Si Putih Bab 46 : Bagai Dua Istri Kepalaku masih dipenuhi dengan berbagai pertanyaan yang mendera. Segera kuambil dan keluarkan si Putih dari dalam koper. Aku mengusap-usap kepalanya dan memeluk untuk memenangkannya. Karena terlihat dari wajahnya bahwa dia sedang ketakutan. “Kamu pengap ya dalam koper? Kamu takut gelap ya?” tanyaku pada Putih yang ada di gendongan. Matanya menatapku redup, terlihat sekali dia minta dilindungi, disayang dan ditenangkan. Mata birunya memejam saat dengan lembut saat aku membelai bulu-bulu halusnya. Aku tidak lagi memikirkan bagaimana caranya dia bisa ada di dalam tas. Aku hanya ingin memberikan perlindungan dan ketenangan padanya. “Udah, ya, kamu jangan takut. Udah aman dan tenang samaku di sini kok.” Aku mencium kepala si Putih dengan lembut. “Ck!”

