BAB 9

2976 Kata
Nana menyantap sarapannya dalam keheningan, tak ada siapa pun disana selain dirinya. Atasannya yang tinggal satu atap dengannya belum menunjukan batang hidungnya. Pria itu masih betah berada di dalam kamarnya. Sejak tadi Nana menunggu kemunculan pria itu, ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengannya. Bahkan Nana sampai membuatkan sarapan juga untuk atasannya tersebut. “Masa belum bangun? Ini kan udah jam 8,” gumamnya, masih sesekali menatap ke arah pintu kamar sang atasan yang tertutup rapat. “Atau jangan-jangan dia udah pergi ya? Tapi kayaknya nggak deh, gak kedengeran suara orang buka pintu.” Nana tertegun, kembali dia santap makanannya meski pun fokusnya tidak tertuju pada makanannya melainkan pada pintu kamar Rex. “Haah ... aku ketuk aja deh pintunya.” Nana berdiri dari duduknya setelah keputusan itu diambilnya. Tak kuasa lagi menunggu pria itu muncul, Nana bertekad akan mengetuk pintu kamarnya. Nana berdeham beberapa kali ketika kini dia sudah berdiri tepat di depan pintu kamar Rex. Tangannya sudah terayun hendak mengetuk pintu itu, namun siapa sangka belum sempat tangannya mengenai daun pintu, pintu tersebut terbuka dengan sendirinya. Membuat Nana geragapan karena sosok Rex yang baru saja membuka pintu tampak mengernyitkan dahinya, mungkin heran melihat Nana berdiri tepat di depan pintu kamarnya. “Kenapa?” Tanya Rex, heran. “A-Anda baru bangun?” Nana balik bertanya, kaget begitu melihat penampilan Rex yang masih mengenakan piyama tidurnya. Rex mengangguk seraya menekan ujung matanya yang sedikit berair sehabis menguap. “Semalam saya begadang memeriksa laporan. Baru tidur jam 4 tadi.” “Oooh.” Nana mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. “Kenapa? Kamu ada urusan sama saya?” “Hmm ... sebenarnya iya, ada yang mau saya bicarakan dengan Anda,” jawab Nana, apa adanya. Rex terdiam, tak menyahut. Sebelum tiba-tiba dia melangkahkan kakinya begitu saja meninggalkan Nana. “Pak,” panggil Nana, berusaha menghentikan Rex yang pergi begitu saja. “Saya ke kamar mandi dulu sebentar.” “Ooh, OK.” Dan Nana pun tidak memiliki pilihan lain selain menunggu pria itu lagi. Selagi menunggu, dia memutuskan untuk kembali duduk di meja makan. Tak berminat melanjutkan sarapannya karena dia pikir lebih baik dia sarapan bersama dengan atasannya. Tak berselang lama, Nana yang tengah melamun terenyak kaget begitu atasannya menepuk bahunya lumayan kencang. “Kamu memang hobby melamun ya?” Nana mendengus mendengar ucapan Rex yang lebih cocok disebut sebagai sindiran. “Tidak juga, saya tidak melamun kok.” “Jelas-jelas saya melihat kamu lagi melamun. Buktinya saya manggil kamu, kamu gak nyahut.” Nana sudah membuka mulutnya hendak menyahut, namun menyadari tak ada gunanya dia berdebat dengan atasannya, dan mengingat dia memang benar melamun barusan, Nana pun memilih untuk mengalah. Dia berdeham sejenak, memberi isyarat dengan matanya agar pria di hadapannya ikut duduk bersamanya. “Waah ... nasi goreng. Sengaja kamu buatkan untuk saya juga?” Tanya Rex seraya mendudukan dirinya di kursi yang bersebrangan dengan Nana. Dengan wajah berbinar dia mulai mencicipi nasi goreng yang sudah Nana siapkan untuknya. “Ini enak. Sudah saya duga kamu berbakat dalam hal memasak. Kenapa tidak mencoba peruntungan menjadi seorang koki? Atau buka restoran mungkin.” “Pak, rasa masakan saya biasa aja kok. Lagi pula saya hanya bisa masak makanan yang sederhana dan mudah. Tidak mungkin saya sampai membuka restoran. Anda berlebihan.” Sahut Nana tak merasa tersanjung sedikit pun meski Rex memuji masakannya secara terang-terangan. “Hm, aneh. Biasanya orang senang kalau masakannya dipuji. Kamu kok malah kelihatan gak suka?” Rex menunjuk ke arah Nana dengan sendok di tangannya, mulutnya masih sibuk mengunyah nasi goreng meski tatapan pria itu tertuju pada wajah Nana sepenuhnya. Nana berdeham cukup kencang, menyadari dirinya ditatap seintens oleh lawan jenisnya seperti itu, entah mengapa dia merasa gugup sendiri. “Soal sesuatu yang ingin saya bicarakan tadi. Sebenarnya ini sangat serius, Pak.” Nana mencoba mengalihkan pembicaraan. Rasa gugupnya yang datang tiba-tiba sukses membuatnya salah tingkah di depan Rex. Dia ingin segera mengakhiri suasana ini secepatnya. “Oh ya, memangnya apa yang mau kamu bicarakan? Kalau ini masalah makhluk penunggu gunung lagi. Atau masalah kamu yang pengen mengundurkan diri. Maaf saja, saya tidak tertarik membahasnya,” sahut Rex. Dirinya yang sejak tadi bersikap santai, kini berubah menjadi serius. Dia menatap tajam pada Nana yang semakin di buat salah tingkah di kursinya. “OK, Pak. Saya mengerti. Percuma saya mengatakan apa pun soal makhluk penunggu gunung itu, saya tahu Anda tidak akan percaya pada cerita saya.” “Tentu saja saya tidak percaya, toh sudah terbukti ada hewan buas di dalam hutan. Dan mereka sudah ditangkap. Masalah selesai. Saya yakin semuanya akan berjalan lancar mulai sekarang.” “Semoga saja,” gumam Nana, namun masih tertangkap jelas indera pendengaran Rex. “Karena saya juga sepertinya belum bisa mengundurkan diri dari Ernesto Group. Benar yang anda bilang kemarin, saya tidak mungkin bisa mengganti uang ganti rugi jika saya mengundurkan diri sekarang.” Nana menahan napasnya sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. Sebenarnya ini keputusan yang berat untuk Nana, bisa dikatakan dia sangat terpaksa memutuskan hal ini. Namun apa mau dikata, tak ada pilihan lain baginya selain mengambil keputusan ini. “Maka dari itu saya akan mulai mengerjakan tugas saya untuk merancang resort.” Rex tersenyum lebar begitu mendengar ucapan Nana. Baginya akhirnya dia berhasil meyakinkan Nana yang keras kepala. Dia merasa di atas angin sekarang, menang telak atas perdebatan panjang mereka tempo hari. “Bagus kalau begitu. Akhirnya kamu ngerti juga,” ucapnya. Nana memutar bola matanya, bosan. “Tapi ada dua permintaan yang ingin saya ajukan pada anda sebelum mulai membuat rancangan resort.” Rex menaikan sebelah alisnya sepersekian detik sebelum dia menghela napas. Seperti yang dia duga, wanita seperti Nana tidak akan menyerah semudah itu. “Apa permintaan kamu?” Tanyanya. “Pertama, tolong izinkan saya membuat peraturan untuk para pekerja di sini.” “Peraturan apa?” “Saya akan melarang para pekerja untuk berkeliaran di area kontruksi pada malam hari. Hanya ini satu-satunya cara untuk mencegah jatuh korban lagi.” Rex memijit pangkal hidungnya yang mulai berdenyut, seperti yang dia duga, wanita di hadapannya itu masih bersikukuh mempercayai adanya makhluk penunggu gunung yang bagi Rex terdengar seperti sebuah khayalan dibandingkan kenyataan. “Jadi kamu masih percaya makhluk itu ada?” “Ya, saya percaya, sangat percaya. Dan saya yakin makhluk itu memang benar-benar ada,” jawab Nana tegas dan tanpa keraguan. “Jadi, apa Anda memberi saya izin untuk membuat peraturan ini?” “Sebenarnya kamu gak perlu repot-repot membuat peraturan seperti ini. Mereka akan baik-baik saja, hewan buasnya juga sudah ditangkap, kan? Hutan itu sekarang aman. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Nana menggelengkan kepalanya berulang kali dengan mata terpejam erat. “Mungkin bagi Anda, keselamatan mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan pembangunan resort yang harus secepatnya dirampungkan. Tapi saya tidak bisa bersikap cuek seperti Anda. Saya peduli pada keselamatan para pekerja, Pak. Dan selama saya ada di sini, saya akan melakukan apa pun untuk memastikan keselamatan mereka. Jadi saya mohon, izinkan saya untuk memberikan peraturan itu pada para pekerja.” Rex bisa melihatnya, keseriusan yang terpancar dalam sorot mata Nana. Dia mengembuskan napas lelah saat menyadari tak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan Nana kali ini. “Baiklah, saya kasih izin. Buat peraturan apa pun yang kamu inginkan.” Nana tersenyum lebar, satu permintaannya sudah terkabul. Tinggal satu permintaan lagi. “Apa permintaan kedua kamu?” Tanya Rex, semakin penasaran. “Selama pembangunan resort ini, izinkan saya tetap berada di sini. Saya tidak akan kembali ke Jakarta.” “Apa?!” Rex terkejut bukan main mendengar permintaan Nana yang satu ini. “Kamu mau jadi mandor di sini atau bagaimana? Tugas kamu hanya membuat rancangan resort, tidak perlu terjun langsung ke lapangan. Kamu bisa mengerjakan rancangannya di Jakarta nanti. Saya ajak kamu ke sini hanya untuk memberikan gambaran sama kamu soal tempat yang akan dibangun resort. Hanya itu.” “Saya tahu, Pak. Seperti yang saya bilang tadi, saya ingin memastikan keselamatan para pekerja. Jadi saya akan tetap disini sampai resortnya selesai dibangun.” Rex terperangah mendengar keputusan Nana ini. Menurutnya ini pengalaman pertamanya bertemu dengan wanita segigih Nana. Nana begitu mempedulikan keselamatan orang lain dan rela mengorbankan dirinya sendiri. Diam-diam Rex mulai kagum pada Nana walaupun kejengkelannya pada wanita itu lebih besar dibandingkan kekagumannya. “Saya beri tahu dari sekarang. Hidup di area konstruksi dalam jangka waktu yang lama itu tidak nyaman sama sekali. Di sini ....” “Saya tidak peduli, Pak. Saya akan tetap menemani para pekerja di sini,” jawab Nana, tegas. “Saya sarankan lebih baik kamu tarik kata-kata kamu ini. Jauh lebih nyaman kamu membuat rancangan resort di kantor pusat saja. Kamu memantau pengerjaan resort dari kejauhan tidak masalah kok. Jadi kamu tinggal menerima hasilnya saja nanti.” Nana menggelengkan kepalanya. Senyuman sinis terbit di wajahnya. “Saya tidak ingin menjadi orang yang egois, Pak. Hanya karena jabatan kita lebih tinggi dari mereka lantas kita memerintah mereka seenak hati. Lalu kita tinggal menunggu hasil saja, memarahi mereka seandainya hasilnya nanti tak sesuai keinginan kita. Padahal kita tidak tahu sekeras apa perjuangan mereka.” “Mungkin jabatan saya lebih tinggi dari mereka, Pak. Tapi saya tidak ingin menjadi atasan yang tak peduli dengan keselamatan mereka. Saya dan mereka sama saja, sama-sama manusia. Jadi saya minta tolong anda sampaikan dua permintaan saya ini pada Pak Rex.” Rex dibuat terpana untuk yang kesekian kalinya. Tak habis pikir ada wanita macam Nana. “Saya akan mengerjakan tugas saya sebaik mungkin hanya jika kedua permintaan saya ini dikabulkan,” tambah Nana. “OK, OK, saya kabulkan kedua permintaan kamu itu.” “Anda tidak meminta izin pada Pak Rex dulu?” Tanya Nana heran, dan detik itu juga Rex tampak geragapan. “P-Pak Rex ... pasti akan menyetujuinya jika kamu udah dapat persetujuan dari saya. Lagi pula resort ini sepenuhnya tanggungjawab saya.” “Ooh, begitu. Baguslah, kalau begitu, Pak. Terima kasih atas pengertiannya.” Rex menatap heran saat Nana tiba-tiba berdiri dari duduknya. “Kamu mau kemana?” Tanyanya. “Saya ingin berkeliling untuk mencari inspirasi rancangan resort-nya. Permisi, Pak.” Rex mengangguk tanpa kata, dia pandangi punggung Nana yang semakin menjauh darinya. Dia pun menghela napas panjang begitu sosok Nana sudah tak terlihat lagi di matanya. ***  Tepat pukul 8 malam, Rex tengah menyibukan dirinya dengan berbagai laporan yang dikirimkan asistennya melalui email. Senyuman terbit di wajahnya dikala mendapatkan laporan nilai saham yang naik dibandingkan bulan lalu. Ya dia cukup puas dengan pencapaian yang diraih perusahaannya bulan ini. Dia hendak memeriksa laporan lainnya jika saja telinganya tak mendengar suara seseorang yang membuka pintu utama. Mengingat hanya dirinya dan Nana yang tinggal di penginapan itu, bisa Rex pastikan orang yang membuka pintu itu pastilah Nana. “Apa yang dilakukan wanita itu keluar malam-malam begini?” Gerutunya, tapi pada akhirnya dia memilih untuk beranjak bangun dari kursinya. Mengikuti langkah Nana yang entah akan pergi kemana. Rex berjalan keluar dari penginapannya, mengikuti Nana dari jarak yang cukup jauh karena tak ingin dirinya dipergoki Nana tengah mengikutinya secara diam-diam. Rex mengernyitkan dahinya dikala melihat Nana berhenti tepat di depan area kontruksi, berpikir mungkin saja wanita itu akan masuk ke dalam. “Apa yang ingin dilakukannya di area konstruksi malam-malam begini?” Gerutunya lagi, masih heran dengan tingkah laku aneh Nana. Namun, dugaannya salah besar ketika dia melihat Nana kembali melanjutkan langkahnya. Nana terus melangkah tanpa henti cukup jauh meninggalkan penginapan, dan langkahnya baru berhenti setelah dirinya tiba di area perkemahan para pekerja. Lagi, Rex mengernyitkan dahinya semakin bingung, terutama ketika menemukan Nana menghampiri beberapa pekerja yang sedang berkerumun di depan perapian. Diam-diam Rex menyelinap masuk ke area perkemahan itu, ingin melihat lebih dekat lagi apa yang ingin dilakukan Nana di tempat itu. “Hei, maaf mengganggu kegiatan kalian. Bisa minta tolong sebentar?” Ucap Nana pada para pekerja yang menatapnya dengan ekspresi bingung. “Minta bantuan apa, Bu?” Sahut salah satu pekerja. “Bisa tolong kalian kumpulkan semua pekerja yang ada di tenda? Ada hal penting yang ingin saya umumkan.” “Baik, Bu. Tunggu sebentar.” Nana tersenyum ramah seraya mengangguk begitu melihat dua pekerja yang pergi guna memenuhi permintaannya. Berbeda dengan Rex yang berdecak di tempat pesembunyiannya. “Apa dia bodoh atau terlalu ceroboh? malam-malam begini mendatangi kumpulan para pria. Dia, seorang wanita dan datang ke sini sendirin. Apa dia tidak mengerti istilah memasuki kandang buaya yang kelaparan? Dasar bodoh,” gerutu Rex, untuk yang kesekian kalinya merutuki kebodohan Nana. Malam-malam begini Nana yang seorang wanita mendatangi area perkemahan yang semua dihuni oleh para pria, menurut Rex tidak ada hal yang lebih membahayakan untuk wanita seperti Nana selain ini. Tak lama berselang, semua pekerja berkumpul di dekat perapian. Nana kembali tersenyum lebar, senang karena keinginannya terpenuhi. Rex masih setia bersembunyi di tempat persembunyiannya, memastikan Nana akan baik-baik saja. Diam-diam dia cukup mengkhawatirkan keselamatan Nana. “Saya datang ke sini untuk mengumumkan peraturan penting yang harus kalian patuhi. Alasan saya mengumumkan malam-malam begini karena saya tahu pada jam segini kalian pasti sedang berkumpul di tenda dan sedang senggang.” Nana memulai pidatonya yang sepertinya mendapatkan perhatian penuh dari para pekerja. “Peraturan apa, Bu?” Tanya salah satu pekerja, Nana kembali tersenyum menanggapinya. “Ada tiga peraturan yang harus kalian patuhi mulai malam ini. Pertama, dilarang keras memasuki hutan terutama gunung di belakang sana,” ucap Nana seraya menunjuk ke arah hutan dan gunung yang dimaksudnya. “Ketika sedang bekerja pada siang hari, pastikan kalian melakukan pekerjaan di area kontruksi. Jangan pergi jauh dari sana, terutama pergi sendirian.” Semua pekerja saling berpandangan, tampak heran mendengar peraturan pertama yang baru saja disebutkan oleh Nana. Tapi mereka memilih diam, tak ada yang menyela. “Peraturan kedua, dilarang keras memasuki area kontruksi pada malam hari. Jadi, saat malam tiba, pastikan kalian tidak meninggalkan area perkemahan ini. Kini suara bisik-bisik dari para pekerja mulai terdengar, namun Nana tak menggubrisnya, dia kembali melanjutkan perkataannya. “Peraturan ketiga, kalian tidak diizinkan meninggalkan area perkemahan seorang diri. Jika kalian ingin pergi ke toilet, wajib ada yang mengantar kalian. Intinya jangan bepergian sendirian  pada malam hari.” Dan suara bisik-bisik itu sekarang semakin terdengar kencang. Ekspresi bingung terlihat dominan di wajah para pekerja tersebut. “Saya harap kalian mematuhi ketiga peraturan ini. Ini peraturan tertulisnya,” tambah Nana seraya mengangkat secarik kertas yang dia pegang di tangannya. Secarik kertas dimana di dalamnya sudah tercantum ketiga aturan yang baru saja disebutkan oleh Nana. “Bagi siapa pun yang melanggar peraturan ini maka akan menerima sangsi yang tegas. Kemungkinan bisa saja kalian dipecat. Karena itu jangan coba-coba melanggar ketiga peraturan ini.” “Tapi, Bu. Kenapa tiba-tiba ada peraturan seperti ini? Mendadak lagi?” Seorang pekerja terdengar melontarkan pertanyaan. Nana menanggapinya dengan santai, sudah dia duga peraturan ini akan membuat para pekerja kebingungan bahkan mungkin keberatan. Tapi sungguh Nana melakukan ini demi keselamatan mereka di saat dirinya tak memiliki kemampuan untuk membatalkan pembangunan resort ini. Usahanya untuk membujuk atasannya agar pembangunan resort dibatalkan telah gagal, jadi satu-satunya yang bisa dia lakukan hanyalah memastikan keselamatan para pekerja. “Seperti yang kalian ketahui, sudah ada dua rekan kalian yang meninggal di area konstruksi secara mengenaskan. Dan mereka meninggal dalam kondisi sama persis. Mereka meninggal di area kontruksi saat mereka kesana pada malam hari, sendirian. Jadi peraturan ini dibuat agar tidak ada jatuh korban lagi.” “Bukankah hewan buas yang membunuh mereka bu? Selain itu hewan buasnya kan sudah ditangkap oleh para pemburu?” Pekerja lainnya ikut menimpali. Nana menghela napas panjang sebelum kembali mengeluarkan suaranya. “Tidak menutup kemungkinan masih ada hewan buas yang berkeliaran. Dan sepertinya hewan buas itu sering berkeliaran di sekitar hutan dan area kontruksi pada malam hari. Karena itu peraturan ini dibuat sebagai bentuk antisipasi. Tolong patuhi peraturan ini, percayalah ini demi keselamatan kalian.” Hening sesaat, tak ada suara para pekerja yang menyahut. Nana diam memperhatikan wajah para pekerja yang berjumlah lebih dari 50 orang itu. Dan saat mereka secara serempak menyuarakan persetujuan mereka atas ketiga peraturan itu, Nana tersenyum sumringah detik itu juga. Dia sangat lega. Rex menatap diam ke arah depannya, dimana Nana yang masih sibuk berinteraksi dengan para pekerja bisa dia lihat dengan jelas. Suara Nana juga terdengar cukup jelas di telinganya. Tak menyangka sepeduli itu Nana pada keselamatan para pekerja hingga tak mempedulikan keselamatannya sendiri. Di saat Rex berpikir untuk kembali mengikuti Nana yang kini melangkah meninggalkan area perkemahan para pekerja, Rex harus mengurungkan niatnya. Ponsel miliknya yang bergetar di dalam saku celananya menjadi penyebabnya. Lantas dia mengeluarkan ponsel itu, mendengus pelan tatkala menemukan Rudi, sang asisten lah yang menghubunginya. “Hallo,” ucap Rex, begitu telepon itu tersambung. “Pak, mohon maaf menelepon malam-malam begini. Saya ingin melaporkan hasil meeting yang baru saja kami selenggarakan di kantor pusat.” Suara Rudi yang terdengar gugup menyapa gendang telinga Rex. “Kirimkan saja melalui email seperti biasa.” “Tapi, Pak. Saya membutuhkan pendapat Anda sekarang juga. Ini mengenai ...” “Rudi,” sela Rex seenaknya padahal  ucapan sang asisten masih menggantung di udara. “Iya, Pak.” “Aku ada tugas penting buat kamu,” Katanya, di seberang sana Rudi hanya terdiam. Sempat tak menyahut beberapa detik lamanya. “Tugas apa ya, Pak?” “Aku ingin kamu menyelidiki semua hal tentang Nana Athalia. Keluarganya, teman-temannya, masa lalunya. Semuanya tentang Nana Athalia, aku ingin tahu,” titahnya. “Bukankah anda sudah tahu informasi tentang keluarganya pak? Dia tidak memiliki sanak saudara lagi setelah neneknya tiada,” jawab Rudi, kebingungan dengan permintaan sang boss. “Cari tahu lagi semua hal tentangnya. Tentang masa lalunya terutama.” “Hmm ... baiklah kalau begitu, Pak.” “Secepatnya laporkan hasil penyelidikannya padaku.” “Siap, Pak,” sahut Rudi, di seberang sana. “Oh iya, Pak. Tentang rencana Anda kembali ke Jakarta lusa nanti. Saya sudah mempersiapkan helikopter untuk menjemput Anda.” Rex tertegun, tampak berpikir begitu Rudi mengingatkannya tentang rencana awalnya untuk kembali ke Jakarta. Entah kenapa dia ragu untuk kembali ke Jakarta sekarang, padahal awalnya dia ingin cepat-cepat pergi dari area proyek pembangunan resort ini. Selain karena merasa semua masalah disini sudah selesai, dia juga memiliki banyak tugas lain di kantor pusat. Hingga tiba-tiba perkataan Nana tadi pagi terngiang-ngiang di ingatannya. “Mungkin bagi Anda, keselamatan mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan pembangunan resort yang harus secepatnya dirampungkan. Tapi saya tidak bisa bersikap cuek seperti Anda. Saya peduli pada keselamatan para pekerja, Pak. Dan selama saya ada di sini, saya akan melakukan apa pun untuk memastikan keselamatan mereka.” “Saya tidak ingin menjadi orang yang egois, Pak. Hanya karena jabatan kita lebih tinggi dari mereka lantas kita memerintah mereka seenak hati. Lalu kita tinggal menunggu hasil saja, memarahi mereka seandainya hasilnya nanti tak sesuai keinginan kita. Padahal kita tidak tahu sekeras apa perjuangan mereka.” “Mungkin jabatan saya lebih tinggi dari mereka, Pak. Tapi saya tidak ingin menjadi atasan yang tak peduli dengan keselamatan mereka. Saya dan mereka sama saja, sama-sama manusia.” Rex memejamkan matanya, kata-kata Nana sangat mengusik hatinya sekarang. Benar-benar membuat Rex merasa tersindir dengan kegigihan wanita itu untuk melindungi para pekerjanya. Padahal sebagai seorang CEO, harusnya dirinya yang lebih mempedulikan mereka, bukan Nana yang jelas-jelas hanyalah karyawan baru di perusahaannya. “Tentang kepulanganku ke Jakarta lusa nanti. Batalkan saja. Aku akan tetap tinggal di sini selama waktu yang tidak ditentukan.” “Tapi, Pak. Bagaimana dengan tugas-tugas anda di kantor pusat?” Tanya Rudi, terdengar terkejut mendengar keputusan Rex yang mendadak ini. “Aku percayakan padamu untuk menggantikanku selama aku di sini. Tapi, pastikan kamu mengirim laporannya setiap hari padaku.” “Baik, Pak.” Rex memutuskan sambungan teleponnya setelah itu. Menghela napas panjang sebelum dia kembali melanjutkan langkahnya menuju penginapan. Dia yakin Nana sudah kembali ke penginapan mereka. Dalam hatinya, Rex bertanya-tanya siapa sebenarnya Nana. Kenapa wanita itu begitu percaya dengan keberadaan makhluk penunggu gunung? Seolah dia pernah melihat makhluk itu dengan mata kepalanya sendiri. Mungkin karena penasaran dengan hal ini menjadi alasan utama Rex ingin mengetahui semua hal tentang Nana. Ya, semua tentang wanita itu, tanpa terkecuali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN