohon urungkan niat Anda untuk menjadikan hutan dan gunung sebagai salah satu fasilitas resort ini. Jauhi kedua tempat itu, Pak. Saya benar-benar memohon pada Anda. Apa perlu saya berlutut di depan Anda agar Anda mau mempercayai saya?” Rex tertegun, tak mampu berkata-kata lagi. Terutama saat melihat kedua mata Nana memerah dan berkaca-kaca nyaris menangis. “Saya mohon, Pak.” Mohon Nana lagi. Rex menghela napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan sebelum dia akhirnya mengambil sebuah keputusan. “Baiklah, untuk menyediakan fasilitas pendakian gunung akan saya batalkan, tapi untuk fasilitas perkemahan di hutan akan tetap diadakan. Hutan sudah dipastikan aman Nana, bahkan dua puluh pemburu sudah menyebar memastikannya. Jadi gak ada yang perlu kita takutkan, keselamatan di hutan sudah sangat terjamin.” Rex cepat-cepat mengangkat tangannya saat menyadari Nana hendak menyela ucapannya. Nana pun terpaksa kembali mengatupkan mulutnya menyadari isyarat itu. “Lagi pula Pak Rex yang memerintahkan supaya semua tempat di sekitar resort bisa dimanfaatkan sebaik mungkin.” Nana tersenyum sinis saat mendengar jawaban Rex yang merupakan suatu keputusan yang tak bisa diganggu gugat lagi. Melihat ekspresi Nana yang tiba-tiba diam dan menundukan kepalanya, Rex ikut terdiam. Dia berdeham untuk mencairkan suasana yang berubah canggung di antara mereka. “Kamu pasti benci ya sama saya?” Nana kembali mendongak, dia memasang ekspresi bingung, tak mengerti maksud pertanyaan Rex. “Kenapa Anda berpikiran seperti itu?” Nana bertanya balik. “Karena saya selalu membantah permintaan kamu.” Dan Nana pun tersenyum tipis, sangat tipis hingga Rex nyaris tak menyadarinya. “Saya tahu Anda hanya menuruti perintah atasan. Mau bagaimana lagi, kita sebagai bawahan hanya bisa patuh pada perintah atasan, bukan? Percuma saya membenci Anda karena satu-satunya orang yang patut disalahkan hanya atasan yang menduduki posisi tertinggi di perusahaan.” Nana menjeda ucapannya, dia pandangi wajah Rex serius sukses membuat Rex meneguk salivanya gugup. “Jadi, jika Anda bertanya, apa saya membenci Anda? Jawabannya adalah tidak. Karena satu-satunya orang yang saya benci adalah Pak Rex, Rex Ernesto.” Detik itu juga Rex terbelalak kaget. Untuk pertama kalinya merasa menyesal karena sudah membohongi Nana. Kini dia sadar, saat Nana mengetahui identitas aslinya kelak, saat itulah kebohongannya akan menjadi perkara besar bagi Rex.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN