"Ada apa? Kok murem lagi mukanya," tanya Kelvin, tangan lembutnya mengusap pipiku. "Nggak." Aku menggeleng, "Hanya … sedikit takut aja," ucapku jujur, sebuah perasaan yang wajar bukan?! Bagaimana juga aku sepenuhnya sadar siapa aku dan juga status janda yang aku sandang. "Emangnya keluargaku hantu?" Kelvin mencoba mencandaiku. "Ish, aku serius." Bibirku sedikit mengerucut. "Aku juga serius, Yang. Takut kenapa? 'Kan dah aku bilang, aku selalu ada buat kamu. Kenapa? Tentang status kamu? Sudah aku bilang juga, itu bukan masalah buat aku. Ayah, dan Bunda bukan orang kolot. Lagian aku bukan anak-anak lagi, semua keputusan tentang hidupku, aku sendiri yang menentukan dan bertanggung jawab." Kelvin kembali meyakinkanku, dia seolah bisa membaca apa yang menjadi beban pikiranku. "Senyum, dulu

