BAB 7

2243 Kata
Setibanya di area konstruksi, Nana tidak kembali ke penginapannya melainkan pergi menuju area kontruksi untuk memantau keadaan. Sebenarnya dia pun memiliki tujuan lain sehingga dirinya memilih pergi ke sana dibandingkan pulang untuk beristirahat di penginapan. Tatapannya memicing pada para pekerja yang sedang fokus dengan pekerjaannya masing-masing. Lantas mengembuskan napas lega karena tanpa sengaja menemukan salah seorang pekerja yang tengah duduk bersandar pada pohon, sepertinya dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Mungkin sedang beristirahat karena Nana melihat pekerja itu sedang menenggak minumannya. Nana bergegas menghampiri pria itu. “Hai, tidak sedang sibuk, kan?” Nana tidak bermaksud mengejutkan pekerja itu, namun jika melihat reaksi pekerja itu yang langsung berdiri dari duduknya begitu melihat Nana, Nana meringis dalam hati, merasa bersalah. “Maaf, Bu. Saya sedang minum dulu sebentar. Saya akan segera melanjutkan pekerjaan saya,” ucap pekerja itu, seorang pemuda yang Nana perkirakan berusia 19 tahunan jika ditilik dari penampilannya. Nana terkekeh kecil, sadar sepenuhnya pekerja itu salah paham dengan kedatangannya. Mungkin berpikir Nana akan menegurnya karena dia yang terlihat sedang bermalas-malasan. Padahal sungguh niat Nana mendekati pemuda itu, bukan untuk itu. “Kamu gak usah takut, saya ke sini bukan mau marahin kamu. Tapi ada yang mau saya tanyain. Bisa ngobrol sebentar?” Pemuda itu tertegun, melihat Nana penuh curiga. Hingga beberapa detik kemudian dia pun mengangguk menyetujui. Nana tersenyum lebar, tampak puas. “Ngomong-ngomong namamu siapa? Biar enak kita ngobrolnya, lebih baik kita kenalan dulu. Nama saya Nana Athalia, sekretaris Pak Neval.” Pemuda itu mengerutkan dahinya seolah kebingungan sendiri. Namun melihat ekspresinya yang kembali normal sedetik kemudian, sepertinya pemuda itu tak mempermasalahkan nama seseorang yang baru saja disebutkan oleh Nana. Nama yang cukup asing bagi si pemuda. “Nama saya Daman, Bu,” sahutnya. Nana mengangguk. “Ibu ingin bertanya apa?” Lanjut Daman, mulai penasaran dengan topik yang akan mereka bicarakan. “Sebelumnya, saya ingin tahu sudah berapa lama kamu bekerja di sini? Apa sejak proyek kontruksi ini dimulai?” “Iya, Bu. Saya sudah bekerja di sini sejak proyek kontruksi ini dimulai.” Nana tersenyum lebar mendengar jawaban Daman, merasa dia telah memilih orang yang tepat untuk dia tanyai. “Hmmm ... begini. Selama kamu bekerja di sini, kamu pernah gak ngalamin kejadian aneh?” Pemuda bernama Daman itu kembali mengernyitkan dahinya, kentara kebingungan sendiri mendengar pertanyaan Nana yang mungkin aneh baginya. “Kejadian aneh gimana maksudnya, Bu?” “Itu ... hmmm .... seperti kamu pernah mendengar suara-suara aneh? Suara geraman hewan buas misalnya.” Daman terdiam, tampak sedang berpikir. Butuh jeda beberapa detik hingga dia akhirnya buka suara untuk menjawab pertanyaan Nana. “Gak pernah, Bu. Saya gak pernah dengar suara apa pun. Semuanya normal,” jawab Daman, terlihat jujur. “Rekan-rekan kamu gimana? Pernah gak kamu denger mereka cerita-cerita ngalamin kejadian aneh di sini?” Daman kembali terdiam, semakin bingung karena Nana yang tiba-tiba bertanya seperti itu. “Gak ada juga, Bu. Saya gak pernah denger ada yang cerita aneh-aneh.” “Ooh begitu, berarti tempat ini memang aman-aman aja ya. Gak ada keanehan apa pun?” tebak Nana, namun anehnya tak ditanggapi apa pun oleh Daman. Pemuda itu terlihat gamang seolah dia sedang mengingat sesuatu yang ragu untuk dia ceritakan pada Nana. Menyadari ekspresi aneh di wajah Daman, Nana pun berinisiatif untuk kembali bertanya. “Kalau ada sesuatu yang aneh, kamu ceritain aja. Jangan ragu atau takut,” pinta Nana, yang sukses membuat Daman sempat terenyak. “Hmmm ... Bu, sebenarnya saya curiga tempat ini berbahaya,” ujar Daman tiba-tiba. Nana menatap antusias pada lawan bicaranya, merasa akhirnya pancingannya berhasil. Pemuda di hadapannya itu mulai menganggap serius pembicaraan mereka. Itu yang Nana tangkap dari ekspresi wajah Daman. “Kenapa kamu bisa berpikir begitu?” Tanya Nana. “Itu lho, Bu. Ibu tahu kan ditemukan dua mayat di tempat konstruksi? Sepertinya mereka dibunuh ya, Bu?” Nana tersentak kaget luar biasa, dia yakin telinganya tak salah mendengar barusan. Daman dengan jelas mengatakan ditemukan dua mayat di tempat ini, sedangkan setahu Nana hanya ada satu mayat yang ditemukan. “Dua mayat? Bukannya cuma satu mayat yang ditemukan kemarin?” “Maksud saya mayat yang ditemukan beberapa hari yang lalu, Bu. Ibu nggak tahu?” “Nggak, saya gak tahu. Coba kamu ceritakan gimana kondisi mayat itu,” pinta Nana, semakin bersemangat, merasa dirinya mendapatkan petunjuk penting dari pemuda bernama Daman ini. “Namanya Fajar. Dia ditemukan sudah menjadi mayat di area konstruksi. Mayatnya mengenaskan, Bu. Tengkorak kepalanya terpelintir, bagian atas kepala sama bawah kepalanya dipelintir berlawanan arah.” “Tengkorak kepala? Mungkin maksud kamu lehernya?” “Nggak, Bu. Beneran tengkorak kepala.” “Tapi mustahil kepala manusia bisa dipelintir, tengkorak kepala kan keras,” sanggah Nana, sulit baginya mempercayai ucapan Daman kali ini. “Tapi memang begitu Bu kenyataannya. Tengkorak kepalanya dipelintir sampai wajahnya aja gak jelas soalnya wajahnya kayak terbelah dua.” Nana tertegun, rasanya tak mungkin Daman berbohong. “Terus hasil pemeriksaan pihak kepolisian bagaimana? Mereka sudah tahu dia dibunuh dengan cara apa? Mustahil kepala manusia bisa dipelintir, saya masih susah buat percaya,” tanya Nana lagi. “Gak ada polisi yang datang waktu itu bu. Mayat Fajar udah dikebumikan, dianggap menjadi korban penyerangan hewan buas dari dalam hutan.” Nana terbelalak kaget mendengarnya, ada orang yang dibunuh dan tidak ada pihak kepolisian yang datang. Dia merasa ini sama sekali tidak benar. “Pak Neval tahu tentang penemuan mayat Fajar ini?” “Pak Neval?” Gumam Daman dengan alis yang berkerut tajam. “Iya pak Neval, asistennya Pak Rex,” jawab Nana, merasa aneh karena Daman sepertinya tak mengenal atasannya. Padahal atasannya bernama Neval itu sudah berada di tempat ini beberapa hari, dan jika melihat pekerja lain yang begitu menghormati dirinya, Nana sempat berpikir mungkin seluruh pekerja disini memang sudah mengenalnya. Mungkin pria itu sering mengunjungi area kontruksi ini. “Saya gak tahu Bu yang namanya pak Neval. Tapi Pak Rex tahu kok penemuan mayat ini.” Lagi-lagi Nana membulatkan kedua matanya. “Pak Rex? Rex Ernesto, CEO perusahaan ini maksud kamu?” Tanya Nana memastikan, takut dia salah orang. “Iya betul, Pak Rex Ernesto,” jawab Daman, menepis semua keraguan Nana. “OK, kalau begitu. Makasih ya udah mau jawab pertanyaan-pertanyaan saya. Kamu bisa lanjut kerja sekarang.” “Baik, Bu. Permisi,” sahut Daman, dia pun melangkah menuju area konstruksi untuk melanjutkan pekerjaannya. Sama halnya dengan Nana, dia melangkah cepat dari sana. Dia harus mencari seseorang saat ini juga. Dirinya semakin yakin bahwa kedua mayat yang ditemukan di area kontruksi memang korban keganasan makhluk penunggu gunung. Proyek pembangunan resort ini harus segera dihentikan. *** Nana sudah berkeliling di sekitar area kontruksi yang luasnya minta ampun, mampu membuat Nana ngos-ngosan saking capeknya. Namun sosok orang yang dicarinya sejak tadi tidak dia temukan dimana pun. Sempat Nana berpikiran buruk bahwa orang itu meninggalkannya sendiri di tempat ini. Lalu dia kembali ke Jakarta seorang diri, meskipun rasanya mustahil  orang itu tega meninggalkannya. Tak kuasa lagi menahan rasa lelahnya mengingat dirinya juga sudah berjalan jauh saat mendatangi desa. Nana pun memutuskan untuk kembali ke penginapan. Dia juga mulai lapar karena perutnya belum diisi apa pun sejak dia sarapan tadi pagi. Nana membuka pintu penginapan, sedikit mengernyit saat pintu dalam keadaan tidak terkunci. Padahal seingat Nana, dia sudah mengunci pintu sebelum pergi tadi pagi. Dia pun terenyak saat menyadari sesuatu. Cepat-cepat dia masuk ke dalam, mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok yang dicarinya sejak tadi. Pria menyebalkan yang sialnya adalah atasannya, Neval Maxime. “Kamu darimana?” Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah belakang Nana. Nana berbalik badan detik itu juga, menemukan sosok Neval yang baru saja keluar dari kamarnya, kini berdiri di hadapannya. “Saya nyari-nyari Pak Neval loh dari tadi. Ternyata ada di penginapan.” Neval yang sebenarnya adalah Rex, menaikan sebelah alisnya saat ucapan Nana tak sejalan dengan pertanyaannya. “Kamu belum jawab pertanyaan saya tadi. Kamu darimana?” Rex mengulang pertanyaannya. “Saya habis jalan-jalan, Pak.” “Jalan-jalan?” Gumam Rex, Nana mengangguk. “Masih sempat-sempatnya jalan-jalan padahal tahu kita di sini itu untuk bekerja bukan tamasya.” Mendengar ucapan sinis dari atasannya, Nana mengerucutkan bibirnya tampak tak suka. Tapi sudahlah, tak ada gunanya juga menanggapi ucapan pedas atasannya itu. Ada hal penting yang harus Nana bicarakan dengan pria itu sekarang juga. “Pak, bisa kita bicara sebentar?” Tanya Nana serius. “Bukannya dari tadi kita udah bicara ya? Emangnya kamu pikir kita lagi ngapain sekarang? Lagi nyanyi?” Dan sekali lagi Nana merasa jengkel bukan main mendengar jawaban atasan menyebalkannya itu. “Saya serius, Pak. Hal yang mau saya bicarakan juga sangat serius,” timpal Nana, sedikit menekankan pada kata serius, berharap Rex juga menanggapinya serius kali ini. “Kita perlu duduk gak nih? Atau bicaranya sambil berdiri aja?” Nana tak menggubris pertanyaan Rex, dia melangkah cepat mendekati sofa, lalu duduk disana tanpa mengajak Rex. Rex mendengus melihat tingkah laku Nana, hingga akhirnya dia merasa tak punya pilihan lain selain ikut duduk bersama Nana. “Jadi, apa yang mau kamu bicarakan dengan saya? Saya harap ini mengenai pekerjaan.” “Iya, Pak. Tenang aja. Ini memang menyangkut pekerjaan kok. Menyangkut proyek pembangunan resort ini lebih tepatnya,” jawab Nana, Rex menatap tajam wajah Nana yang juga sedang menatapnya tak kalah tajamnya. “Tadi saya pergi ke desa terdekat, dan saya ...” “Ngapain kamu pergi ke desa?!” Sela Rex dengan intonasi suaranya yang cukup tinggi hingga sukses membuat Nana terenyak kaget. “Tolong jangan menyela dulu pak, biar saya selesaikan dulu ucapan saya.” Rex terdiam, dia biarkan Nana kembali berbicara. Meski sebenarnya dia kesal bukan main pada wanita di hadapannya itu. Sepertinya Nana tipe orang yang senang ikut campur dengan urusan orang lain, Rex sudah bisa menerkanya hanya dengan beberapa hari berinteraksi dengan wanita itu. “Saya tidak sengaja bertemu dengan kepala desa, lalu kami mengobrol sebentar.” Kernyitan di dahi Rex semakin curam begitu pun tatapannya semakin menajam pada Nana, meski begitu tak ada suaranya yang keluar. Dia benar-benar membiarkan Nana melanjutkan ceritanya. “Saya bertanya alasan warga desa melakukan demo dan menentang pembangunan resort. Dia bilang tidak seharusnya kita membangun resort di area ini karena di gunung yang berdiri tepat di belakang hutan, ada penunggunya.” Rex tertawa detik itu juga, terang-terangan menganggap cerita Nana sebagai lelucon belaka. “Ini serius, Pak. Penunggu gunung itu sejenis makhluk dari dunia lain yang sangat berbahaya. Sudah banyak warga desa yang jadi korbannya.” “Di zaman yang sudah modern ini masih saja ada orang yang percaya takhayul.” Nana tak terkejut sedikit pun mendengar ucapan atasannya. Tipe pria seperti atasannya itu bisa dia prediksi tak ada bedanya dengan Araya. Mereka sama-sama menjunjung tinggi logika dan kemajuan teknologi yang berakibat hal-hal penting seperti mempercayai dunia gaib seolah tak pernah ada dalam pikiran mereka. “Saya bisa mengerti anda tidak percaya cerita ini, tapi memang keberadaan makhluk itu benar adanya. Warga desa sering mendengar suara geramannya. Selain itu, bukankah anda dan pak Rex juga sudah melihat korban makhluk itu secara langsung?” “Maksudnya?” Tanya Rex, meminta penjelasan. Dia sedikit bingung dengan maksud ucapan Nana. “Bukankah sudah ada dua pekerja yang menjadi korban keganasan makhluk itu? Pekerja bernama Fajar yang ditemukan beberapa hari yang lalu, dan Jaka yang ditemukan kemarin.” Rex tersentak kaget, tak menyangka Nana mengetahui penemuan mayat bernama Fajar, padahal seingatnya dia sengaja merahasiakan tentang penemuan mayat itu pada Nana. Kini Rex yakin, Nana sengaja mencari tahu kejadian ini. “Mereka pasti korban hewan buas yang tinggal di hutan. Wajar bukan jika di hutan hidup harimau atau serigala liar?” Nana mendengus seraya tersenyum sinis, bahkan setelah melihat bukti korban makhluk itu dengan mata kepalanya sendiri, pria di hadapannya itu masih saja tidak percaya. “Saya dengar mayat Fajar ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Tengkorak kepalanya terpelintir berlainan arah. Coba anda pikir, tidak mungkin ada hewan buas yang membunuh mangsanya dengan cara seperti itu. Manusia juga tak mungkin bisa membunuh dengan cara itu kan? Tengkorak kepala manusia itu keras, Pak. Hanya makhluk yang memiliki tenaga luar biasa kuat yang bisa sampai memelintirnya.” “Lalu mayat Jaka juga tidak kalah anehnya. Tubuh utamanya memang hilang sepertinya dimakan oleh makhluk itu. Tapi potongan tangan dan kakinya sengaja dia tinggalkan, mungkin sengaja juga dia lemparkan berlainan arah. Jika hewan buas seperti harimau yang membunuhnya, tidak mungkin dia akan menyisakan potongan tubuhnya kan? Pasti dia memakan semua bagian tubuh mangsanya.” “Sudah jelas bukan hewan buas apalagi manusia yang membunuh dua pekerja itu. Masih butuh bukti apa lagi pak? Semua sudah sangat jelas, makhluk penunggu gunung itu memang ada. Tempat ini sangat berbahaya, kita harus segera menghentikan proyek pembangunan resort ini.” Nana sedikit terengah setelah menyelesaikan ucapannya, pasalnya dia nyaris tak mengambil jeda saking semangatnya. “Tolong Anda sampaikan cerita ini pada Pak Rex. Anda kan asistennya pasti Anda bisa meyakinkan Pak Rex untuk menghentikan pembangunan resort ini, Pak,” pinta Nana, kali ini dia memasang wajah memelas agar pria di hadapannya bersedia bekerja sama dengannya. Rex menghela napas panjang, menjauhkan punggungnya dari sandaran sofa, lantas dia pun bersedekap d**a. Menatap Nana seolah sedang mencemoohnya. “Pembangunan resort ini tidak akan pernah dibatalkan hanya karena alasan gak masuk akal seperti itu. Kedua pekerja itu pasti dibunuh oleh hewan buas.” “Tapi, Pak ...” Rex mengangkat telapak tangannya, seketika membuat Nana mengatupkan kembali mulutnya. “Saya sudah menceritakan masalah ini pada Pak Rex. Beliau memerintahkan untuk menyewa beberapa pemburu untuk memburu hewan buas itu agar tidak ada lagi jatuh korban.” Nana terperangah seraya menggelengkan kepalanya tak percaya. “Para pemburu akan datang besok pagi. Jika mereka berhasil menangkap hewan buas itu, saya yakin semuanya akan kembali aman dan terkendali.” “Bagaimana jika para pemburu bertemu dengan makhluk itu di hutan, Pak? Resikonya terlalu berbahaya, bisa-bisa mereka ikut menjadi korban.” “Ck ... Ck ... kamu sama saja dengan warga desa. Percaya pada takhayul.” “Ini bukan takhayul, tapi kenyataan.” Mungkin karena bosan menghadapi Nana yang keras kepala, Rex memilih menghentikan perbincangan mereka. Dia berdiri dari duduknya. “Kita tunggu saja hasilnya besok. Para pemburu pasti berhasil menangkap semua hewan buas yang tinggal di hutan. Mereka pemburu profesional yang sudah terampil dalam menangani hewan buas.” “Jika mereka tidak menemukan hewan buas di dalam hutan. Apa Anda akan percaya keberadaan makhluk penunggu gunung itu?” Tanya Nana menantang. “Mungkin, akan coba saya pertimbangkan untuk mempercayainya. Mari kita bertaruh Nana. Saya yakin dua pekerja yang mati itu pasti dibunuh hewan buas. Para pemburu pasti akan menangkapnya besok.” “Semoga saja, Pak. Saya hanya bisa berharap semoga tidak jatuh korban lagi terutama untuk para pemburu itu.” Rex tersenyum sinis, melangkahkan kakinya meninggalkan Nana. Hingga tiba-tiba dia menghentikan langkah dan menoleh ke arah Nana sebelum dirinya membuka pintu kamarnya. “Jika terbukti ada hewan buas di dalam hutan. Berjanjilah kamu gak akan ngebahas masalah ini lagi. Lebih baik kamu mulai memikirkan rancangan resortnya.” Setelah mengatakan itu, Rex benar-benar memasuki kamarnya. Nana mengembuskan napas lelah, merosot dalam duduknya dan hanya mampu memijit pangkal hidungnya yang mulai berdenyut. Entah dengan cara apa dia harus meyakinkan atasannya agar mempercayai keberadaan makhluk penunggu gunung itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN