08

1721 Kata
“Megan, gue deg-degan nih” adu Rachel sambil mengggenggam tangan sahabatnya itu. Megan memblaas genggaman tangan Rachel “Itu wajar untuk orang mau nikah katanya, jadi nggak usah khawatir” “Gue takut salah mengucapkan janji di Altar. Gue gugup banget, Meg” “Lo mau gue gantiin?” tanya Ruth sembari mengangkat sebelah alisnya, menggoda Rachel. Megan dan Lidya serentak menatap Ruth dengan tajam karena ucapan yang tiba-tiba itu dihari pernikahan sahabat mereka. Lidya yang kebetulan dekat dengan Ruth, dengan sengaja langsung memukul kepala gadis itu “Lo nggak tahu diri ya sampai menawarkan diri. Lo pikir Pak Arga mau sama lo” “Lah, apa salahnya kalau Pak Arga juga dijodohin sama Rara, bukan karena mau beneran” Rachel menimpuk Ruth dengan kotak tisu di sampingnya “Lo pikir gue mau sama dia. Gue juga sedikit terpaksa, dan nggak punya pilihan buat menolak” “Helehh, terpaksa juga lo pasti senang kalau nikahnya sama Pak Arga, nggak usah munafik deh” sindir Ruth dengan mencebikkan bibirnya. “Lah, keuntungan gue nikah sama Pak Arga masih tampak dari luar aja. Cuma ganteng dan belum tentu dalam-dalamnya gue suka semua” balas Rachel sewot. Megan menggelengkan kepalanya heran sambil mengarahkan kipas mininya kea rah Rachel “Lo nih ngomongin calon suami sendiri dengan sembarangan. Kalau keluarga mertua lo sampai denger, mereka pasti tersinggung walaupun niatnya cuma bercanda” tegurnya. “Ya abisnya Ruth ngajak ribut nih. Dia pikir gue gitu yang beruntung dapetin Pak Arga. Pak Arga juga pasti beruntung punya calon istri kayak gue. Gue juga cukup cantik dan sangat baik untuk menjadi istri yang harus dicuekin” “Iya-iya dah, Pak Arga yang beruntung” lerai Lidya dengan kekehan geli. “Udah, ayo buruan keluar. Gue tahu lo bintangnya tapi jangan terlambat juga, nanti Pak Arga kelamaan nungguin pengantin wanitanya” ajak Megan segera sebelum perdebatan mereka makin panjang dan entah merambat kemana saja. *** Rachel benar-benar gugup saat ini, jantungnya juga tak mau diajak kompromi untuk mengatur detakkanya agar tidak sekuat ini. Tangannya yang dingin juga ia yakin dapat dirasakan oleh Papanya yang saat ini sedang menggenggam sebelah tangannya. Keduanya berjalan menuju Altar, di mana mempelai pria sudah berdiri di sana dengan gagahnya menanti kedatangan mempelai wanita. Arga menarik napas panjang saat sang Pendeta mulai memberi aba-aba untuk pengantin wanita menaiki Altar. Ia juga tak kalah gugup dengan Rachel karena takut membuat kesalahan atau bahkan membuat hal yang memalukan. Ia tidak tahu bagaimana kecerobahan ini bisa terjadi, tapi tiba-tiba saja ia bingung apa janji yang akan ia ucapkan, padahal mereka sudah mempersiapkan smeuanya dengan cukup matang. Arga menoleh ke sampingnya saat kehadiran Rachel dan Papa mertuanya mulai terasa. Ia bahkan sampai lupa untuk berkedip setelah melihat betapa cantik dan anggunnya Rachel. Ia bahkan masih tak bisa percaya kalau Rachel yang selama ini ia kenali, kini tampak sangat berbeda. Rachel begitu cantik sampai suara tawa dan godaan dari tamu undangan membuat Arga berkedip malu dan mengalihkan pandangannya. Rachel tersenyum geli “Segitu terpesonanya ya Pak?” tanya Rachel pelan. Arga tak menjawab dan pura-pura tak mendengar meski ia sedang berusaha menutupi rasa malunya. Apa ia tampak begitu terpukau tadi? Jacob menyerahkan tangan putrinya ke dalam genggaman tangan Arga kemudian menepuk bahu pria itu sekilas, masih berusaha menyembunyikan kekehan geli. Tatapannya menyiratkan ucapan seolah ia sedang menaruh kepercayaan penuh pada Arga dan Arga mengangguk seolah menangkap pesan itu. Pendeta berdeham sejenak sebelum akhirnya menatap kedua mempelai di depannya secara bergantian. "Apakah anda, saudara Arga Teo Matias benar-benar bersedia mengambil saudari Rachel Dirgantara untuk menjadi istri anda tanpa ada paksaan dari pihak mana pun?" "Ya, saya bersedia" jawab Arga tegas. Terdengar ada rasa percaya diri yang ia tampilkan lewat nada suara dan raut wajahnya. "Apakah anda, saudari Rachel Dirgantara benar benar bersedia mengambil saudara Arga Teo Matias untuk menjadi suami anda tanpa ada paksaan dari pihak mana pun?" "Ya, saya bersedia" jawab Rachel deg-degan. "Silahkan kedua mempelai mengucapkan janji di hadapan Tuhan. Saya persilahkan kepada pengantin pria terlebih dahulu, lalu pengantin wanita" "Saya Arga Teo Matias mengambil engkau Rachel Dirgantara menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.” Rachel menelan salivanya dengan susah payah karena tenggorokannya terasa kering. Ia menatap Arga dengan perasaan berdebar-debar hingga akhirnya ia berdeham sejenak untuk mulai mengucapkan janjinya. "Saya Rachel Dirgantara mengambil engkau Arga Teo Matias menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.” "Silahkan kedua mempelai saling bertukar cincin" ujar Pendeta. Arga menatap Rachel saat memasukkan cincin emas, lambang pernikahan mereka itu ke jari manis kanan milik Rachel, begitu juga dengan Rachel yang melakukan hal sebaliknya. Tampak beberapa orang tersenyum lega pada akhirnya khususnya kedua pasang orang tua mempelai. Bahkan Gaby meneteskan air matanya saat putri satu-satunya dinyatakan sudah menjadi seorang istri. "Silahkan mempelai pria mencium mempelai wanitanya" Arga dapat dengan jelas melihat kegugupan di mata Rachel, belum lagi tangan wanita itu yang dingin sejak tadi, saat tangan mereka tak sengaja bersentuhan. Ia mendekatkan wajahnya pada wanita itu secara perlahan sampai akhirnya secara lambat ia mengecup bibir Rachel yang sudah memejamkan matanya. Pendeta mengangkat kedua tangannya hingga terbuka "Dengan ini saudara Arga dan Rachel dinyatakan resmi menjadi suami istri di hadapan Tuhan" Setelah ucapan pendeta, tampak keriuhan para hadirin yang menyaksikan di persatukannya dua insan itu. *** Lagi-lagi Rachel kembali di rias dengan riasan dan gaun berbeda untuk acara resepsi yang berlangsung hari itu juga. Dengan gaun merah panjang dan heels hitam setinggi 12 cm serta beberapa perhiasan yang memperindah tubuhnya, ia di dampingi ketiga sahabatnya berjalan ke tempat dimana Arga berdiri menantikan mempelainya. "Kita nggak nyangka lo beneran nikah sama pak Arga, Ra" ujar Lidya mengusap lengan Rachel “Sekarang udah jadi istri yang beneran” "Lo beruntung bisa dapetin pak Arga" puji Megan dengan senyum sok imutnya. "Pak Arga juga beruntung kok dapatin Rara. Dia cantik banget sumpah, gue sampai nggak ngenalin" puji Ruth kali ini. “Tadi aja lo ngajak ribut” sinis Lidya heran. Rachel tersenyum menanggapi celotehan teman-temannya tentang pernikahannya dan Arga. Ia senang melihat keberadaan tiga sahabatnya di acara pernikahannya ini. "Lo bertiga juga cantik dan seksay-seksay. Jangan sia-siain kesempatan, langsung sikat aja yang tampan dan mapan" petuah Rachel sambil terkekeh geli. "Iya, gue juga rencananya gitu" kata Ruth. "Gue udah nemu kok dari kemarin-kemarin, ngapain nyari lagi" desis Lidya. "Siapa dih?" cibir Megan. "Pak Alvino" sahut Lidya percaya diri. Ia bahkan tak menyadari keberadaan Vino di belakang tubuhnya sedang mendengar celotehan mereka. "Iya kalau pak Vino mau sama lo" ledek Ruth. Lidya memajukan bibirnya kesal atas tanggapan sahabat-sahabatnya yang menjatuhkan percaya dirinya. Ya, walaupun ia sendiri sebenarnya tidak terlalu berharap banyak Vino mau menjadi pasangannya. "Gue yakin kok. Abis Rachel, gue yang akan nikah duluan antara kita bertiga" lugas Lidya percaya diri. Ia menunjukkan deretan giginya kepada teman-temannya. "Bangun Lid, jangan mimpi" ledek Ruth sambil mencubit lengan Lidya. Megan dan Rachel sendiri tampak bahagia menanggapi ocehan dua sahabatnya yang sedang bertengkar itu. "Pokoknya kalian jangan terkejut lihat gue bersanding sama Pak Vino" tak acuh gadis itu dengan tetap percaya diri. Rachel segera mengambil posisi di samping Arga saat mereka sampai di atas pelataran pengantin untuk menyambut dan menyalami para tamu yang memberi selamat. Seketika wanita itu membeku melihat keberadaan Vino di belakang sahabatnya, Lidya. Namun ia memilih bungkam karena melihat kode dari Vino untuk tetap diam supaya pria itu leluasa mendengar ucapan-ucapan Lidya yang cukup menarik perhatiaannya. Ia bahkan tak berhenti terkekeh geli saat mendengar percakapan mahasiswanya itu. Sudah beberapa jam berdiri bersama untuk menyalami para tamu, Rachel merasa begitu sakit dan letih di pergelangan kaki dan betisnya. Ia beberapa kali berpegangan pada Arga untuk menopang tubuhnya. Ia merasa tak sanggup lagi berdiri, tapi tetap memaksakan diri supaya bisa menyambut tamunya dengan baik. "Kenapa pakai yang setinggi itu?" komen Arga menatap heels yang dikenakan istrinya. Rachel menghela nafas "Suka aja. Enggak apa-apa kok, bentar lagi juga tamunya abis" ujarnya berusaha menenangkan Arga, walau ia sendiri ragu kalau Arga marah karena khawatir padanya. Pria itu mungkin hanya tak ingin direpotkan olehnya hingga ia marah kepada Rachel. Dan benar saja, sesuai harapan Rachel, tamunya sudah habis dan menyisakan orang-orang terdekatnya dan orang orang terdekat keluarga Arga. "Nih kado dari orang ganteng" ujar Vino muncul di hadapan pengantin baru itu. Arga menaikan sebelah alisnya sambil memandang Vino penuh selidik terhadap kado itu. Ia sebagai sahabat Vino yang tahu betul isi kepala cowok itu, sudah bisa menduga kado Vino tak jauh jauh dari malam pertama atau hal yang berbau m***m. "Buka cepetan" perintah Vino memaksa. Ia tak sabar melihat reaksi Arga dan Rachel setelah melihat isi kadonya. Rachel menurut saja, ia juga terlihat sumringah menatap kado dari sahabat suaminya sekaligus Dosen di kampusnya. Saat kertas kadonya terbuka sempurna, Rachel segera membuka kotaknya hingga menemukan sebuah bingkisan minuman dengan sebuah lingerie. Ia bergidik ngeri melihat lingerie itu. "Ini apa?" tanya Rachel mengangkat bingkisan minuman itu. "Sst..turunin" perintah Arga cepat. Ia cukup malu melihat bagaimana kepolosan istrinya yang mengangkat bingkisan itu dengan cukup tinggi. Vino tak dapat menahan tawa melihat Rachel yang dengan santainya mengangkat bingkisan minuman itu. Ia juga segera meninggalkan keduanya sebelum mendapat amukan dari sahabatnya. "Vino taiii ayam" umpat Arga segera menutup kotak kado dari Vino. "Emang itu apaan?" tanya Rachel heran. Arga menghela nafas pasrah "Itu tadi bukan teh biasa, itu ginseng korea alias jamu kuat" jelas pria itu. "Oh" Rachel mengangguk-angguk atas penjelasan suaminya. "Raraaaaaaa" teriak ketiga sahabatnya menghampiri keduanya. "Hehehe..pak Arga" sapa Ruth menunjukkan senyum terbaiknya begitu tatapan Arga menusuk matanya. "Ini kado dari kita yang rame-rame, yang sendiri-sendiri udah ada di sana kok" kata Megan memberitahu sembari menunjuk tumpukan kado dari tamu untuk kedua pengantin. Rachel mengambil kado dari teman-temannya itu dengan senyum sumringah "Isinya apaan?" tanyanya penasaran mengetahui betapa ringannya kotak kado itu. "Tutorial" jawab ketiganya singkat kemudian kabur dari pandangan Arga dan Rachel. Arga tak menyangka kalau wanita juga bisa sama mesumnya dengan Vino dan sahabat-sahabat Rachel adalah mahluk satu server dengan Vino. Rachel tersenyum malu dan menundukkan wajahnya saat Arga menatapnya untuk melihat bagaimana reaksinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN