Keesokan harinya, seperti yang dikatakan Rex ... dua puluh pemburu profesional yang disewa olehnya datang ke area kontruksi. Nana hanya mampu melongo melihat pemandangan dimana kedua puluh pemburu itu kini sedang mendapatkan arahan dari atasannya.
Pria yang Nana ketahui bernama Neval itu tengah sibuk memberitahu area mana saja yang harus ditelusuri oleh para pemburu. Mengatakan seluruh area hutan harus disisir seteliti mungkin. Semua hewan buas yang nantinya mereka temukan di dalam sana harus dipastikan ditangkap semua tanpa terkecuali.
Setelah selesai memberikan arahannya, Rex tersenyum puas tatkala melihat para pemburu itu bergegas menuju hutan yang belum terjamah oleh para pekerjanya. Tentu dengan berbagai peralatan berburu sudah siap mereka bawa serta ke dalam hutan.
“Kamu tunggu saja sebentar lagi mereka akan menangkap semua hewan buas yang tinggal di hutan ini,” ucap Rex dengan angkuhnya setelah kini dia berdiri tepat di samping Nana.
Nana yang masih syok dengan kejadian yang baru saja dilihatnya, refleks memutar lehernya menoleh ke arah Rex. Mengembuskan napas frustasi karena rasa khawatir mulai mendominasi hatinya.
“Kalau terbukti di hutan itu ada hewan buasnya. Jangan pernah lagi kamu membahas pembicaraan kita yang kemarin.”
“Bukan masalah itu yang saya khawatirkan, Pak. Saya khawatir para pemburu itu akan menjadi korban keganasan makhluk penunggu gunung. Bagaimana jika mereka semua mati di dalam hutan?”
Nana tentu mengatakannya dengan serius, berbanding terbalik dengan Rex yang justru tertawa mencemooh sekarang.
“Kamu ini benar-benar lugu, polos atau terlalu bodoh sebenarnya? Bisa-bisanya percaya pada ucapan penduduk desa. Mereka itu hanya mengarang cerita. Mereka cuma gak mau hutan yang biasa mereka jadikan tempat pencaharian akan dibangun resort sebentar lagi. Tentu aja mereka gak bisa lagi nebang pohon seenak hati mereka. Karena hutan itu sudah resmi menjadi milik Ernesto Group. Kami sudah membelinya.”
Nana menggelengkan kepalanya berulang kali. Kecewa sekaligus tak habis pikir dengan jalan pikiran atasannya yang terlalu mengutamakan logika dan mengabaikan semua bukti yang ada.
“Pak, sepertinya Anda baru akan percaya jika sudah melihat makhluk itu dengan mata kepala Anda sendiri ya?”
“Makhluk itu gak ada, Nana. Cuma takhayul yang dipercaya orang-orang kampung. Omong kosong.”
Rex pun melangkah pergi setelah dengan angkuhnya berujar seperti itu, membuat Nana semakin yakin tak ada satu pun cara untuk membuat atasannya percaya kecuali jika makhluk itu muncul di depan mata kepala pria itu.
Setelah menghabiskan waktu seharian, para pemburu pun akhirnya keluar dari hutan. Rex semakin tersenyum pongah saat melihat para pemburu itu berhasil menangkap dua hewan buas dari dalam hutan. Seekor macan tutul dan harimau dewasa.
“Kamu lihat buktinya sekarang, semua yang saya katakan memang benar kan? Dua pekerja yang mati itu pasti jadi korban salah satu hewan buas itu. Sekarang berhentilah membicarakan makhluk penunggu gunung. Makhluk itu hanya ada di negeri dongeng, mustahil ada di dunia nyata,” ucap Rex tegas dan terang-terangan menyindir Nana yang sedang berdiri di sampingnya.
Nana sendiri hanya terdiam, tatapannya lurus ke arah dua hewan buas yang kini sudah dimasukan ke dalam kandang besi.
Salah seorang pemburu berjalan menghampiri mereka, menghampiri Rex lebih tepatnya.
“Pak, kami sudah menangkap hewan buasnya seperti yang anda perintahkan,” ucap sang pemburu.
“Bagus. Saya puas dengan kerja kalian. Tapi apa kalian sudah memastikan tidak ada lagi hewan buas di dalam hutan?” Rex menyahut.
“Tidak ada, Pak. Kami sudah berkeliling beberapa kali di hutan, dan kami hanya menemukan dua hewan buas itu.”
“Pak, bagaimana keadaan para pemburu? Mereka semua baik-baik saja kan?” Sela Nana, tiba-tiba mengambil alih pembicaraan. Rex mengernyitkan dahi, sedangkan sang pemburu tersenyum ramah mendengar pertanyaan Nana.
“Semuanya baik-baik saja, Bu. Ada beberapa yang terluka ringan tapi itu hal biasa yang kami alami jika sedang berburu.”
“Maksud saya, tidak ada yang menghilang kan, Pak?”
Rex mendengus geli mendengar pertanyaan Nana, meski dia tahu dari nada suara dan ekspresi wajahnya, Nana memang serius mengkhawatirkan para pemburu.
“Tidak ada yang menghilang kok, Bu. Semuanya lengkap ada dua puluh orang.”
“Syukurlah kalau begitu,” sahut Nana seraya mengembuskan napas lega.
“Tapi saya heran juga dengan hutan ini.”
“Apa yang membuat bapak heran?” Tanya Nana, lagi-lagi menyerobot.
“Hutannya sangat luas dan lebat, seharusnya di hutan seluas itu ada banyak hewan yang tinggal disana. Tapi sepanjang jalan kami menelusuri hutan itu, tidak ada satu pun hewan yang kami temui. Bahkan rusa atau babi hutan pun tidak ada. Kami hanya menemukan macan tutul dan harimau itu saja.”
Nana terenyak mendengarnya. Baginya semua ini bukti jelas bahwa hewan-hewan yang hidup di dalam hutan pastilah habis karena dijadikan santapan makhluk penunggu gunung.
“Mungkin mereka semua mati karena diburu macan tutul dan harimau itu. Makanya mereka datang ke area kontruksi karena makanan mereka di dalam hutan udah habis.” Rex ikut menimpali.
“Sepertinya begitu. Oh iya, Pak, bagaimana dengan macan tutul dan harimaunya?”
“Biarkan saja di sini.”
“Baiklah, Pak. Kalau begitu kami permisi.”
“OK, bayaran kalian sudah saya transfer ke rekening yang saya terima tadi pagi.”
“Baik, Pak. Terima kasih,” sahut sang pemburu, sebelum dia pergi menghampiri rekan-rekannya. Mereka pun pergi dari area kontruksi setelahnya.
Nana masih diam melamun di samping Rex, saat Rex tiba-tiba melambaikan tangannya memanggil salah seorang security agar menghampirinya.
“Iya, Pak. Ada apa?” Tanya sang security dengan sedikit membungkukan badannya tampak sungkan.
“Kamu ajak beberapa anggota kamu dan beberapa pekerja. Kalian pergilah ke desa, tunjukan dua hewan buas itu pada penduduk desa. Katakan pada mereka gak ada lagi yang perlu ditakutkan, hewan buas itu sudah berhasil di tangkap.”
Nana refleks mendongak saat mendengar perintah yang diberikan atasannya pada sang security.
“Katakan juga pada penduduk desa, jangan coba-coba berdemo lagi di sini. Karena saya tidak akan segan-segan melaporkan mereka pada polisi. Akan saya pastikan mereka akan ditangkap karena menyebarkan berita palsu. Omong kosong dengan makhluk penunggu gunung, hutan itu hanya dihuni hewan buas.”
“Baik, Pak. Saya mengerti.”
“OK, pergi sekarang.”
Sang security pun berjalan pergi untuk melaksanakan tugas yang diberikan Rex.
Untuk kesekian kalinya Nana menggelengkan kepalanya tak percaya mendengar perkataan atasannya. Pria ini jauh lebih keras kepala dibandingkan Araya.
“Apa menunjukan hewan buas pada warga desa dan ancaman akan melaporkan mereka ke polisi jika mereka berdemo lagi juga diperintahkan oleh Pak Rex? Atau ini murni inisiatif pak Neval?” Tanya Nana.
“Tentu saja ini perintah Pak Rex. Saya sebagai asistennya hanya menuruti perintahnya,” jawab Rex, untuk kesekian kalinya membohongi Nana.
“Berarti orang yang kejam di sini adalah Pak Rex.”
“Apa maksud kamu? Kamu berani mengatakan itu tentang CEO perusahaan tempatmu bekerja?” Tanya Rex, terkejut mendengar Nana berani mencemooh dirinya.
“Itu kenyataannya, Pak. Sudah tahu di sini berbahaya tapi dia tetap tidak percaya. Hanya demi uang dan keuntungan, dia gak peduli walau nanti akan banyak korban yang berjatuhan di sini. Baginya keuntungan adalah segalanya, bahkan nyawa manusia pun bukan apa-apa bagi dia. Kalau bukan kejam, sebutan apa lagi yang lebih pantas disematkan untuknya?”
Nana tersenyum sinis membuat Rex yang melihatnya sempat terperangah. Wanita yang terlihat lugu dari luar, Rex tak menyangka ternyata mampu bersikap berani seperti ini. Terlebih berani mencemooh pimpinannya sendiri. Diam-diam Rex salut pada keberanian Nana.
“Pak, saya ingin mundur dari proyek ini. Saya akan mengundurkan diri dari perusahaan Ernesto Group.”
Dan kata-kata Nana kali ini telah sukses membuat Rex terbelalak kaget.
“Kamu gak bisa mengundurkan diri seenaknya. Ingat kontrak kerja yang udah kamu tandatangani. Di situ tertera jelas kamu harus membayar uang ganti rugi kalau mengundurkan diri sebelum tugasmu selesai,” sanggah Rex, tentu dia tak akan menerima pengunduran diri Nana. Setelah dia dengan susah payah akhirnya berhasil menjadikan Nana sebagai karyawannya.
“Saran saya, lebih baik kamu mulai membuat rancangan resort karena itu tugas kamu. Kalau kamu keras kepala ingin mengundurkan diri, resikonya kamu bisa dipenjara. Kalau saya lihat dari latar belakang keluarga kamu, jelas kamu gak akan sanggup membayar uang ganti rugi sebanyak itu dalam waktu dekat.”
Rex membungkukan sedikit wajahnya, mendekatkannya pada wajah Nana yang tengah terpaku hebat di tempatnya berdiri.
“Karena Pak Rex bukan orang yang sabar. Dia tidak akan sudi menunggu kamu mengumpulkan uang sebanyak itu,” bisiknya pelan di telinga Nana.
“Mohon kerja samanya, Nana. Saya siap memberi saran kalau kamu butuh pendapat seseorang untuk rancangan resort-nya.”
Rex menepuk pelan bahu Nana sebelum melenggang santai meninggalkan Nana yang masih berdiri mematung.
***
Para pemburu itu tengah membereskan barang-barang bawaan mereka, meletakannya di dalam bagasi mobil mereka.
“Aduuh ... senapan punya aku ketinggalan di hutan kayaknya,” pekik salah seorang pemburu saat menyadari dia meninggalkan senapannya di dalam hutan.
“Kok bisa ketinggalan?” Tanya rekannya, tak habis pikir.
“Kayaknya waktu aku ngiket kaki harimau deh. Aku senderin senapan itu di batang pohon, lupa gak diambil lagi,” sahutnya seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Dasar ceroboh. Ya udah, sana ambil senapannya. Bisa ngamuk pak bos kalau tahu koleksi senapan dia ilang di hutan.”
“Iya, Bang. Aku pergi dulu ya.”
Pemburu itu pun berjalan cepat meninggalkan rekannya, berniat masuk lagi ke dalam hutan. Merasa beruntung karena dia ingat senapannya tertinggal sebelum mereka meninggalkan area kontruksi.
“Eh Mat, nanti kamu pulangnya gimana? Mobil udah mau berangkat nih?”
Pemburu bernama Rahmat itu pun menghentikan langkahnya saat suara rekannya tadi terdengar olehnya.
“Nanti aku minta dianter ke kota sama orang kontruksi aja bang. Mereka pasti mau nganterin,” sahutnya.
“Ya udah, kalau gitu. Kita berangkat duluan ya mat. Hati-hati di hutan.”
“OK, Bang. Makasih,” jawab Rahmat, lantas dia pun melanjutkan langkahnya.
Waktu sudah menunjukan senja hari, bahkan langit di atas sana sudah nyaris berubah menjadi gelap. Area kontruksi sepi saat Rahmat melewatinya. Sebenarnya ini hal wajar karena selain sebentar lagi malam tiba, hari ini pun aktivitas kerja di area ini memang dihentikan selama menunggu hasil perburuan para pemburu.
“Duh, serem juga ya di sini kalau sepi,” gumamnya seraya memeluk dirinya sendiri karena entah mengapa angin berhembus cukup kencang saat ini.
Mengabaikan rasa takutnya yang sebenarnya mulai muncul ke permukaan, Rahmat kembali melanjutkan langkahnya.
Sempat ragu untuk masuk saat dirinya sudah berdiri di depan hutan. Jika saja bayangan dirinya akan dimarahi oleh pemilik senapan yang merupakan pemimpin komunitas para pemburu profesional, membuatnya akhirnya memilih untuk tetap masuk ke dalam.
“Numpang-numpang ... permisi ya. Saya izin lewat. Mau ambil senapan yang ketinggalan,” ucapnya, seiring langkahnya semakin dalam memasuki hutan.
Rahmat merasa suasana semakin mencekam mengiringi langkahnya. Suasana yang nyaris gelap gulita dan hanya diterangi oleh cahaya dari senter di tangan Rahmat. Lalu hembusan angin yang entah mengapa mampu menusuk kulit hingga ke tulang. Bulu kuduk Rahmat yang merinding serta tubuhnya yang menggigil hebat, nyaris membuat Rahmat ingin lari saja sekarang. Pergi secepatnya dari hutan yang menurutnya angker ini.
Tadi siang saat dirinya berburu bersama rekan-rekannya, dia tak merasa takut sedikit pun. Tapi sekarang, suasananya berbeda saat dia masuk ke dalam hutan ini seorang diri.
“Duuh, dimana ya tadi aku nyenderin senapannya? Di pohon yang mana? Pake acara lupa lagi,” gerutunya merutuki kebodohannya.
Dia arahkan sinar senternya ke arah pohon-pohon besar yang tumbuh di sekelilingnya.
“Mana senapannya, mana?”
Tepat saat sinar senternya mengenai salah satu pohon mahoni, senyuman lebar terulas di bibir Rahmat.
“Itu dia senapannya,” ujarnya girang, lantas dia pun berlari mendekati pohon itu.
Setibanya di dekat pohon, dia ambil senapan yang masih dalam posisi yang sama saat dirinya meninggalkannya yaitu disenderkan pada batang pohon.
“Selamet, selamet, untung ketemu nih senapan. Kalau gak ketemu, bisa digorok pak Bos nih kalau tahu senapannya ilang,” ujarnya, dia mengelus-elus senapan itu penuh sayang. Dia pun memeriksa pisau tajam yang sengaja diikatkan di ujung senapan. Tersenyum lega karena pisau itu juga masih ada di sana.
Di saat dia hendak melangkah pergi, belum sempat melakukan niatnya ... tiba-tiba dia tertegun saat telinganya menangkap suara geraman aneh. Geraman yang lebih keras, berat dan menyeramkan dari suara geraman hewan buas setahu dirinya. Seringnya berburu di hutan setidaknya membuat Rahmat sedikit banyak memahani karakter suara geraman dari berbagai jenis hewan buas. Dan Rahmat berani bersumpah, dia belum pernah mendengar suara geraman semenyeramkan itu.
Dia meneguk salivanya susah payah, sebelum mendongakkan kepalanya karena merasa yakin suara geraman itu berasal dari atas pohon mahoni di dekatnya.
Seketika matanya membulat sempurna dengan mulut yang menganga lebar saat melihat sesuatu menyerupai ekor bergerak-gerak di atas pohon. Dengan perasaan was-was dan takut luar biasa, Rahmat mengarahkan sinar senternya pada pohon.
Makhluk menyerupai monster itu berada di sana. Tengah berjongkok dengan ekornya yang menjuntai-juntai ke bawah. Wajahnya yang menyeramkan serta tengah menyeringai itu sukses membuat peluh sebiji jagung mulai berjatuhan di pelipis Rahmat.
“A-Apa itu?” Gumam Rahmat pada dirinya sendiri.
Rahmat berteriak histeris saat melihat makhluk itu tiba-tiba melompat turun. Tubuh sang makhluk yang dua kali lipat lebih tinggi dan besar darinya, kini sudah berdiri menjulang tak jauh darinya. Tulang-tulang si makhluk yang menonjol keluar pertanda betapa kurusnya makhluk itu, membuat Rahmat terpaku di tempatnya berdiri. Bingung sekaligus panik, tak tahu harus melakukan apa sekarang.
Makhluk itu mengangkat satu tangannya, menggerak-gerakan jari-jari tangannya yang kurus disertai cakar-cakar panjang nan runcingnya. Suara gemeretak dari tulang tangan si makhluk begitu memekakan di telinga Rahmat.
Dengan tubuh bergetar hebat, Rahmat mencoba mengangkat senapannya. Memasang ancang-ancang untuk menembak monster menyeramkan di hadapannya.
“Pergi dari sini. Atau aku tembak,” ancamnya, seolah makhluk itu akan takut mendengar ancaman konyolnya.
Bukannya menuruti perkataan Rahmat, makhluk itu tengah membungkuk sekarang, menempelkan kedua tangannya di tanah sehingga dia dalam posisi siap menerkam layaknya seekor harimau yang siap melompat.
Rahmat pun tak ambil pusing lagi, dia lepaskan satu tembakannya yang tepat mengenai d**a makhluk itu.
Namun ajaibnya si makhluk tak bereaksi apa pun seolah peluru itu tak memberikan rasa sakit untuknya sedikit pun. Makhluk itu kembali berdiri tegak, dengan cakar panjangnya dia mengambil peluru yang menancap di dadanya.
Rahmat terkejut bukan main melihat pemandangan tak masuk akal itu, bagaimana bisa pelurunya tak melukai makhluk itu sedikit pun? Lantas dia pun kembali melepaskan tembakannya. Tiga tembakan sekaligus yang ketiganya berhasil bersarang di tubuh si makhluk.
Akan tetapi usaha Rahmat berakhir sia-sia karena makhluk itu baik-baik saja. Nyawa Rahmat jelas berada di ujung tanduk karena terlihat makhluk itu marah besar sekarang, terdengar dari suara geramannya yang lebih kencang dari sebelumnya.
Dia menerkam Rahmat dalam sekali lompatan. Menindih tubuh Rahmat yang terjengkang ke belakang.
“Tidak, tidak! Jangan bunuh aku!!” Teriak Rahmat histeris.
Makhluk itu tentu tak berbelas kasihan, dia menusuk bola mata Rahmat dengan cakar tajamnya. Terus mendorong kedua jari tangannya hingga menembus ke belakang kepala Rahmat.
Rahmat meregang nyawa detik itu juga. Si makhluk menyeringai puas melihat mangsanya mati dalam sekejap. Lalu dia memegang kepala Rahmat dengan kedua tangannya, memelintirnya hingga kepala itu terlepas dari lehernya.
Setelahnya dia membawa tubuh tanpa kepala Rahmat menaiki sebuah pohon, senapan yang tergeletak di samping jasad Rahmat pun ikut dia bawa serta.
Ketika dirinya sudah berdiri di salah satu dahan pohon bersama jasad Rahmat yang dia cengkram. Dia menempelkan tubuh Rahmat pada batang pohon, dengan sekali hentakan menusukan pisau tajam yang diikat di ujung senapan ke perut Rahmat. Mendorong senapan itu hingga sukses menembus punggung Rahmat dan menancap di batang pohon bersama dengan jasad Rahmat yang ikut menancap di sana.
Setelah memastikan jasad mangsanya tertancap sempurna di batang pohon, dia pun melompat turun, berjalan menghampiri kepala Rahmat yang tergeletak di tanah. Dia ambil kepala itu dengan menjambak rambutnya. Membuka mulutnya lebar sebelum kepala Rahmat yang malang masuk sempurna ke dalam mulutnya.
Setelah itu, hanya terdengar suara nyaring tengkorak kepala Rahmat yang tengah dikunyah oleh sang makhluk. Memakannya tanpa sisa. Kali ini dia biarkan tubuh mangsanya tertancap hingga membusuk di pohon sebagai peringatan untuk para manusia yang berani mengusik wilayah kekuasaannya.