Rachel tampaknya benar-benar menjadi bodoh karena pernikahan ini, ia dengan polosnya membuka kotak kado dari sahabatnya yang katanya adalah tutorial. Jelas, Arga paham maksud dari tutorial yang di katakan sahabat istrinya itu. Rachel pun sebenarnya paham soal itu, tapi ia hanya ingin memastikan bahwa teman-temannya tidak segila itu untuk memberikan DVD berisi film dewasa untuknya dan Arga.
Arga berdecak singkat sebelum akhirnya menarik kado dari ketiga cewek jomblo tadi dari tangan Rachel. Namun nampaknya Rachel tak terima karena Arga mengambil sembarangan dari tangannya tanpa meminta izin.
"Nanti aja dibukanya, sekarang kita pamit pulang sama orang tua aku dan kamu" ajak Arga.
Rachel membelalakkan matanya "Kita beneran langsung pulang?" tanyanya tak percaya. Ia sudah benar-benar letih dan Arga langsung mengajaknya pulang ke Apartemen. Apa pria itu setidak-sabar itu untuk menjalani malam pertama mereka dengan memilih Apartemen? Apa Rachel sebegitu menariknya sampai Arga tak tahan untuk menerkamnya? Atau sebenarnya Arga menerima perjodohan ini karena membutuhkan tempat pelampiasan kemesumannya?
Rachel menatap pria itu dengan penasaran dan terus menyelidiki apa yang sebenarnya Arga pikirkan hingga langsung memaksanya pulang ke Apartemen, namun ia tak dapat menemukan jawabannya dengan mudah, apalagi dengan keadaan ia yang belum mengenal Arga lebih dalam.
Arga mengangguk sambil melakukan peregangan pada lehernya yang terasa pegal "Hm. Saya pengen cepat-cepat sampai di tempat tidur" jelasnya membuat Rachel makin berpikiran negatif.
Rachel hanya berdecak dalam hati mendapat balasan, namun tetap mengikuti saja langkah Arga menuju ke orang tua mereka. Malas rasanya membantah ucapan Arga karena pria itu pasti semakin menyebalkan dengan kebisuannya.
Membantah kaum-kaum sejenis Arga ini hanya akan menguji tingkat kesabarannya. Jadi ada baiknya jika ia turut diam dan mengikut selagi jalan Arga masih jalan benar.
"Gih ganti baju" titah pria itu.
***
Setelah selesai mengganti baju pengantinnya, Rachel menghampiri Arga dan orang tua mereka yang sudah berkumpul di ruang utama. Ia segera duduk di samping suaminya yang sedang menatapnya itu.
"Ra, sekarang kamu udah jadi istri. Jangan jadi anak ambekan lagi, patuh sama suami" pesan Gaby menatap anaknya penuh kasih sayang. Ia masih tak menyangka kalau putrinya yang teringat masih dalam gendongannya, kini sudah menjadi seorang istri.
"Kalau mau keluar bepergian, kasih tau Arga" tambah Papanya memberi petuah.
Rachel mengangguk patuh "Mama sama Papa jaga kesehatan ya. Jangan berantem kalo Rara nggak ada" kini gantian Rachel yang mengintrupsi orang tuanya.
"Kamu juga Ar, jangan kecewain Mama sama Papa. Jadilah suami yang bertanggung jawab. Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik dengan kepala dingin" kini Jessie yang memberi pesan pada putranya.
"Sabar-sabar ya Ra ngadepin Arga" kata San kepada sang menantu.
"Jangan lupa buatin kita cucu" tambah dua pasang orang tua itu bersamaan sambil terkekeh.
Arga mengangguk saja tanpa berniat mengucapkan kata apapun, sedangkan Rachel merona karena permintaan orang tua itu, namun yang lebih membuatnya malu adalah anggukan kepala Arga dalam diam. Rachel jadi berpikir bahwa sepertinya Arga memang ngebet malam pertama. Ia jadi bergidik ngeri sendiri membayangkan hal yang tak pernah ia sangka akan terjadi di usia 21 tahun.
"Yaudah ya Ma, Pa, kita pamit dulu" izin Arga menyalami kedua orang tuanya dan kedua orang tua Rachel disusul wanita itu melakukan hal yang sama.
“Padahal kalian bisa menginap dulu untuk malam ini” desis Gaby.
“Udahlah Ma, biarin aja” ujar San.
“Mungkin Arga masih canggung sama kalian Gab, nanti juga terbiasa sendiri” ujar Jessie berusaha memberikan sedikit pengertian agar Gaby tak ambil hati dan bisa mengerti sifat Arga yang sulit untuk beradaptasi meski sudah sering berinteraksi dengan keluarga Rachel.
Rachel yang bisa merasakan adanya ketidaknyamanan karena keputusan Arga yang masih berat untuk Mamanya terima, akhirnya angkat bicara “Udahlah Ma, Rara juga nggak apa-apa kan kalau ngikut suami sendiri. Nanti kita bakalan sering mampir ke rumah. Nggak apa-apa ya Ma” Rachel bahkan memeluk Mamanya agar wanita itu merasa lebih aman untuk membiarkannya pergi
***
Sesampainya di apartemen, Rachel segera membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia berdebar dengan apa yang akan terjadi malam ini, malam pertamanya. Ia hanya berharap agar Arga tidak memintanya untuk melakukan hal itu. Ia terus merapalkan doa dalam hatinya sambil mengawasi kamar mandi.
Nafasnya terasa berhenti tepat ketika pintu kamar mandi terbuka, dan Arga segera berjalan ke arahnya dan menaiki ranjang dengan gerakan perlahan yang anehnya di mata Rachel, itu terlihat terburu-buru. Untuk beberapa saat Rachel tidak merasakan pergerakan lagi dari sisi ranjang sebelahnya yang di tempati oleh suaminya.
"Kamu nggak ngantuk?" suara itu berhasil menyentak Rachel hingga ia terkejut.
"Eh, engh, ngantuk kok Pak. Ini saya mau tidur" ujarnya gugup.
"Ck, saya suami kamu, bukan bapak kamu" desis Arga menyadarkan istrinya masih memanggilnya denngan sebutan Pak, padahal ia adalah suaminya.
"Hehehe" Rachel terkekeh kikuk karena pernyataan Arga padanya. Ia hanya sulit membiasakan diri untuk tidak memanggil pak pada suami sekaligus dosennya itu. Rasanya masih canggung dan terlalu baru untuk berubah.
"Memangnya nggak apa-apa Pak, saya manggil Bapak dengan nama aja?" tanya Rachel ragu.
"Memangnya siapa yang ngelarang?" tanya Arga kembali.
"Yaudah, saya panggil Arga. Arga. Iya, Arga" ujarnya mencoba hanya memanggil nama saja pada suaminya.
"Udah, tidur" titah Arga karena tubuhnya sudah sangat lelah seharian ini. Ia bahkan tak berpikir kalau besok ia bisa bangun cepat dan menggerakan kaki dan tangannya yang terasa keram.
"Kamu jangan meluk aku ya" peringat Rachel kali ini menggunakan bahasa yang lebih akrab. Ia harus membiasakan diri kan?
Arga menaikan sebelah alisnya memandang istrinya yang sedang mengancam itu "Memangnya kenapa?" tanyanya polos, berhasil membuat Rachel kelabakan, bingung menjawabnya.
"Ya, pokoknya jangan" ancam Rachel kikuk. Ia merasa tak punya hak untuk melarang suaminya melakukan hal sederhana bagi pengantin baru itu.
Arga menggeser posisi tubuhnya mendekati Rachel, bahkan merentangkan tangannya ke arah istrinya itu untuk menggoda istrinya. Rachel yang juga berbaring, semakin memundurkan tubuhnya untuk menghindari Arga yang berusaha memeluknya.
"Ka..ka.mu mau apa?" Rachel bahkan sampai terbata hanya untuk mengucapkan satu kalimat singkat itu.
Arga tak bisa menahan wajah datarnya lebih lama. Bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman kecil melihat istrinya yang ketakutan hanya karena ia berusaha memeluk gadis itu. Rachel sendiri sebenarnya bukan takut jika Arga memeluknya, tapi ia takut pria itu menginginkan malam pertamanya saat ini juga.
"Memangnya apa yang biasa dilakukan pengantin baru pada malam pertama?"
"Ta...ta..pi..aku be.lum siap"
Rachel semakin memundurkan tubuhnya hingga ia tak sadar posisinya sangat di pinggir ranjang. Arga memeluk gadis itu untuk menghindari pergerakan Rachel yang hampir terjatuh dari ranjang. Kemudian ia dengan perlahan menggeser tubuhnya ke posisi semula agar berbagi ranjang dengan istrinya "Udah, tidur" titah Arga sambil memejamkan matanya. Puas rasanya melihat wajah panik dan imut istrinya secara bersamaan.
***
"Hoam" Rachel menguap lebar setelah sesaat membuka matanya. Matanya melotot lebar saat melihat wajah Arga berada sangat dekat dengannya. Ia bahkan meneguk salivanya pahit melihat tangannya lah yang melingkari tubuh Arga.
Dengan penuh hati-hati, Rachel bergerak dari ranjang untuk turun tanpa membangunkan suaminya. Jika sampai Arga tau ia semalam memeluk pria itu, pasti dirinya akan sangat malu mengingat semalam ia-lah yang mengancam Arga agar tidak memeluknya.
"Ra" panggil pria itu tepat setelah Rachel berdiri. Perempuan itu mengutuk dalam hati sambil memasang wajah masamnya.
"Kok semalam saya mimpi ada yang meluk gitu ya?" tanya Arga dengan suara serak dan mata yang beberapa kali mengerjap untuk menyesuaikan cahaya dengan matanya.
Rachel semakin merutuki perbuatannya. Tidak mau berbohong, semalam ia benar-benar merasakan tidur teramat nyenyak dengan memeluk tubuh hangat Arga. Tubuh itu sangat hangat dan menenangkan, sehingga tadi saja sebenarnya ia tak sampai hati untuk melepasnya. Oh, ayolah, kenapa Rachel jadi segenit itu.
"Engh... Masa sih?" tanya gadis itu meyakinkan.
"Iya, apa ada ya orang yang ngancem nggak mau dipeluk tapi dia meluk saya?" pikir Arga semakin menggoda istrinya. Ia tersenyum smirk. Sebenarnya ia sudah terjaga sebelum Rachel, namun ia ingin membiarkan gadis itu bangun lebih dulu agar terkejut melihat posisi mereka.
Arga merentangkan tangannya sekaligus menguap sambil duduk, sesekali melirik istrinya yang masih tetap memunggunginya. Rachel mendelik, kemudian membalikkan tubuhnya menatap Arga dengan tajam sekaligus gemas ingin menceburkan pria itu ke laut terdalam.
"Kamu nyindir aku?" ketusnya.
"Loh, kamu ngerasa. Padahal saya bilang mimpi loh" tutur Arga pura-pura tidak tau.
"Ahh" Rachel memukuli bahu Arga agar pria itu tak terus bersikap seolah tak tau.
"Apasih Ra, ganas banget masih pagi. Nanti malam aja ya?" goda Arga semakin menjadi setelah menahan gerakan tangan Rachel yang liar memukulinya. Arga bahkan tak tahu kalau ia punya sisi yang seperti itu. Sepertinya, akan banyak hal baru yang muncul dari diamnya, jika ia berinteraksi dengan orang baru seperti Rachel.
"Iss, ngeselin" dengkus Rachel sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan suaminya.
"Lepasin ihh" pintanya lagi.
Arga tersenyum miring, lantas mendekatkan wajahnya pada wajah Rachel yang kini menegang karena gugup.
"Ka..kamu.. Mau apa sih Ar?"
"Mau bikin kamu diem" balas pria itu dengan nada santai tapi cukup menakutkan untuk Rachel. Rachel meneguk ludahnya dengan kasar dan mengerjap beberapa kali saat merasakan hembusan nafas yang cukup mengganggu pikirannya.
"Eh, ta.tapi..aku harus masak" alibi Rachel agar bisa lepas dari Arga.
Arga memegang kedua tangan Rachel dengan satu tangannya kemudian sebelah tangannya lagi mengusap pipi Rachel. Dengan tatapan lembut, ia menatap Rachel dan pandangannya jatuh pada bibir merah gadis itu "Saya nggak akan maksa kalau kamu nggak mau. Boleh saya cium kamu?" tanyanya lembut sembari mengusap bibir istrinya dengan jari jempolnya.
Tubuh Rachel memegang. Matanya semakin sering berkedip saat ia berusaha meyakinkan dirinya sedang tak salah dengar. Ia memegang dadanya setelah tangan Arga secara perlahan melepaskan genggamannya. Ia masih sulit mengatur detakan jantungnya yang sangat cepat. Secara perlahan juga tangan Arga turun dari bibir Rachel melihat gadis itu seperti tak ingin menanggapinya.
“Kalau kamu juga belum siap, saya nggak masalah menerima penolakan”
Dengan perlahan Rachel kembali berdiri dari ranjang, dan menatap Arga sebentar sebelum akhirnya mendaratkan kecupan singkat di bibir pria itu. Dan dengan wajah memerah, ia berlari ke arah dapur meninggalkan Arga yang tersenyum penuh kemenangan memandangi tingkah istrinya itu.
“Apa itu sebuah ciuman Ra?” tanya Arga pelan sembari mengusap bibirnya.
Ia bahkan tak membayangkan rasanya berciuman, tapi ia cukup tahu membedakan ciuman dan kecupan, sekalipun ia belum pernah melakukannya. Arga mengusap tengkuknya yang tak gatal dengan senyum geli “Aku rasa lain kali harus dilakukan tanpa meminta persetujuan. Rasanya itu terlalu lambat” kekehnya.