Flash Back
Tita membawa Irma ke rumah sakit. Tita tak dapat menahan tangisnya melihat kondisi sang ibu. Irma tak hanya terluka secara fisik tapi juga secara psikis. Tita tak habis pikir hati ibunya terbuat dari apa selalu memaafkan perbuatan b***t sang ayah. Skandal Gunawan dengan wanita tak hanya sekali tapi berkali - kali. Selalu berakhir dengan kata ' Maaf ' dan mereka berbaikan.
Dibantu ART Tita melarikan Irma ke rumah sakit terdekat. Air mata Tita menganak sungai. Kondisi Irma membuat hatinya menjerit pilu. Tita sudah ada di rumah semenjak Gunawan menampar Irma. Tita diam menyaksikan perbuatan Gunawan dan Rara. Tita ingin melihat sikap Gunawan. Apakah Gunawan membela Irma atau Rara ? Tita berharap Gunawan membela Irma, namun harapan Tita pupus. Gunawan membela si gundik daripada sang mami.
Setahu Tita sebejat - bejatnya laki-laki yang berselingkuh tetap membela istri sah daripada selingkuhan. Sekali lagi Tita salah. Papinya tak sebaik yang ia pikirkan. Gunawan membela Rara daripada Irma. Tita kecewa dengan sikap Gunawan.
"Non jangan nangis dong," bujuk Ika, ART yang bekerja di rumah Gunawan. Ketika kejadian berlangsung Ika berada di taman belakang sehingga ia tidak mendengar pertengkaran majikannya.
"Gimana aku ga nangis mbak? Papi keterlaluan. Aku benci Papi," kata Tita terisak tangis menyetir mobil.
"Nanti aja dibahas Non. Sekarang kita bawa Ibu ke rumah sakit. Masalah Bapak diskusikan sama non Tatjana. Pasti kakak non punya solusi masalah ini. "
Tita menghapus air matanya. Ucapan Ika ada benarnya. Tita fokus mengendarai mobil supaya cepat sampai di rumah sakit. Setengah jam di perjalanan mereka sampai di rumah sakit. Tita memarkir mobil di depan UGD. Dengan sigap para perawat membopong Irma masuk ruang perawatan. Dokter segera menangani Irma. Tita disuruh menunggu hingga dokter selesai memberi tindakan.
Tita takut terjadi sesuatu dengan maminya. Semoga mami tidak kenapa - napa dan hanya luka ringan. Ia tak sanggup jika kehilangan mami. Hidupnya akan berantakan jika mami meninggal.
"Non Tita sudah hubungi Non Tatjana? Kabarin non Tatjana soal kondisi Ibu. Dia harus tahu lo Non. " Ika mengingatkan Tita untuk menelpon Tatjana ( dibaca Tatiana ).
Tita segera mengambil Iphone dalam sling bag dan menghubungi Tatjana. Syukurlah Tatjana segera mengangkat teleponnya. " Kak lo dimana ?" Tanya Tita dengan napas terengah.
"Lo tenang dan ambil napas. " Tita berusaha menenangkan sang adik yang dilanda kepanikan.
Tatjana sudah paham jika Tita menelpon dengan nada bicara seperti ini pasti ada keributan besar di rumah.
Tita mengikuti titah Tatjana. Ia mengambil napas dan membuangnya. Setelah tenang Tita mulai bicara, " Kak mami dirawat di rumah sakit Bunda. "
"Apa ?" Tatjana histeris mendengar sang mami masuk rumah sakit. " Kenapa Mami bisa dibawa ke rumah sakit ?" Giliran Tatjana yang panik dengan kondisi Irma.
"Mami tadi dilabrak sama gundik papi. Namanya Rara. Dia pramugari di TA juga. Papi pukul mami karena belain si gundik. Parahnya si gundik pukul kepala mami pake vas bunga. Asal lo tahu papi ga membela mami dan malah ninggalin mami dengan kondisi luka - luka." Tita bercerita sambil menangis. Berusaha tidak menangis tapi tak bisa. Air matanya keluar begitu saja tanpa permisi.
"b*****t," maki Tatjana berang.
Tatjana semakin membenci Gunawan. Kadang Tatjana berpikir kenapa terlahir dari benih seorang Gunawan. Menyandang nama belakang Gunawan saja ia tak sudi. Tindakan Gunawan sangat keterlaluan. Tatjana tidak bisa menahan emosi. Gunawan dan Rara dengan kejam menyakiti mami. Mereka sudah keterlaluan dan kelakuan mereka diluar batas.
Flash Back Off
*****
Tatjana mendobrak pintu ruangan Gunawan dengan kasar. Sontak orang - orang berada dalam ruangan tersebut kaget. Gunawan sedang melakukan rapat dadakan dengan lima direksi TA. Gunawan murka melihat Tatjana. Anak sulungnya telah mempermalukan dirinya di depan para direksi.
Tatjana datang dengan kondisi wajah merah menahan emosi. Tatapannya membuat para direksi lain takut. Gunawan segera mengakhiri rapat. Lima orang direksi meninggalkan ruangan Gunawan. Sekarang hanya ada Tatjana dan Gunawan di ruangan itu.
"Apa kamu tidak punya sopan santun?" Gunawan menghardik Tatjana.
"Tergantung dengan siapa aku bicara," jawab Tatjana angkuh.
Tatjana duduk di sofa kebesaran Gunawan tanpa permisi.
"Siapa yang menyuruh kamu duduk disana?" Gunawan geram dengan kelakuan putri sulungnya.
"Ga ada. Aku aja. Masalah buat papi ?" Tatjana pura - pura bertanya.
"Semenjak minggat dari rumah kamu sudah tak punya sopan santun. Kamu bergaul dengan orang yang tidak bener. Kelakuan kamu seperti orang yang tak berpendidikan. Kamu nyelonong masuk ruangan papi dan mempermalukan papi di depan para direksi . Papi malu punya anak ga punya tata krama." Gunawan memaki Tatjana.
Tatjana mengambil bantal sofa lalu memeluknya. Tatjana berusaha menahan emosi mendengar hujatan Gunawan. "Pi mainnya kurang jauh. Sepertinya papi butuh piknik ," sarkas Tatjana menatap tajam Gunawan.
"Bicara soal sopan santun dan tata krama mending Papi ngaca dulu dech. Kalo cermin bisa ngomong mungkin ia ga sudi ngeliat muka papi. " Tatjana berdiri mendekati Gunawan dan berbisik di telinga sang papi.
"Anak kurang ajar," maki Gunawan memukul Tatjana.
Tatjana menahan tangan Gunawan."Pi lelaki sejati ga bakal tega mukul perempuan. Papi jangan kurang ajar. Jika tak ada perempuan papi ga bakal lahir ke dunia ini. Jangan biarkan tangan ini memukul perempuan. Perhatikan tindakan yang kita lakukan karena itu akan menjadi kebiasaan . Jika terbiasa main tangan pada wanita karakter papi terbentuk sebagai lelaki kasar dan bisa dibilang banci." Tatjana bicara ketus seraya menghempaskan tangan Gunawan.
Gunawan tertegun mendengar ucapan Tatjana. Ia kehabisan kata - kata membalas ucapan Tatjana. "Jangan berputar - putar. Apa maksud kedatangan kamu kesini ?"
"Kasih tahu ga ya ? " Tatjana pura - pura sok mikir untuk memancing emosi sang papi.
"Papi ga ada waktu buat ladeni kamu kak. Papi sibuk. Kamu sudah mengganggu kami rapat.”
Tatjana mengepalkan tangan ingin menonjok Gunawan namun ia menahan diri karena tak mau membuat keributan.
"Oh sibuk ya. " Tatjana lagi - lagi menyindir Gunawan. "Kalo aku datang kesini langsung bilang sibuk coba kalo Rara yang datang kesini pasti bilang enggak sibuk. "
Mata Gunawan memerah serasa ditelanjangi. Omongan Tatjana sudah keterlaluan." Kamu kalo cari ribut disini mending kamu pergi." Gunawan mengibaskan tangan mengusir Tatjana.
"Pak Gunawan yang terhormat. Tanpa anda usir saya akan pergi tapi saya mau kasih peringatan sama Bapak. "
Gunawan meradang. Tatjana tak memanggilnya Papi. Jika Tatjana anak laki - laki mungkin Gunawan sudah menghajarnya." Pergi kamu dari sini. " Gunawan menunjuk Tatjana.
"Papi aku kecewa sama Papi. Papi lebih membela gundik itu daripada mami." Tatjana menangis. "Perempuan itu datang ke rumah melabrak mami. Papi malah diam. Harusnya papi membela mami bukan gundik itu. "
"Rara bukan gundik. Jaga ucapan kamu !"
"Bukan gundik tapi p*****r ," maki Tatjana kasar. "Aku marah dan kecewa sama papi. Seharusnya papi membela mami bukan gundik itu. Papi sudah menjatuhkan martabat mami sebagai istri. Papi menampar mami karena wanita itu. Gundik itu mukul mami dan papi cuma diam. Dimana moral papi sebagai suami ? Bukankah tugas suami untuk melindungi istri?" Tatjana melepaskan amarahnya.
Selama ini Tatjana sabar dan tak melawan Gunawan karena permintaan Irma. Jika Irma tidak melarang mungkin sejak dulu Tatjana melawan Gunawan.
Plakkkk !!!! Gunawan menampar Tatjana. Sikap sang putri sudah keterlaluan. Tatjana menghinanya. Harga dirinya sebagai ayah merasa tercabik karena mulut pedas Tatjana.
Tatjana murka seraya memegang pipinya yang memerah. Ia melirik asbak rokok di atas meja. Ia mengambil asbak dan memukul kepala Gunawan.
Plakkkkk !!!! Serpihan asbak berceceran di lantai. Kepala Gunawan mengeluarkan darah. Kondisi Gunawan sama dengan kondisi Irma ketika dipukul Rara dengan vas bunga
"Kamu," ucap Gunawan terbata - bata menyaksikan perbuatan sang anak. Gunawan terduduk di lantai.
Tatjana berjalan ke arah pintu masuk dan menguncinya. Pertunjukan belum selesai. Tatjana tidak mau ada orang yang masuk ke ruangan ini sebelum ia selesai bicara dengan Gunawan. Selesai mengunci pintu Tatjana mendekati Gunawan yang kesakitan.
"Aku belajar dari papi. Ternyata buah jatuh enggak jauh dari pohonnya. Papi suka mukul dan anarkis. Ternyata sifat jelek papi nurun ke aku. Papi tadi mukul aku, ga masalah dong jika aku mukul balik. Kita impas," ucap Tatjana hiperbola mentertawakan Gunawan.
"Anak kurang ajar. Ini hasil didikan Irma?" Gunawan balik menghina Irma. Menurutnya Irma tidak becus mengurus anak hingga Tatjana bersikap kurang ajar padanya.
"Hello Papi. Soal mendidik anak bukan tugas mami saja. Papi juga berkewajiban mendidik kami. Aku dan papi itu mirip lo. Nakalnya dan kurang ajarnya. Aku pembangkang kayak papi. Jangan salahkan mami. Salahkan diri papi sendiri kenapa ga kasih contoh yang baik buat anak. " Tatjana semakin berapi - api menghina Gunawan.
Walau berlebihan tapi itulah cara Tatjana mengekspresikan kemarahannya. Gunawan meringis menahan sakit. Tatjana yang dulu beda dengan sekarang. Tak lagi jadi gadis baik dan penurut.
"Anak kurang ajar. Anak durhaka. b*****t kamu. Tai ," kata Gunawan menyebutkan isi kebun binatang.
"Astagfirullah papi. Nyebut dong pi. Kalo dikasih cobaan itu istigfar bukan maki orang ," kata Tatjana lembut menasehati Gunawan. Ia tersenyum manis melihat Gunawan. Tatjana membelai wajah tampan sang ayah. Tatjana bersikap seperti psikopat. Bahagia melihat korbannya kesakitan.
"Kamu kok tega sama papi ? Papi kesakitan kamu malah diam. Seharusnya kamu mengobati papi bukan menyiksa papi kayak gini kak," kata Gunawan mengiba.
"Papi bilang aku tega ?" Tanya Tatjana dengan suara keras dan lantang. Suaranya keras bak petir di siang bolong. "Tega mana dengan Papi yang mukul Mami di depan gundik itu?" Tatjana menggoncang tubuh Gunawan.
"Jawab aku pi! Seharus ketika Mami kesakitan dipukul gundik itu papi harus nolong, bukan pergi meninggalkan mami dengan gundik itu. Ini peringatan pertama buat papi. Aku ga segan berbuat nekat. Aku bersumpah atas nama mami akan menghabisi papi. Kalau perlu aku akan menghancurkan karier papi. "
Gunawan membuang ludah dan menatap sinis Tatjana. Gunawan tertawa terbahak - bahak seraya memegangi perutnya. Menurutnya ancaman Tatjana hanya gertak sambal lado. Tatjana tak punya kekuasaan seperti dirinya mana mungkin bisa menghancurkan kariernya.
Andai saja Gunawan tahu jika sang putri adalah CEO dari aplikasi permainan game yang sedang booming dan saham perusahaanya sudah bertengger di bursa saham mungkin Gunawan tak akan meremehkansang putri.
"Jangan mimpi. Kamu hanya wanita yang tidak berdaya. " Gunawan menghina Tatjana.
"Jangan menempatkan wanita seolah-olah lemah dan tak berdaya. Wanita bisa lebih hebat dari laki-laki. Papi jangan meremehkanku. Aku tidak main-main dengan ucapanku. Berhentilah berpetualang. Kembalilah pada mami dan kami. Gundik itu mau sama Papi karena papi berkuasa dan memiliki uang. Jika papi miskin mana mungkin mereka sudi memberikan tubuh mereka pada papi. Sadar sama umur Pi. Liang kubur menanti papi. "
"Jika aku tidak mau kamu mau apa anak setan?" Gunawan balik menantang Tatjana. Anak kemaren sore sudah berani mengancamnya.
"Jika aku anak setan Papi Bapak setan," hardik Tatjana murka menarik kerah baju Gunawan. Bukannya sadar Gunawan masih saja bebal dan otoriter.
"Kamu tidak berhak mengatur dan nasehatin papi." Gunawan mendorong Tatjana hingga tersungkur ke belakang.
Tatjana bangkit menahan perih di bokongnya. "Aku berhak menasehati papi jika jalan papi salah. Please kembali ke jalan yang benar. Apa pun yang terjadi sama papi hanya keluarga yang akan menerima papi apa adanya. Please.... dengerin aku sekali saja. Berhentilah bermain wanita dan berselingkuh di belakang mami. Papi ga sadar selama ini udah nyakitin mami?"
"Cih. " Gunawan mendecih membuang ludah. Ucapan Tatjana hanya omong kosong baginya.
"Selama ini mami kamu bahagia hidup dengan papi. Memiliki harta yang melimpah dan banyak uang. Kurang apa papi sama mami?"
"Pi kebahagiaan itu tidak diukur pake materi yang kita punya dan kita kasih. Buat apa punya banyak materi tapi gak bahagia. " Tatjana menunjuk dadanya.
Gunawan hanya bungkam tak menggubris ucapan Tatjana.
" Otak papi cuma s**********n hingga ga bisa mikir jernih." Tatjana melewati batas. Ia sudah tak bisa mengontrol ucapannya.
Plakkkkk ! Gunawan kembali menampar Tatjana. Walau kepalanya terluka Gunawan masih punya tenaga.
"Sekali lagi aku tanya. Papi pilih gundik itu apa mami? Cepat katakan!" Teriak Tatjana frustasi.
"Kamu tidak bisa mengatur papi. Jika Irma ingin posisinya aman dia harus nurut sama papi."
"Papi sudah menabuhkan genderang perang denganku. Papi bersikap seperti ini karena memiliki kekuasaan. Aku bersumpah akan menghancurkan Papi hingga tak punya apa - apa lagi dan wanita itu akan meninggalkan papi."
Gunawan mentertawai Tatjana. Omong kosong macam apalagi ini. Tatjana pandai membuat lelucon.
"Papi boleh tertawa sekarang namun ketika saat itu tiba jangan datang kepadaku." Tatjana bangkit menendang tulang kering Gunawan.
Gunawan menjerit kesakitan. Ia tak habis pikir sejak kapan putrinya berubah bar-bar seperti ini. Tatjana yang ia kenal adalah gadis baik, penurut dan sopan.
Tatjana membuka pintu ruangan Gunawan. Ia menghampiri Dita , sekretaris Gunawan.
"Dita gue abis berantem sama bos lo. Lo obatin sana. Kepalanya berdarah abis gue tabok pake asbak rokok ," kata Tatjana tanpa rasa bersalah.
Dita hanya melongo menatap kepergian Tatjana.