07

1767 Kata
Rachel mengemas barang-barangnya dengan rapi di kamar yang akan ia tempati nanti bersama Arga setelah mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Kalau bukan karena keberadaan calon mertuanya, ia tak akan mau melakukannya dengan ikhlas. Memangnya ia b***k Arga sampai dirinya sendirian yang mengurusi kepindahan mereka. Memangnya hubungan seperti ini bisa dibilang membangun interaksi untuk rumah tangga nantinya? Bagaimana caranya mereka bisa saling sepaham jika Arga saja terus membuatnya kesal seperti ini. "Ra, maafin Arga ya" ujar calon Ibu mertuanya dengan senyum kecil. Rachel mendongak menatap Mama Arga yang sedang menyusun buku-buku Arga dan bukunya di rak buku. Ia sedikit bingung mengapa calon Mamanya ini meminta maaf atas nama Arga. Memangnya pria itu anak kecil sampai harus diwakilkan oleh orang tuanya seperti ini? Tapi, mau bagaimana lagi? Ia juga tidak mungkin menolak permintaan maaf calon mertuanya kan. "Kenapa Rara harus maafin Arga, Tante?" Jessie tersenyum kecil menatap Rachel. Ia yang tadinya sibuk merapikan buku-buku anaknya itu, kini duduk di hadapan calon mantunya yang sedang menyimpan rapi pakaiannya di lemari apartemen Arga. Ia jelas melihat ketelatenan dari cara Rachel menyusun pakaiannya dan itu semakin membuat hati Jessie mantap untuk menjadikan gadis itu sebagai menantunya. "Tente yakin sikap dia yang dingin bikin kamu kesel. Tante dulu juga begitu sama Om San" ujar Jessie mengenang masanya dulu "Om San paling susah dideketin, diajak ngomong apalagi disentuh. Dia bikin Tante kesel sekesel-keselnya dengan omongannya yang sesekali tapi pedes banget" Jessie terkekeh dengan hal itu. Rachel mengerutkan keningnya mendengar cerita Jessie. Jelas saja. Kesan pertama yang di dapatnya saat bertemu Papa calon suaminya itu, justru terkesan ramah dan pandai membawa diri. Tidak terlihat sama sekali kalau pria paruh baya itu adalah sosok yang dingin atau mantan sosok seperti Arga. Saat pertama kali ia menyapa dan melihat senyuman San saja, ia langsung bertanya, dari mana kiranya Arga mendapatkan sikap yang sangat berbanding terbalik dengan kedua orang tuanya? "Masa sih Tante, Om San dingin gitu?" tanyanya tak percaya. Jessie tertawa melihat reaksi Rachel "Siapapun emang nggak percaya kalau Tante ceritain hal itu melihat sikap Papa Arga yang begitu ramah, tapi itu kenyataan. Om San itu dulunya jauh lebih dingin dari pada Arga. Tante selalu berusaha deketin dia, tapi Om San terus menghindar karena nggak suka sikap Tante yang agresif " "Tapi seiring berjalannya waktu, Om suka sama Tante sampe kita jadian. Ternyata orang tua Om nggak suka sama hubungan kami, karena Tante berasal dari keluarga sederhana. Om nggak peduli sama larangan orang tuanya, dia tetep kekeuh ingin menikahi Tante. Tapi pada akhirnya mereka ngerestuin hubungan Om sama Tante karena nggak mau kehilangan anak mereka satu-satunya" "Terus kenapa Om bisa selembut itu, Tante?" tanya Rachel nampak tertarik dengan cerita Jessie. "Seminggu setelah undangan pernikahan disebar, banyak rekan kantor yang gosipin Tante karena mengira Tante menjual tubuh Tante kepada Om. Mereka nggak percaya sama ucapan Tante bahwa kami saling mencintai, melihat sikap Om yang dingin. Tiga hari sebelum pernikahan, Tante minta pernikahan dibatalkan karena nggak kuat mendengar cibiran teman-teman kantor" Rachel tampak ikut sedih mendengar cerita yang disampaikan Jessie. Jessie tersenyum saja melihat reaksi calon menantunya itu. Flashback On "San, aku rasa hubungan kita nggak perlu dilanjutin lagi. Terlalu banyak orang yang menggunjing hubungan ini" ujar Jessie dengan terus terang. San tampak kaget dan marah mendengar keputusan yang diambil Jessie. Apalagi dengan alasan yang sedikit tak bisa di terimanya. Bayangkan bagaimana perasaannya harus mendengarkan hal itu saat pernikahan mereka sudah dekat. "Apa pentingnya dengerin ucapan orang tentang kita?'' ujar San sedikit emosi. "Kamu nggak tau perasaan aku yang dianggap murahan karena sikap kamu sama sekali nggak menunjukkan kalau kamu beneran cinta sama aku. Setelah aku pikir-pikir, ucapan mereka nggak sepenuhnya salah'' keluh Jessie sambil mengusap air matanya yang sudah mengalir sejak ia memutuskan sepihak hubungannya dengan San. Ia menarik nafas sejenak dan mengehela dengan kasar "Aku rasa sikap kamu bener-bener nggak menunjukkan perasaan cinta San. Ada baiknya kalau kamu memikirkan lebih lanjut pernikahan kita. Aku nggak siap digunjing seperti ini, hati aku terlalu sakit" "Je, apa nggak bisa kamu hanya merasakan perasaanku tanpa mencampurkan cibiran orang lain pada kita. Aku memang tidak pandai bersikap manis di depan semua orang, kamu pun tahu itu" jelas San mulai frustasi. "Bukan cibiran orang lain pada kita San, tapi padaku" tegas Jessie memperjelas kebenaran yang nyata. San termenung. Ia mengamini dalam hati bahwa ucapan calon istrinya itu tidak sepenuhnya salah. Selalu banyak yang menggunjing Jessie karena pernikahan mereka. Ia juga menyadari hal itu dan selama ini hanya menutup telinga karena menganggap semuanya baik-baik saja, selagi Jessie tidak terpengaruh dengan komentar negatif itu. "Je, aku akan berubah, aku akan menunjukkan pada semua orang di dunia ini bahwa aku benar-benar mencintai kamu. Aku hanya ingin membuktikan sama kamu bahwa pikiran mereka tentang aku yang nggak sayang sama kamu itu salah" San memegang bahu Jessie dengan tatapan sungguh-sungguh dan penuh keyakinan. Flashback off Jessie tersenyum kecil "Sejak saat itu Om selalu berusaha menunjukkan kepada semua orang bahwa dia sangat menjaga dan mencintai Tante sepenuh hati" "So sweet banget sih Tante bisa bikin hati Om luluh" puji Rachel terharu. "Sejak saat itu, Tante selalu percaya kalau rencana Tuhan benar-benar tak terduga. Dia benar-benar menyatukan orang yang berbeda untuk saling melengkapi" "Sebenarnya sih Tante, Rara cukup seneng bakalan punya suami tampan dan mapan kayak pak Arga, tapi pak Arga bener-bener ngeselin Tante" adu Rachel tak peduli ia sedang membicarakan siapa di depan siapa. "Hahaha.. Itulah sebabnya Tante minta maaf" kekeh Jessie lalu menepuk pundak calon menantunya “Kamu nih, masih kebiasaan aja manggil Pak” Rachel meringis kecil “Udah kebiasaan Tan, jadi susah diubah. Nanti bakalan diusahain kok” “Yang pasti Tante harap kamu bisa belajar mengubah Arga secara perlahan. Tante tahu kalau kamu akan lelah dengan sendirinya, tapi Tante mohon untuk mempertimbangkan setiap keputusan diantara kalian. Tante sedikit khawatir tentang Arga yang akan menjadi suami dengan sifat seperti itu” "Nggak apa-apa tante, mungkin Arga emang udah ditakdirin jadi jodohnya Rara. Soalnya kan Rara bawel, jadi kemungkinan Tuhan mempercayakan Rara buat menggunakan kebawelan itu untuk menghiasi hari-hari Arga" tukasnya sambil tertawa geli. "Iya, anak Tante itu terlalu sepi dan sunyi. Untung aja Om udah nggak datar lagi, karena kalau sampai Om masih dingin kayak es, Tante nggak tau deh hari-hari Tante bakalan kayak apa" "Ekhmmm" Kedua wanita berbeda usia itu sama sama menoleh ke arah pintu melihat siapa gerangan yang berdeham. San berdiri di pintu sambil memasukkan tangannya di saku celana, sembari menatap ke arah istri dan calon menantunya. "Papa kapan datang?" tanya Jessie heran. "Sejak mama nyeritain perjalanan cinta kita ke calon menantu" jawab San dengan mata mendelik. Rachel dan Jessie tertawa melihat wajah cemberut dari pria menjelang paruh baya itu. Mereka nampaknya sama-sama senang melihat kecemberutan San. Jelas itu menjadi pengalaman memalukan untuk San, apalagi sampai harus diketahui oleh orang lain seperti calon menantunya. Mereka bahkan belum pernah menceritakan pengalaman itu kepada dua putra mereka. "Rara seneng kok Om dengernya" ujar Rachel dengan senyum kecil. "Lebih baik kamu dengerin Tante tentang apa yang disuka dan nggak disuka Arga, Ra. Itu lebih berfaedah" usul San sambil menaik turunkan alisnya. Bagaimanapun, Rachel pasti sulit mengetahui hal itu langsung kepada Arga dan tak ada salahnya kalau sebagai orang tua Arga, mereka yang menjadi sumber informasi. "Iya juga ya Om" pikir Rachel setuju dengan usul itu. "Arga itu lahir tanggal 5 Mei, dia paling suka makan mie goreng, mie kuah, kwetiau, mie rebus dan segala jenis mie, Ra" jelas Jessie “Tante sampai sering khawatir kalau dia kena usus buntu” Rachel membulatkan matanya mendengar segala yang di ucapkan tante Jessie tentang mie kesukaan Arga. Oke tidak perlu seterkejut itu karena ia sendiripun pecinta mie. "Dia paling nggak suka makan toge, stroberi, melon sama beberapa jenis ikan, terus nanas. Dia suka makan kerang, minum jus jeruk, makan jeruk yang kecil-kecil" tambah papa Arga "Harus yang kecil kecil Om?" tanya Rachel memastikan. "Iya, katanya lebih ada manis-manisnya gitu" ujar San terkekeh geli. Dia pun dulu merasa aneh dengan kesukaan putranya itu, tapi lama-kelamaan bisa memahami apa saja kesukaan Arga. "Rachel kan nggak terlalu pinter masak Tan, kira kira Arga suka nasi goreng nggak?" tanya Rachel ragu. "Emh, jangan tanya Ra, tuh anak kalau nggak bisa makan, pasti masak nasi goreng sendiri sangking sukanya" Jelas San lagi. "Hobi Arga apa Om?" San meletakkan telunjuknya di dagu sambil melirik kanan dan kiri mencoba mencari jawaban untuk pertanyaan calon istri putranya "Nyuekin cewek deh kayaknya" jawab San membuat istri dan calon menantunya tertawa kencang. "Papa ada-ada aja sih" senggol Jessie pada lengan suaminya itu. "Ya abis apalagi Ma? Orang yang Papa lihat begitu kok" "Betul juga sih Tan yang di bilang Oom" setuju Rachel mengangkat jempolnya ke arah calon mertuanya. "Terserah kalian berdua ajalah" tukas Jessie pada akhirnya. “Pak Arg, eehh maksudnya Arga. Arga lebih suka makanan rumahan atau luar Tan?” “Dia itu mood-mood-an Ra, kalau lagi pengen makanan luar ya tinggal pesen, kalau mau makanan rumah pasti langsung bilang ke Tante. Kalau nggak diturutin juga, telinga Tante bakalan pengang sendiri selama seminggu karena dia bakalan bilang pengen itu mulu sampai dikabulin” “Terus nanti kalau Arga lagi pengen makanan gitu, kira-kira dia mau nggak Tan bilang ke orang asing kayak Rara?” tanya Rachel penasaran. Jessie tersenyum kecil “Ya bisa jadi juga dia malu atau masih aneh gitu, tapi lama-kelamaan kan biasa. Nanti juga kalau kamu udah jadi istrinya Arga, bakalan ngerti sendiri gimana dia. Jangan ngganggap diri kamu asing ya, Ra” “Iya Tante. Rara cuma masih belum bisa mengakrabkan diri aja sama Pak Arga makanya nganggap ini semua asing bagi Rara maupun pak Arga” “Kamu bawa nyaman gimana di rumah aja, nggak usah terlalu mikirin pendapat Arga. Dia itu nggak ribet kok orangnya, malahan kelewat simpel” “Iya Tan. Tapi Rara beneran malu deh Tan karena nggak pinter masak. Maaf banget ya Tan” Rachel menatap tak enak hati pada calon ibu mertuanya. “Iya, nggak apa-apa, semuanya butuh proses. Yang pasti kamu juga mau belajar, biar Arganya makan masakan istri mulu” goda Jessie. “Ihh Tante, apaan sih” Rachel malu sendiri mendengar ia sudah disebut calon istri sebelum resmi dengan Arga. “Yaudah lah, kan udah bisa juga kamu belajar manggil Tante dengan sebutan Mama. Tinggal ngitung hari doang ini mah” Rachel meneguk ludahnya mengingat status lajangnya di ktp akan menjadi kawin dalam hitungan hari. Ia bahkan tak menyangka kalau hari-hari akan secepat ini berlalu dan akan menuju hari pernikahannya dalam sekejap mata. Ia tak bisa membayangkan hari-hari yang akan ia lalui dengan status seorang istri dari Arga Teo Matias, pria yang datarnya ngalahin bumi. Oh maafkan Rachel karena terlalu lebay, tapi ia takut tetap tidak bisa menghadapi sifat Arga yang satu itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN